It’s about Our Education
PROFESIONALISME guru di negeri ini merupakan ungkapan semu dan bahkan tak dikenal dari segi praksis dunia pendidikan. Betapa tidak, profesi pendidik hanya menjadi profesi sambilan dan menjadi perhentian atau terminal terakhir setelah gagal mendapatkan profesi yang lain. Sungguh Ironis!
Dunia pendidikan yang notabene merupakan ibu yang melahirkan berbagai sumber daya manusia yang mengisi berbagai profesi kehidupan dikhianati. Kita semua menjadi durhaka. Para elit politik, penguasa, pemegang kebijaksanaan negeri ini, dan budaya keliru yang beredar di masyarakat terhadap dunia pendidikan telah durhaka kepada ibu yang melahirkannya. Akibatnya, kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini menjadi kacau dan terjebak dalam dimensi krisis yang berkepanjangan. Moralitas dan sumber daya manusia negeri ini mengalami dekadensi terstruktur dan mekanis. Haruskah hal ini terus berlangsung? Dunia pendidikan harus ditempatkan pada altar yang tinggi di atas segala dimensi kehidupan yang lain.
Dunia pendidikan di negeri ini selalu saja menyisakan berbagai ironisasi. Hal itu terjadi karena selama ini dunia pendidikan selalu dipandang sebelah mata dan tidak diperlakukan dengan sebagaimana mestinya. Bahkan, yang paling ironis lagi adalah kenyataan menyakitkan bahwa dunia pendidikan sudah menjadi budaya permainan politik. Berbagai investasi dan hegemoni politik terhadap dunia pendidikan selama ini terus berlangsung, dan bahkan dunia pendidikan menjadi komoditas politik yang keuntungannya tidak kembali kepada dunia pendidikan namun ke kantong kepentingan para elite politik.
Padahal, kita tahu bahwa semua pranata, semua komponen, semua struktur, semua pribadi itu lahir dari dunia pendidikan, pendidikan dalam arti luas yang telah menjadi prasyarat mutlak tereksistensinya sendi-sendi kehidupan. Kita kadang-kadang sering menjadi munafik terhadap kehidupan kita, terhadap eksistensi kita, terhadap apa yang kita raih sekarang ini, terhadap penghidupan yang telah menghidupkan kita dan terhadap segala hal yang telah mendidik kita menjadi orang terdidik, yang semua itu lahir dari pendidikan orangtua, sekolah, dan lingkungan di mana kita berdiri tegak sekarang ini.
Berbagai fenomena tersebut seolah menjadi cermin bagaimana akutnya penyakit budaya kehidupan kita terhadap dunia pendidikan. Dunia pendidikan dianggap sebagai dunia stagnan yang hanya mengurusi jenjang-jenjang dan kuantitas-kuantitas yang pada akhirnya bisa menjadi modal untuk mencari kehidupan dengan didasari pola pikir yang materialistis. Betapa ironisnya, pendidikan kalau hanya berfungsi dan difungsikan sebagai satu mesin yang bergerak mekanis. Akibatnya, dunia pendidikan sekarang ini menjadi dunia yang kaku dan hanya melahirkan robot-robot mekanis yang tak berbudaya, yang tak bermoral, dan hanya mementingkan nilai-nilai kuantitas belaka tanpa memperhatikan kualitas yang seharusnya paling dipentingkan untuk membentuk manusia yang cerdas lahir dan batin sehingga bisa membentuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang maju dan berperadaban.
Salah satu akar masalah krisis multidimensi bangsa kita saat ini salah satu penyebabnya adalah pendidikan. Kemajuan pendidikan tentunya tak lepas dari peran guru kita sebagai pendidik bangsa yang bertugas mencerdaskan kehidupan bangsa, dan peran pelajar sebagai tunas-tunas bangsa. Bangsa yang besar dan maju, pasti menempatkan dan menghargai pendidikan pada tempat yang istimewa. Sudah bukan rahasia lagi guru diidentifikasikan sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” …, namun sampai saat ini, yang kita rasakan penghargaan dari sisi materi maupun nonmateri terhadap guru masih belum menggembirakan.
Berbagai hal diatas juga diperparah lagi dengan budaya yang beredar di masyarakat kita bahwa profesi sebagai pendidik, alias “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, adalah profesi yang tidak menjanjikan dan bahkan berposisi sebagai profesi yang berada dalam tingkatan nomor yang sekian dibawah profesi-profesi yang lain. Bahkan hal itu sudah menjadi konvensi yang mengakar dalam pola pikir masyarakat kita. Dampaknya, banyak orang yang menjadikan profesi guru sebagai profesi loncatan atau sebagai terminal terakhir setelah mencapai kegagalan dalam profesi yang lain. Kalau sudah begini, apakah mungkin dunia pendidikan akan melahirkan manusia-manusia berkualitas dan bermoral serta berperadaban yang bisa membangun negeri ini menuju puncak kejayaannya, sedangkan para pendidiknya berangkat dari unsur keterpaksaan dan tidak berasal dari hati nurani dan bermoral dari segi perilaku, sedangkan pola dan paradigma atau persepsi kehidupannya sudah tidak berangkat dari jalur yang benar?
Harus diakui bahwa guru merupakan faktor utama dalam proses pendidikan, walaupun fasilitas pendidikannya lengkap dan canggih. Namun, bila tidak ditunjang oleh keberadaan guru yang berkualitas, maka mustahil akan menimbulkan proses belajar mengajar yang maksimal. Inilah pekerjaan rumah yang besar di Indonesia, yang harus kita upayakan untuk menjadi lebih baik dan lebih bisa menunjang kebutuhan yang ada.
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa… Saat ini, guru dikenal sebagai profesi yang sederhana. Karena sederhananya, sampai-sampai Iwan Fals, seorang musisi kesohor negeri ini, pernah membuat lagu tentang Oemar Bakri dengan tipikal sepeda bututnya. Pemerintah pun tak mau kalah, guru diberi gelar yang konon sakti dan prestisius, “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, yang sekarang justru menjadi “Pahlawan Kurang - Dibalas Jasa”.
Maka, ketika guru harus turun ke jalan untuk berdemonstrasi, karena sudah terlalu lama hidup dalam ketidakpastian, banyak orang yang mencibirnya. Padahal, seharusnya pemanggul kebijakan di negeri ini harus responsive terhadap keberadaan sosok yang diperlakukan kurang manusiawi.
Insan pendidikan yang patut digugu dan ditiru, berdemonstrasi di pusat-pusat pemerintahan. Puluhan ribu guru di Jawa Barat berdemonstrasi di gedung DPR/MPR pada pertengahan April 2000, pada tanggal 23 Agustus 2001, 5000 guru di jawa Timur memelopori gelombang demonstrasi dan aksi mogok mengajar. Mereka menuntut hak dan kesejahteraannya. Di era reformasi seperti ini, sangat besar kemungkinan aksi seperti itu akan terulang kembali, sebab sekarang sudah banyak organisasi profesi guru dan LSM yang peduli guru dan pendidikan.
Dari demonstrasi itu sebetulnya menyisakan banyak pertanyaan, apa yang sedang melanda dunia pendidikan kita? Mengapa semua itu terjadi? Apa yang mereka tuntut? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari scenario pendidikan kita di Indonesia yang belum betul-betul menghargai dunia pendidikan sebagai sebuah profesi. Dunia yang harus digeluti dengan tekun, penuh semangat, dan jiwa professional.
Apa yang salah dengan negeri ini, sehingga negeri kita sudah jauh tertinggal dengan negara-negara lain yang jelas-jelas tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah?. Bagaimana modern dan majunya negara tetangga kita seperti Singapura dan Malaysia. Bagaimana jadinya bila kita bandingkan dengan negara Cina, Jepang, atau negara-negara maju lainnya di Eropa dan Amerika. Negara-negara tersebut memulai pembangunan negerinya dengan melaksanakan pendidikan yang baik untuk anak bangsanya, yaitu pendidikan yang terencana, terarah, dan tepat guna, sehingga memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Kita jarang menyadari bahwa dewasa ini kita mengetahui jauh lebih banyak tentang proses belajar yang kompleks dariipada 90 tahun yang lalu, tapi pola pendidikan kita belum berubah banyak. Kita telah membiarkan pola `kertas dan pensil` berkembang dan mengisi jam-jam belajar para siswa. Kita tahu bahwa para siswa dapat menulis lebih cepat dan lebih akurat dengan pembahasan yang bervariasi. Namun, dalam kenyataannya orang-orang tidak banyak mengetahui bagaimana mengatasinya jika para murid mencapai tujuan intelektual mereka lebih cepat.
Sekaranglah saat yang tepat untuk mengakui bahwa guru melakukan pekerjaan yang sulit dan penting, pekerjaan yang mensyaratkan keterampilan tinggi. Untuk memperbaiki dunia pendidikan Indonesia agar berkualitas di masa mendatang, pemerintah dan masyarakat juga setiap kepala rumah tangga harus memunyai perhatian yang penuh terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Now, let`s build and bring this nation into the world together.







