GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Archive for February, 2008


It’s about Our Education

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

PROFESIONALISME guru di negeri ini merupakan ungkapan semu dan bahkan tak dikenal dari segi praksis dunia pendidikan. Betapa tidak, profesi pendidik hanya menjadi profesi sambilan dan menjadi perhentian atau terminal terakhir setelah gagal mendapatkan profesi yang lain. Sungguh Ironis!

Dunia pendidikan yang notabene merupakan ibu yang melahirkan berbagai sumber daya manusia yang mengisi berbagai profesi kehidupan dikhianati. Kita semua menjadi durhaka. Para elit politik, penguasa, pemegang kebijaksanaan negeri ini, dan budaya keliru yang beredar di masyarakat terhadap dunia pendidikan telah durhaka kepada ibu yang melahirkannya. Akibatnya, kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini menjadi kacau dan terjebak dalam dimensi krisis yang berkepanjangan. Moralitas dan sumber daya manusia negeri ini mengalami dekadensi terstruktur dan mekanis. Haruskah hal ini terus berlangsung? Dunia pendidikan harus ditempatkan pada altar yang tinggi di atas segala dimensi kehidupan yang lain.

Dunia pendidikan di negeri ini selalu saja menyisakan berbagai ironisasi. Hal itu terjadi karena selama ini dunia pendidikan selalu dipandang sebelah mata dan tidak diperlakukan dengan sebagaimana mestinya. Bahkan, yang paling ironis lagi adalah kenyataan menyakitkan bahwa dunia pendidikan sudah menjadi budaya permainan politik. Berbagai investasi dan hegemoni politik terhadap dunia pendidikan selama ini terus berlangsung, dan bahkan dunia pendidikan menjadi komoditas politik yang keuntungannya tidak kembali kepada dunia pendidikan namun ke kantong kepentingan para elite politik.

Padahal, kita tahu bahwa semua pranata, semua komponen, semua struktur, semua pribadi itu lahir dari dunia pendidikan, pendidikan dalam arti luas yang telah menjadi prasyarat mutlak tereksistensinya sendi-sendi kehidupan. Kita kadang-kadang sering menjadi munafik terhadap kehidupan kita, terhadap eksistensi kita, terhadap apa yang kita raih sekarang ini, terhadap penghidupan yang telah menghidupkan kita dan terhadap segala hal yang telah mendidik kita menjadi orang terdidik, yang semua itu lahir dari pendidikan orangtua, sekolah, dan lingkungan di mana kita berdiri tegak sekarang ini.

Berbagai fenomena tersebut seolah menjadi cermin bagaimana akutnya penyakit budaya kehidupan kita terhadap dunia pendidikan. Dunia pendidikan dianggap sebagai dunia stagnan yang hanya mengurusi jenjang-jenjang dan kuantitas-kuantitas yang pada akhirnya bisa menjadi modal untuk mencari kehidupan dengan didasari pola pikir yang materialistis. Betapa ironisnya, pendidikan kalau hanya berfungsi dan difungsikan sebagai satu mesin yang bergerak mekanis. Akibatnya, dunia pendidikan sekarang ini menjadi dunia yang kaku dan hanya melahirkan robot-robot mekanis yang tak berbudaya, yang tak bermoral, dan hanya mementingkan nilai-nilai kuantitas belaka tanpa memperhatikan kualitas yang seharusnya paling dipentingkan untuk membentuk manusia yang cerdas lahir dan batin sehingga bisa membentuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang maju dan berperadaban.

Salah satu akar masalah krisis multidimensi bangsa kita saat ini salah satu penyebabnya adalah pendidikan. Kemajuan pendidikan tentunya tak lepas dari peran guru kita sebagai pendidik bangsa yang bertugas mencerdaskan kehidupan bangsa, dan peran pelajar sebagai tunas-tunas bangsa. Bangsa yang besar dan maju, pasti menempatkan dan menghargai pendidikan pada tempat yang istimewa. Sudah bukan rahasia lagi guru diidentifikasikan sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” …, namun sampai saat ini, yang kita rasakan penghargaan dari sisi materi maupun nonmateri terhadap guru masih belum menggembirakan.

Berbagai hal diatas juga diperparah lagi dengan budaya yang beredar di masyarakat kita bahwa profesi sebagai pendidik, alias “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, adalah profesi yang tidak menjanjikan dan bahkan berposisi sebagai profesi yang berada dalam tingkatan nomor yang sekian dibawah profesi-profesi yang lain. Bahkan hal itu sudah menjadi konvensi yang mengakar dalam pola pikir masyarakat kita. Dampaknya, banyak orang yang menjadikan profesi guru sebagai profesi loncatan atau sebagai terminal terakhir setelah mencapai kegagalan dalam profesi yang lain. Kalau sudah begini, apakah mungkin dunia pendidikan akan melahirkan manusia-manusia berkualitas dan bermoral serta berperadaban yang bisa membangun negeri ini menuju puncak kejayaannya, sedangkan para pendidiknya berangkat dari unsur keterpaksaan dan tidak berasal dari hati nurani dan bermoral dari segi perilaku, sedangkan pola dan paradigma atau persepsi kehidupannya sudah tidak berangkat dari jalur yang benar?

Harus diakui bahwa guru merupakan faktor utama dalam proses pendidikan, walaupun fasilitas pendidikannya lengkap dan canggih. Namun, bila tidak ditunjang oleh keberadaan guru yang berkualitas, maka mustahil akan menimbulkan proses belajar mengajar yang maksimal. Inilah pekerjaan rumah yang besar di Indonesia, yang harus kita upayakan untuk menjadi lebih baik dan lebih bisa menunjang kebutuhan yang ada.

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa… Saat ini, guru dikenal sebagai profesi yang sederhana. Karena sederhananya, sampai-sampai Iwan Fals, seorang musisi kesohor negeri ini, pernah membuat lagu tentang Oemar Bakri dengan tipikal sepeda bututnya. Pemerintah pun tak mau kalah, guru diberi gelar yang konon sakti dan prestisius, “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, yang sekarang justru menjadi “Pahlawan Kurang – Dibalas Jasa”.

Maka, ketika guru harus turun ke jalan untuk berdemonstrasi, karena sudah terlalu lama hidup dalam ketidakpastian, banyak orang yang mencibirnya. Padahal, seharusnya pemanggul kebijakan di negeri ini harus responsive terhadap keberadaan sosok yang diperlakukan kurang manusiawi.

Insan pendidikan yang patut digugu dan ditiru, berdemonstrasi di pusat-pusat pemerintahan. Puluhan ribu guru di Jawa Barat berdemonstrasi di gedung DPR/MPR pada pertengahan April 2000, pada tanggal 23 Agustus 2001, 5000 guru di jawa Timur memelopori gelombang demonstrasi dan aksi mogok mengajar. Mereka menuntut hak dan kesejahteraannya. Di era reformasi seperti ini, sangat besar kemungkinan aksi seperti itu akan terulang kembali, sebab sekarang sudah banyak organisasi profesi guru dan LSM yang peduli guru dan pendidikan.

Dari demonstrasi itu sebetulnya menyisakan banyak pertanyaan, apa yang sedang melanda dunia pendidikan kita? Mengapa semua itu terjadi? Apa yang mereka tuntut? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari scenario pendidikan kita di Indonesia yang belum betul-betul menghargai dunia pendidikan sebagai sebuah profesi. Dunia yang harus digeluti dengan tekun, penuh semangat, dan jiwa professional.

Apa yang salah dengan negeri ini, sehingga negeri kita sudah jauh tertinggal dengan negara-negara lain yang jelas-jelas tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah?. Bagaimana modern dan majunya negara tetangga kita seperti Singapura dan Malaysia. Bagaimana jadinya bila kita bandingkan dengan negara Cina, Jepang, atau negara-negara maju lainnya di Eropa dan Amerika. Negara-negara tersebut memulai pembangunan negerinya dengan melaksanakan pendidikan yang baik untuk anak bangsanya, yaitu pendidikan yang terencana, terarah, dan tepat guna, sehingga memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Kita jarang menyadari bahwa dewasa ini kita mengetahui jauh lebih banyak tentang proses belajar yang kompleks dariipada 90 tahun yang lalu, tapi pola pendidikan kita belum berubah banyak. Kita telah membiarkan pola `kertas dan pensil` berkembang dan mengisi jam-jam belajar para siswa. Kita tahu bahwa para siswa dapat menulis lebih cepat dan lebih akurat dengan pembahasan yang bervariasi. Namun, dalam kenyataannya orang-orang tidak banyak mengetahui bagaimana mengatasinya jika para murid mencapai tujuan intelektual mereka lebih cepat.
Sekaranglah saat yang tepat untuk mengakui bahwa guru melakukan pekerjaan yang sulit dan penting, pekerjaan yang mensyaratkan keterampilan tinggi. Untuk memperbaiki dunia pendidikan Indonesia agar berkualitas di masa mendatang, pemerintah dan masyarakat juga setiap kepala rumah tangga harus memunyai perhatian yang penuh terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Now, let`s build and bring this nation into the world together.

Saling Menghormati Itu Penting

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

    saya vaira, anak usia 14 tahun yang sebelumnya menulis tentang “jadi penulis, judul mesti boombastis”.  Kali ini saya akan menulis tentang kelebuhan orang tua dimata anak.  Kelebihan yang harus kita hormati, dan kelebihan yang sudah sepatutnya kita segani.

Ridhonya orang tua pada anak, adalah ridonya Allah. Murkanya orang tua adalah murkanya Allah. Maka itu tadi yang saya katakan, bahwa orang tua mempunyai kelebihan.

Terkadang kita suka berbuat salah pada orang tua kita. Dan pada saat itu pula kita sangat merasa ketakutan. Entah kenapa, sedikit saja tidak jujur pada orang tua rasanya selalu gelisah. Sampai pada akhirnya gelisah itu reda kalau kita sudah terus terang pada orang tua kita. Maka dari itu, vaira menghimbau kepada semua pembaca agar selalu terbuka kepada orang tua walau sebesar apapun kesalahan yang kita sembunyikan hanya dengan memohon perlindungan dariAllah dan jujur pada orang tua mampu meredakan kegelisahan, saya jamin itu!

Bila kita berbuat salah pada orang tua, atau pada saudara kita maka cepat-cepat minta maaf. Karena, kita harus berfikir jauh. Seandainya, kalau saat ini saat terakhir kita bertemu orang tua kita apa tidak merasa sedih bahwa kita belum benar-benar minta maaf pada orang tua dan tentunya semua yang kita lakukan akan di pertanggungjawabkan.

Dan tidak hanya itu saja, terkadang anak seusia saya selalu bertengkar dengan adik atau kakak, dan semestinya kita yang dalam usia remaja ini lebih bisa menanggapi segala perselisihan dengan bijak. Tapi memang biasanya pertengkarang antara adik dan kakak susah untuk dihindari maka, mari kita kembali pikir, seandainya besok adik/kakak saya tidak ada, apa saya nggak merasa sedih?tentunya kita memiliki pikiran jika situasi itu kita posisikan pada diri kita. Saat itu juga kita akan merasa menyesal, coba aku dikasih kesempatan lagi! aku nggak akan menyia-nyiakan waktu, aku pasti sayang adik/kakakku.

Maka dari itu, gunakan kesempatan yang ada. Jangan pas masih sama-sama kita kerjaannya berantem terus, eh pas berpisahnya minta waktu diulang lagi…cape’ deh…

Mulai dari sekarang bersikaplah terbuka pada orang tua mu! hormati dia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Begitu juga dengan adik/kakak, sayang dan hormati dia sebagaimana kalian menyayangi dan menghormati diri kalian sendiri, karena dengan begitu akan tercipta hubungan kekeluargaan yang baik dan tidak akan ada perselisihan lagi. Karena jika kita mau dihormati maka hormatilah orang-orang disekitar mu!

sekian dulu dari vaira, doain juga ya cita-cita ku buat jadi penulis kesampaian!!Amien.

CIPTAKAN KEDAMAIAN DENGAN SALING MENGHORMATI DAN MENGAHARGAI SESAMA…REMEMBER IT!

jadi penulis, judul mesti boombastis !

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

     Ini adalah kali pertama saya mempublikasikan cita-cita saya.
Sebelumnya saya memang sudah mempublikasikan tulisan saya mengenai tanggapan, dan berbagai info dengan bahasa saya sendiri dalam web yang saya miliki. umur saya memang baru 14 tahun, tapi saya ingin memiliki semangat dan kepercayaan diri seperti Chairil Anwar yang sempat beberapa kali di tolak karyanya oleh para penerbit dengan alasan puisinya itu hanyalah sebuah puisi kamar….

keinginan saya untuk jadi penulis ini bukan hanya karena umur saya yang saya kira sudah menginjak masa puber tapi karena keinginan yang sudah saya rasakan sejak kelas empat SD. Pasalnya, kebanyakan anak usia remaja kini optimis menjadi penulis karena faktor saat mereka membaca beberapa karya yang membuat mereka tertarik kedalam dunia penuh karya dan menyeret mereka untuk dapat menciptakan sendiri situasi yang mereka inginkan. Karena pada dasarnya, apa yang mereka inginkan tapi tidak mereka rasakan hanya dapat mereka tuangkan  dalam karya tulis mereka itu sendiri.

Saya rasa tidak selamanya penulis novel suka membaca novel. begitupun dengan saya, walau sebenarnya saya ingin menjadi penulis novel tapi saya tidak suka membacanya. Terkadang teman-teman saya heran, “dari mana belajar bikin story tapi  baca novel aja enggak suka?” Yang saya pikir saat itu, saya memang tidak suka membaca novel, tapi saya suka membaca hal-hal yang berbau informasi dalam media  cetak. tapi tetap saja, teman saya masih heran. Lantas saya selalu bilang, kita belajar disekolah nggak menjamin buat pintar, karena ada pendidikan di lingkungan masyarakat yang berpengaruh lebih besar daripada pendidikan formal. Jadi, membuat novel tanpa membaca novel itu nggak mustahil karena masih ada tulisan-tulisan di luar karya tulis novel itu sendiri yang membuat kita lebih memahami bagaimana cara menulis yang baik seperti ada koran yang saya suka. Karena dalam koran itu sendiri kita diajarkan bagaimana cara menulis, bumbu-bumbu tulisan apa saja yang bisa kita masukan kedalam karya tulis kita, bumbu tulisan dalam artian, seperti lokasi-lokasi yang bisa kita lihat langsung di koran untuk kita masukan kedalam karya tulis kita. Jadi, pada intinya penulis novel itu tidak harus membaca novel, karena darimana pun kita bisa mendapatkan segala informasi.

satu hal lagi yang saya sadari untuk membuat pembaca mengagumi penulis adalah,  judulnya. karena dengan judul yang boombastis, pembaca akan merasa tertarik dan penasaran dengan karya tulis kita walau tanpa membaca sinopsis yang biasanya ada di cover belakang novel. Jadi, remember ! judul itu sama pentingnya dengan isi novel…karena tanpa judul tidak akan jadi sebuah karya tulis, karena tanpa judul tidak akan ada pemanis yang menarik hati pembaca…

sekian dulu tulisan saya, semoga apa yang saya sarankan dapat bermanfaat dan menjadi motivasi dalam berkarya. Dan untuk yang lebih tua dari saya, saya harap mau menerima saran dari anak umur 14 tahun seperti saya ini. Terima kasih banyak, pokoke….

  • @Facebook

    Peluang Bisnis Oriflame