GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Archive for February, 2008


jadi penulis, judul mesti boombastis !

AddThis Social Bookmark Button apply.web.id Lintas Beritakan

     Ini adalah kali pertama saya mempublikasikan cita-cita saya.
Sebelumnya saya memang sudah mempublikasikan tulisan saya mengenai tanggapan, dan berbagai info dengan bahasa saya sendiri dalam web yang saya miliki. umur saya memang baru 14 tahun, tapi saya ingin memiliki semangat dan kepercayaan diri seperti Chairil Anwar yang sempat beberapa kali di tolak karyanya oleh para penerbit dengan alasan puisinya itu hanyalah sebuah puisi kamar….

keinginan saya untuk jadi penulis ini bukan hanya karena umur saya yang saya kira sudah menginjak masa puber tapi karena keinginan yang sudah saya rasakan sejak kelas empat SD. Pasalnya, kebanyakan anak usia remaja kini optimis menjadi penulis karena faktor saat mereka membaca beberapa karya yang membuat mereka tertarik kedalam dunia penuh karya dan menyeret mereka untuk dapat menciptakan sendiri situasi yang mereka inginkan. Karena pada dasarnya, apa yang mereka inginkan tapi tidak mereka rasakan hanya dapat mereka tuangkan  dalam karya tulis mereka itu sendiri.

Saya rasa tidak selamanya penulis novel suka membaca novel. begitupun dengan saya, walau sebenarnya saya ingin menjadi penulis novel tapi saya tidak suka membacanya. Terkadang teman-teman saya heran, “dari mana belajar bikin story tapi  baca novel aja enggak suka?” Yang saya pikir saat itu, saya memang tidak suka membaca novel, tapi saya suka membaca hal-hal yang berbau informasi dalam media  cetak. tapi tetap saja, teman saya masih heran. Lantas saya selalu bilang, kita belajar disekolah nggak menjamin buat pintar, karena ada pendidikan di lingkungan masyarakat yang berpengaruh lebih besar daripada pendidikan formal. Jadi, membuat novel tanpa membaca novel itu nggak mustahil karena masih ada tulisan-tulisan di luar karya tulis novel itu sendiri yang membuat kita lebih memahami bagaimana cara menulis yang baik seperti ada koran yang saya suka. Karena dalam koran itu sendiri kita diajarkan bagaimana cara menulis, bumbu-bumbu tulisan apa saja yang bisa kita masukan kedalam karya tulis kita, bumbu tulisan dalam artian, seperti lokasi-lokasi yang bisa kita lihat langsung di koran untuk kita masukan kedalam karya tulis kita. Jadi, pada intinya penulis novel itu tidak harus membaca novel, karena darimana pun kita bisa mendapatkan segala informasi.

satu hal lagi yang saya sadari untuk membuat pembaca mengagumi penulis adalah,  judulnya. karena dengan judul yang boombastis, pembaca akan merasa tertarik dan penasaran dengan karya tulis kita walau tanpa membaca sinopsis yang biasanya ada di cover belakang novel. Jadi, remember ! judul itu sama pentingnya dengan isi novel…karena tanpa judul tidak akan jadi sebuah karya tulis, karena tanpa judul tidak akan ada pemanis yang menarik hati pembaca…

sekian dulu tulisan saya, semoga apa yang saya sarankan dapat bermanfaat dan menjadi motivasi dalam berkarya. Dan untuk yang lebih tua dari saya, saya harap mau menerima saran dari anak umur 14 tahun seperti saya ini. Terima kasih banyak, pokoke….

Obsesi Kita Pada Kulit Putih

AddThis Social Bookmark Button apply.web.id Lintas Beritakan

Sekitar 50 tahun yang lalu, sepasang peneliti Kenneth dan Mamie Clark melakukan sebuah percobaan di Amerika, yang dikenal dengan “The Doll Experiment”. Dalam percobaan ini para peneliti tersebut menemukan bahwa anak-anak kulit hitam lebih senang bermain dengan boneka berwarna kulit putih, dengan alasan yang putih itu bersih dan baik, sementara yang berkulit gelap itu jelek dan kotor. Anak-anak tersebut menyadari warna kulit mereka sendiri. Kennet dan Mamie menyimpulkan hasil percobaan mereka sebagai bukti pengaruh rasisme dan stigmatisasi pada anak-anak. Pada masa ini rasisme dan pemisahan yang menempatkan masyarakat kulit hitam sebagai warga negara kelas dua di bawah kulit putih masih menjadi hal yang umum.

Kira2 50 tahun kemudian, tepatnya tahun 2005, seorang gadis remaja Kiri Davis melakukan percobaan yang sama dan merekam hasilnya dalam film yang berjudul “A Girl Like Me”. Alangkah anehnya, ternyata di kala zaman sudah berubah, pembauran dan persamaan hak sudah menjadi kenyataan sehari2 di Amerika, ternyata Kiri memperoleh hasil yang kurang lebih sama dengan hasil yang diperoleh pasangan Clarks. Mengapa sesudah sekian banyak perubahan, orang kulit hitam masih menganggap putih itu lebih baik?

Ada apa dengan kulit putih?

Di Indonesia, obsesi kita pada kulit putih juga sangat kentara. Terutama perempuan, selalu dipandang lebih menarik jika berkulit terang. Matahari jadi musuh utama kebanyakan kaum perempuan, karena tanpa perlindungan, matahari dapat menggelapkan warna kulit. Iklan2 produk kosmetik pemutih kulit begitu gencar mengisi media, dengan pesan2 bahwa gadis2 berkulit putih tidak hanya lebih cantik, tapi juga lebih sukses dan lebih cepat dapat jodoh. Perusahaan2 produsen kosmetik pun berlomba2 mengeluarkan produk2 pemutih baru. Bahkan rasanya sulit mendapatkan produk kecantikan, baik krim, lotion, atau sabun mandi yang tidak menggunakan zat pemutih kulit. Entah siapa yang memulai duluan, kampanye pemutihan kulit ini sudah begitu jauh menjadi bagian kehidupan perempuan Indonesia.

Memangnya kenapa kalau tidak putih? Sebagian orang ternyata minder hanya karena kulitnya tidak putih. Padahal kaitan warna kulit dengan kemampuan seseorang kan nyaris tidak ada. Tapi perempuan tetap merasa kurang menarik dengan kulit yang gelap. Ada yang bilang, kalau kulit gelap itu seperti orang yang kerjanya di ladang, petani, berarti miskin. Apa salahnya jadi petani? Benar2 membingungkan.

Apa kata orang kulit putih? Di Barat sana, orang kulit putih sering terlihat berlomba2 mencoklatkan kulit di bawah sinar matahari, yang di sini menjadi musuh utama. Menurut mereka, warna kulit kecoklatan itulah yang menarik dari segi kecantikan, maka produk2 pencoklat kulit (tanning lotion) pun laku di kalangan itu. Di Indonesia, yang putih ingin tetap putih.

Kalau dilihat dari segi praktisnya, kenapa kulit putih lebih baik? Tidak ada kelebihannya sebenarnya. Kulit memang mempunyai pigmen yang lebih bermacam2, beda halnya dengan gigi yang memang lebih baik putih daripada hitam. Tapi tetap saja, sebagian penduduk bumi ini lebih senang kulit putih daripada kulit yang lebih gelap.

Bagian dari evolusi?

Saya pikir, seperti layaknya di kaum kulit hitam di Amerika yang melalui bergenerasi2 di bawah perbudakan dan diskriminasi kaum kulit putih, kita pun sebagai bangsa pernah dijajah kaum kulit putih hingga berabad-abad. Mungkin, dari sekian generasi yang melalui kehidupan tertindas di bawah kulit putih ini kemudian ada semacam sifat inferior yang tertanam dari generasi ke generasi melalui sikap dan tutur kata, semakin dalam hingga ke tingkat gen, sehingga ketika zaman sudah berubah, rasa inferior terhadap kulit putih itu tetap ada. Mungkinkah?

Teori saya ini bukan tidak mendasar, sebab sebuah penelitian di University of Newcastle, UK menunjukkan adanya hubungan antara evolusi dan kesukaan kita pada warna-warna tertentu. Menurut para peneliti itu, kesukaan perempuan pada warna2 merah dan pink di sebabkan karena sepanjang masa evolusi manusia, perempuan lebih banyak bekerja sebagai pengumpul makanan dan merawat keluarga, sehingga menumbuhkan kesukaan atau perhatian lebih pada warna2 merah yang diasosiasikan pada warna2 buah yang matang dan wajah2 yang sehat. Sedangkan untuk laki2, warna menjadi kurang penting, sebab sebagai pemburu mereka hanya perlu memperhatikan sesuatu yang gelap untuk ditembak. (Lihat Reader’s Digest Asia January 2008).

Nah, kalau seandainya benar preferensi kita pada warna2 tertentu itu adalah imprint hasil evolusi, jadi sah2 saja kah kita memuja kulit putih? Silahkan Anda jawab sendiri.

 obsesklik.blogspot.com