GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Archive for May, 2008


Riak, Rembulan, Salju, dan Matahari

AddThis Social Bookmark Button apply.web.id Lintas Beritakan

… AIR
Yang mengalir dari ketinggian puncak gunung
Akan berhenti di sini
Danau Tenang kedamaian
Abadi…

“Cintailah aku,” ucap Riak kepada rembulan yang hanya diam tak menyahut.

Sudah berbagai cara dilakukan Riak untuk merayu Rembulan namun selalu diam yang didapatinya sebagai jawaban. Membiarkan permukaan wajah tenangnya memantulkan sosok Bulan yang indah, bercumbu walau dengan bayangan saja. Mencipta puisi cinta yang dititipkan kepada Angin, bercerita hati yang telah lama dingin. Tiada jawaban dan hanya kesunyian.

“Sekali ini saja, bicaralah padaku,” ucap Riak kepada Rembulan yang memandang sayu.
“Aku tak bisa.”

… BULAN
Yang bersuara lewat pancaran sinar
Akan terkirim ke sini
Dimana Riak selalu menanti
Setia…

“Apakah yang kau tak bisa? Berbicara padaku kah?”
“Tidak! Mencintaimu.” Rembulan tersenyum.

Ough! Riak bergetar sedikit. Permukaan danau terlihat tak tenang. Tak pernah terjadi seperti ini karena memang Riak tak pernah merasakan cinta sebelumnya. Hanya memandang apapun yang ada di atasnya dan hanya mampu menilai sesuatu apa adanya, tak lebih.

“Mengapa kau tak bisa mencintaiku? Sementara kau selalu hadir di sini, di setiap sunyi malam. Kau selalu memberikan senyum teduhmu, gelisahmu, kebahagiaanmu, dan harapanmu. mengapa? Berikan aku satu alasan saja.”
Kembali Rembulan tersenyum. Malam ini senyumannya menyiratkan kepedihan. Terlihat dari cahayanya yang meredup, membiaskan prana hidup.

“Bagiku mencintai berarti memiliki. Aku di sini hanya mampu melihatmu, menyinarimu, mengagumimu, tanpa bisa menyentuhmu, memelukmu, memilikimu utuh. Bukankah kau pun menyadari hal yang sama, wahai Riak.”
Jikalah saja Riak mampu menunduk dan menghindar dari menatap Rembulan, maka ia akan melakukan hal itu. Pahit merasakan kenyataan yang memang nyata.

“Bulan, cinta tak harus saling memiliki.”
“Riak, cinta menginginkan sentuhan kasih-sayang.”
“Bulan, aku membiarkan cahayamu menyentuhku!”
“Riak! Cahayaku hanya semu!!”
“Bulan……”
Riak tercekik pekik. Jeritannya hanya dapat terlihat dari getaran danau yang semakin hebat. Perlahan ia mencoba mengatasi perasaannya yang bergelombang gejolak. Akhirnya hanya bisa pasrah dengan segala hal yang terjadi. Rembulan memanglah tak akan bisa dimiliki.

Semenjak saat itu, Riak pun mencoba menghilangkan perasaanya kepada Rembulan dan mencari cinta yang lain. Pada suatu saat di musim gugur, Angin menghadirkan Dedaunan menyentuh danau Riak, menemani kesepiannya. Namun, Dedaunan hanya bisa bercerita sedikit. Hadir, kemudian mati.

Di musim yang lain, Salju datang ke dalam hatinya. Lama mereka berbincang tentang kehidupan yang telah dijalani. Berminggu-minggu mereka mencurahkan isi hati yang terdalam. Saling bicara, saling sentuh, bersetubuh, Riak dan Salju saling mengingini. Hingga saatnya Salju harus pergi dan berjanji akan kembali setahun mendatang. Riak pun sabar menanti. Bertahun-tahun mereka menjalin hubungan cinta yang sangat indah.

… SALJU
Yang hadir dengan tubuh dingin
Akan selalu hadir
Tanpa semu yang bertabir
Utuh…

Hingga tiba di suatu musim, Salju tak menepati janjinya n’tuk hadir. Riak bertanya pada Angin, pada Bulan, pada Bintang, “Dimanakah Salju, kekasihku?” Tiada yang tau.

Musim berikutnya pun Salju kembali tak datang. Riak gelisah dan kembali menebarkan tanya ke mana-mana. Bulan tak sanggup melihat penderitaan sosok yang pernah mencintainya yang selalu terekam di setiap malam. Di suatu pagi, Bulan sengaja pulang terlambat untuk mencari tau.

“Bulan! Sudah saatnya kau pulang!” Mentari di pagi itu terlihat menyeramkan. Biasanya, di musim seperti ini Mentari datang ke Bumi yang mengenakan jubah ozon pelindung. Namun kali ini tidak. Hanya pakaian tipis yang tembus pandang di tubuh Bumi yang ada.

“Maafkan diriku, Matahari. Sosok pemujaku sedang bergundah-hati menanti kekasihnya yang tak datang bertahun-tahun. Diriku ingin membantu mencari-tau kegelisahannya itu,” Bulan yang kehilangan cahaya merasakan takut.
“Jika kau telah mengetahui hal yang ingin kau ketahui, akankah kau berjanji tak akan pulang terlambat lagi?”
Bulan mengangguk, Mentari pun mulai bercerita.

… MENTARI
Kekuasaan yang terpatri
Rasuki titik nadi…

“Apa yang ingin kau katakan, wahai sosok indah Bulan?”
Malam itu, setelah bermusim-musim menanti menghilangkan harapan Riak yang terdalam, Bulan memutuskan untuk bercerita. Menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi.

“Salju tak mengingkari janjinya kepadamu, Riak.”
“Jadi mengapa ia tak datang?”
“Karena ia tak bisa datang.”
“Tapi mengapa tiada khabarnya kepadaku?”
“Karena ia sekarat!”
Jawaban demi jawaban dari Rembulan membuat Riak semakin gundah. Tiada satu pun yang mampu ia mengerti dari jawaban itu. Yang ada hanyalah gundah yang semakin larut dalam kepedihan. Riak di permukaan danau terlihat bergejolak.

“Dimanakah ia sekarang?”
“Bertualang mencari tempat yang mampu ia tempati.”
“Dimanakah itu? Aku akan mencarinya!”
“Tempat yang selalu berpindah-pindah. Tergantung dengan jubah ozon Bumi yang mampu melindunginya dari Matahari.”
“Matahari? Jadi diakah biang keladi dari segala apa yang terjadi ini? Diakah yang membuat Salju takut bertemu denganku? diakah?!!”
Kemarahan yang tak terbendung, danau mendidih. Malam itu, panas di sekeliling danau. Pohon-pohon merunduk takut, ikan-ikan mati kekeringan. Riak tak lagi mendengarkan apa yang dikatakan Rembulan selanjutnya. Cinta duka membuat telinganya tuli. Kepada siapakah ia harus melampiaskan kemarahannya ini?

Pagi t’lah tiba, Matahari terbit seperti biasanya.
“Wahai Matahari. Sombong benar dirimu yang mampu bersinar terang seperti itu. Senyuman cahayamu yang menyilaukan menggambarkan betapa pongahnya engkau!!”
Matahari hanya tersenyum.

“Lihatlah wahai dunia!! Matahari sumber kehidupan ini begitu angkuh. Sudah saatnya kita tak tunduk lagi!!”
“Riak. Apa yang membuatmu begitu marah kepadaku?”
“Kau!! Ya, kau!!”
Kembali permukaan danau bergejolak. Danau itu semakin kering seiring harapan dan emosi yang meluap-luap. Semakin banyak ikan yang mati, semakin banyak hewan lain di pinggiran danau yang menahan hausnya.

“Aku?”
“Ya!! Engkaulah yang membuat Salju tak lagi bisa hadir menemani kesunyianku di sini. Engkau jugalah yang telah lama membuat Bulan enggan menemani hatiku dengan cahaya semu yang dimilikinya. Kau, yang merebut hatiku!!”
“Riak……!!!”
Matahari tercekik pekik. Jeritannya hanya dapat terlihat dari bara sinar yang semakin panas. Perlahan ia mencoba mengatasi perasaannya yang memancar tajam. Akhirnya hanya satu hal yang bisa ia lakukan. Membawa Riak keluar dari danaunya dan terbang berbentuk awan.

“Bukan aku yang salah. Pergilah. Cari Saljumu dalam bentuk seperti ini. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk menolongmu.”
Kini Riak berada di langit. Hatinya tak lagi berwujudkan danau dan melayang bebas. Hanya tercengang sesaat lalu terbanglah ia mengarungi angkasa.
“Maaf Matahari. Telah bersumpah-serapah kepadamu yang tak berdosa ini.”
Matahari menganggukkan kewibawaannya. Memandangi awan Riak yang berarak-arak terbang.

“Kemanakah bisa kucari dia?” tanya Riak kepada Rembulan yang malam itu kembali hadir dengan senyuman.
“Pergilah ke arah utara.”
Tak menunggu lama, Riak Awan menyelusuri langit menuju arah yang ditunjukkan. Berhari-hari ia mencoba mengumpulkan kembali bentuknya yang terkadang jatuh ke bumi bersama hujan. Jatuh, bangkit lagi, jatuh, dan bangkit untuk kesekian-kalinya. Bentuknya kini semakin membesar seiring ketabahan dan pengharapan yang semakin besar pula.

Hingga tibalah ia ke suatu tempat yang sangat dingin. Tubuhnya membeku.
“Aku tau dingin ini. Inilah dingin yang kurasakan setiap aku menyatu dengannya. Aku semakin dekat… aku semakin dekat!!”
Rembulan mengangguk dan tersenyum pahit. Ia mengetahui apa yang tidak diketahui Riak. Ia mengetahui bahwa Riak tak akan dapat bertemu lagi dengan kekasihnya itu. Walau Salju masih ada dan belum hilang, Riak tak akan mampu bertemu karena dia tak akan mampu menuju ke sana.

“Itukah dirinya?” dalam keremangan malam Riak melihat sesuatu yang teronggok kaku dan mencair di tengah-tengah lautan dari kejauhan.
“Itukah dirinya, Rembulan?!” suara yang tercekik kebekuan.
“Iya!!” jawab Rembulan.
“Aku akan ke… sa… na…”
Sebenarnya Riak sangat ingin berlari dan lekas memeluk tubuh dingin kekasihnya itu. Namun langkahnya tercegat udara yang membeku. Tubuhnya berjalan tertahan.
“Di… ngin… se… ka… li…” tubuhnya menggigil dan mulai tercecah-cecah.
“Sal… juuu…… uhuk…” jeritan tangis rindunya tak mampu diteriakkan. Batuk, cecahan tubuh semakin parah.

“Riak. Sebenarnya aku ingin mengucapkan hal ini kepadamu semenjak kau memutuskan untuk mencari kekasih hatimu. Kau tak akan bisa menuju ke sana. Riakmu tak seperti gelombang lautan asin yang mampu menerjang beku. Sudahlah, kembalilah.”
“Ti… dak…!!! A… ku… bi… SAA…!!!”
Tak terasa, Bulan melelehkan air mata. Cahayanya tak sempurna, senyumannya sirna.
“A… ku… bi… SAA…!!!” kembali Riak menjerit, kembali tubuhnya tercecah.
“Angin!! Bawa Riak menjauh!!” jerit Bulan melihat sosok Riak yang sudah sangat sekarat.
Fiuuuu… fiuuuu… brrrrr…. Angin kencang datang dan menerbangkan serpihan Riak yang masih tersisa.
“TI… DAAAAKK…!!!” tangisan Riak membahana. Angin keras telah menerbangkannya jauh tanpa mempedulikan tangisan yang membuat Riak meleleh. Hingga Riak kembali di atas danau yang telah kering.

“Riak. Apakah kau akan tetap di sana jika aku bersedia mengisi hatimu?”
Riak, dengan gerimis tangisannya memandangi Bulan yang tampak sungguh-sungguh.
“Kau tak akan bisa bertemu dengan Salju-mu lagi. Terimalah kenyataan ini.”
Perlahan gerimis mereda.
“Sungguhkah?”
Rembulan mengangguk dan tersenyum.
“Namun, kita tak akan dapat menyatu.”
“Asalkan engkau mencintaiku seperti engkau mencintai Salju. Maka aku akan sangat senang.”
“Tapi, bagaimana caranya? Aku sudah menjadi awan sekarang.”
“Menangislah yang keras di atas danau kering itu. Anggaplah ikan-ikan yang akan mengisi kembali danaumu sebagai anak-anak kita. Kasihilah mereka dan hewan-hewan lain yang menumpang minum kepadamu. Begitulah cara kita saling mencintai. Dan aku akan terus mengirimkan sinar semuku ke permukaan tenangmu. Mencintaimu dengan setulus hatiku.

Malam itu… Riak menangis sejadi-jadinya menumpahkan air sebanyak-banyaknya kembali ke dalam danau yang sempat berlama kering. Danau itu kini kembali berisi. Setiap malam, ia dan Rembulan berkisah tentang kasih yang tak akan padam… entah sampai kapan.

Sigli, 3 Mei 2008

The U-turners

AddThis Social Bookmark Button apply.web.id Lintas Beritakan

Awalnya dari salah satu stasiun radio yang menyebut pendengarnya U-lovers, Motioners, lalu saya jadi teringat sebutan putih-abu2ers buat anak SMU. Di tikungan putar balik, pikiran saya beralih ke seorang anak muda (laki2) yang mengayun2kan tangannya seperti polantas. Aha! Ada U-turner di sini! Begitu melihat saya menyalakan lampu belok (turning signal), dia langsung berusaha mengakomodasi niat saya itu dan berusaha menyetop kendaraan dari arah yang berlawanan (dengan berdiri di tengah jalan), supaya saya bisa putar balik. Sebuah truk melambat dan akhirnya berhenti di depannya, saya pun maju. Usahanya saya hargai dengan memberikan koin 500an yg sengaja saya sediakan di mobil untuk orang2 seperti ini.

Pengatur lalu-lintas tidak resmi ini banyak bertebaran di mana2. Tidak hanya di tikungan putar balik, tapi juga di persimpangan, terowongan, dan parkiran liar. Kehadiran mereka kadang membantu, kadang menyusahkan, tergantung niat dan efisiensi mereka bekerja. Kadang ada yg dengan serius dan berupaya sistematis melancarkan lalu lintas. Jika kebetulan tidak diberi uang, lambaian tangan sopir akan dibalas dengan anggukan dan tangan terangkat ramah. Tapi ada juga yang malah bikin macet, terutama jika para pengatur tidak kompak dengan satu sama lain.

Pada intinya mereka mencari kesempatan memperoleh sedikit uang di tengah kerumitan belantara lalu lintas kota2 besar di Indonesia, di mana budaya mengalah sudah jarang dipraktekkan oleh pengemudi kendaraan bermotor. Yang ada adalah budaya nyodok. Untuk pengemudi penakut seperti saya, biasanya saya harus menunggu cukup lama di persimpangan sampai ada pengemudi yang cukup ramah dan mau memberi jalan. Pernah saya menerapkan teori: jika kita bersikap ramah pada pengemudi lain (dengan membuka jendela, melambaikan tangan dan tersenyum), pengemudi lain jg akan mau mengalah untuk kita. Entah ini sekedar teori tinggal teori, atau memang senyum saya lebih mengarah ke marah daripada ramah, usaha saya tebar pesona tidak membuahkan hasil, kecuali dibalas senyuman dan kedipan dari sopir truk yang terus maju tanpa memberi jalan.

Maka bersyukur juga saya dengan adanya para pengatur lalu lintas tak resmi ini. Dengan sedikit koordinasi tangan, mata dan kaki, bisalah saya berputar balik sambil menyerahkan gopean atau seribuan ke tangannya sebelum saya melaju.

Kalau para pengemudi kita semua tiba2 berubah santun dan patuh pada peraturan lalu lintas, tentunya anak2 ini tidak akan perlu berada di jalan. Mereka tidak perlu menghirup debu dan asap knalpot di bawah terik matahari demi sejumlah uang yang mungkin tak bertahan lama di saku mereka. Kalau para pengemudi kita santun dan patuh peraturan lalu lintas, anak2 ini tidak di jalan, bukan hanya karena tidak ada kerjaan di jalan, tapi karena mereka mungkin akan sibuk melakukan hal2 lain yang lebih positif, bermanfaat, dan tidak membahayakan kesehatan mereka. Mungkin pada sekolah, mungkin pada punya pekerjaan yang lebih baik. Karena saya pikir perilaku kita di jalan tentunya tidak jauh beda dengan perilaku kita sehari2. Sejauh mana kita menghormati peraturan?

Yah, mungkin kalau hari ini ketemu dengan para U-turners ini, mari kita panjatkan sepotong doa buat mereka, atau setidaknya harapan positif buat mereka. Entah bagaimana, mudah2an suatu hari mereka2 ini punya kehidupan yang lebih baik.

<obsesklik.blogspot.com>