GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Archive for September, 2008


Kekuatan Cinta

AddThis Social Bookmark Button apply.web.id Lintas Beritakan

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 3.0in right 6.0in; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:56.7pt 56.7pt 56.7pt 56.7pt; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Siang ini langit terlihat cerah, matahari dengan sinarnya yang begitu terik membuat Cayla merasa panas. Angin yang dinantikannya tak kunjung datang yang ada hanya hawa panas yang dirasakannya. Cayla enggan masuk kekamarnya, meski mama berulang kali memanggilnya masuk untuk makan. Cayla memang dari pagi duduk di balkon kamarnya, entah apa yang ada dalam pikirannya. Cayla sering duduk termenung di balkon kamarnya sejak dokter memfonisnya mengidap penyakit leukimia satu tahun yang lalu. Cayla sering terlihat murung, tak bersemangat dan diam. Cayla menjadi tak perduli lagi dengan apa yang terjadi disekitarnya. Mama masih memandangnya dari balik tirai jendela kamar yang tersikap. Mama tahu apa yang dirasakan Cayla, tapi mama tak bisa melakukan apa-apa.

” Cayla ayo masuk, mama temanin kamu makan. Kamu dari tadi pagi belum makankan?” akhirnya mama keluar dan menatap Cayla dengan cemas.

” Cayla gak lapar ma.” jawab Cayla yang masih duduk.

Mama memegang pundak Cayla. ” Kamu gak boleh gak makan. Nanti penyakit kamu kambuh lagi.”

Cayla akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan melangkah masuk kekamarnya. Mama hanya mengikuti Cayla dari belakang.

” Mau mama suapin?” bisik mama pada Cayla yang duduk diatas tempat tidurnya.

Cayla mengeleng-gelengkan kepalanya. ” Taruh aja dulu ma, ntar kalau Cayla lapar baru Cayla makan.”

” Ya uda. Kalau gitu mama tinggal dulu ya.” ujar mama.

” Iya. Makasih ya ma.”

Cayla teringat lagi pada Dion, cowok yang pernah menjadi pacarnya sebelum penyakit itu ada pada tubuhnya. Cayla memutuskannya dengan alasan dia akan pindah sekolah keluar negeri. Dion tidak pernah tau kalau Cayla memutuskannya karena Cayla mengidap leukimia. Sejak kata putus terucap dari mulut Cayla, Cayla tak pernah bertemu lagi dengan Dion. Cayla hanya mendapat kabar tentang Dion dari Nori sahabat setianya yang selalu ada untuk Cayla. Hanya Nori yang tau penyakit Cayla. Tiba-tiba terdengar suara orang melangkah menuju kamar Cayla. ’ Itu pasti Nori.’ Tebaknya dalam hati.

” Cayla!” panggil Nori dari balik pintu kamar.

” Masuk aja Nor.”

Nori kemudian membuka pintu kamar, dia masuk dengan membawa sesuatu didalam kantong plastik yang ada ditangannya. ” Aku bawain buah ni buat kamu.” Nori meletakkan buah yang dibawanya dimeja kecil yang berada disamping tempat tidur. Nori mendapati makanan yang belum disentu. ” Kok gak dimakan si Cay? Aku suapin ya.”

Cayla tersenyum dan mengangguk.

” O ya tadi aku ketemu Dion, dia nanyain tentang kamu lagi.”

” Dion? Memangnya dia nanya apa?” tanya Cayla sedikit penasaran.

“ Ya seperti biasa, dia nanya kapan kamu balik kesini? Dan kabar kamu gimana?” Nori terdiam beberapa saat.

Cayla menangkap sikap Nori yang tiba-tiba terdiam. “ Kamu kenapa Nor?”

Nori menarik napas pelan. ” Kenapa si Cay, kamu gak jujur aja sama Dion. Aku kasian liat kalian berdua kayak gini.”

Mata Cayla yang bulat berkaca-kaca. ” Percuma Nor, kalau aku jujur yang ada Dion tambah menderita. Cukup aku aja yang menderita Nor.” air mata sudah mengalir keluar dari mata Cayla. “ Kamu tau kan hidup aku gak akan lama lagi.” Lanjutnya.

Nori terdiam sesaat menatap wajah Cayla yang begitu sedih. ” Uda Cay kamu jangan nangis lagi, ntar penyakit kamu kambuh lagi.” Nori berusaha menenangkan Cayla, karena Nori tau kalau Cayla gak boleh kelelahan dan dokter menyarankan agar Cayla banyak istirahat.

Cayla tiba-tiba memeluk Nori. ” Maafin aku ya Nor… maafin aku, karena aku selama ini uda nyusahin kamu…”

” Kamu gak perlu minta maaf Cay. Aku gak pernah ngerasa kamu nyusahin aku. Aku senang bisa nemanin kamu.” ujar Nori dengan air mata yang akhirnya keluar dari matanya.

” Makasih ya Nor…”

” Ya uda kamu istirahat dulu ya… aku mau kupasin kamu buah.” Nori beranjak dari duduknya dengan membawa buah apel yang dibelinya.

Cayla kembali berbaring, tapi tiba-tiba saja penyakit Cayla kambuh dan dia langsung pingsan.

* * *

Cayla membuka matanya, dilihatnya ruangan yang asing baginya. ’ Aku dimana? Ini bukan kamarku.’ Tanyanya dalam hati. Mama yang tertidur disamping Cayla terbangun karena tangan Cayla tak sengaja menyentuhnya.

“ Kamu udah sadar. Mama panggilin dokter dulu ya..” mama kemudian berlari keluar untuk mencari dokter.

’ Ternyata aku pingsan.’ Batinnya.

Beberapa menit kemudian mama masuk dengan seorang dokter.

” Ibu keluar dulu ya, biar saya periksa Cayla dulu.” pinta dokter itu.

Mama pun berjalan keluar, sedangkan dokternya mulai memeriksa Cayla.

” Kamu harus melakukan kemo lagi.” ucap dokter itu ketika selesai memeriksa.

” Saya gak mau dok.”

” Kalau begitu saya keluar dulu.”

Dokter itu berbicara pada mama.

’ Aku gak mau kemo, aku gak mau…’ bantah Cayla dalam hati. Tiba-tiba muncul wajah Dion dibenak Cayla. ’ Seandainya ada kamu disini Dion, mungkin aku akan bisa melewati ini semua dengan tenang.’ Gumamnya dalam hati.

Mama masuk dengan raut wajah seperti memikul beban yang begitu berat. ” Kamu sudah tiga hari pingsan sejak Nori kerumah. Nori menangis dan merasa bersalah. Mama bilang kalau itu bukan kesalahannya. Kakak kamu sedang pergi mengurus sesuatu. Kamu mau minum?” cerita mama berusaha tenang dihadapan Cayla.

” Maafin Cayla ya ma, Cayla selalu buat mama sedih. Cayla gak mau kemo lagi ma, Cayla gak mau.” Ucap Cayla dengan air mata yang keluar membasahi pipinya.

Mama memegang tangan Cayla. “ Kamu gak perlu minta maaf. Mama juga gak akan maksa kamu untuk kemo. Udah kamu jangan nangis lagi.” mama kemudian mencium kening Cayla.

Tiba-tiba kak Calvin masuk. ” Cay… ada yang mau ketemu sama kamu.”

” Siapa kak?” tanya Cayla dengan mata yang masih lembap.

” Aku Cay.” kata Dion berdiri dengan wajah kecewa melihat orang yang dicintainya terbaring diatas tempat tidur.

” Dion aku… aku… ” ucap Cay terbata-bata.

Mama dan kak Calvin keluar meninggalkan mereka berdua.

Dion duduk disamping Cayla, dia mengenggam erat tangan Cayla. “ Kenapa Cay? Kenapa kamu bohongin aku Cay? Apa kamu tau, selama ini aku menderita menunggu kamu dalam ketidak pastian?” air mata menetes dari mata Dion. “ Apa kamu kira dengan kamu menyembunyikan ini semua dari aku, aku gak akan menderita dan sedih? Kamu salah Cay… aku lebih menderita dan sedih ketika orang yang aku cintai sedang sakit dan aku gak tau apa-apa.”

“ Maafin aku Dion… Maafin aku…” ucap Cayla dengan air mata yang kembali meluncur dipipinya.

“ Kemo Cay, kamu harus menjalaninya…”

Cayla mengelengkan kepalanya pelan. ” Gak, aku gak mau. Percuma Dion, kemo cuma memberikan aku harapan kosong.”

Dion menarik napas pelan. “ Apa kamu pernah dengar yang namanya keajaiban? Cinta kita Cay… dengan cinta kita keajaiban itu bisa terjadi.”

Cayla hanya diam mendengar apa yang Dion katakan.

” Apa kamu gak percaya Cay dengan keajaiban? Apa kamu gak percaya dengan cinta aku Cay? Kamu harus percaya Cay, keajaiban itu ada asal kamu percaya dan mau berusaha bangkit Cay…” Dion berusaha meyakinkan Cayla supaya mau menjalani kemo.

“ Aku percaya dengan keajaiban… aku juga percaya dengan cinta kamu Dion. Tapi aku takut Dion… aku takut…”

Dion mengusap pipi Cayla dengan lembut. “ Kamu harus percaya sama aku… kamu bisa melawan rasa takut itu Cay, dengan cinta kita. Dan aku janji aku akan selalu menemani kamu. Kamu maukan Cay?”

Cayla terdiam beberapa saat untuk berpikir. ” Tapi kamu janjikan gak akan ninggalin aku?”

Dion mengangguk. ” Aku janji.”

Akhirnya Cayla mengangguk sebagai jawabannya.

Dion kemudian mencium kening Cayla.

* * *

Keesokkan harinya, ketika suster hendak mendorong Cayla masuk kedalam ruang kemo, Dion menahannya untuk mengucapkan sesuatu. ” Kamu janji ya Cay kamu harus bisa melawan rasa takut itu. Aku akan nunggu kamu disini.. I LOVE YOU.” ujar Dion kemudian mencium kening Cayla.

Cayla tersenyum mendengar apa yang Dion katakan.

Suster itu kemudian mendorong Cayla masuk kedalam ruang kemo. Dion kemudian duduk dikursi panjang yang disediakan. Didepan Dion ada mama, kak Calvin dan Nori yang duduk dengan perasaan cemas. Semuanya terlihat pasrah dan cemas menunggu Cayla, terutama Dion. Dion menyandarkan kepalanya didinding. ’ Tuhan aku mohon lindungilah Cayla, berikan dia kekuatan untuk melewati kemo yang menyakitkan ini. Aku mohon Tuhan berikanlah keajaiban-Mu pada Cayla, buatlah harapan kosongnya menjadi nyata. Aku berjanji Tuhan, aku janji akan membahagiakan dia dan menembus kesalahanku. Aku mohon Tuhan berikanlah satu kesempatan lagi untuk Cayla agar tetap hidup.’ Batin Dion meneteskan air mata.

Nori yang juga cemas dan gelisah sesekali menatap jam tangan yang digunakannya. Dia tak sabar dan takut menunggu Cayla. ’ Cay, kamu harus kuat Cay. Aku yakin kamu pasti bisa melawan ketakutan itu Cay. Tuhan lindungilah sahabat aku yang sangat aku sayangi, lindungilah dia Tuhan supaya bisa melewati ini semua.’ Gumam Nori dalam hati sambil mengatupkan kedua tangannya layaknya orang yang berdoa.

Satu jam pun berlalu, dokter yang menangani Cayla keluar menggunakan masker diwajahnya. Dion dan mama dengan cepat beranjak dari duduknya dan menghampiri dokter itu. ” Bagaimana keadaan Cayla dok?” tanya Dion tak sabar.

” Iya bagaimana dengan keadaan anak saya dok?” tambah mama.

Dokter itu melepaskan masker yang digunakannya. ” Cayla sekarang masih kritis, dia belum sadar.”

” Apa itu artinya ada kemungkinan Cayla…” perkataan mama terputus. Air mata langsung mengalir keluar.

Kak Calvin mengusap pelan pundak mama. ” Mama harus yakin sama Cayla.”

” Yang Calvin bilang itu benar. Kami sudah berusaha sekuat kemampuan kami, semuanya kita serahkan pada yang diatas. Ibu berdoa saja supaya Cayla bisa melewati masa kritisnya.”

” Apa saya boleh masuk untuk melihatnya dok?” tanya Dion.

” Cayla masih kritis, nanti dia akan dipindahkan keruang ICU. Kalian sementara ini cuma bisa melihatnya dari luar. Kalau sudah dipindahkan kekamar pasien, kalian boleh menemuinya.”

” Makasih dok.” ujar kak Calvin.

Mama kembali duduk dibangkunya. Kak Calvin dan Nori berusaha menenangkan mama.

” Tante Dion kekapel sebentar, Dion mau berdoa.”

Mama hanya mengangguk.

Di kapel, Dion berlutut dihadapan salib Yesus. ” Tuhan anak-Mu Yesus Kristus pernah menyembuhkan orang yang buta menjadi bisa melihat, orang yang lumpuh menjadi bisa berjalan, bahkan orang yang sudah mati menjadi hidup kembali. Tuhan aku percaya akan keajaiban itu, maka aku mohon berikanlah keajaiban itu pada Cayla. Bantulah dia melewati masa kritisnya. Aku mohon pada-Mu Tuhan sembuhkanlah dia. Berikanlah dia satu kesempatan lagi untuk hidup mencari kebahagiaannya yang hilang. Aku mohon pada-Mu Tuhan. Amin…” ujar Dion meneteskan airmata.

Tiba-tiba Nori datang dan menepuk pundaknya. ” Tuhan uda mendengar doamu Dion, Cayla udah sadar walaupun masih lemah. Sekarang dia uda diruang ICU.”

” Terima kasih Tuhan.” Dion kemudian bangkit dan berlari menuju ruang ICU.

Ketika sampai diruang ICU, Dion hanya bisa melihat Cayla dari luar. Cayla masih terbaring lemah dengan bantuan alat pernapasan yang terpasang dihidungnya. Cayla menyadari Dion datang, dia kemudian tersenyum. ’ Terima kasih Tuhan, karena memberikan aku seorang cowok yang begitu baik dan setia menemani aku dalam keadaan seperti ini.’ Batin Cayla.

Dion kemudian menggunakan bahasa tubuh untuk mengatakan sesuatu pada Cayla. ” Tunggu sebentar.” ujar Dion tanpa suara.

Cayla hanya tersenyum.

Dion kemudian berlari dengan cepat menuju ketempat mengurus administrasi RS. Dua orang suster yang sedang bertugas sibuk menulis sesuatu.

” Maaf sus, boleh minta kertas besar dengan spidol?” tanya Dion dengan napas terengah-engah.

” Boleh, tunggu sebentar saya ambilkan.” Suster itu kemudian mengambil selembar kertas yang lumayan lebar dan spidol hitam. ” Ini kertas dan spidolnya.” ujar suster itu menyodorkannya pada Dion.

” Makasih banyak ya sus.”

” Sama-sama.”

Dion kemudian menulis kata-kata diatas kertas putih dengan spidol. Cay kamu harus semangat. Cepat sembuh ya supaya aku bisa disamping kamu. I LOVE YOU… kertas itu kemudian ditunjukkan pada Cayla. Cayla tersenyum membacanya.

* * *

Setelah satu minggu dirawat diruang ICU, akhirnya Cayla dipindahkan keruang yang biasa ditempati pasien. Selama diruang ICU, Dion tak pernah lelah dan bosan menemani Cayla, walaupun hanya bisa melihat Cayla dari luar. Cayla sekarang tampak lebih baik dari sebelumnya, Cayla mulai tertawa lagi dan bercanda dengan Dion.

” O ya kalau kamu udah boleh pulang dari sini, aku mau bawa kamu kesuatu tempat.” ujar Dion mengenggam tangan Cayla.

Cayla mengernyitkan alisnya. ” Mau kemana?”

Dion tersenyum misterius. ” Ada deh. Kalau kamu tau nanti kamu gak penasaran lagi donk. Kalau mau tau makanya cepat sembuh.”

” Ciee…” teriak Nori tiba-tiba muncul. ” Ngomongin apa nih kayaknya seru banget?” lanjutnya.

” Kamu kagetin aku aja Nor.” Ujar Cay.

“ Lagi ngomongin rencana bawa Cay jalan-jalan.” sambung Dion.

“ Aku dengar kamu besok udah boleh pulang ya Cay?”

Cay bingung mendengar pertanyaan Nori. “ Kamu tau dari mana Nor? Kok kamu gak bilang Dion?”

“ Sebenarnya rencana aku… aku mau kasi taunya ntar sebagai kejutan.. tapi berhubung udah dikasi tau sama Nori ya gak jadi kejutan lagi.”

“ Oops sorry… aku gak tau rencana kamu Dion, kenapa kamu gak ngasih tau aku dulu biar aku bisa ikutan ngasih kejutan?”

Mama tiba-tiba saja masuk membawa sesuatu dalam kantong plastik ditangannya. “ Lagi ngomongin apa sih, kayaknya serius banget?”

“ Gak kok tante. Lagi ngomongin rencana Cayla pulang besok.” Jawab Dion.

Mama tersenyum. “ Kirain lagi ngomongin mama.”

“ Ah mama ke GRan tuh.”

” Tapi kamu senangkan Cay besok udah boleh pulang?” lanjut Nori.

Wajah Cay langsung berubah menjadi bahagia. ” Bukan senang lagi, tapi senang banget… banget.. soalnya aku uda bosan harus disini terus.”

” O ya mama lupa ada yang ketinggalan. Dion kamu bisa temanin tante kekantin lagi gak?”

Dion beranjak dari duduknya. ” Bisa donk tante. Sayang aku temenin tante dulu ya.”

” Iya tapi jangan lama-lama ya.”

” Kamu tenang aja Cay, kan ada aku disini yang siap jadi suster pribadi kamu mengantikan Dion.” ujar Nori diikuti tawa kecil.

Cayla hanya tersenyum.

” Mama tinggal dulu ya sayang.”

Dion dan mama pun berjalan keluar menuju kekantin. Mama sepertinya sedang memikirkan sesuatu, Dion menyadari hal itu. ” Tante kenapa? Ada masalah sama Cayla ya?” tanya Dion tak sabar.

Mama berhenti melangkah, dia melihat kearah taman. ” Tadi dokter bilang ada dua kemungkinan untuk Cayla.”

” Kemungkinan apa tante?” tanya Dion terkejut.

Mama menghembus napas, berat. ” Kata dokter kemungkinan pertama Cayla hanya punya waktu satu atau dua tahun lagi. Kemungkinan kedua adalah keajaiban dari Tuhan. Cayla bisa sembuh jika keajaiban itu benar-benar Tuhan berikan. Kita hanya bisa berdoa dan harus siap menerima semua kemungkinan itu.”

” Kita gak boleh putus asa karena kemungkinan pertama. Kita harus percaya dengan Tuhan, segala sesuatu bagi Tuhan gak ada yang gak mungkin. Asal Cayla percaya dan punya kemauan untuk sembuh keajaiban itu bisa terjadi. Kita harus menumbuhkan kemauan Cayla tante.”

“ Terima kasih ya Dion kamu tidak meninggalkan Cayla dalam keadaan seperti ini. Tante bersyukur Cayla bisa mengenal seorang cowok yang baik seperti kamu. Tante juga mau minta maaf karena waktu itu tante mengikuti permintaan Cayla dan membohongi kamu.” ujar mama Cayla menepuk pundak Dion pelan.

“ Gak ada yang perlu dimaafin tante, karena kalau Dion jadi tante, Dion juga akan melakukan hal yang sama. Dion juga gak pernah menyalahkan tante atau marah sama tante karena membohongi Dion, karena Dion mengerti perasaan tante sebagai seorang ibu. Dion juga bersyukur bisa mengenal dan mendapatkan cewek seperti Cayla. Cayla membawa perubahan dalam hidup Dion. Cayla membuat Dion sadar kalau hidup itu berharga dan gak boleh disia-siakan.” Dion memeluk mama.

“ Tante sekarang percaya dengan kekuatan cinta, asal ada kamu disamping Cayla dan selalu mencintainya Cayla pasti bisa sembuh. Dengan cinta sesuatu yang terlihat berat akan menjadi ringan.”

“ Dion janji sama tante akan selalu membuat Cayla tersenyum bahagia dan gak akan ada air mata yang keluar dari mata Cayla dengan sia-sia karena Dion. Makasih ya tante udah mempercayakan Cayla pada Dion.”

Mama tersenyum lega. ” Sama-sama… ya sudah kita kembali ketempat Cayla, nanti dia khawatir kalau kita terlalu lama.”

* * *

Paginya mama dan Dion sibuk membereskan barang-barang Cayla, sedangkan Cayla duduk disofa menunggu mama dan Dion. Cayla duduk dengan senyum yang merekah dibibirnya, dia tampak bahagia dan tanpa beban. Setelah selesai membereskan barang-barang, Dion menghampiri Cayla dan duduk disampingnya.

” Gimana uda siap?” tanya Dion dengan senyum.

Cayla mengangguk pelan. ” Siap. Barangnya uda selesai diberesin ya?”

” Uda kok. Sayang, kamu mau jalan atau…” perkataan Dion terputus oleh Cayla.

” Aku mau jalan aja, aku masih kuat kok.” jawabnya dengan cepat.

Dion tersenyum melihat semangat Cayla.

Cayla kemudian bangkit dari duduknya, Dion yang membawa barang ditangan kirinya mengandeng Cayla dengan tangan kanannya. Sedangkan mama mengandeng Cayla dengan tangan kirinya dan tangan kanannya membawa barang. Mereka kemudian menggunakan lift untuk menuju kebawah. Liftnya pun berhenti dan terbuka ketika sampai dilantai 1.

” Cay kamu sama mama duduk disitu aja dulu, aku mau ambil mobilnya dulu, biar kamu gak perlu jalan terlalu jauh.” saran Dion menunjuk pada bangku panjang yang tersedia.

” Iya.”

Dion kemudian berlari menuju ketempat parkir untuk mengambil mobilnya. Sedangkan mama dan Cayla berjalan kebangku untuk duduk.

” Kamu mau minum?” tanya mama ketika duduk.

” Gak ma, Cayla gak haus.” Jawab Cayla.

Beberapa menit kemudian mobil Dion sudah terparkir didepan pintu utama. Dion kemudian turun dan berlari menghampiri Cayla dan mama. ” Biar barangnya Dion yang bawa aja tante, tante bawa Cayla masuk kemobil.” ucap Dion dengan napas tak beraturan.

” Ya uda.”

Mama kemudian menuntun Cayla masuk kedalam mobil, dari belakang Dion mengikuti dengan membawa barang dikedua tangannya. Nori dan kak Calvin pagi ini tidak ikut menjemput Cayla, karena mereka harus kulia dan sekolah. Sedangkan Dion demi Cayla dia izin tidak masuk untuk waktu yang lama. Dia tidak mau meninggalkan Cayla sedetikpun.

* * *

Siangnya Cayla makan dikamarnya ditemani Dion dan mama. ” Tante Dion boleh bawa Cayla keluar gak? Dion mau kasih Cayla kejutan.” tanya Dion tiba-tiba.

” Tante si terserah sama Caylanya aja.” jawab mama melihat kearah Cayla yang sedang makan.

” Cayla si mau banget.. abisnya dari kemarin dibuat penasaran sama Dion.” jawab Cayla dengan suapan terakhir.

” Kalau gitu boleh donk tante?”

” Iya, tapi jangan sampai Caylanya kecapaian ya, diakan baru sembuh.” pesan mama.

” Sip deh. Tante tenang aja dijamin Cayla pasti baik-baik aja.”

Cayla meletakkan piringnya dimeja kecil, dia kemudian meneguk segelas air putih yang sudah disediakan. ” Kapan perginya?” tanya Cayla tak sabar.

” Kamunya uda siap belum?”

” Uda kok.”

” Kalo gitu ayo kita berangkat.” ajak Dion dengan semangat.

Mama hanya tersenyum melihat Cayla kembali bersemangat lagi.

” Kalau gitu Dion pergi dulu ya tante.”

” Cayla juga ya ma.”

” Iya hati-hati ya.”

Dion membukakan pintu mobil untuk Cayla. Rasa bahagia tampak diwajah Cayla yang tersenyum sejak tadi. ” Makasih ya.” gumamnya pada Dion. Setelah masuk kemobil Dion menstarter mobilnya, sedangkan didepan pintu mama melambaikan tangannya. Cayla membalas melambaikan tangannya dan Dion pun menancap gas.

” Dion?”

” Iya sayang…”

” Kita mau kemana sih?”

Senyum misterius muncul dari bibir Dion. ” Ada de. Bentar lagi kamu juga tau. Yang pasti kamu bakal senang deh.”

Cayla akhirnya terdiam dan menunggu sampai ketempat yang Dion tuju.

” Bentar lagi sampai nih, kamu tutup mata ya.” pinta Dion.

Cayla tampak bingung. ” Kok pake tutup mata juga sih? Buat aku tambah penasaran aja.”

“ Uda pokoknya kamu tutup mata aja. Kamu percayakan sama aku?” kata Dion memegang tangan Cayla.

Cayla akhirnya menutup matanya.

Ketika sampai Dion memarkirkan mobilnya. Dia turun dan membuka pintu Cayla, kemudian menuntun Cayla turun. Setelah itu dia membimbing Cayla berjalan kesebuah taman dan duduk dibangku yang berada dibawah pohon yang rindang. ” Sekarang kamu boleh buka mata kamu.”

Cayla kemudian membuka matanya. ” Danau?” Cayla langsung memeluk Dion. ” Makasih ya Dion kamu mau bawa aku kesini.”

Dion mengusap kepala Cayla dengan lembut. ” Kamu ingat waktu kita baru jadian kamu minta aku bawa kamu kesini, tapi aku gak bisa penuhin permintaan kamu. Sekarang aku baru bisa penuhin permintaan kamu. Maafin aku ya?”

Air mata keluar dari mata Cayla. ” Iya aku maafin kok, dan aku gak pernah merasa kecewa waktu kamu gak penuhin permintaan aku.”

Dion melepas pelukannya. ” Kok kamu nangis?” Dion mengangkat tangannya untuk menyeka air mata yang ada dipipi Cayla.

” Aku nangis karena aku bahagia dan terharu.”

” Kita duduk ditepi danau yuk.” Ajak Dion.

Cayla kemudian beranjak dari duduknya, ketika hendak berjalan Dion menahannya.

” Kenapa?” tanya Cayla bingung.

Tiba-tiba Dion mengendong Cayla. ” Aku mau gendong kamu sampai ketepi danau.”

Cayla tersenyum bahagia. Kehagatan dari tubuh Dion bisa Cayla rasakan. Dion menatap Cayla dengan lekat. Tatapan Dion membuat jantung Cayla berdegup kencang. ’ Ya Tuhan jika ini mimpi jangan bangunkan aku dari mimpi indah ini.’ Batin Cayla.

Dion kemudian menurunkan Cayla ketika sampai ditepi danau. Mereka berdua kemudian duduk dirumput yang hijau. Cayla duduk menyandar pada dada Dion, dan Dion mendekapnya dengan kedua tangannya. ” Sayang apa kamu bahagia?” Bisik Dion dengan suara lembut.

” Dulu waktu aku tau aku hidup gak akan lama lagi, aku gak tau bahagia itu seperti apa… tapi sekarang, karena kamu aku bisa merasakan kebahagian yang gak akan pernah bisa aku lupakan.”

” Sssstt… kamu gak boleh ngomong gitu lagi. Kamu janjikan kalau kamu percaya kamu bisa sembuh.”

” Iya karena cinta kita aku percaya. Aku ingin sembuh dan aku gak mau ninggalin kamu.”

” O iya aku ada sesuatu buat kamu.” ucap Dion.

Cayla mengernyitkan alisnya. ” Apa?”

” Kamu tutup mata lagi ya.” pintanya.

” Lagi?”

Dion mengangguk pelan.

Akhirnya Cayla pun memejamkan matanya.

Dion kemudian merongoh koceknya. Diambilnya kotak kecil dari saku celananya. Dia membuka kotak itu, terlihat cincin dengan hiasan berbentuk hati. Dion mengambil cincin itu, diangkatnya tangan kiri Cayla dan Dion memasangkan cincin itu kejari manis Cayla. ” Kamu boleh buka sekarang.”

Cayla kemudian membuka matanya. Dilihatnya cincin terpasang dijari manisnya. Dirabanya dengan lembut. ” Makasih ya Dion.”

” Kamu suka gak? Itu lambang cinta aku ke kamu.”

Cayla langsung mengangguk sebagai jawabannya.

Dion mengusap wajah Cayla dengan lembut. Dia kemudian mencium kening Cayla dengan penuh kasih sayang. Air mata bahagia jatuh dari mata Cayla menetes tepat diatas cincin yang diberikan Dion. Cayla kembali duduk menyandarkan tubuhnya didada Dion.

* * *

Dua minggu sudah Dion selalu menemani Cayla. Cayla terlihat sudah sehat, dan tadi pagi dia baru pergi ke RS untuk mengambil darah untuk dilihat apakah penyakit Cayla sudah sembuh atau belum. Hasil test akan keluar sore ini. Cayla terlihat tegang menunggu hasilnya, dia takut hasilnya menunjukkan bahwa leukimia masih ada ditubuhnya. Tapi Dion tak pernah lelah meyakinkan Cayla bahwa dia pasti bisa sembuh. Dion selalu menemani Cayla, setiap detik mereka habiskan bersama-sama dengan bercanda dan bercerita. Ya cinta Dion memang hanya untuk Cayla dan cintanya begitu besar hingga membuat Cayla bisa bangkit dari kepasrahannya pada hidup. Dion sungguh-sungguh mencintai Cayla, begitu sebaliknya Cayla. Tiba-tiba telepon di rumah berdering, mama yang sedang berada di dapur langsung berlari untuk menerimanya.

” Hallo…” jawab Mama.

Hallo… ini dari rumah sakit Harapan, bisa bicara dengan Cayla?

” Saya mamanya. Apakah hasilnya sudah keluar?”

Iya ibu, hasilnya sudah keluar. Ibu bisa ke rumah sakit untuk mengambil hasilnya sekarang.

” Makasih sus.”

Sama-sama…

* * *

Di RS, Cayla dan Dion menunggu mama mengambil hasil testnya dengan suster. Dion duduk dengan mengenggam erat kedua tangan Cayla. ” Kamu tenang aja. Kamu percayakan dengan keajaiban itu?” gumam Dion menatap Cayla lekat-lekat.

Cayla hanya mengangguk pelan.

Mama datang dengan membawa sebuah amplop ditangannya. ” Yuk kita keruang dokternya. Kita udah ditunggu.” ajak mama.

Mereka memang sudah membuat janji sebelumnya dengan dokter yang menangani Cayla untuk melihat hasil testnya. Mereka kemudian berjalan keruang dokter yang juga praktek di RS ini. Sesampainya didepan pintu, mama mengetuk pintu dokternya.

” Masuk.”

Mama, Cayla dan Dion pun masuk kedalam. Terlihat dokternya sedang menulis sesuatu. ” O Cayla. Gimana keadaan kamu sekarang?” tanya dokter itu ketika melihat Cayla.

” Sudah lebih baik dok.” jawab Cayla dengan senyum yang terpaksa.

” Ini dok hasil testnya.” ucap mama menyerahkan amplop itu.

Dokter itu dengan cepat membuka amplopnya. Dari amplop itu dikeluarkan selembar kertas, dokter itu membacanya dengan serius. Mama, Cayla dan Dion menunggu dengan penuh harap dan cemas. Setelah membacanya, dokter itu melihat kearah Cayla.

” Gimana dok?” tanya Cayla tak sabar.

Wajah dokter itu terlihat kecewa.

” Apa hasilnya masih sama?” tanya Cayla lagi.

Tiba-tiba wajah dokter yang tadinya kecewa berubah menjadi tersenyum. ” Berterimakasihlah pada Tuhan karena keajaiban telah terjadi.” ujar dokter itu kemudian menyalami tangan Cayla.

” Apa itu artinya saya sudah sembuh total?” tanya Cayla tak percaya.

Dokter itu mengangguk dengan senyum.

Cayla langsung memeluk mamanya. ” Terima kasih Tuhan.”

Dion kemudian juga ikut memeluk Cayla. ” Terima kasih Tuhan telah memberikan keajaiban itu pada kami.”

” Terima kasih banyak Dok.” tambah mama.

THE END

DEJAVU OF LOVE

AddThis Social Bookmark Button apply.web.id Lintas Beritakan

PART 1,INI GUE KETUA OSIS SMU GARUDA

Hai….Pagi ini tersa cerah banget,Matahari bersinar dengan tersenyum bahagia banget..Mudah2an pagi ini bagi gue juga tersa menyenangkan banget walaupun ntar banyak tugas2 yang harus gue selesaikan..

Sebelum gue melangkah lebih jauh,kenalan dulu ya…Nama gue SHAFEYRIN AMARYLYS,gue anak ketiga dari 5 bersaudara.Banyak banget ya anak ortu gue and mereka beranggapan bahwa banyak anak banyak rezky and itu beneran terjadi lho..Sekarang nyokap and bokap gue lagi ada di australia,mereka lagi bisnis.

Namanya Muhammad Erick Yusuf.Dia seksi ketaqwaan di sekolah gue and dia saingan terberat gue waktu pemilihan ketua osis.Cewek2 sech pada sebel pas tau yang menang adalah gue bukan Erick!.Tapi yang pasti Life must goon,