Asmat termenung sambil menggigit kuku jarinya yang kotor. Rambut gimbal dan baju lusuhnya membuat ia semakin terlihat kumal. Padahal enam bulan yang lalu, Asmat membayangkan kehidupan yang indah di praja, tidak seperti di dusun transmigrasi yang ditinggali orang tua dan adik-adiknya sekarang. Tapi ternyata nasib di praja lebih sengsara dari pada di dusun. Orang-orang di praja banyak yang sombong, galak, angkuh dan tidak pernah mau memperdulikan nasib orang di sekitarnya. Egois!
Asmat terisak teringat dusun trasmigrasi yang damai, yang penuh gotong royong, gemah ripah loh jinawi. Semua penduduknya ramah, juga banyak teman yang bisa di ajak bermain petak umpet atau lari-larian di pematang. Di sini di praja, setiap malam ia harus menyaksikan anak sebayanya yang berjalan bergandengan dengan oom-oom genit, duduk di pojok halte atau berdiri di balik pohon. Mereka selalu merayu seperti yang di lakukan Emak dan Bapak di dusun. Asmat pernah melihat emak dan bapak berpadu seperti itu, waktu itu Asmat tidak sengaja membuka hordeng untuk memanggil Emak. Asmat terperanjat saat mendapati orang tuanya setengah telanjang. Maklumlah, rumah Asmat di dusun transmigrasi tidak ada pintu di setiap kamarnya. Hanya ada dua pintu, satu pintu belakang dan satu lagi pintu depan. Itu pun hanya terbuat dari bilah bambu yang di tebang dari pinggir sawah.
Asmat jadi jengah juga melihat kelakuan mereka, mereka seperti tidak punya norma. Asmat jadi risih dengan kehadiran Oom-oom itu, tapi harus bagaimana lagi? Ini tempat yang aman yang tidak di ganggu preman atau di goda pedagang kaki lima. Ngeri…
Asmat memegangi perut kempisnya yang berirama fals. Semakin hari semakin kempis saja perut Asmat. Lihat saja tubuhnya tidak sebagus sewaktu di dusun transmigrasi. Bagaimana bisa merawat, wong mengurusi perut saja susah. Asmat merebahkan tubuh di pohon, ia menarik kedua kakinya hingga menyentuh ujung dagunya yang lancip. Wajah Asmat semakin terlihat sangat tirus. Pipinya jadi cekung dan matanya sangat sayu.
Asmat menekan perut kempisnya, meringis menahan lapar yang belum juga sirna. Asmat teringat sesuatu, ia merangkak mendekati tong sampah, mengkais isinya. Asmat menemukan sebungkus kotak nasi. Asmat melenguh ketika membuka kotak itu, isi bungkusan itu banyak dikerumuni semut-semut. Tapi lumayanlah masih ada sisa nasi dan tulang ayam. Ya sudah, daripada kelaparan mending makan bareng semut-semut, toh semut-semut juga butuh makan.
Asmat menyingkirkan satu persatu semut yang mengerubungi nasi dan tulang ayam. Asmat menatap kosong semut yang berjajaran membawa serpihan makanan. Asmat teringat Yatmo dan Telon kedua adiknya yang nakal tapi lucu. Kadang ia bisa kesal dibuat oleh ulah mereka, tapi terkadang juga mereka membuat ia tertawa. Asmat dan kedua adiknya sangat suka nonton layar tancap di lapangan dusun, hampir setiap malam minggu. Emak dan Bapak pasti berjualan soto setiap ada layar tancap. Soto Emak enak dan murah, jadi digemari banyak orang.
Asmat terisak teringat Emak. Rindu sekali rasanya pada Emak. Apa Emak kangen sama Asmat? Pasti Emak dan Bapak mencari-cari Asmat. Sekarang ia menyesal tidak menuruti nasehat Emak dan Bapak.
***
“Kamu itu ke sana mau ngapain? Di sana kamu nggak punya sedulur, kamu nanti ikut siapa?” Emak bertanya sambil menyiangi daun singkong dari kebun kecil di sebelah rumah.
“Tapi Mak, kalau di sini terus kita bisa jadi susah. Aku nggak mau hidup susah, makanya aku harus kerja ke Jakarta, mak! Si Ndari aja bisa hidup enak sekarang. Lihat… rumahnya gedong, setiap bulan ia kirim uang banyak untuk Emak dan Bapaknya. Apa Emak tak mau seperti itu?”
“Kamu ini jadi orang kok nggak bersyukur! Lagi pula apa kamu tahu si Ndari itu kerja apa di praja? Wong cuma lulusan SD kok mau dapat kerja enak yang duitnya banyak.”
“Lho, Sulis juga nggak lulus SD, tapi ia bisa beli sawah berhektaran hasil Sulis kerja di Jakarta.”
“Oalah nduk… nduk… kamu itu sok tahu, sok mengerti. Mereka itu kerja nggak bener, Emak nggak mau kamu kerja seperti mereka, kerja yang begituan…”
“Kerja begituan apa… maksud, Mak?”
Emak diam dan terus mencuci daun singkong sebelum di masak dan membuat bumbu gulai.
“Sudah kamu marut kelapanya?” tanya Emak.
“Mak belum jawab pertanyaanku, ayo Mak!”
“Sudah… sudah! Kamu main saja sama adikmu itu!” ujar Emak kesal.
Asmat bersungut, lesu rasanya keinginannya untuk pergi ke Jakarta tidak diberi izin Emak.
Malam hari setelah Bapak pulang dari sawah, Asmat merayu Bapak agar mengabulkan keinginannya untuk pergi ke praja. Tapi Bapak malah lebih keras menantang.
“Kamu di sini saja, Asmat! Kamu tidak boleh ke mana-mana! Dan lagi, anak pak Kades katanya mau melamar kamu.”
“Asmat belum mau kawin, pak! Ini bukan jaman Siti Nurbaya! Asmat masih kecil dan masih mau bebas! Asmat mau cari kerja!” Asmat menggerutu, Emak dan Bapak sama kolotnya! Asmat ngambek dan lari ke bale kamarnya yang juga kamar kedua adiknya. Mereka tidur bertiga dan tidak memakai kasur, hanya berselimut sarung yang sudah usang dan banyak tembelan di sana-sini.
Emak menghampiri Asmat, membelai rambut Asmat dan berusaha menghiburnya. Tapi Asmat malah menangis keras.
“Nduk, kamu jangan terhasut omongan Ndari dan Sulis. Kamu itu cah wadon satu-satunya yang Emak punya. Emak tidak mau terjadi sesuatu yang buruk terhadapmu, tolong pikirkan perasaan orang tuamu ini, nduk…” Emak memijit kaki Asmat. “Lebih baik kamu tinggal di sini membantu Emak dan Bapak mengurus wedus. Kalau ternaknya banyak kan bisa buat biaya sekolah kamu dan adik-adikmu.”
“Emak dan Bapak emang nggak ngerti keinginan Asmat!” Asmat terus saja merengek. Ia membenamkan wajahnya di bantal yang terbuat dari kapuk pohon randu. Emak hanya diam sambil mengelus dada. Emak tidak tahu lagi harus bagaimana membujuk Asmat.
***
Asmat terpaku merenungi nasibnya kini. Terkadang Asmat ingin mengikuti jejak Ndari dan Sulis bekerja sebagai wanita penghibur. Tapi ia tidak mau, ia beruntung bisa melarikan diri dari asrama. Pasti mereka marah besar, karena telah menanggung ongkos pergi ke Jakarta dan biaya hidupnya selama di asrama.
“Sudahlah As, nggak usah terlalu dipikirin. Soal ongkos ke sana, nanti kami yang menanggung dulu. Nanti kalau kamu sudah punya uang, kamu bisa bayar ke kami. Yang penting kamu harus punya niat untuk benar-benar bekerja.” Ujar Ndari.
“Tapi aku nggak punya banyak baju yang bagus untuk kereja. Kamu kan tahu bajuku banyak yang sudah sesak dan compang-camping. Maklum, aku nggak pernah beli baju baru. Bajuku semua bekas di kasih orang.’
“Tenang… nanti di sana, aku kasih kamu baju. Bajuku banyak yang nggak kepakai.” Sulis meyakinkan Asmat.
“Di sana kamu bisa hidup enak. Mau apa saja ada, seperti di sorga.”
Asmat mengangguk senang. Ia membayangkan nikmatnya hidup di Jakarta. Dan nikmatnya punya uang banyak. Asmat membayangkan punya rumah gedong dan sawah yang luas. Tapi kini Asmat mengerti arti omongan Emak tentang kerja ‘begituan’.
Asmat meratapi nasibnya yang tak seberuntung mereka. Tapi nasib yang bagaimana? Nasib seperti apa yang ia cari? Lalu apa arti nasib itu yang sebenarnya? Yang Asmat tahu hanya nasib baik dan nasib buruk, menurut ukuran dan penilaian orang yang menjalani. Tergantung juga bagaimana kita menerima nasib itu untuk merubahnya dengan jujur dan tulus dan mensyukurinya.
Asmat merogoh kantong bututnya mengambil secarik kertas. Asmat masih menyimpan nomor telepon asrama dan dua buah koin dua ratusan. Ia ingin menelepon Sulis, agar ia mau meminjamkan uang untuk ongkos pulang ke dusun transmigrasi. Asmat meremas-remas kertas itu sambil berfikir. Telepon… tidak… telepon… tidak… Asmat semakin bingung. Ia tidak mau Sulis membawanya kembali ke asrama, menyuruhnya memakai baju sexy dan rok mini lalu menyerahkan diri pada ‘Mami’ untuk melayani tamu-tamu Mami yang ganjen dan penuh birahi. Tapi Asmat butuh uang untuk pulang ke dusun. Tapi bagaimana ia dapat mengembalikan hutangnya pada Ndari dan Sulis nanti, kalau tidak bekerja? Dan hutangnya yang lalu saja belum terbayar, tak mungkin Emak dan Bapak bisa cepat mengembalikan hutang-hutangnya. Asmat berpikir keras.
Dentuman air hujan sebagian mengguyur kota Jakarta dengan deras. Jalan Ampera mulai sedikit tergenang air. Di pelataran halte, Asmat meringkik di sela lipatan tangannya. Ia tidak memperdulikan orang-orang yang memandang dengan jijik padanya. Yang ia fikirkan saat ini adalah bagaimana ia bisa pulang ke dusun transmigrasi.
Asmat memandangi satu persatu orang yang berteduh di halte. Tiba-tiba pandangan Asmat buyar, ia tidak bisa melihat dengan jelas. Asmat tidak sadar apa yang sedang terjadi padanya. Asmat hanya memejamkan mata, ia bermimpi sambil tersenyum. Ia telah kembali ke dusun transmigrasi, membantu Emak memasak, juga membantu Bapak mengangon kambing. Berlarian di pematang sawah bersama Yatmo dan Telon. Dan bermain petak umpet dengan teman-teman baru yang dikenalnya dari sekolah. Asmat memakai seragam putih biru.
Di dusun transmigrasi, Emak mulai sakit-sakitan. Badannya terlalu ringkih karena selalau memikirkan Asmat. Emak sudah berusaha mencari bantuan ke mana-mana untuk menemukan Asmat. Emak mendengar dari Ndari kalau Asmat menghilang dari asrama yang di tempatinya bersama Sulis.
“Pak… ke mana perginya anak itu ya pak? Bagaimana keadaan Asmat?” ujar Emak cemas.
“Jangan terlau di pikir, Mak! Bapak sudah minta tolong pak Kades untuk membantu kita. Berdoa saja Mak, mudah-mudahan Asmat cepat di temukan.”
“Tapi aku tetap khawatir Pak, Asmat tidak punya siapa-siapa di Jakarta. Asmat nggak punya bekal cukup uang, Pak. Bagaimana kalau Asmat kelaparan dan jadi gelandangan? Emak tidak bisa tenang, Pak.” Emak terisak dipelukan Bapak. Emak jadi menyalahkan diri karena tidak bisa menjaga dan merawat Asmat dari keadaan ekonomi yang serba kekurangan. Yang tidak bisa memberi kemewahan pada Asmat juga pada adik-adiknya. Emak masih terisak, Emak merasa begitu beratnya beban hidup ini. Ia harus menanggung derita yang begitu dalam.
“Pak, jangan-jangan si Asmat diculik dan di jual ke luar negeri. Sekarang kan banyak kejadian yang seperti itu, Pak. Lihat saja di tv!”
“Hush, jangan berpikir jelek seperti itu, Mak! Jangan berpikir terlalu jauh, kita berharap saja pada pertolongan pak Kades dan saudaranya yang ada di Jakrta. Semoga mereka cepat menemukan Asmat dan membawanya pulang dengan keadaan sehat.”
“Tapi aku sudah tak tahan ingin bertemu Asmat, Pak.” Emak sesenggukan.
“Sudahlah mak… sabar saja… pikirkan kesehatan mak. Kalau mak sakit, bagaimana bisa membantu mencari Asmat.”
Tangis mak meledak. Bapak jadi tak kuasa menahan tangis, walaupun bapak adalah seseorang yang tegar, bapak juga manusia biasa yang punya nurani. Bapak memeluk Emak kencang. Mereka sama-sama tidak bisa menahan kesedihan yang teramat sangat. Yatmo dan Telon yang mendengar percakapan orang tuanya jadi ikut berpelukan dan menangis di hadapan mereka. Mereka semua merindukan Asmat.
Di luar gubug yang di tempati Emak sekeluarga, angin menderu kencang. Hujan turun dengan deras. Tidak ada satupun jendela dan pintu rumah penduduk yang terbuka. Dusun transmigrasi yang sunyi semakin sunyi. Semua mengurung diri menghindari hujan yang lebat.
Bapak memeluk Emak kencang. Badan Emak begitu dingin terasa seperti membeku, Bapak mencoba memberi sedikit kehangatan untuk Emak sampai Emak tertidur pulas di pelukan Bapak. Dalam mimpinya Emak pergi ke Jakarta naik bus lalu naik ke kapal menyeberangi lautan jawa. Sesampai di Jakarta, ia bertemu dengan Asmat. Asmat bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Asmat sedang menyiram bunga dengan memakai baju yang bagus saat Emak menemuinya. Asmat terlihat sangat cantik. Asmat mengajak emak berkeliling jakarta. Emak tersenyum senang. Mereka berdua berlarian dan berpelukan. Bahagia…