GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Archive for December, 2008


kumpulan cerita lucu kocak hiper gokil

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Tragedi bulan madu

kuswandi

Udah setengah tahun Lisa dan Tono sibuk nyiapin acara bulan madu mereka, Maklum penganten baru, kabarnya besok mereka akan bertolak menuju Jepang, kota para Samurai. Dari malam mereka udah nyiapin perlengkapan b’wat n’tar di sono.

***

” Mas…. n’tar klo dah nyampe mo ngapain dulu”. goda Lisa

” Ah… kamu pura-pura gak tau dek!”.

Pikiran si Lisa, membayangkan tono adalah seorang suami yang romantis abizzz..!!!!

” Ah…masa mo langsung sih mas”.

” iya…biar sempet”.

Pikiran lisa semakin menjadi-jadi.

” kamu siap gak dek”.

” selalu siap mas”.

” berarti nanti aku ngerapiin baju , kamu celana ya…. dek!”.

“hah…!!!!”.

Lisa tertegun malu, ternyata yang ia pikirkan 1000% salah total.

” dah…dek sekarang kita tidur dah malem”.

***

pagi t’lah tiba, sang surya , tetangga sebelah pun udah bangun. lisa dan tono udah berdiri di depan pintu gerbang , nungguin taxi lewat.

“udah.. 1 jam nunggu kok gak ada taxi lewatya…. dek”.

” lagi macet kali mas”.

seperempat jam kemudian tono memutuskan untuk menelfon security perumahan itu.

” mas… kok gak ada taxi lewat ya….mas”.

” maaf.. mas taxi gak boleh lewat sini”.

The Novel – Prolog

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

 ~ PROLOG ~

 

Semuanya tampak gelap, hitam.

 

Tak setitik cahayapun di sekelilingnya. Ia meraba-raba dalam gelap. Menyambarkan tangannya sekenanya, tetapi tetap hati-hati. Ia tidak ingin mengenai sesuatu yang tidak ia inginkan, atau terpaksa harus memecahkan sesuatu. Ia hanya mencari sesuatu di sekitarnya yang dapat menggambarkan keadaan sesungguhnya.

 

Dengan sangat hati-hati ia mulai melangkahkan kakinya. Udara terasa begitu lembap dan pengap. Hidungnya tampak mencoba membau sesuatu, menemukan petunjuk sebisanya. Ia tak tahu depan atau belakang. Tak tahu harus melangkah ke mana. Seperti seorang buta yang mencoba menyelami keadan sekelilingnya. Bayangannya mulai melayang kemana-mana, mencoba menebak tempatnya kini berada.

 

Sesaat ia mulai bisa mengatasi kepanikannya. Segala sesuatu harus dipirkan dengan tenang, pikirnya. Ia mulai memutar otaknya. Sebenta memejamkan matanya, lalu membukanya lagi. Berharap matanya dapat lebih cepat menyesuaikan diri dengan sekelilingnya. Tidak berhasil. Keadaan begitu gelap total. Ia mulai memberanikan diri melangkah. Kakinya merasa lantai yang dipijaknya rata, sejauh beberapa langkah ini. Kedua tangannya tetap berputar-putar ke segala arah. Sampai akhirnya…

 

Cahaya.” Katanya lega, walau untuk sesaat.

 

Seberkas cahaya mulai tampak menerobos masuk di alam gelapnya. Seberkas cahaya terang di kejauhan. Enatah berapa jauh, tapi kelihatannya tidak terlalu jauh. Tapi cahaya itu segera hilang kembali. Tidak lama kemudian, merekah kembali, tapi hanya sedikit, lalu perlahan hilang kembali.

 

Apa-apaan ini,” pikirnya dengan agak kesal.

 

Ia memutuskan berjalan lebih cepat, walau tetap waspada. Tak begitu jauh ternyata. Sesaat kemudian akhirnya matanya menemukan pandangan yang lebih jelas.

 

Ternyata sebuah pintu. Pintu yang terbuka dan tertutup seperti engselnya sudah rusak, sehingga cahaya yang dari luar masuk silih berganti. Suara derit pintu itupun semakin jelas terdengar. Akhirnya dia bisa keluar.

 

Disibaknya pintu berderit itu lebih lebar, menyebabkan suaranya kebih keras terdengar. Ia menoleh ke belakang, mencoba mengenali ruangan tempatnya tadi berasal. Ternyata ruangan tempatnya tadi berasal seperti sebuah ruangan bekas gudang yang sudah tidak terpakai. Hampir tidak ada apa-apa di dalamnya, kecuali beberapa tongkat kain pel yang sengaja diletakkan berdiri tak jauh dari tempatnya berasal. Paling tidak itu menurut perkiraannya.

 

Tak mau berlama-lama di sana, ia mulai menyusuri lorong yang sempit itu. Beberapa lampu yang redup tampak menggantung dengan kabel yang agak terkelupas. Baunya masih tetap pengap, meskipun tidak terlalu lembap lagi. Tempat ini seperti bekas puskesmas, atau rumah sakit kecil. Yang jelas sudah lama ditinggalkan. Bau khas rumah sakit masih sedikit tertangkap oleh indra penciumannya. Bau-bau itu tampaknya menyusup keluar melalui beberapa pintu ruangan yang tampak sedikit terbuka. Ruangan-ruangan itu berjajar di samping kirinya. Beberapa tampak terkunci, tapi yang lainnya sedikit terbuka, seperti terdorong oleh angin. Yang pasti semuanya tampak gelap tanpa penyinaran sedikitpun.

 

Ia menambah kecepatan langkahnya menuju sebuah pintu yang tampak tertutup di depan sana. Mungkin pintu itu tidak terkunci, mungkin itulah jalan keluarnya. Di samping intu itu ada jendela, mungkin ia bisa mengenali di mana ia berada sekarang, bila saja ia dapat memandang ke luar jendela yang dari jauh tampak berteralis itu.

 

Sesampainya di depan pintu itu ia langsung memutar kenopnya dan berusaha membuka pintu, tapi pintu itu terkunci. Harapannya pun kembali pupus. Ia berusaha sekuat tenaga untuk membuka pintu itu. Menggedor-gedor, seolah yakin ada orang di luar sana yang akan membantunya. Suara tak kunjung berbalas. Pintu pun tetap diam tak bergeming.

 

Cepat-cepat ia mengalihkan matanya ke jendela di samping kanannya. Ternyata jendela itu masih tertutup, dan juga terkunci. Ia mencoba membuka jendela itu dari dalam, memaksanya sekuat tenaga, tetapi tidak berhasil, seperti dihalang-halangi oleh sesuatu dari luar. Ia bergegas melayangkan pandangannya di sekelilingnya, mencari sesuatu yang dapat dipakainya untuk membuka sesuatu. Mungkin sebuah tongkat, atau sebuah linggis kalaupun ia beruntung. Atau mungkin… sebuah tongkat kain pel?

 

Sejenak ia seolah mendapat ide untuk kembali dan mengambil tongkat pel yang sempat ia terlihat di ruangan bekas gudang tadi. Ia pun berbalik arah kembali menuju ke tempatnya berasal. Dua langkah baru saja ditapakinya, ketika tiba-tiba….

 

Krieeeet!” Suara sebuah pintu karatan dari ruangan yang tadi terletak persis di sebelah gudang yang tadi tertutup rapat tampak sedikit demi sedikit terbuka lebar. Tak lama kemudian disusul di ruangan sebelahnya lagi. Pintu itu, yang tadi memang sedikit terbuka, juga perlahan mulai terbuka lebar, ”Krieeeet!”

 

Belum selesai pintu kedua terbuka, maka pintu lain mulai menyusul, seolah tidak ingin ketinggalan. Maikn lama makin banyak ruangan yang terbuka, makin mendekat ke arahnya berdiri.

 

Keringat deras mulai mengucur, detak jantungnya berdegub kencang tak beraturan. Segala pikiran aneh mulai terbayang. Ketakutan mulai meresapi relung-relung benaknya. Mulutnya tampak terbuka, tapi tak satupun suara keluar dari kerongkongannya yang mendadak menjadi semakin kering. Hanya air ludah yang sesekali ditelannya, yang mampu membasahinya sementara. Seolah tak percaya dengan keadaan itu, ia mulai mengusap-usap matanya, meyakinkan diri bahwa ia tidak sedang bermimpi. Ia berpegangan pintu, seolah itu adalah pertahanan terakhirnya, mengingat ia tidak dapat lagi pergi ke mana-mana.

 

Tak lama setelah pintu terakhir di ruangan yang hanya berjarak tidak lebih dari lima meter didepannya terbuka, mulai terdengar derap langkah perlahan dari kejauhan, dari pintu yang tepat di sebelah gudang. Seperti suara langkah orang yang menyeret kakinya, karena kelelahan. Dan suara itu pun tak lama kemudian mewujud dalam diri seorang wanita berambut panjang terurai, berkulit pucat pasi. Rambutnya tampak terurai awut-awutan dari kepalanya yang….. tidak tampak. Ya, kepala itu tidak tampak sama sekali, apalagi wajahnya. Hanya sepasang mata sayu yang sedikit kelihatan dari balik lubang di kain karung goni yang menutupi rambut hingga lehernya.

 

Tubuh yang seperti mayat hidup itu tampak mulai berjalan perlahan ke arahnya. Seolah hendak mengatakan sesuatu yang tertahan di mulutnya yang tampak kembang kempis dari balik karung goni. Belum juga sosok itu melewati pintu kedua, terdengar langkah yang sama dari ruangan kedua, yang tak lama kemudian menyeruakkan sosok yang hampir sama, hanya saja kali ini tubuhnya lebih pendek, seperti anak remaja, yang kelihatannya juga seorang wanita. Mendadak di ruangan ketiga juga teradi hal yang sama, dan semakin lama semakin banyak ruangan yang terbuka. Juga semakin lama makin cepat seolah mereka semua sudah tidak sabar untuk menyantapnya. Semua berjalan gontai dengan suara yang tidak terdengar jelas.

 

Pintu di belakangnya tetap tertutup, seberapa keraspun ia mengguncang-guncangkannya. Tanpa berpikir panjang ia langsung berlari secepatnya masuk ke ruangan terakhir yang paling dekat dengannya, yang kebetulan saat itu, entah kenapa tetap tertutup rapat. Syukurlah pintu itu dapat segera terbuka, sehingga ia secepat kilat masuk kedalamnya, dan mengunci segera pintu itu. Terdengar suara-suara makin mengeras di luar, rupanya mereka makin mendekat. Tak lama kemudian suara-suara itu perlahan berhenti, seolah menyerah karena mangsanya mengunci diri di dalam kamar.

 

Keadaan sudah agak tenang, hanya suara langkah kaki bergerak-gerak di luar pintu tersebut, seolah menanti ia keluar. Ia tidak akan keluar, tidak sampai kapan pun. Selama bayangan mereka masih terlihat lewat kaca buram di bagian atas pintu

 

Ia mulai meraba kembali dalam gelap, mencari saklar lampu yang dapat dipakai untuk meneranginya. ”Klik” lampu pun menyala. Ternyata saklar itu di dekat pintu masuk. Ia dapat melihat bayangannya sendiri membesar di depannya. Ia terengah-engah, mencoba mengendalikan dirinya sendiri. Tanpa disadarinya, sesosok tubuh berdiri di belakangnya. Seorang wanita dengan baju compang-camping. Matanya sayu dan terlihat bekas air mata mengering di sepanjang kantung matanya. Mukanya tertutup goni. Kulitnya pucat pasi, dipenuhi bekas pukulan dan cakaran di beberapa tempat. Dan akhirnya ia menoleh…

 

Mendadak mata wanita itu terbelalak, mulutnya terlihat menganga dari balik kain goni, seolah ingin menerkamnya.

 

to be continued…