BAB 1
”Titit….. Titit….. Titit…..,” suara itu semakin lama semakin keras dan menerobos hingga ke alam bawah sadarnya. Tiba-tiba… ”Hah!” Tubuhnya terguncang sesaat. Kedua matanya tiba-tiba terbuka secepat kilat, seolah tidak memerlukan penyesuaian dengan keadaan sekitar. Degub jantungnya terasa berdetak kencang. Mukanya sesaat menampakan ekspresi kaget yang khas orang yang baru terbangun dari mimpi buruk, atau aneh. Ia melihat bajunya basah oleh keringat. Tersadar, bahwa semua yang baru saja dialaminya hanyalah mimpi, semua hanyalah ilusi. Cepat-cepat ia mematikan alarm yang memang ia setting pada malam sebelumnya. Maklum, hari itu ia harus masuk kuliah lebih pagi dari biasanya.
Hari itu Gilang merasa kondisinya sedang tidat fit. Sejak kemarin malam badannya meriang dan menggigil. Ia belum sempat berkonsultasi ke dokter. Ia percaya bahwa dengan menelan sebutir vitamin, maka keesokan hari ia akan baik-baik saja. Sayang, dugaannya meleset. Tubuhnya sudah terlanjur sakit, jadi akhirnya yang ia minum adalah obat, bukan cuma vitamin.
Setelah menyiapkan air hangat untuk mandinya, Gilang langsung masuk ke kamar mandi untuk ”memanjakan” tubuhnya dalam kehangatan air di sebuah bath tub. Sambil menikmati kehangatan air yang seolah melakukan terapi terhadap tubuhnya yang agak meriang, ia mencoba mengingat-ingat kembali mimpinya tadi malam. Sungguh mimpi yang aneh, pikirnya. Semua itu masih melekat di dalam benaknya. Sesaat ia mencoba untuk mengartikannya. Tetapi cepat-cepat ia mengambil kesimpulan bahwa itu hanyalah sebuah mimpi biasa. Mungkin ia terlalu capek karena kondisinya yang kurang fit, sehingga munculah mimpi aneh itu.
Segera setelah selesai mandi, ia turun dari kamarnya untuk menjemur handuknya, dan segera pergi ke ruang makan untuk sarapan pagi.
”Mam, Papa ke mana ?” Tanya Gilang sambil lalu dengan nada datar seolah tak terlalu berharap jawaban. Belakangan memang ia tampak agak berbeda. Ia seolah tak ingin tampak terlalu mengurusi hal-hal kecil – padahal itu memang sudah menjadi kebiasaannya, bahkan mungkin kelebihannya.
”Papa masih ada di kamar mandi. Sebentar lagi pasti turun.” Mamanya menjawab sambil menyiapkan beberapa piring dan gelas serta lauk pauk untuk sarapan sekeluarga. Keluarga Gilang jelas keluarga yang cukup, meskipun tidak berlimpah. Tetapi ibunya selalu mendidiknya untuk hidup sederhana dan mandiri. Memang hal itu masih memerlukan perjuangan, mengingat Gilang adalah anak semata wayang. Hampir semua orang tahu mitos tentang kemanjaan anak semata wayang. Syukurlah Gilang sudah agak mandiri, paling tidak itu yang ada di benak ibunya.
Tidak lama kemudian Gilang melihat ayahnya turun dengan langkah cepat seolah ada hal penting yang harus segera dilakukannya. Masih mengenakan celana pendek dan kaos t-shirt kuning bergambar lambang negara singapura, yang dibelinya sejak beberapa tahun yang silam. Masih segar dalam ingatan Gilang saat ia sekeluarga pertama kalinya ke singapura beberapa tahun yang lalu.
***
Ia begitu menikmati saat-saat berada di dalam Esplanade building, gedung pusat kesenian dan kebudayaan yang khas karena bentuknya yang mirip kulit durian itu. Tak lupa juga bagaimana ia kagum melihat pertunjukan theater berharga mahal di malam harinya, dalam gedung yang sama.
Suatu sore Gilang pernah takjub melihat beberapa anak muda menggunakan salah satu hall yang berada di jalan akses menuju gedung itu, untuk melakukan latihan tarian hip-hop kreatif atau aksi rollerblade. Tempatnya memang terletak agak di bawah tanah dan tidak terlalu luas, tetapi orang-orang yang melewati ruangan itu pasti mau tak mau melirik ke arah anak-anak muda kreatif itu. Hall itu sudah menjadi seperti markas dadakan bagi beberapa anak muda di kota itu.
Ia bertanya-tanya dalam benaknya, apakah suatu saat ia bisa pergi lagi ke Singapura. Ia sangat mengaguminya. Maklum, ia memang belum pernah ke luar negeri sebelumnya. Jadi pengalaman itu seperti jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia bahkan sempat berangan-angan untuk menabung sehingga suatu saat bisa pergi ke sana sendiri, atau mungkin bekerja di sana. Semua ini dipikirkannya bahkan ketika masih ada di sana.
Memang Esplanade menjadi salah satu gedung kesukaannya sebagai seorang anak muda, dan seorang mahasiswa yang sangat mengagumi dan menggandrungi bidang study arsitektur. Letaknya tak jauh dari patung ”Marlion”, yang merupakan salah satu tempat wajib-kunjung di Singapura, membuatnya sangat antusias ketika orang tuanya mengajak ke Singapura.
Di sana juga ia sempat bertemu Karen, seorang gadis berparas ayu yang pernah dikenalnya lewat chatting. Karen asli kelahiran Singapura, tetapi pernah tinggal beberapa bulan di Jakarta karena mengadakan study di bidang sastra. Ia adalah mahasiswi salah satu universitas bergengsi di Singapura. Saat-saat perjumpaannya dengan Karen adalah saat-saat yang paling tidak dapat dilupakannya selama berada di Singapura, karena hal itu yang membuat dia hampir tersesat dan kehilangan jejak orang tuanya yang saat itu memang berjalan agak jauh terpisah dari Gilang. Untunglah, dengan bantuan Karen ia akhirnya berhasil mencari orang tuanya, yang saat itu juga kebingungan karena kehilangan jejaknya.
Sampai saat ini nomor telepon Karen masih disimpannya, meskipun tidak pernah lagi dihubunginya, sejak ia tahu bahwa Karena sudah bertunangan. Mereka masih beberapa kali berhubungan lewat ruang chatting di internet meskipun hanya sebagai teman, sampai kira-kira hampir setahun yang lalu. Karen tidak pernah lagi bisa dihubungi sejak saat itu, mungkin ini memang jalan terbaik buat mereka berdua, terutama untuk Gilang.
***
Ayahnya bergegas menuju ruang keluarga, ke meja kerjanya. Membuka laptop sebentar dan menyiapkan beberapa dokumen presentasi yang berkaitan dengan proposal pengajuan dana untuk even pameran tunggal yang akan segera diadakan. Sebagai seorang manajer marketing di bidang property, itu sudah menjadi kewajibannya. Dan selama ini anggaran yang diajukannya tidak banyak mengalami revisi, koreksi atau bahkan penolakan. Ini berkat kecermatan dan pengalamannya bertahun-tahun di dunia property.
Biasanya mereka memang jarang makan bersama, semuanya mempunyai jadwal kesibukannya masing-masing. Tetapi minimal mereka masih sempat bertatap muka di meja makan, meskipun hanya untuk beberapa menit saja. Paling tidak cukup untuk bertegur sapa dan sekedar berbasa-basi. Tetapi di dalam benak Gilang hal itu kini sudah mulai dianggap basi.
Segera setelah menyiapkan semua dokumen yang diorganisirnya dengan baik dalam sebuah flash disk, ayah Gilang kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Gilang yang juga sudah diburu waktu karena harus masuk kuliah pagi hari, cepat-cepat kembali ke kamarnya dan berganti pakaian seadanya serta tidak lupa memasukkan laptop kesayangannya ke dalam back pack hitam polos, yang baru dibelinya dari hasil mengajar les privat beberapa waktu yang lalu. Kini ia siap untuk pergi – meskipun tidak sepenuhnya, tetapi begitulah tipikal anak muda masa kini, asal ada handphone dan dompet, sudah cukup untuk pergi ke luar rumah.
Hanya selang beberapa menit saja, ia sudah nampak terbungkus rapi dalam balutan jaket dua warna hitam-merah, lengkap dengan sarung tangan kulit dan helm teropong berwarna silvertone serharga hampir empat ratus ribu rupiah. Ia mendapatkannya dengan harga khusus karena membelinya di salah satu teman kampusnya. Kini ia sudah mengambil posisi di atas jok sepeda motornya, yang sedari tadi sudah disiapkan oleh mas Karyo, salah satu pembantu di rumahnya. Tak lama kemudian tampak sepeda motornya melesat menuju kampus, berharap ia tidak akan terlambat, karena hari itu ia akan ada quiz.
***
Gerbang tol sudah dekat, tampak beberapa gedung tinggi menjulang, seolah ingin berlomba-lomba untuk menggapai langit dan menantang angkasa. Sebuah mobil berjenis SUV tampak keluar dari jalan tol dan mulai masuk menyusuri jalan-jalan utama yang sudah mulai padat. Setelah beberapa lama mobil yang jelas datang dari arah luar kota ini terhenti karena kemacetan jalan.
”Kita pasti sudah melewatkannya”, gumam seorang wanita yang duduk di barisan tengah mobil itu. Nadanya agak gelisah, tapi ia berusaha tetap tenang. Ia nampak berparas manis dengan balutan make-up agak tebal, seolah masih tak percaya diri dengan wajahnya. Bibirnya berkilau dan menimbulkan nuansa sensual dengan saputan warna merah cerah berbalut lip-gloss yang katanya mempunyai aroma tersendiri. Paling tidak itulah kata-kata dalam iklan mereka, salah satu trik para produsen kosmetik untuk menarik hasrat para perempuan muda yang konsumtif. Busananya dan dandanannya yang rapi mencerminkan profesinya sebagai seorang marketing executive.
Seorang pria agak tua menyetir mobil itu dan tampak sedang mengamati jalan dengan seksama, ketika mendengar gumam wanita yang ada di belakangnya itu. Mendengar suara itu, mendadak ia memperlambat laju kendaraannya. Serta merta matanya terbuka lebih lebar, seolah selama ini matanya kurang awas. Perempuan itu menyuruhnya mencari jalan putar terdekat yang dapat ditemuinya. Setelah menemukan satu-satunya jalan putar yang nampak, maka ia bergegas membalik arah mobilnya yang saat ini justru mengarah kembali ke luar kota. Tak lama kemudian ia menepi ke bahu jalan, sambil membuka kaca mobilnya. mendekati sebuah warung nasi di pinggir jalan.
”Pak, apakah bapak tahu alamat ini?” Kata pria paruh baya berkumis tebal dengan aksen kental jawa timur. Seorang bapak tua berdiri dari duduknya, ia tak lain adalah pemilik warung nasi itu. Setelah mengamati kertas kusam yang ditunjukkan pria berkumis itu, pemilik warung mulai mengangguk-angguk. Dengan segera ia mengangkat tangannya dan mulai menununjukkan jarinya ke arah sebuah jalan yang agak sempit. Jalan itu mengarahkannya ke sebuah PTS yang terkenal di Surabaya.
Tak lama kemudian, tampak mobil SUV keluaran tahun 2006 itu sudah berada di sebuah kampus yang besar dan ramai dengan mahasiswa dan mahasiswi yang berlari-larian seperti mengejar waktu untuk segera masuk ke ruang kuliah. Tetapi ada juga yang tampak berjalan santai sambil bercengkrama. Mobil itu tampak mendekati pintu gerbang kampus dan berhenti tepat beberapa meter di depannya. Setelah mengamati keadaan dengan seksama, maka wanita itu segera turun dengan membawa sebuah tas kecil di tangan kirinya dan beberapa map agak tebal di genggaman tangan kanannya. Tanpa diberi aba-aba pria berkumis yang ternyata adalah sopir pribadi wanita tersebut, pergi meninggalkannya untuk mencari tempat parkir.
Ketika menyusuri taman menuju ke dalam kampus itu, beberapa mahasiswa tak dapat melepaskan pandangan matanya dari wanita tersebut. Dengan menggunakan kemeja halus berlengan panjang dan bermotif garis-garis tipis, wanita tadi tampak sangat modis. Dipadu dengan rok pendek berwarna coklat muda yang tampaknya sengaja dibuat agak ketat, sepatu high-heelsnya yang eye-catching dan bau parfum yang terkesan glamour serta memikat, maka pesonanya tersebar dengan dahsyat seolah menyihir setiap jiwa lelaki yang ada di dekatnya.
Setiap mahasiswa yang sedang berjalan searah dengannya tampak sengaja mencari cara untuk jalan berdekatan. Sedang yang berjalan berlawanan arah dengannya seolah berebut untuk melempar senyum dan berusaha menyapanya, meskipun agak terlihat dipaksakan. Memang banyak mahasiswi yang cantik dengan tubuh yang tak kalah menarik, tetapi entah kenapa pagi itu seolah-olah hampir semua mahasiswa yang berada di dekatnya seperti hanyut oleh pesonanya, seperti seorang idola baru.
Setelah berjalan agak jauh, ia berhenti di sebuah jalan naik menuju tempat perpustakaan. Suatu tempat yang pasti mudah ditemukan oleh siapapun yang berada dikampus itu. Dengan segera ia mengambil sebuah handphone berwarna silver dari dalam tas mungilnya dan tampak mencari nomor seseorang. Sesaat kemudian telphone yang terkesan mahal dan berkelas itu sudah menempel di telinga kirinya.
”Alan, di mana kau? Aku sudah di depan. Aku menunggumu di dekat jalan naik menuju perpustakaan.” kata wanita itu kepada seseorang di seberang sana.
”Apa? Kau di mana? Bagaimana kau bisa ada di sini?” Terdengar seru orang yang bernama Alan itu.
”Percayalah, kau tak dapat menghindariku. Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu lagi, aku harus segera melanjutkan pekerjaanku. Aku tahu kau ada di kampus ini sekarang. Temui aku dalam 15 menit, atau….. kau akan tahu akibatnya.” Kata wanita itu dengan nada mengancam.
”Aku akan menyebarkan dokumen-dokumen dan foto-foto itu.” Ia terdengar berbicara lirih. Sesaat kemudian ia langsung menutup telponnya tanpa menunggu Alan berkata apapun.
”Kristy!…Kristy!….. Sialan!” teriaknya tertahan dengan nada kesal sambil menutup sliding handphonenya yang tampak mirip dengan milik wanita yang bernama Kristy itu.
Alan ingin bergegas lari dari tempatnya berdiri. Ia ada di sebuah gedung yang bersebrangan dengan gedung perpustakaan itu. Memang tidak butuh waktu lama untuk sampai ke sana. Tetapi mencari alasan untuk menenangkan perempuan itu ternyata menyita waktu lebih lama dari perjalanannya sendiri. Ia akhirnya memutuskan untuk memikirkannya sambil berjalan ke sana. Beberapa kali ia sempat berhenti sejenak di tengah jalan karena gelisah memikirkan cara untuk menenangkan perempuan itu, dan terutama untuk menenangkan hatinya sendiri.
Hanya dalam beberapa menit saja ia sudah berada di depan perempuan itu. Alan cepat-cepat menarik tangan perempuan yang tampak emosi dan jengkel itu ke sebuah pojok yang agak sepi di pinggiran taman yang ada di tengah-tengah kampus itu.
”Kau jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi! Aku tak mau orang-orang tahu dan curiga dengan keberadaanmu. Kau tahu ini semua untuk keamanan kita juga. Aku butuh kerjasamamu, jadi jangan seperti ini lagi.”
Alan berujar dengan nada yang agak tinggi, tetapi tetap berusaha menahan diri supaya tidak terdengar orang lain, meskipun saat itu tidak ada siapa-siapa di dekat mereka.
Terlihat emosi yang tak terkendali akibat kegelisahan yang tiba-tiba menyerangnya tanpa peringatan beberapa menit yang lalu. Efeknya masih terasa menyesakkan dada. Nafasnya masih tersengal-sengal, berusaha mengendalikan diri. Sejenak ia memandang Kristy dalam-dalam. Dari tadi ia menampakkan tampang geram dengan sorot matanya yang tajam, sambil menahan diri mendengar omelan Alan. Kini ia mulai membuka mulut.
”Alan, asal tahu saja… kau membutuhkan aku lebih daripada yang kau kira. Kau kira dapat memelihara api di dalam bajumu tanpa pernah terbakar? Kau pasti bermimpi Alan.” Nadanya terdengar penuh emosi tapi lebih terkendali. ”Sekarang kau ambil map-map ini dan simpan baik-baik. Setiap kali kau berusaha atau bahkan hanya berpikir untuk meninggalkanku diam-diam, ku harap kau dapat berpikir lagi, seratus kali kalau perlu! Lain kali…. tidak akan ada lagi peringatan!”
Kristy melemparkan map-map itu ke dada Alan, dan seketika itu juga ditangkap secara reflek oleh Alan dengan kelabakan. Ia berbalik dan meninggalkan Alan tanpa melihat bagaimana Alan terpaku keheranan melihat isi map-map itu. Jalannya begitu cepat, sampai-sampai ketika Alan hendak membuka mulutnya untuk meminta penjelasan lebih lanjut, perempuan itu sudah tidak tampak lagi, lenyap tak berbekas seperti ditelan angin. Pengalaman itu sangat mengejutkan Alan.
Tidak lama kemudian tampak sebuah SUV berwarna hitam metalik bergegas meninggalkan area parkir kampus itu, dan dalam sekejap mobil itu sudah menghilang di dalam padatnya kendaraan di jalan arteri kota Surabaya.
”Brummm…..Brummm….,” suara sebuah sepeda motor jantan berwarna merah metalik digeber beberapa saat sebelum akhirnya masuk di sebuah areal parkir. Tampak pengendara motor turun dan melepas helmnya. Alih-alih menaruhnya di sepeda motor dan beresiko kehilangannya, seperti sering terjadi di mana-mana, pemuda itu, yang ternyata adalah Gilang, membawa serta helmnya untuk dititipkan ke salah satu penjaga parkir yang ternyata sudah kenal baik dengannya. Setelah itu ia berlari-lari kecil sepanjang jalan menuju pintu gerbang kampus, tempat bekas beberapa mahasiswa pernah terpana melihat kemolekan dan kecantikan seorang wanita bergaya office-look, hanya beberapa puluh menit sebelumnya.
Karena macetnya jalan dan beberapa kejadian yang hampir membuatnya kecelakaan, akhirnya Gilang tiba di kampusnya meskipun agak telat. Dengan bergegas ia mempercepat larinya menuju kelasnya. Saat itulah terjadi tabrakan yang tak disengaja dengan seorang pemuda yang tampak juga tergesa menuju ruang yang sama.
”Brak…”
”Aduh! Hei, liat-liat donk kalau…..Alan?”
”Eh, Gilang, sori. Aku lagi buru-buru.”
”Ngga… ngga apa-apa kok. Aku pikir orang lain.”
Gilang segera membantu Alan membereskan barang-barang yang terjatuh. Sempat terlihat sebuah map agak terbuka, menapakkan beberapa foto gadis ABG seusia SMP-SMU, juga ada foto seorang gadis muda yang umurnya sedikit lebih tua dari anak-anak ABG itu. Gadis itu berambut pendek dengan tato yang bermotif seekor naga di bagian kiri atas punggungnya. Foto itu paling terlihat karena berada paling atas dari foto-foto lain yang menyembul keluar dari map tersebut.
Secepat kilat Alan langsung menyambarnya, seperti tak mau diketahui oleh Gilang. Ia seperti mau melindungi sesuatu, atau lebih tepatnya menyembunyikan sesuatu. Tanpa banyak bicara Alan segera meninggalkan Gilang bergegas masuk ke dalam kelas karena mereka sudah terlambat. Gilang sempat bertanya-tanya perihal foto-foto, tetapi semuanya berjalan begitu cepat, tak sempat Gilang menanyakannya. Mempertanggung jawabkan keterlambatan mereka lebih penting daripada mengurusi rasa penasarannya terhadap foto-foto itu, pikirnya.
Sepanjang perkuliahan berlangsung Gilang sempat memperhatikan gelagat Alan yang tampak tidak tenang. Sesekali memandang keluar dengan tatapan kosong, terkadang tangannya terkepal dengan giginya dikatupkan satu sama lain, seolah berusaha menutupi perasan geramnya. Ia bahkan tidak yakin kalau Alan berkonsentrasi saat quiz berlangsung tadi. Ia begitu penasaran, tak biasanya Alan seperti ini.