GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Archive for March, 2009


Kampanye Damai Jangan Golput

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 – Menjelang tanggal 9 April buat anda yang sudah mempunyai hak menentukan pilihan dan mempunyai hak pilih di pemilu indonesia 2009, mudah-mudahan sudah punya ketetapan pilihan partai apa dan caleg mana yang kira-kira akan anda contreng pada tanggal 9 april nanti.

Pemilu kesempatan rakyat dalam menyalurkan pilihan untuk menentukan wakil rakyat di parlemen dan pemimpin pemerintahan dalam rangka kelangsungan kehidupan bernegara. Sayangnya di negeri ini, ada sekelompok masyarakat, jika tidak puas dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang berkuasa maupun parlemen, kata-kata yang terkenal yaitu ancaman Golput dalam pemilu. Bila ancaman Golput hanya dilakukan satu kelompok saja tidak berpengaruh apa-apa, tetapi jika kelompok-kelompok lain juga melakukan tindakan serupa, tentunya dapat mengancam jalan pelaksanaan Pemilu Indonesia 2009, itu sendiri serta akan mengganggu kelangsungan berneragara di negeri ini. Read More

Dio

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Saat itu. Tepat saat ulang tahunku yang ke-10. Hari terindah yang pernah kurasakan. duduk dalam ayunan sambil menikmati satu cup es krim coklat. Ditaman itu. penuh dengan aneka bunga yang merekah dengan warna – warni yang memanjakan mata.
Aku sempat berpikir. Andaikan ada seorang lelaki yang menghampiriku. Duduk disamping ayunan yang sedikit bergerak. Bersama – sama kami menikmati hari libur yang cerah. Menatapi langit yang biru nan indah bagai samudera lepas tak terbatas.
Aku tersenyum sendiri saat itu. hari itu pula aku baru pindah. Pindah kesebuah komplek perumahan yang asri. Kebetulan rumahku dekat dengan taman. Jadi saat orang banyak yang sibuk lalu lalang merapikan isi rumah. Aku lebih memilih duduk diayunan taman itu.
Suara burung berkicauan disana – sini. Saling bersahut – sahutan. Berkejaran dari satu ranting keranting yang lain. Aku jadi iri melihatnya. Aku ingin sekali bersedan gurau, mengingat aku anak satu – satunya. Tak punya kakak maupun adik.
Tapi disela termenungnya aku sehabis melalap es krim yang bekasnya masih banyak melekat disekitar bibirku. Aku mendengar derap langkah seseorang. Suara itu terdengar dari belakang. Lalu berhenti. Aku pikir itu ayahku. Aku tahu sejak tadi aku ditaman.
“iya ntar Linda pulang pa,” ucapku lemas.
Namun tak ada respon. Aku jadi mengerutkan dahi lalu segera menoleh kebelakang.
Hari itu adalah hari pertama aku melihatnya. Seorang lelaki berusia 12 tahun yang berdiri dibelakangku. Menatapku yang sedang duduk diayunan dengan sorot mata yang miris. Wajahnya pucat. Tubuhnya ringkih. Rambutnya ikal. Ia mengenakan kemeja biru dan celana pendek.Aku menatapnya dari bawah keatas menahan tawa. Aku bisa menebak pasti dia itu anak yang tinggal disekitar perumahan. Atau mungkin saja rumahnya bersebelahan dengan rumahku.
Aku masih saja menoleh tanpa membalikkan badan. Ia tersenyum ragu. Sepertinya ia tipe lelaki yang kurang percaya diri dengan penampilannya.
“hai,” sapaku lepas.
Kini ia tersenyum lebar.
“boleh aku duduk disebelahmu?” suaranya bergemetar. Aku pikir dia tidak bisa bicara.
Aku tak bisa menyembunyikan tawaku saat itu. Dia sangat lucu. Entah kenapa, sejak hari itu aku sudah bisa menebak kepribadiannya yang introvert.
“silahkan aja,” responku hangat.
Ia mulai berjalan mendekati ayunan disebelahku. Gaya berjalannya kaku. Kayak robot. Setiap langkah yang ia lewati dilaluinya dengan tatapan lurus kebawah. Ia berjalan sambil menunduk. Aku cemas ia menabrak tiang ayunan.
Bola mataku bergerak mengikuti langkahnya. Hingga ia duduk sebelahku. Lalu menolehku dan kembali tersenyum. Kali ini giginya yang reges itu terlihat. Aku menutup mulutku. Menahan tawa sejadi – jadinya hingga sekujur tubuhku bergetar.
“kok ketawa?” ucapnya datar.
Aku tahu dia pasti anak pingit yang jarang keluar rumah. Kulitnya putih bahkan lebih putih dari kulitku. Bahkan mungkin. Ayunan yang ia duduki belum pernah ia duduki sebelumnya. Ia adalah lelaki yang kukenal saat pertama kali pindah keJakarta. Meskipun begitu, ia tetap lelaki yang kuingat hingga saat ini.
Aku menggeleng sambil tertawa.
“nggak, abis kamu lucu sih,” ucapku sambil tertawa.
Ia hanya diam. Tersenyum kecil tanpa suara sedikitpun. Bola matanya seperti menyiratkan kepedihan mendalam. Menatapku tajam tapi pilu.
“oiya, perasaan kita belom kenalan,” Ia bersuara lagi.
“perkenalkan…Dio…” tambahnya sumringah. Kedua lesung pipinya terlihat menggemaskan.
Ia mengulurkan tangannya kearahku. Aku malah mengangkat kedua dahi. Menatapnya heran. Aku menyambut uluran tangannya.
“Matilda Prasetya,” ucapku lembut.
“biasa disapa Linda,”
“jadi kamu panggil aku Linda aja ya,” ucapku lepas sambil tersenyum.
Kami masih berjabat tangan. Ia masih saja menggenggam tanganku erat. Seperti enggan melepaskan.
“namaku Dio..Dio Hermawan” Ia melepaskan cengkraman tangannya.
Aku mengangguk – angguk.
“kamu tinggal dimana?”
“aku tinggal disebelah rumah kamu,”
Ternyata dugaanku benar.
“berarti kita tetanggaan dong,” ucapku sambil tertawa.
Kali ini ia tersenyum lepas. Tidak seperti senyuman – senyuman sebelumnya yang setengah – setengah.
Dio. Sahabatku yang pertama diperumahan itu. Sahabat setia. Yang hingga kini aku merasa. Dia masih ada. Karena sampai kapanpun aku akan tetap menjadi seseorang yang bersedia mendengar curahan hatinya. Dio. Aku tidak akan memandangmu sebelah mata selamanya. Meski hingga saat ini mungkin masih saja orang – orang yang tinggal sekitar perumahan memandangmu tak lebih dari anak mami yang tak punya kelebihan sama sekali. Hingga tak ada seorangpun yang mau berteman denganmu.
Dio meraih sesuatu didalam kantong celananya. Sebuah sapu tangan. Ia memberikannya padaku. Bola matanya tertuju pada mulutku yang masih belepotan es krim. Ia menunjuk bibirnya sendiri. Aku tersenyum malu.
Dio. Aku baru mengenalnya. Tapi aku seperti sudah lama mengenalnya. Sosoknya yang pendiam. Dingin tapi mengalir dan tak menghanyutkan.
Angin bertiup kencang hingga menggugurkan dedaunan pohon – pohon disekitar taman.
Salah satunya hinggap dirambut Dio. Aku menatap daun itu yang sudah berwarna kuning. Dio. Ia tersenyum bahagia menatapku. Akupun begitu. Apakah ini yang disebut cinta?. Cinta yang datang berselang beberapa menit setelah aku duduk diayunan taman itu. Cinta anak ingusan. Papaku selalu bilang, ‘tahu apa kamu soal cinta’. Tapi salahkah aku bila saat itu aku mulai merasakan benih – benih cinta.
Dio. Sejak hari itu kami sering berbincang disekitar taman. Ternyata dia teman yang menyenangkan. Tapi. Seringkali ia bilang padaku, bahwa dia bukan seperti anak – anak lain yang suka bermain disana – sini. Bersepeda bersama. Bermain bola dilapangan ataupun berinteraksi dengan banyak orang.
Dio. Banyak orang bilang dia anak Autis. Tak suka bergaul. Cenderung tertutup. Tapi bagiku. Dio tetap teman yang baik. Dio. Dibalik semua perilaku itu. kamu adalah lelaki yang jujur yang pernah kukenal. Setiap kata – katanya begitu tulus terucap.
Dio. Seringkali dia terlihat malu berada didekatku. Ia paling tidak berani menatapku lama. Hanya aku yang berani menatapnya lama. Hingga aku merasakan aura didalam dirinya yang begitu besar. Terpendam.
“Dio,” sapaku lembut.
“yya,” ucapnya gugup sambil menunduk.
Aku berdiri dihadapannya. Menatapnya seksama.
“kamu nggak perlu malu begitu,” ucapku serius.
Dio selalu saja begitu saat kami berbincang ditaman. Ia malu dicemooh oleh anak – anak lain yang bermain lalu lalang ditaman. Bahkan akupun sempat dijauhkan oleh mereka lantaran berteman dengannya.
Aku sama sekali tidak memperdulikan ucapan orang terhadapnya.
Dio terduduk lemas. Aku prihatin melihatnya. Keningnya berkeringat. Begitupun tangannya. nervous berada dilingkungan orang – orang banyak.
Dio. Harusnya mereka yang malu. Malu karena tidak bisa menerima anak Autis seperti kamu. Malu karena tidak bisa menerima perbedaan.
Ia mendongak menatapku sesaat.
“Dio kamu nggak perlu malu gitu,” ucapku lembut.
“wajah kamu kan tampan,”
“jadi kamu nggak perlu malu,”
Ia masih saja terdiam. Diam seribu bahasa. Dio, aku yakin kamu punya kelebihan yang tak bisa dilakukan oleh mereka yang selama ini menjauhi dan mengejekmu.
Aku memetik sekuntum bunga mawar. Ia menatap bunga itu seksama.
“kamu tahu ini bunga apa?”
Ia mengangguk.
“bunga apa?”
“mawar,” jawabnya lirih.
Aku tersenyum.
“pinter,”
Dio kembali menatapku. Kali ini agak lama. Aku tahu ada ingin ia katakan.
“Linda,”
“kenapa Dio?”
Aku tersenyum hangat. Perlahan wajahnya yang terlihat gugup kian larut menjadi senyuman. Matanya berkaca – kaca.
“aku bisa menggambar bunga,” ucapnya sedikit antusias.
Aku mengangkat kedua dahi.
“oh ya?” aku rasa ia mulai mengatakan apa yang menjadi kegemarannya.
“trus apalagi?”
“aku bisa menulis puisi,” tambahnya.
“Cuma itu aja?” aku mencoba mengorek semua kelebihannya.
“aku bisa membuat kerajinan keramik,” tambahnya lagi.
Aku tertawa renyah. Ia pikir aku meremehkannya.
“aku serius Linda,”
“ya aku tahu aku percaya Dio,”
“aku percaya sepenuhnya sama kamu,”
Hari demi hari telah kita lalui. Dio ternyata anak yang mengasyikkan. Terkadang ia membuatku tertawa, terkadang pula ia membuatku sedih. Apalagi bila mendengarkan bagaimana ia sering dikucilkan oleh teman – teman sekolahnya. Dimarahi oleh mama papanya. Dijauhkan oleh masyarakat sekitar. Ia seringkali merasa dibedakan oleh orang lain. Dio. Aku tahu mungkin dalam hati kecil kamu, kamu tidak mau seperti itu. Menyendiri. Sulit berinteraksi. Tapi aku yakin suatu saat kamu pasti bisa merubahnya.
Aku yakin. Sebenarnya anak seperti dia memiliki bakat lebih yang tak dimiliki layaknya anak normal.
Dio. Aku juga membedakan kamu dengan anak yang lain. Ya. Aku akui. Kamu berbeda karena kamu lelaki yang paling berani berkata jujur. Mengungkapkan seluruh isi hati. Seperti saat kamu pernah berkata apa adanya perihal dirimu kepadaku.
Malam itu. Dibelakang rumah. Saat aku duduk termenung menikmati bintang – bintang yang berkedip – kedip berkilauan. Sapaanmu menyentakku.
Aku hampir tak percaya dia seberani itu. Menyapaku dengan nada penuh kecemasan. Aku menghampirimu. Saat itu kamu memberanikan diri menatapku lama. Hanya dinding
pagar setinggi dada yang membatasi kita. Aku tahu ada yang ingin engkau katakan. Teramat penting, mungkin.
Aku berharap cemas menunggu ucapanmu. Dio. Aku tidak pernah melihat sorot mata yang sebening matamu. Bening. Jernih.
“Linda..” sapanya berat.
“kenapa Dio?” tanyaku cemas.
Wajahnya pucat namun meskipun begitu tetap saja terlihat tampan.
“akuu..”
“kamu kenapa?” aku makin penasaran.
Nafasnya terengah – engah. Dio terlihat nervous.
“aku suka kamu Linda,” ucapnya teramat berat.
Aku terperanjat. Dio tak kuasa mengungkapkan isi hati hingga berlari menuju pintu belakang rumahnya lalu menutupnya serapat mungkin. Meninggalkanku yang masih berdiri menganga tak percaya dengan ucapannya itu.
Pagi harinya. Saat aku masih terlelap. Papa membuka pintu kamar tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Perlahan aku mulai membuka mata. Mengucaknya. papa berdiri menatapku,menggeleng melihat putri semata wayangnya bangun kesiangan dihari minggu.
Ia tersenyum kecil.
“ada kejutan buat kamu diluar,”
“ih papa ada – ada aja sih,” ucapku manja.
Papa malah terpingkal. Becandanya agak aneh. Papa menadahkan tangannya kearah pintu teras.
“silahkan lihat apa terjadi diluar permaisuriku,” tuturnya lembut.
Aku menatapnya seksama. Pasti iseng deh. Papa mengangkat sebelah alisnya. Kini giliran Mama yang masuk. Wajahnya penuh sumringah. Kayak lagi dapat arisan keluarga saja.
“sayang, coba deh kamu lihat keluar,” ucapnya antusias.
Kali ini aku percaya. Aku bergegas berjalan menuju teras tanpa memperdulikan penampilanku yang masih berantakan.
Pintu teras kubuka selebar mungkin. Alangkah terkejutnya aku melihat seisi teras penuh dengan hiasan renda – renda bermotif mawar merah. Ditambah dengan wewangian lavender merekah disekitar teras.
Seorang lelaki mengenakan setelan jas hitam berdiri didekat pintu pagar. Membelakangiku. Rambutnya klimis. Kedua tangannya masuk kedalam kantong celananya. Aku membuka mataku selebar mungkin. Jantungku berdetak kencang. Kian lama kian sesak hingga harus meneguk ludah sendiri.
Tanpa alas kaki aku berjalan ragu mendekatinya. Menerka – nerka seperti apa wajahnya.

Sahabat pertama akan selalu mendengar apa yang kita ucapkan
Sahabat pertama selalu mengerti meski orang lain tak pernah mau mengerti
Dia bagai lilin yang rela habis demi menerangi ruangan
Hanya saja dia tidak pernah sirna
Selama masih ada yang terus mengingatnya
Memahaminya

Bahkan sinar dipagi ini tak memperdulikannya,
Meski keluar tanpa alas kaki dan rambut terurai
Langkahnya mengayun bagai hembusan angin
Terhempas namun tak pernah menyakitkan

Bagai kata – kata yang bersih dan tulus
Layaknya mutiara yang terpendam jauh didasar laut itu,
Kini bersinar
Cerah
Secerah pagi ini
Menyambut harimu

Ia membalikkan badannya. Nampak wajah lelaki yang kukenal selama ini. Dio. Hari itu dia tampil beda. 180 derajat. Tersenyum hangat.
Aku menoleh kebelakang. Mama dan papa berdiri didepan pintu teras. Juga tersenyum hangat. Tapi begitu aku kembali menoleh kedepan. Dia kembali berlari, bahkan lebih cepat dari yang semalam.

****
Jakarta, 2009

show me

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

hi….. show me…..

  • @Facebook

    Peluang Bisnis Oriflame