RANTING TAK BERDAUN, RANTING 6

Musim kemarau adalah musim yang aneh, siang sangat panas, sedangkan malam sangat dingin, baru terasa oleh Alfian dan kawan kawannya, menyadari sudah pagi tak ingin ia tidur lagi, karena walau tidur pun pasti dingin akan menggelitiki tulang-tulangnya.
Duduk sendiri diteras depan, dengan baju yang super tebal, bukan baju sih, tapi jaket.
“ mas Fian sudah bangun” kata Adi yang baru saja keluar dan menguap lebar.
“sini Di”sambil dilambainya anak itu.
Karena panggilan Alfian itu, maka Adi menghampiri Alfian dan duduk disebelahnya.
“kamu gak dingin Di?”
Adi hanya menjawab dengan menggelengkan kepala.
Alfian yang melihat jawaban itu, sebenarnya agak kaget, karena Adi hanya mengenakan pakaian tipis, namun sejenak kemudian wajah heran itu berubah menjadi senyum, dan mungkin jika diartikan, artinya adalah “tentu saja dia kan penduduk sini, dan dia sudah terbiasa dengan udara dingin ini”
Sebentar seperti ruang hampa tak ada suara diantara mereka, mereka memandang langit, dan sebentar kemudian Alfian teringat sesuatu.
“ Di.., pohon besar didekat rumah itu namanya pohon apa?”
“pohon besar mana kak?” mungkin Adi bingung karena banyak pohon besar didekat rumah adi
“yang Di….ayo ikut kakak!” Alfian bangkit berdiri dan mengajak Adi, dan bermaksud untuk menunjukkan pohon yang dimaksudnya.
Alfian berjalan keluar dari teras, menuju sisi timur, dari rumah yang menghadap keutara tersebut, kira-kira lima belas meter dari rumah, ada gundukan tana yang tampak seperti bukit dan diatasnya tumbuh tanaman yang sangat hijau, daunnya kecil-kecil, dengan ukuran kira-kira dua kali pelukan orang dewasa.
“yang itu, yang ada ayunannya!”sambil menunduk mensejajarkan kepalanya dengan kepala Adi.
“Oh….yang itu namanya pohon lengkeng”, dan Adi berlari menuju pohon itu.
“sini kak, lagi berbuah!”
Alfian menghampiri Adi yang sudah berada jauh diatasnya, sebuah lengkeng jatuh dibahunya.
“tangkap kak!”
Alfian menangkap lengkeng hasil dari panen Adi, dan mengumpulkannya didekat pohon.
Langit agak memerah, dan ketika dilihatnya ketimur, sebuah gunung tinggi, indah, sedang mengepulkan asapnya.
“lho…kemarin kok gak ada!”
“kalau siang dan sore jarang bisa terlihat kak, karena tertutup asap, tapi kalau cuacanya cerah, gak pagi, siang atau sore, pasti terlihat”
Alfian duduk dibawah pohon itu sambil melihat gunung semeru segang mengepulkan asapnya, dan ditemani oleh lengkeng segar, yang sebetulnya tidak cocok dengan udara pagi yang dingin.
“Aku pulang dulu ya..kak” belum sempat Alfian berkata “ya” namun Adi sudah keburu jauh.
“ Ini tempat yang tepat!” gumam Alfian
Tak lama,Adi sudah kembali, tetapi kali ini dengan pakaian berbeda, dan juga membawa kawan-kawan Alfian, namun ada satu yang kurang, yaitu Vivi.
Dan ketika mendekat Alfian menyadari bahwa baju Adi tadi basah karena terkena embun.
“mana Vivi?”, tanyanya
Tanya Alfian ternyata tak dihiraukan oleh kedua kawannya, mereka ssedang asyik memandangi sang Mahameru, si puncak Semeru. Namun Adi yang sedang bermain ayunan mendengar pertanyaan Alfian tentang kakak kesayangannya.
“sedang kepasar kak, ikut ibu”
“Ron, jalan-jalan yuk!” pinta Syra
“ boleh juga tuh, ayo Ian ngilangin dingin”
Mereka bertiga ditambah dengan Adi berlari-lari kecil dijalanan desa, dan yang tak lama kemudian mereka bertemu dengan Bu RT, dan tentu saja dengan Vivi.
Mereka membantu Vivi, dan juga Bu RT membawa belanjaan, menaruhnya dirumah, dengan maksud agar Vivi dapat ikut lari pagi dengan mereka.
Setelah barang diletakkan dirumah, maka Vivi ikut dengan mereka, dan mereka berhenti karena seluruh jalanan sudah mereka lewati, sambil beristirahat dipinggiran jalan desa.
“hari ini kita jalan aja, siapa tahu nemu anggrek yang bagus!” seru Vivi
“terus kemana?”
Mereka berpikir sejenak
“ada tiga tempat yang belum kita datangi, tapi kayaknya gak mungkin selesai hari ini” tiba-tiba Ronal bersuara, yang tiba-tiba pula otaknya encer.
“kita kesungai aja dulu!”
“sungai mana yang paling dekat Di?”
“ sungai sebelah selatan!”
“Nah kita kesana aja, tapi nanti kalau lewat rumah kita ambil makanan buat bekal” sahut Ronal
Mereka melanjutkan perjalanan, dan kembali kerumah untuk bersiap-siap.








