GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Archive for April, 2009


RANTING TAK BERDAUN, RANTING 6

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Musim kemarau adalah musim yang aneh, siang sangat panas, sedangkan malam sangat dingin, baru terasa oleh Alfian dan kawan kawannya, menyadari sudah pagi tak ingin ia tidur lagi, karena walau tidur pun pasti dingin akan menggelitiki tulang-tulangnya.
Duduk sendiri diteras depan, dengan baju yang super tebal, bukan baju sih, tapi jaket.
“ mas Fian sudah bangun” kata Adi yang baru saja keluar dan menguap lebar.
“sini Di”sambil dilambainya anak itu.
Karena panggilan Alfian itu, maka Adi menghampiri Alfian dan duduk disebelahnya.
“kamu gak dingin Di?”
Adi hanya menjawab dengan menggelengkan kepala.
Alfian yang melihat jawaban itu, sebenarnya agak kaget, karena Adi hanya mengenakan pakaian tipis, namun sejenak kemudian wajah heran itu berubah menjadi senyum, dan mungkin jika diartikan, artinya adalah “tentu saja dia kan penduduk sini, dan dia sudah terbiasa dengan udara dingin ini”
Sebentar seperti ruang hampa tak ada suara diantara mereka, mereka memandang langit, dan sebentar kemudian Alfian teringat sesuatu.
“ Di.., pohon besar didekat rumah itu namanya pohon apa?”
“pohon besar mana kak?” mungkin Adi bingung karena banyak pohon besar didekat rumah adi
“yang Di….ayo ikut kakak!” Alfian bangkit berdiri dan mengajak Adi, dan bermaksud untuk menunjukkan pohon yang dimaksudnya.
Alfian berjalan keluar dari teras, menuju sisi timur, dari rumah yang menghadap keutara tersebut, kira-kira lima belas meter dari rumah, ada gundukan tana yang tampak seperti bukit dan diatasnya tumbuh tanaman yang sangat hijau, daunnya kecil-kecil, dengan ukuran kira-kira dua kali pelukan orang dewasa.
“yang itu, yang ada ayunannya!”sambil menunduk mensejajarkan kepalanya dengan kepala Adi.
“Oh….yang itu namanya pohon lengkeng”, dan Adi berlari menuju pohon itu.
“sini kak, lagi berbuah!”
Alfian menghampiri Adi yang sudah berada jauh diatasnya, sebuah lengkeng jatuh dibahunya.
“tangkap kak!”
Alfian menangkap lengkeng hasil dari panen Adi, dan mengumpulkannya didekat pohon.
Langit agak memerah, dan ketika dilihatnya ketimur, sebuah gunung tinggi, indah, sedang mengepulkan asapnya.
“lho…kemarin kok gak ada!”
“kalau siang dan sore jarang bisa terlihat kak, karena tertutup asap, tapi kalau cuacanya cerah, gak pagi, siang atau sore, pasti terlihat”
Alfian duduk dibawah pohon itu sambil melihat gunung semeru segang mengepulkan asapnya, dan ditemani oleh lengkeng segar, yang sebetulnya tidak cocok dengan udara pagi yang dingin.
“Aku pulang dulu ya..kak” belum sempat Alfian berkata “ya” namun Adi sudah keburu jauh.
“ Ini tempat yang tepat!” gumam Alfian
Tak lama,Adi sudah kembali, tetapi kali ini dengan pakaian berbeda, dan juga membawa kawan-kawan Alfian, namun ada satu yang kurang, yaitu Vivi.
Dan ketika mendekat Alfian menyadari bahwa baju Adi tadi basah karena terkena embun.
“mana Vivi?”, tanyanya
Tanya Alfian ternyata tak dihiraukan oleh kedua kawannya, mereka ssedang asyik memandangi sang Mahameru, si puncak Semeru. Namun Adi yang sedang bermain ayunan mendengar pertanyaan Alfian tentang kakak kesayangannya.
“sedang kepasar kak, ikut ibu”
“Ron, jalan-jalan yuk!” pinta Syra
“ boleh juga tuh, ayo Ian ngilangin dingin”
Mereka bertiga ditambah dengan Adi berlari-lari kecil dijalanan desa, dan yang tak lama kemudian mereka bertemu dengan Bu RT, dan tentu saja dengan Vivi.
Mereka membantu Vivi, dan juga Bu RT membawa belanjaan, menaruhnya dirumah, dengan maksud agar Vivi dapat ikut lari pagi dengan mereka.
Setelah barang diletakkan dirumah, maka Vivi ikut dengan mereka, dan mereka berhenti karena seluruh jalanan sudah mereka lewati, sambil beristirahat dipinggiran jalan desa.
“hari ini kita jalan aja, siapa tahu nemu anggrek yang bagus!” seru Vivi
“terus kemana?”
Mereka berpikir sejenak
“ada tiga tempat yang belum kita datangi, tapi kayaknya gak mungkin selesai hari ini” tiba-tiba Ronal bersuara, yang tiba-tiba pula otaknya encer.
“kita kesungai aja dulu!”
“sungai mana yang paling dekat Di?”
“ sungai sebelah selatan!”
“Nah kita kesana aja, tapi nanti kalau lewat rumah kita ambil makanan buat bekal” sahut Ronal
Mereka melanjutkan perjalanan, dan kembali kerumah untuk bersiap-siap.

RANTING TAK BERDAUN, RANTING 5

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Tidak susah mencari rumah Pak RT, karena didepan rumahnya terdapat papan bertuliskan
“KETUA RT: 24 RW: 08 DESA SUPIT URANG”
Dengan segera mereka melaporkan diri kepada pak RT, kemudian menjelaskan maksud dan tujuan mereka.
Alangkah senangnya hati mereka, karena pak RT telah berbaik hati memberikan tempat untuk beristirahat, namun Pak RT hanya mempunyai satu kamar, jadi terpaksa nanti malam cowok-cowok harus tidur diluar kamar, atau diruang keluarga tepatnya.
Hari masih siang, dan mereka permisi untuk melihat-lihat objek yang akan mereka teliti, mungkin Pak RT takut keempat remaja ini tersesat, maka Pak RT mengutus anaknya untuk memandu kami, Adi namanya, bocah ini tampaknya keberatan mengantar mereka berkeliling desa, namun wajah bapaknya itu membuatnya tak berdaya, tak ada pembelaan dari mulutnya, sungguh kasihan dia harus menemani keempat remaja itu, dan merelakan harinya untuk bermain, dan yang lebih parah lagi dia harus mendengar kata-kata Ronal yang dapat menyesatkan jiwa tak berdosa tersebut, namun tampaknya Vivi menangkap ekspresi wajah Adi, dan ekspresi wajah Vivi mungkin jika diartikan, artinya”jangan khawatir adik kecil, kamu akan bahagia bersama kakak”
Kelima anak manusia itu pergi meninggalkan rumah bapaknya Adi, mencoba mencari-cari objek penelitian, dan mereka telah menetapkan tema, setelah lama berdebat.
“TANAMAN HASIL BUDIDAYA MANUSIA, DAN TANAMAN HASIL BUDIDAYA ALAM”
Banyak sekali tanaman yang mereka temui, jadi mereka mengerucutkan tema menjadi
“ANGGREK LIAR, DAN ANGGREK BUDIDAYA”
“Adi antar kita cari anggrek ya….?” Pinta Vivi
Namun Adi tampaknya akan menggelengkan kepala, dan Vivi sebentar kemudian merogoh tas kecilnya mengeluarkan beberapa permen loli, dan permen kecil-kecil.
“ini untuk kamu”
Dipandanginya permen-permen itu, sebentar kemudian.
“seperti yang di Tipi..” dengan raut wajah sangat senang, dan tak ada lagi kerutan diwajah Adi .
Ronal, Syra, dan Alfian tertawa karena mendengar oceh anak itu, namun Vivi hanya tersenyum sambil mengacak-acak rambut Adi.
Pencarian tidak memberikan hasil maksimal, hanya anggrek-anggrek tebing yang ada, jenis anggrek lain belum ditemukan, namun mereka cukup senang karena sekitar mereka yang begitu indahnya.
Mereka memutuskan untuk kembali, sesampai dirumah, pak RT sedang duduk santai diruang tamu, wajah Pak RT memang serem apalagi ditambah kumisnya yang lebat, mirip kumis Pak Raden.
Malam telah tiba, keempat remaja ditambah dengan Adi yang mulai mencintai kakak-kakak kota ini, duduk diteras depan.
“ Di.. apa ada tempat lain yang banyak anggreknya?” Tanya Alfian
“didaerah sini banyak kak, tapi kalu mau cari lebih jauh lebih banyak lagi”
“lebih jauh…maksudnya?” Tanya Syra
“ya… kehutan!”
Yang dimaksud Adi adalah hutan kecil yang terletak dibukit yang jaraknya lumayan jauh dari desa itu.
Tampaknya Pak RT mendengar pembicaraan mereka Pak RT pun keluar, dan duduk menemani mereka.
“hutan dan bukit itu adalah symbol desa kami!, tempat itu penuh dengan sejarah, jadi kalian harus hati-hati kalau kesana, tidak boleh menunjuk apapun, dan jika terjadi, maka ludahi jari kalian yang menunjuknya”
Pak RT mulai bercerita tentang desa itu
Desa ini nama sebenarnya bukanlah Supit Urang, namun nama asli desa ini telah terlupakan dan berganti nama dari desa Kalasan menjadi desa Supit Urang.
Dahulu kala, untuk membangun sebuah pemukiman haruslah membabat hutan. Suatu cerita rakyat menceritakan bahwa desa kalasan telah dibuka sebelum kakek Pak RT lahir.
Para pembabat hutan tidak menyadari kalau hutan yang mereka babat akhirnya nanti, akan tampak seperti pulau.
Sebelah timur, barat, selatan, serta utara desa, memiliki batas yang jelas, yaitu sungai, Pak RT juga bercerita bahwa, sungai yang berada dijalan masuk utama desa, atau yang berada dibawah gapura ketika pertama kali memasuki desa itu merupakan perpanjangan dari sungai yang membatasi desa sebelah utara, dan terus membatasi desa hingga kesebelah barat, sungai itu alirannya semakin besar karena bertambahnya air dari sumber-sumber yang berada didekat gapura.
Sungai satunya lagi yang belum sempat mereka lihat adalah sungai yang membatasi wilayah utara, hingga selatan, sungai itu lebih dalam, dari desa harus menuruni tebing sedalam empat puluh meter, namun disebelah selatan dari sungai itu, masih terdapat sawah, namun tidak ada pemukiman lagi disana. Sungai selatan ini nantinya akan bertemu dengan sungai utara yang menghasilkan sebuah pertemuan yang warga biasa menyebutnya dengan tempuran.
Karena posisi itulah, desa ini dijuluki desa Supit Urang, karena posisi itulah maka desa ini aman dari segala kajahilan manusia, baik itu pencuri, rampok atau yang lainnya, Alfian berpendapat, bahwa mungkin desa itu aman karena pencuri tidak akan bisa lari, karena hanya ada dua jalan utama, yaitu jalan sebelah timur, yang juga merupakan jembatan dengan sungai yang dalam, yang kedua adalah jalan utama, yaitu gapura selamat datang.
Dan karena keadaan itulah desa ini menjadi desa yang sangat sakral.
Hari semakin larut, Pak RT sudah tampak ngantuk dan menyudahi ceritanya.
Alfian dan kawan –kawannya pun sudah tampak sangat lelah, karena sedari datang tadi belum tampak mereka beristirahat, sementara Adi, sudah tertidur dipangkuan bapaknya.
Kedua gadis beristirahat didalam kamar, Alfian dan ronal menggelar karpet di ruang keluarga, mungkin karena sudah sangat lelah mereka tertidur sangat lelap, sebelum tidur, Alfian bolak, balik memperhatikan kalender diruang tamu, dan melihat tanggal yang tertera disana, dia tersenyum melihat sebuah angka disana, dan tersenyum sambil berangkat tidur.