GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Archive for June, 2009


HIKAYAT PENCIPTAAN PEREMPUAN PERTAMA DIDUNIA

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Ketika dewa dewa akan tidur setelah kelelahan berpesta, salah satu dari mereka melihat dari kejauhan bumi sedang menangis. Ia segera melaporkan hal itu pada dewa tertinggi. Kemudian dewa tertinggi mengutus salah satu dari mereka yang pandai meniup seruling untuk turun ke bumi.

Turunlah sang dewa sendirian. Dipuncak gunung paling tinggi dewa bertanya gerangan apa yang membuat ia menangis. Bumi mengusap air matanya, sambil sesenggukan ia berkata kalau dirinya merasa sangat kesepian. Sejak ia tercipta, yang ada hanya siang, malam, padang rumput, kabut dan angin saja. Ia memohon kalau dewa dewa dilangit berkenan untuk menciptakan kehidupan baru disini. Sang dewa mahfum. Lalu ia terbang kembali kelangit dan menyampaikan keinginan bumi pada dewa tertinggi. Ketika menerima laporan itu, Dewa tertinggi merenung lalu berkata, “ciptakanlah kehidupan dengan cara mengelilingi dunia sambil meniup serulingmu”.

Tak berapa lama, sang dewa sudah ada dibumi kembali, siap dengan seruling dibibirnya. Ia memejamkan mata dan mulai menyenandungkan lagu lagu riang, ceria dan jenaka. Ia berkeliling dari satu tempat ketempat lain. Pada setiap tempat yang telah ia lewati, secara ajaib mekarlah bermacam macam bunga dengan beragam warna yang sangat cantik. Ada yang berwarna merah, kuning, putih, biru, violet, jingga Semua tumbuh sejadi jadinya karena mendengar tiupan seruling sang dewa. Semakin jauh sang dewa berkeliling semakin semarak bumi dengan hamparan bunga bunga. Didataran tinggi ataupun rendah, dipegunungan dan pesisir, dihulu dan hilir sungai, dibukit bukit, dikaki gunung, dilembah dan ngarai semua menjadi serba bunga. Sampai suatu ketika ia tuntas menyelesaikan tugasnya, ia bertanya, “apakah kau sudah merasa cukup bahagia sekarang ?”
Bumi mengangguk, wajahnya memerah tanda bahagia. kini tak lepas senyum dari bibirnya.

Ketika sang dewa hendak kembali lagi kelangit, ia berpesan agar bumi merawat bunga bunga itu sebaik mungkin sehingga tidak mati. Namun bumi menjawab ia adalah benda bukan mahluk, karena ia benda maka ia tak punya kuasa untuk melakukan hal hal semacam itu. Tugasnya memang menumbuhkan mahluk mahluk dan tumbuhan namun tidak berarti ia dapat mempertahankan kehidupan. sang dewa kembali mahfum. Dilihatnya sekuntum mawar paling cantik disebuah tempat yang sekarang oleh manusia dikenal dengan Acadia. Ia memetiknya, dan membasuhnya pada sebuah sungai hingga bertambah cantiklah ia. Setelah memapatkan rapalan mantra, tiba tiba berubahlah mawar tersebut menjadi gadis muda yang cantik jelita. Gadis pertama yang lahir dengan segala kesempurnaan. Rambutnya terurai bergelombang seperti sapuan ombak, bola matanya bulat hitam seperti batu pualam, bibirnya tipis merekah seperti fajar, lesung pipinya imut seperti ada dua buah bulan sabit tersimpan disamping kanan dan kiri dagunya. Dari tangan kanannya mengalir cinta dan kasih sayang tak terhingga. Dari tangan kirinya terhampar maaf seluas lautan. Ketika tubuhnya yang semampai menggeliat menyambut kehidupan, semerbaklah harum mawar keseluruh penjuru dunia.

Sang dewa berkata pada gadis itu kalau ia diciptakan untuk memelihara bunga bunga dibumi. Sang gadis tersenyum, ia amat bahagia menerima tugas tersebut karena memang sudah menjadi fitrahnya untuk memebesarkan dan mengasuh kehidupan. sebelum pulang, dewa memberikan serulingnya. Ia berkata kalau bunga bunga mulai layu, tipulah seruling ini, niscaya ia dapat mendengarnya dan segera mengalirkan salah satu pancuran surga untuk menyirami mereka semua. Namun bila ada sebagian bunga yang terlanjur mati, jangan bersedih, biarkanlah saja ia. Karena setiap ada bunga yang mati dari jenis apapun, maka bangkainya tidak akan membusuk namun akan kembali tumbuh menjadi bunga bunga baru yang jauh lebih cantik.

Sang dewapun pulang kelangit untuk beristirahat dalam waktu yang sangat panjang. Dibumi tinggallah bunga bunga dan sang gadis cantik jelita yang senantiasa riang melaksanakan pekerjaannya. Setiap hari, tak mengenal masa, tak mengenal usia, ia terus saja merawat bunga bunga dengan kasih sayang, cinta dan pengorbanan.

Celengan

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Celengan
By: Fitri Gustav

Los Angeles, 15 November 1990
Dearest Meylo…
Mama sudah sampai di Amerika dengan selamat. Meylo sayang, ternyata Amerika itu indaaah sekali. Meylo ingin nggak main kesini? Kalau ingin sekolah yang pintar dan rajin menabung ya. Nanti kita pergi bersama. Sekian dulu ya, sayang. Nanti pulangnya Mama bawakan oleh-oleh yang banyak.
Peluk dan cium,
Mama.
Selembar kartu pos bergambar Donald Duck masih terselip di dalam sebuah album foto. Hanya diselipkan, namun selalu ada disitu. Meylo menemukannya sewaktu mengemasi barang-barang. Besok ia akan pindah ke rumah baru bersama istri tercintanya, bertepatan dengan tahun baru. Pria muda itu membacanya kembali dengan perasaan penuh rindu. Secuil kenangan indah 23 tahun silam melintas di benaknya.
Saat itu Meylo masih duduk di bangku kelas 2 SD. Ibunya, Renita, yang bekerja sebagai seorang sekretaris mendapat kesempatan untuk mengunjungi Negeri Paman Sam. Namun Meylo tidak ikut karena harus tetap sekolah. Bocah itu dititipkan selama sebulan kepada nenek dan kakeknya
Atas ajakan dari bosnya, Ibu Lilian, Renita akhirnya bisa menginjakkan kaki di negara yang sejak dulu hanya dapat ia bayangkan. Telah lama wanita berusia 31 tahun tersebut memimpikan pergi ke Amerika. Putra bungsu bosnya yang kuliah disana sebentar lagi akan diwisuda. Suami Ibu Lilian telah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Sedangkan kedua putrinya yang lain terlalu sibuk mengurusi bisnis mereka masing-masing. Ia tak ingin menghadiri acara wisuda itu seorang diri, karena itulah ia mengajak Renita. Lagipula Renita memang telah menjadi orang kepercayaannya.
Dibukanya album foto lawas itu halaman demi halaman. Kegembiraan dan keceriaan tampak jelas di wajah sang Mama yang berfoto di tempat-tempat wisata terkenal. Ketika berpose di depan sebuah casino di Las Vegas dengan Ibu Lilian, sewaktu bergaya di antara badut-badut Dysneyland seperti Mickey Mouse, Donald dan Daisy Duck, Pluto, serta kawan-kawan. Bahkan saat berdiri di samping sebuah boneka salju di malam hari senyum cerianya selalu mengembang menghiasi paras cantiknya meski hanya diterangi lampu taman yang minim dan blitz dari kamera. Nampaknya saat itu Ibu Lilian sengaja ingin sekalian mengajaknya berwisata ke tempat-tempat wisata terkenal di Amerika sebagai bonus karena Renita selama ini telah setia dan banyak membantunya.
*
Suara sebuah mobil terdengar dari kejauhan. Suara itu kian terdengar jelas. Meylo kecil yang siang itu tengah menikmati makan siang ditemani neneknya langsung berteriak kegirangan begitu melihat sebuah sedan putih menghampiri pekarangan rumah neneknya. “Mama…..!!! Horeeee…Mama udah pulang!!!”
Mainan mobil-mobilan, robot-robotan, sepatu, makanan snack asli buatan Amrik yang pada tahun itu belum hadir di Indonesia, beberapa helai baju, berbagai souvenir dan seabreg barang lain membanjiri tempat tidurnya. Meylo sangat senang, oleh-olehnya banyak sekali.
Semua bagus dan sesuai dengan yang ia idamkan. Dari semua oleh-oleh itu ada sebuah barang yang begitu berkesan. Sebuah celengan berbentuk babi sebesar kepala orang dewasa, terbuat dari bahan keramik dengan cat berwarna pink. Dari sebuah celengan dengan bentuk menggemaskan sekaligus menggelikan itu Renita mengajarkan putera semata wayangnya untuk menabung.
Sejak memiliki celengan babi yang lucu itu Meylo begitu bersemangat untuk menabung. Apalagi Renita sering bilang bahwa hemat pangkal kaya. Setiap mendapat uang jajan dari ibunya, tantenya, omnya, maupun dari nenek dan kakeknya, pasti ia masukan ke dalam celengan dan tak pernah dipergunakan walau sepeserpun. Tak jarang, Ibu Lilian yang baik hati juga sering memberinya hadiah uang tiap kali Meylo mendapat juara kelas. Dengan begitu isi celengannya makin penuh. “Aku mau keliling dunia sama Mama,” ujar bocah lugu itu berulang kali. “Meylo juga mau beli rumah baru buat Mama,”
Renita hanya tersenyum tiap kali mendengar buah hatinya berkata ingin membelikan sebuah rumah. Suatu hari ia iseng bertanya, “Kenapa Meylo mau beli rumah baru untuk Mama? Memangnya Meylo sudah nggak betah tinggal di rumah kita ini?”
Sejenak Meylo terdiam, lalu memberikan jawaban, “Ini bukan rumah kita, Ma. Ini rumah Papa. Papa kan nggak pernah pulang, jadi mendingan kita beli rumah soalnya Meylo benci Papa. Papa lebih sayang sama Tante Mary daripada kita. Papa jahat!”
Renita kaget mendengar putranya berkata seperti itu. Lalu dengan suaranya yang lembut ia mencoba menjelaskan, “Eeeh, Meylo nggak boleh benci sama Papa. Kan masih ada Mama yang selalu sayangin Meylo. Lagian rumah ini sudah diberikan untuk kita kok,” Ia berusaha tetap menunjukkan wajah senang. Namun jauh di lubuk hatinya berkecamuk antara rasa marah dan kecewa kepada Hendra, mantan suaminya.
Sejak bekerja di perusahaan perminyakan di Riau, Hendra jarang pulang. Alasannya tentu karena jarak antara Jakarta dan Riau cukup jauh. Namun ternyata juga ada penyebab lain. Hadirnya wanita bernama Mary membuat Hendra lupa pada keluarganya. Renita dan Hendra tak pernah bercerai secara hukum, namun pria itu tak pernah pulang. Ia menghilang begitu saja tanpa kabar apapun.
Kegiatan menabung Meylo terus berlanjut dari waktu ke waktu. Setiap kali celengan babinya telah penuh, isinya akan dikeluarkan melalui lubang di bawahnya yang tertutup bahan karet. Lalu uang tersebut dititpkan pada Renita. Kemudian ia akan menabung lagi di celengan itu, dan seterusnya. Sejak usianya menginjak 17 tahun barulah ia punya rekening bank atas namanya sendiri. Pokoknya tiap kali mendapat uang, anak pintar itu selalu menyimpannya. Ia masih bercita-cita ingin membelikan rumah untuk Renita. Dan seiring berjalannya waktu, wajah Hendra kian terlupakan. Renita dan Meylo telah bahagia dalam dunia mereka sendiri.
*
Hari baru, tahun ajaran baru dan kampus baru. Tak terasa kini Meylo sudah mulai kuliah. Armaylo bukan lagi Meylo kecil yang lugu. Kini, pria muda itu mulai memikirkan untuk punya hubungan serius dengan seorang gadis. Renita menyambut gembira ketika Meylo memperkenalkannya pada gadis bernama Icha, teman sekampusnya. Icha merupakan gadis baik, sikapnya santun dan bersahaja. Ia menyayangi Renita seperti mamanya sendiri. Renita benar-benar bahagia. Dunianya terasa sempurna, seperti tak kurang suatu apapun.
Namun suatu hari Renita mengeluh sakit kepala. Ketika konsultasi ke dokter dan dilakukan pemeriksaan ternyata ia mengidap kanker stadium awal. Penderitaannya makin bertambah karena suami yang dulu pernah menyia-nyiakannya kembali dengan kondisi bangkrut karena berjudi. Ia datang pada hari Minggu di saat Meylo sedang pergi bersama Icha ke sebuah pameran buku. Sedangkan Bi Ipah, pembantu di rumahnya yang telah bekerja di rumah itu sejak Meylo masih bayi, kebetulan sedang membeli beras ke warung. Renita sangat terkejut. Mukanya berubah pucat seperti habis melihat setan. Dengan terbata-bata, ia segera mengusir laki-laki itu.
“To…tolong pe….pergilah Mas,.” katanya.
“Tapi, ini kan rumahku. Ayolah, jangan seperti itu.”
“Aku tahu ini rumahmu. Tapi Meylo sangat membencimu. Akan sulit baginya untuk menerima kehadiranmu saat ini…”
“Aku akan minta maaf padanya, aku tahu aku bersalah. Please Renita, izinkan aku tinggal disini karena aku sudah tak punya apa-apa lagi,” pinta Hendra memelas.
Renita masuk ke dalam kamar. Ia mengambil sesuatu untuk diberikan kepada Hendra, “Ini, ambil semua perhiasan ini…” Renita menyerahkan sekotak pehiasan emas pada Hendra. “Kalau kau jual perhiasan ini uangnya bisa kau pakai untuk membuka usaha. Tapi tolong jangan ganggu kami lagi. Meylo sudah sangat menderita karena kau sia-siakan, jadi jangan rusak kebahagiaannya yang tak seberapa,” katanya dengan hati tersayat-sayat
“Tapi aku ingin bertemu putraku,”
“Tidak! Dia sangat membencimu. Jadi tolong pergilah sekarang juga!” Renita menjadi geram.
“Baiklah, aku akan pergi sekarang. Tapi suatu hari aku pasti akan datang lagi kesini,” Hendra akhirnya pergi.
Renita tak pernah menceritakan kejadian hari itu kepada Meylo. Ia tak ingin membuat putra kesayangannya terluka. Namun ketakutan akan datangnya lagi Hendra ke rumahnya terus menghantui bagai mimpi buruk yang tak berkesudahan. Menggangu pikirannya.
Selama ini Meylo merawat ibunya dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Ia dengan rajin mengantar Renita bolak-balik ke rumah sakit untuk melakukan kemotheraphy. Bahkan dengan telaten memperhatikan menu makanannya setiap hari yang dimasak oleh Bi Ipah. Akan tetapi, meski telah dirawat sedemikian rupa penyakitnya tak kunjung membaik, malah bertambah parah.
Suatu malam Renita tiba-tiba merasa menggigil. Tubuhnya gemetaran. Seketika itu juga Meylo langsung memeluknya. Ia berteriak kepada Bi Ipah supaya menyeterika beberapa lembar selimut. Kemudian selimut hangat itu langsung dibalutkan ke tubuh ibunya. Namun tetap saja Renita menggigil. “Dingin….dingin sekali,” katanya. Dengan rasa panik dan ketakutan yang mencekam, tanpa pikir panjang lagi Meylo segera menggotong ibunya ke dalam mobil dan melarikannya ke rumah sakit. “Bertahanlah, Ma…” pinta Meylo. Ya Tuhan, apa artinya ini semua? Apakah aku akan kehilangan mamaku? Tanya Meylo dalam hati.
Sesampainya di rumah sakit, Renita langsung masuk ke Instalasi Gawat Darurat. Badannya masih tetap menggigil. Namun tak lama kemudian rasa menggigil itu berangsur menghilang sebelum dokter sempat melakukan apa-apa. Renita ‘masih ada’. Terima kasih Tuhan…
Kanker terus menggerogoti tubuh Renita tanpa ampun. Kini ia hanya bisa menghabiskan tiap detik kehidupannya di rumah sakit. Ia mulai kehilangan asa. Kemotheraphy yang membuat rambutnya rontok dan perutnya selalu mual tak sanggup lagi dijalaninya. Sedangkan operasi yang dilakukan oleh dokter tidak ada yang membuahkan hasil.
Meylo tak habis pikir, mengapa penyakit ibunya tak kunjung sembuh. Sepertinya perjuangan lebih dari setahun hanya sia-sia. Ia takut akan kehilangan ibunya. Meylo menangis sejadi-jadinya malam itu dalam kesunyian hati. Air mata mengalir deras di pipinya yang putih bersih.
Meylo sedih sekali melihat kondisi ibunya. Badannya kurus, kepalanya hampir botak, dan pipinya sangat cekung. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?
Di saat putranya sedang berjuang untuk menyelamatkan nyawa ibunya, Hendra juga berjuang untuk membiayai hidupnya sendiri yang berantakan. Sebenarnya ia telah bertobat. Namun semua uang hasil menjual perhiasan pemberian Renita terpaksa dipakai untuk membayar hutang berjudi yang masih belum terbayar. Ia memang harus membayarnya karena kalau tidak ia akan ‘dihabisi’ oleh si bandar judi. Kini Hendra begitu malu untuk kembali lagi menemui Renita, dan ia juga takut tiap kali membayangkan kemarahan Meylo. Sedangkan saudara-saudaranya tak ada yang tahu dimana laki-laki tua berusia 55 tahun itu tinggal sehingga tak bisa memberi kabar tentang kondisi Renita.
Meylo sedih memikirkan derita ibunya. Ia juga bingung karena faktor keuangan. Selama ini Renita tidak pernah memiliki asuransi jiwa, sehingga semua biaya medis harus ditanggung sendiri. Telah habis tabungan Renita di bank. Mobil dan sebidang tanah investasiya di Bandung pun telah dijual.
Meylo tidak bisa minta bantuan pada Ibu Lilian, karena mantan bos ibunya itu telah meninggal setahun silam akibat kecelakaan di jalan tol. Sementara itu bantuan dari saudara-saudaranya tidak terlalu banyak, karena kemampuan ekonomi mereka yang memang terbatas. Para kerabat yang menjenguk juga ada beberapa dari mereka yang memberi sumbangan. Tapi tetap saja, biaya medis yang dibutuhkan masih jauh lebih besar.
Meylo tahu, para dokter telah ‘angkat tangan’. Penyakit Renita yang amat parah mungkin sudah tak bisa diapa-apakan lagi. Sedangkan tagihan rumah sakit terus membengkak. Tapi biarlah waktu terus berjalan. Aku tetap akan berjuang untuk mamaku. Berapapun biayanya akan kucari. Pokoknya Mama harus mendapat perawatan terbaik. Tiba-tiba ia teringat, Celenganku….Ya, aku kan masih punya uang di bank. Semangatnya telah kembali.
Namun Renita malah makin sering tertidur, tak sadarkan diri. Sejak mengucapkan pesan terakhirnya, Renita tak pernah bangun lagi. Namun ia masih bernapas. Suatu pagi Meylo menemukan ibunya tak bernapas lagi. Kemudian dokter memastikan bahwa Renita sudah benar-benar ‘tiada’. Celengan Meylo tak mampu menyelamatkan nyawa ibunya. “Mamaaaaa……!” Meylo berteriak histeris. “Jangan tinggalkan Meylo, Ma. Kalau Mama pergi nanti Meylo sama siapa? Katanya Mama mau keliling dunia bersama Meylo?!” Tapi Renita telah ‘pergi’ dengan rasa bahagia. Bahagia karena memiliki anak yang sangat mencintainya. Kebahagiaan yang tak dapat ditukar dengan apapun.
*
Setahun setelah ‘kepergian’ Renita, Meylo menikah dengan Icha walau belum lulus kuliah. Ayahnya Icha yang membiayai pernikahan itu. Hanya sebuah pernikahan sederhana dengan biaya seadanya, namun terasa indah. Ia percaya kalau Meylo dapat membahagiakan putrinya.
Sejak menikah Meylo mengajak Icha untuk tinggal di rumah yang selama ini ditempatinya bersama Renita. Meylo tetap melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri dari sisa uang yang masih ada di tabungannya. Ia ingin mewujudkan keinginan terakhir ibunya, yakni menjadi seorang Sarjana dan sukses. Demi menafkahi istrinya, Meylo berjualan ikan bakar dengan warung tenda. Warung tersebut buka mulai sore hingga jam 12 malam, sebab dari pagi hingga siang Meylo harus kuliah. Sedangkan waktu libur pada hari Minggu ia manfaatkan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah.
Sepuluh tahun sejak kepergian Renita telah berlalu. Kini Armayllo Bima Sakti bukan lagi pemilik warung tenda biasa. Ia sudah menjadi bos dari beberapa restoran yang tersebar di seluruh Nusantara. Ma, sekarang aku sudah sukses. Terima kasih karena telah mengajariku menabung. Semoga Mama bisa melihatku dari ‘atas’ sana dan bahagia…. Album foto itu perlahan ditutup dan disimpan bersama barang-barang berharga lainnya..
Meylo menyambut hari baru dengan hati yang bersih dan bergembira. Telah lama ia melupakan kemarahan terhadap ayahnya meskipun hingga detik itu sang Ayah belum pernah menemuinya untuk minta maaf. Namun seperti yang juga dipesankan oleh Renita sebelum ‘pergi’, Meylo telah memaafkan ayahnya.

Monster Air

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Monster Air

By: Fitri Gustav

Malam itu Vero lagi-lagi dimarahi oleh mamanya. Pasalnya, dia melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang yaitu lupa mematikan kran air tiap habis menggosok gigi di wastafel. Tapi untaian kata-kata dari sang mama sepertinya selalu masuk ke telinga kuping kiri dan keluar lewat kuping kanan. Entah kenapa kebiasaan buruknya yang satu itu sulit sekali dihilangkan. Mau tidak mau sang mama harus rajin mengecek wastafel di depan kamar mandi yang terletak di sebelah kanan kamar Vero tiap pagi dan malam.
Sang mama sampai gregetan sendiri, sebab putri bungsunya itu tidak kunjung sadar kalau air bersih saat ini kian langka. Memang di daerah rumah mereka air tanahnya masih bersih dan melimpah sehingga penduduk yang tinggal di daerah tersebut bisa menghambur-hamburkan air sesuka hati. “Kamu tahu nggak Nak? Di banyak tempat lain air bersih sangat sulit didapat. Orang-orang harus membeli air yang dijual per jerigen. Bahkan di beberapa daerah yang kekeringan mereka harus jalan kaki berkilo-kilo meter hanya demi mendapatkan satu atau dua ember air!” kata mamanya Vero. Sudah berulang kali ia mengingatkan hal yang sama tersebut. “Kalau bukan kamu yang melestarikan sumber daya alam dari sekarang, lantas bagaimana nanti anak cucu kamu? Apa sulitnya sih menutup kran air? Nggak perlu tenaga besar juga kok,” tambahnya.
“Ok Ma, besok aku nggak ngulangin lagi,” janjinya. “Hoaammm…” Vero mulai mengantuk. Ia ingin malam itu cepat berganti pagi, karena besok rencananya akan pergi ke pantai bersama kedua kakaknya (Tora dan Anggi) untuki menghadiri pesta ulang tahun sahabatnya Tora yang bernama Didit sekaligus mengisi weekend. Kebetulan keluarganya Didit mempunyai rumah di pinggir pantai dan mereka tinggal di rumah tersebut. Tora dan Didit telah bersahabat sejak TK sehingga keluarga masing-masing pun sudah akrab satu sama lain.
Vero membaringkan tubuhnya di atas kasur nan empuk. Lampu utama kamarnya dimatikan. Kini yang menyala tinggal lampu dinding yang temaram. Boneka beruang seukuran hampir sebesar tubuhnya yang berbulu pink tebal dan lembut siap menemani tidur.
*
Suara kicau burung gereja mulai terdengar. Matahari mulai ‘menampakkan batang hidungnya’. Anggi membuka jendela kamar adiknya. Sinar matahari yang masuk ke dalam ruang kamar membuat mata Vero silau meski masih terpejam. Terasa tidak nyaman, sehingga memaksanya untuk terjaga. “Ayo cepat mandi trus sarapan. Jadi mau ikut ke pantai nggak?” tanya Anggi, kakak keduanya yang setahun lagi akan lulus SMU.
“Oh iya, asyiiik…! Aku mandi dulu ya Kak,” sahut Vero bersemangat. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya.
Usai mandi, Vero melahap setangkap roti tawar isi keju dan selai serta segelas susu coklat. Setelah selesai sarapan, Vero dan kedua kakaknya bersiap-siap untuk berangkat ke pantai sesuai rencana. Pagi itu Vero selamat dari omelan sang mama. Tapi bukan karena ia ingat untuk menutup kran, melainkan karena tadi Anggi yang telah menutupnya sebelum ketahuan mamanya. Kan nggak lucu kalau acara weekend harus rusak cuma gara-gara ulah ceroboh adiknya yang pelupa itu.
Vero, Tora dan Anggi berangkat ke pantai di pinggiran kota dengan mobilnya Tora. Sebuah mobil antik yang setahun lalu dibeli dalam keadaan butut, tapi sekarang sudah tampak kinclong karena telah dibetulkan dan direnovasi sana-sini.. Dalam waktu satu setengah jam mereka telah sampai di tujuan. Mereka sengaja datang pagi karena ingin membantu Didit mempersiapkan acara. Namun caranya sendiri akan dimulai nanti setelah matahari tenggelam.
Ketika sampai di lokasi, Tora dan Anggi langsung berinisiatif membantu mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari makanan, minuman, sound system dan sebagainya. Sedangkan Vero diam-diam kabur untuk bermain air di pantai bersama Milo, anjingnya Didit yang memang sudah akrab dengannya. Vero mengajak Milo bermain di tempat yang jaraknya lumayan jauh dari rumah Didit, dengan maksud supaya tidak ketahuan. Ia pun tidak membawa ponselnya, sebab Tora pasti akan meneleponnya begitu tahu kalau adik bungsunya itu ‘menghilang’. Padahal Vero tidak mau diganggu.
Milo mengejar-ngejar Vero dengan riang dan bersemangat di tepi pantai. Ia mengincar bola plastik yang dipegang Vero. Air laut membasahi kaki mereka. Karena tak kunjung mendapatkan bola itu, Milo pun menubruk Vero hingga terjatuh, akhirnya belia usia 15 tahun itu basah kuyup. Tapi ia senang. Derai tawa menghiasi wajahnya yang imut-imut. Terik sinar matahari nan panas tak mengurangi kesenangan sama sekali. Mereka benar-benar gembira. Keduanya menghabiskan waktu dengan bermain apa saja, mulai dari membuat istana pasir, mencari keong, sampai balapan renang.
Sewaktu mereka lagi asyik berenang, tiba-tiba Milo merasa gelisah. Tak lama kemudian Vero mendengar suara gemuruh dari kejauhan. Suara tersebut kian lama kian jelas terdengar. “Ada apa ini?” Vero merasa jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Ia dapat ‘mencium’ bahaya yang datang. “Wah, jangan-jangan Tsunami? Milo, ayo kabuuuurr…..!” teriak Vero di saat suara itu makin memekkakan telinga.
Sekuat tenaga Vero dan Milo berusaha mencapai tepi pantai. Namun mendadak dari lautan keluar sebuah mahluk yang seluruh badannya terdiri dari air. Ukurannya besar, sangat besar! Dia adalah Monster Air! Bentuknya sangat mirip dengan monster yang kadang suka muncul di dalam mimpi Vero. Gadis itu tidak menyangka kalau mimpi bisa jadi kenyataan (masa sih?). Sungguh menyeramkan…
Tangan monster raksasa itu segera menangkap tubuh Vero. Namun untungnya Milo berhasil lolos. Hewan berbulu putih tersebut ketakutan luar biasa., ia menyalak dengan panik, “Guk…guk..guk…!” terus-menerus seraya meminta supaya si monster mau melepaskan Vero dari genggamannya.
“Tolong…! Tolong…! Milo, cepat lari ke rumah Kak Didit dan minta bantuan!” teriak Vero dengan napas terengah-engah. Tangan monster itu seakan siap mencekiknya.
Milo segera bergegas berlari menuju rumah Didit. Namun si monster segera berusaha menangkapnya dan berhasil! “Hahaha…mau kemana kau anjing kecil? Kau tidak akan bisa lolos dariku, huahaha…!” tawanya menggelegar. Anehnya, suara yang keras itu tidak terdengar sama sekali di telinga Tora, Anggi, Didit maupun keluarganya. Monster tersebut memang memiliki magic supaya kehadirannya tidak diketahui orang lain, sebab ia hanya mengincar Vero. Kalaupun ia kemudian menangkap Milo itu karena terpaksa, soalnya Milo mau kabur untuk mencari bantuan.
“Apa maumu? Lepaskan aku!” bentak Vero.
“Aku ingin memakanmu anak bandel…” jawab si monster.
“Memangnya apa salahku? Kenapa kau ingin memakanku?”
“Ah, rupanya gadis kecil ini tidak tahu kesalahannya ya? Coba biar kuperjelas. Kesalahanmu adalah karena kamu selalu membuang-buang air dengan percuma! Itu salahmu! Aku mewakili komunitas air di alam semesta ini akan menghabisimu sebagai hukuman atas ulahmu itu… Kami tidak terima disia-siakan oleh manusia seperti kamu!” kata monster itu geram.
Verio memohon dengan gemetaran, “Tidak, jangan makan aku. Tolong ampuni aku. Selama ini aku khilaf,”
Tapi percuma, “Sudah terlambat untuk minta ampun. Bukankah sudah berkali-kali kau diingatkan oleh mamamu supaya jangan pernah lupa menutup kran air? Tapi apa hasilnya? Kamu tidak pernah menuruti kata-kata mamamu. Jadi sekarang rasakan pembalasanku!”
“Tidak!!! Dasar monster jelek!” Vero meronta-ronta, berusaha meloloskan diri. “Milo, tolong aku!” tapi Milo pun tak berdaya dalam genggaman si monster. Anjing lucu itu malahan sudah pingsan duluan.
Monster Air itu mulai membuka mulutnya. Kemudian ia mendekatkan tangan kanannnya yang berisi tubuh Vero mendekati mulutnya. Tampang Vero yang pucat dan badannya yang gemetaran tidak menyurutkan niat si monster untuk melahapnya. “Ampuuun..! Aku berjanji tidak akan pernah lagi mengulangi kesalahan itu…” teriak Vero sambil memelas. “Apa aku tidak boleh minta satu kesempatan lagi? Aku tahu aku memang salah, tapi tolong berikan satu kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku…” gadis itu sampai menangis.
Rupanya Vero berhasil membuat si monster tersentuh. Perlahan mahluk raksasa itu menjauhkan tubuh ero dari mulutnya yang super lebar. “Benar kau berjanji?”
“Iya, aku janji. Kalau sampai aku mlakukan kesalahan yang sama kau boleh mencariku lagi,” kata Vero dengan nada suara lemas.
“Baiklah kalau begitu, aku pegang kata-katamu. Tapi kau harus menepatinya. Jika tidak, aku akan menghabisimu dan tidak akan ada kata ampun lagi,”
“Ok…ok…tenang saja aku pasti tepati janji. Sekarang tolong turunkan aku dan Milo….”
Kemudian monster itu menurunkan tubuh Vero dan Milo, lalu meletakannya di bawah pohon kelapa nan rindang dengan hati-hati. Vero yang sudah kehabisan bertenaga mendadak pingsan. Ia belum sempat mengucapkan terima kasih dan kata-kata perpisahan. Monster itu sudah pergi entah kemana.
Selama berjam-jam Vero dan Milo tak sadarkan diri. Mereka seperti tertidur pulas. Tora, Anggi dan Didit sibuk mencari mereka kemana-mana. Ketika akhirnya diketemukan, Tora segera membangunkan Vero, “Eh bangun…bangun…!” namun Vero sulit dibangunkan. “Wah, ini bocah enak-enakan aja tidur padahal orang lain sibuk nyiapin pesta…” terpaksa Tora mengguyur adiknya dengan air mineral yang dibawanya dengan botol. “Byuuur…!”
“Tolooong….toloong!” teriak Vero yang terbangun sambil gelagapan. “Monster.., ada Monster Air!”
Semua orang di depan Vero melongo’ kebingungan.

***

  • @Facebook

    Peluang Bisnis Oriflame