Aku kembali terhenyak. Sejumlah orang berseragam dengan tanpa belas kasih menginjak dan menghujamkan tinjunya berkali-kali. “Kamu Indon, memang tidak pantas ada di sini”. Pukulan bertubi-tubi disertai sumpah serapah logat Melayu begitu menyiksaku. Aku merasakan betapa sakitnya dipukul dan diinjak. Namun lebih sakit lagi ketika sumpah serapah keluar dari petugas kerajaam Malaysia. Seluruh warga Indonesia menyaksikan penyiksaan itu. Juga aku. Makanan yang aku telan seperti hendak kembali melompat. Malaysia begitu murka. Malaysia begitu tidak kenal adab.
Lamat-lamat kalimat Melayu yang sangat akrab terngiang di telingaku. Kalimat bermoral dan bahkan sangat bijak dan beradab Indonesia adalah saudara kami juga. Kami punya asaudara di Indonesia. Orang tua itu menyebut sebuah daerah di Jawa Tengah. Tidak hanya satu orang, beberapa orang bahkan hampir semua orang menyampaikan hal yang sama. “Kami ini masih punya saudara yang sekarang tinggal di Sumatera”.
Inilah yang membuat aku merasa Malaysia adalah negaraku juga. Setiap tahun aku berkunjung baik untuk menghadiri undangan atau sekedar transit berjumpa dengan teman-teman Indonesia yang sedang belajar di sana, selepas kunjungan dari negara lain. Malaysia memang sedang membangun. Mahatir seperti berusaha hendak mengalahkan Singapura, tetangganya. Menara Petronas yang sangat megah adalah contohnya. Pesatnya pembangunan membuat Malaysia harus mengundang ribuan tenaga kerja, termasuk dari Indonesia. Tidak hanya itu Mahatir ingin agar puak Melayu tetap memegang tampuk kekuasaan di bawah UMNO. Tenaga kerja dari Indonesia tidak hanya dibutuhkan tenaganya, tetapi juga suaranya untuk pilihan raya. Indonesia-Malaysia bak saudara kandung yang dipisah oleh Selat Malaka.
Pertama kali aku berkunjung ke Malaysia pada tahun 1993, melalui Selat Malaka. Di antar oleh seorang warga Indonesia yang bekerja di Malaysia, aku gagal menjadi orang terlantar. Kodrat Riadi, dengan senang hati mengantarku dari pelabuhan Selat Malaka ke pertemuan mahasiswa se ASEAN. Aku sempat bermalam di Kampung medan tempat tenaga kerja Indonesia membuat permukiman. Kampung ini terletak di pinggir kali, semacam kali ciliwung di Jakarta. Di Malaka itulah perkenalanku dengan kekerasan polisi kerajaan Malaysia. Tidak hanya itu ketika pada tahun 2004 ketika berkunjung ke bangkok dengan bus, di tengah malam polisi hutan menghentikan bus tersebut hanya untuk mencari Indon. Dengan sangat kasar mereka berteriak, “yang Indon turun”. aku juga ikut turun, aku digelandang, dikumpulkan. Mereka memeriksa pasport. aku lolos karena aku bawa surat undangan teman-teman Thailand, namun yang lain tidak. Dengan mata telanjang aku melihat mereka sudara-saudara kita seperti tentara Indonesia di zaman Belanda. Di kegelapan malam, di tengah hutan, polisi-polisi kehutanan ternyata lebih galak. Aku tidak tega melihat mereka yang akhirnya naik dan kembali melanjutkan jalan. Memang tidak nampak luka-lebam seperti yang dilakukan polisi yang ditayangkan di TV tetapi mereka mengaku, uang yang seharusnya ia kirimkan ke kampung habis dirampas. Kalau tidak membayar polisi hutan mereka tidak akan di lepas. Penjara merupakan tempat yang paling menakutkan bagi pekerja Indonesia di Malaysia. Sementara mereka pergi Ke Hatjai, Bangkok hanya untuk memperpanjang visa.
Saat era Mahatir, harga diri bangsa masih begitu kentara. Ada Anwar yang dekat dengan elit-elit politik di Jakarta. Ada banyak pelarian politik yang menjadi guru atau ustaz. Mereka sangat berwibawa. dari merekalah hubungan bukan negara secara kuat terjalin. Di era Soeharto, Indonesia begitu digjaya. bahkan menjadi bapak bagi negara-negara Asia Tenggara. Meski sering ada keributan yang dibuat di Cow Kit, namun eksesnya tidak seperti yang kita lihat di televisi beberapa waktu lalu.
Aku tidak tahu ke mana negara ketika rakayatnya begitu pedih di siksa. Ke mana elit politik ketika harga diri bangsa diinjak-injak melalui tubuh, muka dan kehormatan para pekerja yang dianiaya dan diperkosa. Negara seperti tidak berdaya. Negara seperti lupa bahwa ada jutaan warganya tengah bertarung untuk mencari kehidupan, mencari kesejahteraan.
Aku seperti ditarik ke masa lalu ketika Malaysia begitu menghargai Indonesia. Ketika Indonesia adalah guru yang perlu digugu dan ditiru. Sayang Indonesia kini tidak lagi dipandang, kalau bisa menguasai dan merampok pulau-pulau rasanya Malaysia ingin melakukannya.
Aku melihat Malaysia begitu takut pada saat negara-negara Asia Tenggara lainnya mulai menggeliat. Dihadapanku banyak pemimpin Malaysia ingin menjadikan Malaysia sebagai pusat perdagangan internasional, menyaingi singapura. Sayang apa daya tanah dan sumberdaya manusianya terbatas. Sayang warisan budaya Melayu lebih banyak di Indonesia. Malaysia negara yang seharusnya tidak ada. Ia bagian dari Indonesia. Karena itu ia pantas di ganyang.. bukan sebaliknya, jika Malaysia tetap ingin diakui oleh dunia atau setidaknya oleh kita negara terbesar di Asia Tenggara.
Lagu semalam di Malaysia tidak lagi semerdu sepuluh tahun yang lalu..ia seperti jarum yang berusaha aku telan.. sakit…