GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Archive for September, 2009


Hanya Ingin Menyambung Nyawa

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Malam itu, Ratih (35) bukan nama sebenarnya berdiri menunggu laki-laki datang untuk menghampirinya. Tas pink kecil berisi peralatan kosmetik, serta jaket ungu bermotif hewan selalu dibawanya.

Lokasi belakang Mall kawasan Jakarta Barat selalu menjadi tempat yang sangat disukainya. “Selain suasana dengan tata cahaya yang redup. Kebanyakan mereka sudah tahu kemana harus mencari perempuan seperti saya,” sahutnya.

Pekerjaannya memang tak seperti perempuan lainnya, dikejar-kejar petugas keamanan, terkena tindak kekerasan hingga ditipu, serta dipandang sebelah mata semuanya pernah dialaminya. Kepahitan tersebut tak pernah dirasakannya. “Saya hanya ingin menyambung nyawa,” tuturnya sambil menggumankan lagu kupu-kupu malam.

PSK (Pekerja Seks Komersil), begitu orang-orang menyebut pekerjaan yang dilakukannya. Begitu terhina bagi beberapa orang lain, namun faktor tak mempunyai keterampilan serta pengalaman buruknya semasa ABG membuatnya terpaksa menjalani kehidupan malam seperti ini. “Pertama kali melakukannya dengan pacar saya sewaktu SMU,” lirihnya.

Menjelang isya biasanya saatnya pergi ‘kerja’, tepatnya pukul 9pm hingga pagi dini hari menjadi jam kerjanya. “Sebelum Shubuh harus sudah pulang,” tambahnya.

Pendapatan perharinya pun tak menentu. Disaat menemukan penyewa jasa yang baik, tip besar akan diterimanya. Namun tak sedikit pula yang bertindak semena-mena terhadapnya. Perlakuan tersebut kerap terjadi bila tamu meminta pelayanan lebih. Menurut Ratih, perbuatan tersebut sering terjadi ketika pertama kali terjun ke dunia hitam.

Sudah dua bulan ini Ratih menunggak uang sewa kontrakan. Beribu alasan sudah diberikan agar masih tetap tinggal. Namun acamannya agar segera diusir, membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa selain berusaha mendapatkan uang sebanyaknya, hari ini.

Kisah Ratih merupakan satu dari cerita-cerita lainnya yang tak pernah terusik oleh kebisingan Kota Jakarta. Kesulitan ekonomi, keterbatasan keterampilan, cita-cita terlampau tinggi serta faktor lingkungan menjadi alasan seseorang untuk mengambil jalan singkat.

Memang sungguh sangat ironi sekali, tubuh yang seharusnya dijaga serta dirawat agar tidak seorang pun bisa menjamahnya. Kini malah dengan gampangnya, menyentuh, meraba serta memperlakukanya tidak senonoh.

Uang yang didapatkannya pun tak sebesar apa yang telah dikorbankan. Batasan umur menjadi faktor penentu berapa yang harus dibayar. Misalkan masih muda bayaranya bisa dikatakan sangat mahal, namun lihat lah PSK yang berumur dan tanyalah berapa harga yang harus dibayar untuk sekali kencan.

Sedih memang bila melihat atau  bahkan mendengar peristiwa tersebut, tapi apa yang bisa dilakukan. Tak ada, bukan !. Mungkinkah nila kesadaran mereka yang kurang ataukah memang tak ada cara lain untuk hidup dan bertahan di Negara yang katanya kaya akan sumber daya alamnya.

Ketika Jam Tak Lagi Berfungsi

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Kejadian itu terjadi saat aku pulang kerja, waktu memang sudah menunjukan pukul 11 pm. Seluruh jalan yang kulalui sangatlah sepi, hanya beberapa kendaraan itu pun nampak ngembut (mungkin ingin cepat-cepat sampai di rumah). Laju kendaraanku tidaklah cepat, tapi juga tidaklah lambat. Spidometer menunjukan angka 50 km/jam.  Dari belakangku sebuah kendaraan umum jalan dengan ngebutnya. Dalam hatiku, kira-kira apa yang sedang dikejarnya, mungkinkah hari selarut ini masih banyak penumpang yang menunggu jasanya. Biarlah… aku mencoba menghindarnya dengan melambatkan laju kendaraan serta membiarkannya lewat duluan. Ternyata tak hanya satu, dibelakangnya ada tiga kendaraan yang mengikutinya. Jalannya jadi tak terarah, seperti sedang di ajang balap mobil. Mereka berupaya mencapai yang terdepan. Beberapa kali aku harus mengerem mendadak untuk menghidarinya. Setelah berhenti sejenak dan melihat sudah jauh dari jarak aman, kukembali melanjutkan perjalananku. Sampai pada persimpangan jalan, laju kendaraanku terhenti. Trafic light menyala dengan warna merah. Lama sekali aku harus menunggu berubah warna menjadi hijau. Satu-persatu kendaraan yang dibelakangku pun ikut berhenti. Anehnya suasana di sekitar lampu merah ini tak terlihat sepi untuk waktu yang menunjukan hampir  tengah malam. Dari sisi jalan nampak segumpulan anak kecil sedang duduk sambil mengamati laju kendaraan yang lalu lalang. Kira-kira apa yang mereka nunggu. Awalnya tak banyak yang menghiraukan dengan keberadaannya. Namun, ketika tahu apa yang mereka lakukan, barulah semuanya bersiap serempak mengatakan satu kata ‘maaf’. Itu pun bila salah satu dari mereka mulai mendekat. Dari sebelah kanan jalan, seorang anak kecil berlari menuju arahku. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi, tubuhnya terpental karena tersenggol kendaraan. Begitu kencangnya hingga anak kecil tersebut terbang  jauh ke atas dan kembali lagi dengan kepalanya terlebih dahulu. Kisah selanjutnya mungkin bisa ditebak, anak kecil tersebut tergelapar dengan mulut  berlumuran darah. Semua yang menyaksikan hal tersebut  hanya bisa terpenganga. Tak ada yang berani mendekat apalagi berusaha menyentuhnya. Seorang ibu tua mendekat dengan mata berlumuran air. Beberapa kali tersendak menahan rasa sedih menimpah yang ternyata adalah anaknya. Dari jeritan ibu tua tersebut  barulah tersadar bahwa anak itu barulah kelas 5 SD. Hati ini makin tersentak mengetahui  hal tersebut. Apa yang dia lakukan disaat-saat seperti ini, bukankah anak seumurannya seharusnya sudah terlelap dalam mimpi dengan senyuman menghiasi wajahnya. Adakah yang dia perjuangkan, sehingga rela berkorban dengan mengurangi waktu tidurnya. Bagaimana dengan kedua orang tuanya, mereka membiarkan saja semua ini terjadi di depan matanya.  Aku hanya bisa menghela nafas panjang melihat dan merasakan semua di depan mataku. Aku memberanikan diri mencoba bertanya kepada ibu yang terus meratapinya. Hingga pada saat pertayaan terakhir, “Kenapa jam segini, masih keluyuran di jalan ?”. Ibu tua tersebut hanya menjawabnya dengan singkat, “Jam dinding di rumah saya sudah t idak berfungsi jadinya tidak tahu sudah jam berapa sekarang.”. Aneh betul dengan jawabannya, namun kalau kupikir-pikir mungkinlah benar apa adanya dengan jawaban tersebut. Anak-anak jalanan tak lagi menindahkan jam berapa saat ini. Pagi, siang, malam, dan pagi kembali, bukan itu yang mereka hiraukan. Hanya saja sudah berapa banyak pundi-pundi rupih yang berhasil didapatkannya. Aku hanya bisa termenung mendengarnya. Tak lama Polisi banyak berdatangan, lajuku kembali pelan meninggalkan anak kecil itu. Dari kejauhan aku hanya mendengarkan kalimat terakhir yang diteriakan oleh ibunya. “Kamu jangan mati.”.