Together
Ada satu hal yang paling kutakuti di dunia ini. Satu hal yang paling kutakuti itu telah terjadi kepadaku
Takut………. Aku takut jika aku harus sendirian
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Suara detak jantung itu dapat kurasakan saat aku medekap ibu. Wanita separuh baya itu terlihat sangat lemah, mukanya sangat pucat. Hatiku sangat sakita setiap melihat ibuku harus terbaring lemas di kamar Rumah sakit ini. Penyakit jantung ibu semakin lama semakin memburuk. Aku tak pernah ingin membayngkan, jika aku harus hidup tanpa ibu.
Sudah cukup aku terlahir tanpa kehangatan seorang ayah. Aku tak ingin kehilangan ibuku. Wanita perkasa dan tangguh yang telah menjagaku selama 23 tahun. Seorang artistic, pelukis handal dan seorang ibu yang sangat kucintai
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Gallery ibu sangat sepi. Sudah berhari-hari pembantu rumah tidak masuk kerja, dan sudah berminggu-minggu ibu terbaring di Rumah sakit. Air kataku sudah tak kuasa lagi kutahan. Kata-kata dokter selalu saja terulang di dalam pikiranku “Bersiap-siaplah Nala”
Air mataku mengalir deras, terus dan terus . Setiap sudut ruangan ini terdapat banyak sekali kenangan tentang ibu. Setiap lukisan penuh sekali dengan sentuhan ibu. Aku ingat sekali lukisan ini. Setiap lekukannya mengingatkanku kepada seorang gadis kecil, yang 13 tahun lalu duduk manis di sebuah bangku kecil sambil menunggu sang Ibu selesai melukisnya.
“Ibu apakah sudah selesai?”
“Belum sayang , ibu belum selesai menggambar matamu yang bulat dan indah, tunggu sebentar. Habis ini ibu akan membuatkan waffle blueberry kesukaanmu.
“Horee.”
“Jangan bergerak ya sayang.”
Aku menyentuh kanvas tersebut. Dapat kurasakan setiap memori itu . DApat kurasakan bagaimana kerja keras ibu selama ini. Aku Rinala, yang sekarnag telah menjadi seorang photographer terkenal. Semua ini berkat kerja keras ibu. SEtiap keringat yang ia keluarkan dan yang ia tuangkan ke dalam kanvas . Siang dan malam bekerja hanya unutk membiayaiku.
Ibu… kerja kerasmu tak sia-sia. Aku sekarang dapat berdiri tegak karnamu.
Aku akan membuatkan pameran yang terakhir unutkmu ibu. Terakhir kalinya.
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
“Ibu ingin melihat sesuatu Nala,”suara lembut ibu mulai menjadi parau
“Melihat apa , Bu?”
“Ibu ingin melihat pameran yang engkau buatkan untuk ibu.”
“Tapi dokter bilang ,kondisi ibu sedang kriati
“Nantinya Ibu juga akan mati , NAla.”
“Ibu jangan berkata seperti itu, lebih baik ibu menuruti apa yang dikatakan dokter saja”
“Dokter sudah berkali-kali berkata seperti itu Nala. Dan pada akhirnya ibu dapat pulang”
“Ibu.”
“Ibu tau kondisi ibu yang sekarang lebih parah. Makanyabiarlah ibu melakukan apa yang ibu inginkan.”
Aku tak dapat menolak permintaan ibu lagi. Maka itu aku dengan berat hati harus membawanya ke pameran tersebut. Dinding-dinding putih sudah dihiasi lukisan-lukisan artistic , hasil karya ibu. Satu per satu , ibu melihat hasil karyanya.
“Berhenti NAla.”Ibu menyuruhku untuk berhenti mendorang kursi rodanya.
“ada apa Bu?”
Ibu tak menggubris , ia hanya memandangi lukisan itu seakan ibu masuk ke dalam lukisannya. Air mukanya berubah tak terbaca. Entah ada apa dengan lukisan itu?
Padahal menurutku lukisan itu terlihat biasa saja. Lukisan itu menampilakan seorang laki-laki , entah muda atau tua . Ia sedang menghadap kea rah matahari yang baru saja terbit. Sudut yang diambil seakan kita sedang memandangi laki-laki tersebut. LUkisan itu tidak diberi warna hanya sekedar hitam putih saja, kecuali di bagian matahari terbit. Tapi ada ala di balik lukisan ini? Kuakui memang cara penyajian lukisan ini sangat artistic tapi apa yang istimewa dari lukisan nini. Aku mulai mengamati raut muka Ibu. Dan ternyata air mata mulai mengalir dari mata ibu.
Ada apa ibu?
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
“Para saudara sekalian kita berkumpul di sini untuk melepas kepergian saudari Margaretha Triatone yang telah dipanggil ke dalam pangkuan Bapa di surga. Mari kita………”
Suara Pendeta Yakub mulai menuntunku kembali kepada kenangan – kenangan ibu. Kakiku gemetar, tak kuat lagi menopang tubuhku, sendi-sendiku terasa nyeri dingin menyelimuti tubuhku. Selendang hitam yang menutupi kepalaku, jatuh ke atas pundak karna tertiup angina. Mulai hari ini aku akan berjalan sendiri di muka bumi….. sendiri.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Air mataku sudah habis , di setiap sesi penguburan. Tidak ada setetes pun air mata yang keluar. Pikiranku melayang. Tatapan-tatapan kasian semua terlontar dari mata mereka.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Di Gallery ibu, aku merasa sangat hangat. Seakan – akan , ibu sedang memelukku. Aku duduk memeluk lututku, meringkuk di sudut ruangan. Dinding – dinding menjulang . Saat itu semuanya seakan mau runtuh.
Jam berganti jam , minggu telah berganti, dan waktu pun terus berjalan tanpa mempedulikan kesedihan, penderitaan .
Gallery ibu , terasa sangat dingin. Aku tak ingin menjual gallery ini, karna di sini terdapat banyak sekali sentuhan ibu. Tinggal di sini seakan aku masih tinggal bersama ibu. Aku merubah gallery ibu menjadi galleryku.
Banyak sekali lembaran-lembaran foto berserakan di lantai, sama seperti bercak-bercak cat yang dulu selalu ada setelah ibu bekerja.
Sudah waktunya berbers-beres. Hari ini aku harus Membersihkan foto-foto yang berserakan ini. Kepalaku pusing dan tubuhku terasa berat sekali, sofa kuning yang sekarang menjadi singgasanaku terasa sangat nyaman. Aku merasa sangat enggan untuk bangkita dari sofa ini. Angin mulai masuk membelai wajahku. Korden putih berterbangan tertiup angin, sejuk sekali. Sayangnya aku sendirian. .
Satu per satu kuambil lembara-lembaran foto itu, mulai dari yang berada di bawah sofa, di atas meja, di atas kursi serta yang terselip di sela-sela lukisan ibu . Beberapa lukisan ibu yang tak ikut pameran tetap kusimpan sebagai kenang-kenangan. Kuambil salah satu foto yang terselip tepat di bawah salah satu lukisan ibu, tapi tanpa sengaja kain putih yang menutupi lukisan itu terbuka. Kulihat dan kupandangi lekat-lekat lukisan itu. Lukisan yang 1 tahun lalu ibu pandangi. Lukisan terakhir yang ibu lihat, maka itu aku tak rela menjualnya. Aku masih ingat pertanyaan yang kuajukan saat kulihat lukisan ini. Apa yang istimewa dari lukisan ini?? Mungkin aku punya banyak waktu untuk mencari tahunya. Kuangkat tanganku, dan kusentuh setiap lekukan yang tergores di kanvas itu. Tapi ada sesuatu yang ganjil, aku menemukan sesuatu di bingkai lukisan ini. Sebuah kertas yang dibuntal dan diselipkan di sela-sela bingkai. Ini tulisan ibu
Berharap kau menemukan kertas ini pada waktu yang tepat
Ibu ingin mengajakmu ke suatu tempat, bisakah kau datang ke tempat di mana lukisan ini
Datanglah saat matahari terbit. Kau akan menyukainya
Mom
Waktu yang tepat? Apakah sekarang adalah waktu yang tepat,bu??
to be continue….