Archive for October, 2009
Potongan E-mail dan Sumpah Pemuda

“Memang Cikeas, beberapa Menteri dan Panitia Harkitnas pusat tidak kenal wacana apapun kecuali ‘merekrut’ mereka: kaum muda yg bertekad meneguhkan kebangkitan generasi muda mandiri itu. Bisa dipahami kenapa tak pernah lahir manusia baru Indonesia, setiap yg tumbuh selalu diletakkan sebagai ekor dari generasi sebelumnya.
Sebenarnya eksekusi movement mereka bisa dengan mudah dilaksanakan andaikan mereka mau jadi ‘boneka industri’, karena ratusan perusahaan siap mensponsori mereka. Tapi jadi batal ‘dzat’nya, pilihan watak kemandirian hidupnya.
Tapi saya percaya itu tak akan lantas kalah oleh tantangan dan halangan, mereka tak akan menjebak diri menjadi benih2 murni nasionalisme yang balik ke mainstream untuk hanya menjadi penempuh2 karier pribadi yg egosentris dan primordial.
Thanks dan salam”
Satu email dari seorang sahabat yang juga ‘orang dalam’ di lingkungan rumah tangga kepresidenan cukup mengejutkan. Ditengah situasi politik saat ini yang membuat siapapun mau merapat lebih dekat dengan kekuasaan tiba-tiba saja ia agak berontak. Mungkin ia sudah waras dan mulai paham serta sadar posisinya. Ia mungkin sudah sadar bahwa yang ada disekelilingnya hanyalah omong kosong belaka adanya. Budaya birokrasi yang terlanjur mengakar kuat tanpa terasa telah menjerat semua urusan yang ada disana.
Pesan itu lebih cocok tendensinya kalau lagi musimnya bahas wacana kebangkitan nasional yang selalu diperingati pada bulan Mei. Tapi, aku pikir ini masih ada hubungannya dengan Sumpah Pemuda yang gegap gempitanya hilang begitu saja hari ini oleh gemuruh yang selalu datang di akhir bulan, apalagi kalau bukan gajian. Sumpah pemuda yang tak lagi muda. 81 tahun sudah setelah para pemuda dari seluruh negeri berikrar untuk Indonesia yang merdeka.
Sejak periode kebangkitan nasional, pemuda telah menjadi motor yang menggerakkan seluruh perangkat mesin kebangsaan untuk sama-sama bercita-cita merdeka. Maka tak heran bila kemudian mereka berkumpul untuk mendeklarasikan cita-cita yang selalu diidamkan. Merdeka dari penjajahan. Sumpah pemuda hanyalah sebuah peretas menuju jalan perjuangan memperebutkan kemerdekaan.
Sumpah Pemuda mengandung makna tekad, upaya, dan ikhtiar pemuda dalam meraih cita-cita kebangsaan melalui satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. Melalui Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 bangsa ini memulai suatu pergerakan baru menuju Indonesia merdeka setelah diawali dengan berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908.
Kondisi pasca kemerdekaan di zaman modern seperti saat ini, Sumpah Pemuda hanyalah tinggal jadi satu penanda setiap tahunnya tanpa benar-benar ada waktu khusus untuk menghayati kembali maknanya. Kita hanya tahu 28 Oktober itu adalah harinya Sumpah Pemuda. That’s all. Kita mungkin telah lupa juga kalau hari itu pertama kalinya Indonesia Raya diperdengarkan.
Kaum muda selayaknya jadi generasi mandiri yang lahir menjadi manusia baru Indonesia. Sayangnya, setiap mereka yang tumbuh selalu dijadikan ekor dari generasi sebelumnya. Mereka sengaja diposisikan seperti itu oleh bermacam-macam alasan dan kepentingan agar mindsetnya mentok Cuma sebatas ekor atau pengikut saja tanpa ada breakthrough. Mereka hanya akan mengikuti siapa yang lebih menguntungkan. Menguntungkan untuk karir pribadi-pribadi yang sangat egosentris dan primordial.
Karena itu mereka telah menjadi ‘makhluk industri’ yang movementnya bisa dieksekusi setiap saat. Tidak butuh waktu lama karena ratusan perusahaan siap mensponsori mereka. Imbas dari perebutan kepentingan itu akibatnya mengorbankan sikap-sikap dan pola pikir mandiri. Hasilnya, konsumerisme di level kaum muda meningkat dan itu adalah ekspektasi kaum kapitalis.
Kalau sudah begitu itu berarti tanda bahaya untuk nasionalisme. Nasionalisme yang terjalin utuh sejak Indonesia merdeka akan lebih kehilangan esensinya. Nasionalisme bangsa ini naik turun. Kalau dicubit Malaysia baru teriak “Ganyang Malaysia…”. Belum ada satu kejadian yang menyadarkan masyarakat secara massal untuk menggelorakan nasionalisme sejati. Bukan nasionalisme semu, bukan nasionalisme kesukuan. Nasionalisme Indonesia: Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa.
Kelapa Gading, 29 Oktober 2009
Cinta Dalam Sepotong Artikel

To :bedul@kempos.com
Title : Article
Here’s an article as you requested for your essay.
Hope to see your writing soon.
Love U.
Cinta
Email yang datang sore ini sungguh mengejutkanku. Bagaimana tidak, ternyata ia menganggap serius semua yang kami bahas kemarin malam. Dalam pertemuan yang singkat itu tidak terlalu banyak yang kami bahas. Aku hanya bercerita padanya kalau mungkin aku akan mulai menulis essay seputar konflik internasional. Aku menemukan kembali passion untuk menulis terutama setelah menyadari bahwa keadaan demokrasi di Afghanistan tidak jauh berbeda dengan demokrasi di Indonesia pasca reformasi.
Ia hanya mengangguk saja dan tidak banyak bicara. Sorot matanya tajam seakan ia tahu betul apa yang ada di pikiranku. Pun ketika akhirnya waktu pertemuan kami habis ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum sambil mempersilakanku keluar ruangan.
Rasanya pertemuan itu begitu hambar. Aku lanjutkan membaca artikel yang dikirimnya.
A government-appointed commission in Afghanistan has ordered a run-off vote to decide the country’s divisive presidential election. But as two experts told DW, it won’t be easy to resolve the battle for power. Afghanistan’s Independent Election Commission (IEC) ruled on Tuesday that incumbent President Hamid Karzai and his closest rival, former Foreign Minister Abdullah Abdullah, should face off directly against one another in a second vote on Nov. 7.
In the first round of voting this August, which featured dozens of candidates, Karzai initially got 54 percent of the ballots. But that election was marred by fraud – with the UN-run Electoral Complaints Commision saying that up to 90 percent of ballots cast at some polling stations shouldn’t have counted.
Karzai and Adbullah have both said they welcome the IEC’s ruling, while world leaders, including US President Barack Obama and UN Sercretary General Ban Ki Moon, also hailed the decision to hold second vote.
The German Foreign Ministry said Berlin was pleased that a way forward had been found.
“It is important for all those involved to show responsibility, calm and moderation during the current situation and ensure there is a credible continuation of the electoral process,” the ministry said in an official statement.
But Afghans living in Germany are skeptical about how credible any election results can be.*)
Demokrasi di Indonesia baru bisa dikatakan berjalan pasca reformasi. Semua bidang dan sendi-sendi kehidupan mulai mengenal apa itu namanya demokrasi. Asalkan ada demokrasinya pasti laku. Kebebasan media dianggap sebagai penyebar virus buatan kaum intelektual Barat itu.
Kalau dihitung, Indonesia sudah menjalankan demokrasi yang betulan ini 11 tahun lamanya. Tidak jauh berbeda dengan Afghanistan. Afghanistan mulai melek demokrasi semenjak menjadi pesakitan koboi bernama George W. Bush yang menjadikan tanah Mujahidin sebagai ladang pembantaian massal atas nama perang terhadap terorisme pada 2001. Dengan dalih mencari biang kerok teroris pengebom WTC, Osama bin Laden, penghancuran massal pun dilakukan.
Selain upaya untuk menangkap dalang teroris rupanya imperialis modern tidak lagi menggunakan gold, gospel, dan glory dalam melaksanakan misinya. Sudah tentu, demokrasi kini menjadi bawaan wajib. Keadaan itu telah menguras otak penduduk Afghanistan. Mereka yang dulunya konservatif dibawah pimpinan rezim Taliban telah membuka matanya bahwa Taliban pun bisa diruntuhkan.
Invasi yang dilancarkan AS ternyata membuahkan hasil yang sepadan. Rakyat Afghanistan mulai terbuka terhadap virus yang sengaja mereka sebarkan. Buktinya, Hamid Karzai, terpilih sebagai presiden pada tahun 2004. Terpilihnya Hamid pun bukan tanpa kontroversi karena ia lebih dianggap sebagai boneka titipan asing. Sebagaimana yang sedang terjadi di Indonesia. Penunjukkan Endang Rahayu sebagai Menteri Kesehatan pun dinilai sebagai titipan asing alias AS.
8 tahun sudah demokrasi dilangsungkan di Afghanistan. Namun, belum ada perubahan yang signifikan dalam tata kehidupan bernegara masyarakat Afghanistan. Konflik horizontal antar etnis masih berlangsung. Taliban juga masih menjadi momok yang menakutkan bagi pasukan pendudukan yang bertugas di Afghanistan.
Rupanya, Hamid Karzai tidak bisa menyatukan seluruh masyarakat Afghanistan. Karzai kurang bisa menyatu dan menyublim dalam hati masyarakat yang dipimpinnya. Sempat beredar dugaan bahwa kemenangannya di Pemilu kemarin itu hanyalah omong kosong yang dikarangnya sendiri. Untung dia masih sedikit legowo untuk menerima keputusan KPU-nya Afghanistan untuk melaksanakan pemilu ulang.
Hamid Karzai tentu masih dibayangi kekhawatiran mengenai kekalahannya. Karzai tidak bisa menghindari fakta bahwa bila seandainya bila pemilu yang terlanjur dibatalkan hasilnya kemarin itu bisa jadi klimaks dari karir politiknya. Bila pemilu kemarin berlangsung secara jujur dan terbuka, menurut analis-analis Afghanistan di Jerman sana tidak akan mencapai 10%. Itu artinya ia akan kalah maka ia segera lakukan tindakan preventif dengan penggelembungan suara.
Agaknya, Afghanistan mesti belajar banyak dari Indonesia tentang bagaimana mengelola demokrasi terutama dalam mempertahan kekuasaan melalui cara yang demokratis. Cara-cara yang digunakan dalam pemilu di Indonesia pun masih punya banyak celah untuk dilanggar. Ini adalah masalah demokrasi di negara-negara berkembang.
hitam dan putih akan kutempuh bahagia,
kututup mata rapat seperti berdoa,
rasa sepi kembali mengalir,
kesepian ini abadi **)
Otong Koil masih berteriak ketika aku tak tahu apalagi yang harus kutulis. Aku cek email yang masuk sejak aku mulai menulis tadi. Beberapa komentar atas tulisan sebelumnya, undangan pernikahan seorang sahabat, undangan pembukaan pameran, dan informasi lomba karya tulis, semua jadi satu di tumpukan berkas email.
Aku baca kembali email darinya yang entah untuk keberapa kalinya. Aku berhenti pada kalimat terakhir. Aku baru menyadarinya kalau ada sesuatu yang aneh disitu. Aku menahan nafas sejenak. Mengucek mata barangkali ada yang salah dengan mataku. Namun, semuanya semakin jelas. Aku belum sampai membaca kembali tulisanku. Aku masih terhenti pada email darinya Aku menatap pesannya semakin dalam. Mencari arti dalam cinta yang ia titipkan dalam potongan artikel itu.
Kelapa Gading, 23 Oktober 2009
*) berita dikutip dari www.dw-world.de
**) lirik lagu Koil, “Kesepian Ini Abadi”










