Cerpen : Sejatinya Cinta Sejatinya Sahabat?

Sejatinya Cinta Sejatinya Sahabat?
Ia menatapku lirih, matanya seolah ingin membunuhku. Larsya dua hari lalu hampir putus dengan Rio, pacarnya. Lexsi adalah peghancur hubungan mereka, orang paling brengsek yang menggangu hubungan mereka, dan orang itu gak lain dan gak bukan adalah aku sendiri. Wajar saja kalau Larsya sangat membenci diriku. Semua ini dimulai karena kesalahanku telah mencintai pacar sahabatku sendiri.
Tapi itu semua bukan salahku sepenuhnya. Aku memang menyukai Rio sebelum aku mengenal Larsya. Dan saat itu yang aku tahu Rio hanya menganggapku sebagai temannya. Hanya teman. Ketika aku mulai mengenal Larsya dan mulai menjalin persahabatan dengannya, disitu juga aku baru tahu kalau sahabatku Larsya menyukai orang yang sama denganku. Dan tentu cowok itu adalah Rio. Cowok yang pernah aku gebet sejak kelas 1 SMA sampai sekarang aku kelas 3pun masih menyimpan rasa suka pada Rio (tanpa Larsya tahu tentunya). Hatiku makin hancur ketika Larsya memohon padaku untuk menyatukan mereka. Andai Larsya tahu kalau saat itu aku menyukai Rio, dia pasti langsung membenciku. Saat itu aku sangan kecewa dengan sahabatku sendiri tapi entah kenapa aku sulit membencinya. Entah makhluk apa yang memasuki tubuhku, aku bersedia menjadi mak comblang mereka. Ini gila. Aku memang bodoh saat itu. Tapi aku nggak bisa kehilangan sahabatku. Larsya lebih berarti dibandingkan Rio. Dan aku berhasil menyatukan mereka.
Ternyata mengubur masa lalu itu amat sulit. Sejak Larsya berpacaran dengan Rio, otomatis aku tambah dekat dengan Rio, apalagi saat Rio tahu aku adalah sahabat Larsya, dia jadi sering mengobrol denganku. Mengobrol tentang Larsya tentunya.
Saat itu Rio mengajakku nonton (aku sama sekali nggak senang karena bukan kencan tetapi ia ingin bercerita tentang Larsya), hatiku benar-benar hancur.
Saat itu aku benar-benar bodoh. Aku nggak bisa menyimpan perasaan ini. Ini benar-benar penyiksaan bagiku. Tanpa aku berfikir 2kali, aku hamper membuka hati padanya.
Setelah nonton kami menyempatkan makan malam dengannya.
“Yo, lu nyadar gak sih?”
Rio bingung dengan ucapanku. “Nyadar?”
“Hhh… lu sayang banget ya sama Larsya?”
“Yaiyalah… emang kenapa seh?”
Aku diam sejenak. “Gue… gak jadi deh.”
“Ya udah kalo gak jadi.” Katanya.
“Tapi, Rio. Gue…” baru saja aku ingin mengungkapkan isi hati ini, Handphone Rio berbunyi. Aku tahu kalau yang menelepon Rio adalah Larsya. Wajah Rio langsung cerah ketika mengangkat telpon tersebut.
“Lex, kita kerumah Larsya yuk. Katanya dia sendirian tuh dirumah.”
Aku langsung mengangguk pelan. Abis mau bagaimana lagi. Aku memang bodoh.
***
“Hai, Lexsi.” Sapaan itu terlalu manis didengar, sampai-sampai kuping ini jadi panas.
“Lex, kenapa sih? Dingin banget sama gue?” dia pasti bisa mengerti dengan wajah jutekku ini. Aku sedang marah. Tapi, sepertinya Larsya nggak akan peduli.
Aku benar-benar iri dengan apa yang Larsya punya. Bodi yang membentuk, kulit yang putih, ,mata yang indah. Sedangkan aku, semangkuk mie besar yang nggak laku karena issu tentang formalin.
“Lex, besok kan sebulan gue sama Rio jadian. Gue pengen dinner sama dia. Lu ikut ya? Lu harus ikut karena lu adalah mak comblang perfesional.” Katanya. Aku benci dengan kalimat itu. Ya, aku adalah mak comblang paling nelangsa.
“Lex, Lu jawab napa? Daritadi Cuma cemberut. Lu kenapa sih?”
“Gue nggak kenapa-napa.” Aku harus cepat pergi dari sini.
*** Read More








