GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Archive for January, 2010


Cerpen : Sejatinya Cinta Sejatinya Sahabat?

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Sejatinya Cinta Sejatinya Sahabat?

Ia menatapku lirih, matanya seolah ingin membunuhku. Larsya dua hari lalu hampir putus dengan Rio, pacarnya. Lexsi adalah peghancur hubungan mereka, orang paling brengsek yang menggangu hubungan mereka, dan orang itu gak lain dan gak bukan adalah aku sendiri. Wajar saja kalau Larsya sangat membenci diriku. Semua ini dimulai karena kesalahanku telah mencintai pacar sahabatku sendiri.

Tapi itu semua bukan salahku sepenuhnya. Aku memang menyukai Rio sebelum aku mengenal Larsya. Dan saat itu yang aku tahu Rio hanya menganggapku sebagai temannya. Hanya teman. Ketika aku mulai mengenal Larsya dan mulai menjalin persahabatan dengannya, disitu juga aku baru tahu kalau sahabatku Larsya menyukai orang yang sama denganku. Dan tentu cowok itu adalah Rio. Cowok yang pernah aku gebet sejak kelas 1 SMA sampai sekarang aku kelas 3pun masih menyimpan rasa suka pada Rio (tanpa Larsya tahu tentunya). Hatiku makin hancur ketika Larsya memohon padaku untuk menyatukan mereka. Andai Larsya tahu kalau saat itu aku menyukai Rio, dia pasti langsung membenciku. Saat itu aku sangan kecewa dengan sahabatku sendiri tapi entah kenapa aku sulit membencinya. Entah makhluk apa yang memasuki tubuhku, aku bersedia menjadi mak comblang mereka. Ini gila. Aku memang bodoh saat itu. Tapi aku nggak bisa kehilangan sahabatku. Larsya lebih berarti dibandingkan Rio. Dan aku berhasil menyatukan mereka.

Ternyata mengubur masa lalu itu amat sulit. Sejak Larsya berpacaran dengan Rio, otomatis aku tambah dekat dengan Rio, apalagi saat Rio tahu aku adalah sahabat Larsya, dia jadi sering mengobrol denganku. Mengobrol tentang Larsya tentunya.

Saat itu Rio mengajakku nonton (aku sama sekali nggak senang karena bukan kencan tetapi ia ingin bercerita tentang Larsya), hatiku benar-benar hancur.

Saat itu aku benar-benar bodoh. Aku nggak bisa menyimpan perasaan ini. Ini benar-benar penyiksaan bagiku. Tanpa aku berfikir 2kali, aku hamper membuka hati padanya.

Setelah nonton kami menyempatkan makan malam dengannya.

“Yo, lu nyadar gak sih?”

Rio bingung dengan ucapanku. “Nyadar?”

“Hhh… lu sayang banget ya sama Larsya?”

“Yaiyalah… emang kenapa seh?”

Aku diam sejenak. “Gue… gak jadi deh.”

“Ya udah kalo gak jadi.” Katanya.

“Tapi, Rio. Gue…” baru saja aku ingin mengungkapkan isi hati ini, Handphone Rio berbunyi. Aku tahu kalau yang menelepon Rio adalah Larsya. Wajah Rio langsung cerah ketika mengangkat telpon tersebut.

“Lex, kita kerumah Larsya yuk. Katanya dia sendirian tuh dirumah.”

Aku langsung mengangguk pelan. Abis mau bagaimana lagi. Aku memang bodoh.

***

“Hai, Lexsi.” Sapaan itu terlalu manis didengar, sampai-sampai kuping ini jadi panas.

“Lex, kenapa sih? Dingin banget sama gue?” dia pasti bisa mengerti dengan wajah jutekku ini. Aku sedang marah. Tapi, sepertinya Larsya nggak akan peduli.

Aku benar-benar iri dengan apa yang Larsya punya. Bodi yang membentuk, kulit yang putih, ,mata yang indah. Sedangkan aku, semangkuk mie besar yang nggak laku karena issu tentang formalin.

“Lex, besok kan sebulan gue sama Rio jadian. Gue pengen dinner sama dia. Lu ikut ya? Lu harus ikut karena lu adalah mak comblang perfesional.” Katanya. Aku benci dengan kalimat itu. Ya, aku adalah mak comblang paling nelangsa.

“Lex, Lu jawab napa? Daritadi Cuma cemberut. Lu kenapa sih?”

“Gue nggak kenapa-napa.” Aku harus cepat pergi dari sini.

*** Read More

MY SECRET ADMIRER PART 2-3

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

berarti dia tadi ada di perpus… dia melihatku…dan saat aku bersama si pencuri payung itu, ADA DIA. astaga !! siapa dia sebenarnya ?

besok adalah hari ulang tahun Dhea. yap. aku dan Mita sudah sepakat tidak akan menghadiri pesat itu hingga..
” apa itu Mit ? surat cinta ? ” tanyaku. karena melihat sebuah amplop yang bagus sekali. amplop yang baru saja di banting diatas meja didepanku.
mita duduk di depanku dan menatapku, hanya perasaanku saja atau aku merasa tatapan Mita sangat menyebalkan dan angkuh ?
” aku akan pergi ke pesta Dhea ”
pensil yang kupegang sedari tadi sambil belajar di beranda rumah Mita pun terjatuh. apa ? Mita tadi bilang apa ? apa aku ga salah dengar ?
seolah tau apa yag aku pikirkan, Mita mulai biara lagi.
” ini kesempatan emas Ris… bayangkan !! kita diundang !! ” pekik Mita sambil menggoncang-goncangkan tubuhku. dikeluarkannya lagi satu amplop yang serupa. aku hanya bisa diam menatapnya.
” kemarin, sepulang sekolah… Dhea datang ke rumahku. dia memberikan kita amplop ini !! undangan ulang tahunnya ris !! dan dalam waktu 2 jam lagi dia akan datang untuk mengajka kta belanja, ayo Ris ! kesempatan langka !! ” masih sambil terus mengguncang tubuhku Mita terus membujuk ku.
” BERHENTI ! ” teriakku dan melepaskan tubuhku dari cengkramannya. aku memandanginya, kau bukan Mitaku. kau siapa ?
” kamu aneh Mit.. ” seruku sedih.
” aneh ? apa yang aneh Ris ? ” tanyanya angkuh.
” kita kan udah punya jadwal besok. kamu inget kan kita bakal ke puncak ! kamu inget kan ? ” tanyaku nyaris histeris, dan Mita tertawa.
” ya ampun, Ris. kita kan bisa kapan aja ke puncak. kita bisa menundanya sampai minggu depan. ya kan ? ”
Mita yang kukenal bukanlah Mita seperti kamu.
aku ingin mengucapkan itu tapi tertahan begitu saja di lidahku dan terpaksa kutelan bulat-bulat.
aku bangkut, membereskan barang2ku dan beranjak pergi meninggalkan Mita yang terus memanggilku tapi tak mengejarku.

diperjalan entah mengapa aku merasakan firasat yang buruk. dan aku terus bertanya-tanya.
apa aku sikapku tadi tiu salah ? hhh… sudah ah aku bingung memikirkannya terus. taxi yang kunaiki melaju dengan cepat. aku ingin cepat pulang dan bertemu ibu. :cry:

aku turun dari taxi dan melihat sebuah sedan mewah terparkir di dpan rumahku. mobil siapa ? pikirku dan memasuki rumahku.
rasanya untuk sepersekian detik jantungku berhenti berdtak karena kuliaht ada Dhea bersama seorang tante2 yang mungkin ibunya ? I DON’T CARE tu tante ibunya atau bukan, tapi Dhea sedang memakai gaunku !! GAUN BUATAN IBU !! ITU GAUN YANG HARUSNYA KUKENAKAN UNTUK ULANG TAHUNKU YANG 2 BULAN LAGI !
” aku mau yang ini saja deh tante ” seru Dhea pada ibuku.
dan rasanya aku nyaris ingin berlari mencekik lehernya.
” ok. nanti tante bungkus dulu ya ” jawab ibu.
dan detik itu juga aku ingin berteriak ” ITU GAUNKU ! ”
tapi enath mengapa aku hanya terpaku di depan pintu hingga tante2 yanga ada disampingku itu menegurku.
” kamu anaknya puspita ? ” tanyanya. aku hanya menatapnya.
” saya ibunya Dhea. saya harap kalian bisa akrab ” serunya dan pergi meninggalkan rumahku bersama dhea dan gaunku.
akrab katanya ? AKRAB ? dia mau melawak ya ?
saat itu juga kulihat ibu yang berdiri tepat di depan gantungan gaun ku yang harusnya sampai sekarang masih bergantung disana, bukan dibawa bersama Dhea.

” ibu apa-apaan sih ?! ” teriakku.
” ada apa sih Ris ? kamu tuh dari kemarin kerjanya marah-marah terus sama ibu ! ” balas ibu.
” IBU JAHAT ! IBU UDAH JANJI GA AKAN JUAL GAUN RISKA ! KENAPA IBU MALAH JUAL KE DHEA ! ITU GAUN RISKA BU ! ” teriakku hampir ingin menangis.
” ya ampun riska ! kamu tuh kayak anak kecil ! nanti ibu kan bisa buatin kamu gaun lagi ! toh gaun itu masih lama dipakainya ! ibu masih bisa buatkan yang lebih bagus ! ” balas Ibu.
” tapi KENAPA BU ? IBU TEGA ! IBU YANG BILANG SENDIRI KALAU GAUN ITU SPESIAL ! ” teriakku lagi, kini sambil terisak.
” RISKA ! KAMU NGERTIIN IBU DIKIT DONG ! KITA INI KAN SEDANG BERBISNIS ! ” teriak Ibu.
” ngerti bu ? ngerti ibu ? GIMANA RISKA BISA NGERTI IBU KALAU IBU AJA GA PERNAH MAU NGERTI RISKA ! IBU BERUBAH ! ” teriakku dan berlari keluar rumah.

semua orang berubah. aku benci ! aku berlari ke terminal, menunggu bus dan menaikinya.
aku terus menangis sepanjang perjalanan. di bangku paling belakang , pojok.. aku duduk. menatap jalan yang mulai senja.
didalam tasku ada
handphone
dompet berisi uang 200 ribu beserta kartu kredit tabunganku.
dan beberapa buku juga satu buah kaos.
dalam tangis, kunyalakan handphone .. ku pasang headsheetku.. dan membiarkan lagu yang tenang mengalun dari handphone menemaniku di perjalanan ini.
entah mengapa isak tangisku malah semakin menjadi-jadi.
hingga sebuah sapu tangan disodorkan padaku dan aku menoleh.
aku sampai terlonjak sangking kagetnya. COWOK MALING PAYUNG ITU !
” ambil. ” serunya.
rasanya tenaga ku lemas karena terlalu keras menangis.. hingga Cowok itu menyetop bus dan memeang tanganku berisyarat untuk ikut turun dengannya.
” lo tuh nekat banget sih ” serunya dan membawaku masuk ke sebuah rumah yang terbilang sederhana.
diluar ada sebauh sepedah dan didalamnya terdapat 2 kamar dan 1 kamar mandi. ruang keluarganya sempit dan ada dapur yang sepertinya tidak terurus… khas cowok.
” ini tempat tinggal gue ”
aku kaget dan langsung memelototinya. ia tampak tertawa namun tertahan.
” tenang aja. gue ga bakal macem. maksud gue, gue nawarin lo tempat tinggal cuma untuk 24 jam. itu cuma kalo lo mau. tapi lo harus bayar ! ”
lagi-lagi aku memelototinya takut kalau cara membayarnya dengan…
” ya ampun ! lo jangan melotot kek. gue ga tahan nih mau ketawa. hahahaha… tenang aja. gue ga seburuk yang lo pikir. gue cuma mau lo bayar dengan ngebersihin rumah dan masakin gue makanan . gue ga bsia masak . ” serunya geli.
” bener ? ” tanyaku tak yakin.
” akhirnya ngomong juga. kamar lo yang ini. lo ada baju ga ? kalo ga ada gue bisa minjemin lo baju gue. habis mandi, lo bersihin ni rumah terus masak. gue mau ke pasar swalayan dulu buat beli bahannya. ok. bye . oh iya, ni kunci rumahnya. kunci aja kalo lo takut. tapi pas gue dateng bukain ya. bye ” dan pinntu di tutup.
sekarang jam 7 malam.
mungkin aku akan menginap disini.
karena aku tak ingin kembali dalam waktu2 ini.
hujan tiba-tiba turun dengan deras.
dia kehujanan tidak ya ?
mungkin dia tidak jahat ?
saat aku ingin masuk kamar, dan tepat sebelum masuk aku mendengar ada suara anak perempuan di depan. aku mengintip dari jendela.
” ka Hendri !!! ” teriaknya.
dan kuputuskan untuk keluar.,
” eeh, siapa ya ? ” tanya bocah perempuan yang mungkin berumur 8 atau 9 tahunan.
” aku temannya ” jawabku.
kuperhatikan ia memakai payung biru sambil menggenggam payung pink bermotif hello kitty. lho? payungku ?
” oh temannya, ini ” serunay sambil memberikannku payung itu.
” ini payung ka Hendri. tolong bilangin ka Hendri makasih atas payungnya. ”
aku bingung..
” oh iya nanti dibilangin ”
” makasih ya ka ” dan anak itu pergi. dari jauh aku mendengar suara tangis anak kecil perempuan dan suara anak tadi.
” sudah lah.. itu kan bukan payungmu. kapan-kapan kakak belikan payung hello kitty yang lebih bagus ”
dan suara mereka menghilang..

Surat Cinta dari Perang

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Sayang,
Sedang apa kau disana?
Aku begitu rindu pulang, memagut mu hingga bermusim-musim.

Tahu kah kau?,
Hari tadi sangat penat, seperti berhari sebelumnya
Kami dipukul mundur,
Setelah peluru para serdadu itu tak sebanding lagi
Dan jiwa sudah letih
Aku lama bersembunyi dalam perdu
Kemudian susuri sungai tak berujung
Bagai dalam wangkang berlayar entah di laut belahan bumi mana

Perang ini entah apa yang dimenangkan
Dan entah kalah terhadap apa
Yang jelas buat ku, jika bahasa dan warna kulit berbeda
Maka kami bermusuhan, dan semestinya berbunuhan

Ku ceritakan pada mu…
Tak terhitung berapa nyawa sudah ku buat binasa
Juga seorang laki-laki kecil
Dan ibu nya, perempuan bercadar hitam
mereka dengan gagah berani mengacungkan pistol tepat di kening ku
bagai menciumku mengendap-endap
pernah juga ku tinggalkan seorang kawan yang sedang berjuang menjahit luka, sendirian, di antara rimba
Atas semua itu, tetap tak ada sesal…

Padahal aku masih tak mendapatkan arti
Sebab apa pertempuran ini?
Kalau tak takut akan mati, tak sedunia akan perang

Mungkin bagi mu aku zalim
Tapi bagi ku tunai tugas ku
Bagi mu aku tak berhati
Bagi ku itulah janji bakti

Dan kau pikir aku tak pernah menangis?
Deras…
Namun hanya didalam hati, hingga membanjiri jantungku dan berakhir sesak…

Ah, sudahlah….tetap kau takkan mengerti

Teringat tangis mu saat ku pergi
Menangis tak berhenti
Tak biarkan ku jelaskan semua alasan
bahwa Semua untuk mu,
Untuk kita,
Untuk masa depan,
Ku pikir kau dan semua orang akan mengerti
dan seharusnya ini hanya berjalan mudah
Seharusnya kau bangga pada ku
Karena seharusnya semua untuk mu…

Tapi masih kah kau tunggu aku pulang?
Atau kini kau telah berlayar bersama kapal yang lain?

Biarlah…
Yang penting setiap hari aku harus bermimpi
Bahwa suatu hari aku akan pulang
Dengan kau yang menyongsongku dipintu dengan tangan terbentang dan seribu peluk
Membawa serta bau bumbu dan kayu bakar yang khas di raga mu

Dan pada detik itu aku kan berjanji, tak akan lagi meninggalkan mu
Karena aku kan selamanya bersama mu, mengayuh biduk
Membesarkan si buyung dan menanti dia memberikan cucu untuk membawa gelak tawa di kehidupan kita

Sayang,
Doa kan aku bisa kembali
Karena disini setiap saat berarti mati
Dan jika di malam hari ku masih bisa merasakan selinting mariyuana sambil meneguk arak,
Berarti mungkin aku kan mati di hari esok nya, atau lusa nya

Adakah kau kan mengerti?

Karena surat ini, mungkin sudah baris yang keseribu kalinya, dari sekian banyak kata yang pelik dan getir, sedang kau tak layak mendapatkannya

Dan lembaran-lembaran itu hanya bisa tersimpan rapi dalam barak rombeng ku…

  • @Facebook

    Peluang Bisnis Oriflame