GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Archive for February, 2010


Melati Menanti Mati

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Aku trrus berfikir dan berfikir untuk apa aku hidup? Penyakit ini hanya akan merepotkan semua orang disekitarku. Mungkinkah ini takdirku? Tuhan, jika memang sudah tidak ada lagi gunanya hidup ku ini lebih baik kau ambil saja nyawaku ini. Bagaimana bisa penyakit yang biasa di derita oleh orang – orang kaya bisa berada di tubuhku ini.
“Melati, kamu belum tidur Nak?” segera aku menghapus air mataku ketika ku dengar suara emak menghampiriku.
“Belum,emak sendiri,kenapa belum tidur?”
“Emak sudah tidur,tetapi mendadak terbangun mendengar hujan, Emak takut kamu susah tidur,karena kamar kamu yang bocor ini”.
“Harusnya yang bilang seperti itu Melati Mak?”
“Nggak pa – apa kok Mel. Bagaimana kata Dokter, kamu sakit apa Mel?”.
“Cuma demam biasa kok Mak, paling juga dua hari lagi sudah sembuh, ya sudah, sekarang emak cepat tidur, supaya nanti tidak kesiangan, besok subuh kan emak harus ke pasar”.
“iya, kamu juga harus cepat – cepat tidur”.
Kalau aku tidur sekarang, apakah nanti aku akan terbangun lagi, toh lambat laun aku juga akan menyusul bapak. Aku harus bisa membahagiakan emak di sisa umurku.

Pagi ini di gerbang sekolah, Tio lebih menanti kedatangan ku,
“Mel, aku serius sayang sama kamu, bagaimana jawabannya?”.
“ Maaf Tio, Maaf”. Sekali lagi aku mohon maaf padamu Yo, karena aku takut kau akan menyesal, karena akhirnya kau akan kehilangan ku, dan aku tau itu sangat menyakitkan untukmu.
“Ok kalau itu memang keputusan yang terbaik untukmu” walaupun saat Tio meninggalkanku dengan senyum terpaksa , namun aku tau mungkin hatimu sakit. Bukan maksudku memberikanmu harapan lalu lantas meninggalkanmu saat kau yakin aku akan jadi milikmu. Sekali lagi maaf ya.
“Hai Mel, ngapain sich kayaknya akhir – akhir ini kamu sering ngelamun?”.
“Oh nggak,aku baru ingat,kalau kita ada PR Kimia kan?aku boleh liat kamu nggak?”.
“oh iya boleh kok Mel. Yuk kita ke kelas bareng?”.
Ukh…. Akhirnya aku bisa juga cari alasan yang tepat untuk menghindari pertanyyan dari Tami, Thanks God.
“Eh nanti sore kita ke rumahku ya? Bareng anak – anak yang lain juga, Tio juga ikut lo?”
“Ehm … nggak dech, hari ini aku mau ke rumah sakit”.
“Ah , emang siapa yang sakit?”.
“Emmmm, temen…., Tetangga”.
“Temen atau tetangga sich, jadi bingung”.
“Temen yang deket rumahku, kemarin masuk rumah sakit , Tam”.
Duh.. ngomong apa sich aku ini?ngapain juga aku harus bohong sama Tami. Aku kan masih bisa cerita yang lain. Emangnya aku bohong? Nggak juga kali, ntar sore kan.memang aku mau ke rumah sakit?
Kenapa aku harus takut ketika sudah berkaitan dengan mati? Duh… apa lagi sich yang aku fikirkan? Please Mel Positive Thinking ! kalaupun kamu harus tetep hidup pun kamu hanya akan menyusahkan emak saja. Dari mana coba uang untuk operasi? Mel mati itu lebih baik untukmu. Sabar! Sabar! Lebih baik sekarang Tanya aja langsung ke dokter, alternative lain selain operasi?.
“Tubuhmu semakin lemah, langkah terbaik untukmu adalah melalui operasi. Tapi kalau kamu tidak mau, saya kembalikan langsung masalah ini ke Mbak Melati. Sebaiknya bulan depan kamu kembali lagi untuk melakukan pemeriksaan”.
“Bulan depan Dok?Tanggal berapa ya?”
“Sebaiknya awal bulan depan”.
Tuhkan Mel daripada kamu bakal nyusahin Emak. Mel ingat semua makhluk hidup Finally akan mati juga. Yang bedain Cuma waktu. Apa sich Mel yang kamu takutin, kok aku jadi kayak gini sich?kayak orang gila mikir yang aneh – aneh. Sampe – sampe jalan keluar ada arah yang jelas.
Lima detik yang lalu, waktuku terbuang sia – sia dengan khayalan yang nggak karuan. Tapi sekarang aku nggak tau harus mikirin apa lagi?, aku nggak tau mau nangisin apa? Aku sudah benar – benar pasrah dan melarutkan semua masalahku bersama rintik hujan, hingga suara klakson berisik membuyarkan lamunanku.

Suara berisik seakan mengerumuni sekelilingku, seakan mereka sedang membicarakan hal penting tentang aku. Dapat ku lihat seorang Dokter telah berjalan menjauhiku.
“kau sudah sadar?” orang asing itu dengan wajah pucat pasih menatapku, seakan memberi isyarat banyak yang akan ia ceritakan padaku, namun kelihatannya ia tidak sanggup untuk mengatakannya padaku.
“Maaf , aku benar – benar tidak sengaja untuk kejadian yang kemarin. Nampaknya aku sudah tidak hati – hati mengendarai mobil. Aku akan beranggung jawab atas semuanya, kebetulan Dokter bilang bahwa akan ada orang yang akan mendonorkan jantungnya untukmu”. Mendengar apa yang dibicarakan orang asing itu, aku semakin sadar bahwa aku tengah dirawat di rumah sakit karena kecelakaan, yah sepertinya telah ada kecelakaan yang menimpa ku kemarin.
“Oh ya, aku lupa mempeerkenalkan namaku, aku Rico, nama kamu Melati kan?” entah mengapa untuk menjawab iya saja sangat sulit. Cara terbaik yang ku lakukan adalah memberikan senyuman untuknya. Dan seharusnya ia tak perlu melakukan ini padaku. Penyakit jantung yang ku derita ini, bukanlah kesalahannya. Ini sungguh aneh, sepertinya kejadian aneh akan terus mengikutiku seperti yang tampak demataku, seorang pria nampak ku kenal mendekatiku ketika ku kembali ke kamarku, usai operasi. Yach, dia Tio seorang cowok yang sangat ku kenal. Entah dia tau kabar ini dari siapa dan untuk apa ia kemari?, yang pasti aku telah mengakhiri penantian kematian yang terasa mendekat padaku.
“Mel, emakmu sangat kaget mendengar kabar yang menimpamu dan pada saat itu juga ketika emak mendengar kabar itu, emak meninggalkan kita semua, tadi malam tepatnya, emak sekarang sudah tidak ada”.
Telah tiada dan emak telah pergi. Mengapa yang harus pergi terlebih dahulu adalah Emak?
Mengapa bukan aku saja?.

Indah Wanita

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Pagi ini mentari bersinar cerah seakan tersenyum menyambut hariku dengan indah. Tak ada yang berbeda,hari ini aku menjalani aktivitas seperti biasanya. Setelah mandi, aku langsung sholat subuh dan sarapan pagi bersama ayah dan ibuku. Waktu telah menunjukkan pukul 06:35 sedah saatnya aku berangkat sekolah, hari ini aku diantar langsung oleh ayahku sebelum ia berangkat ke kantornya.
“Wanita” terdengar suara Rena memanggil namaku. Mungkin bagi sebagian orang mengharapkan kehidupan yang sempurna, namun bagiku tak perlu lagi berharap, hidupku sudah cukup sempurna. Aku punya orang tua yang sayang padaku, teman – teman yang baik padaku, prestasi yang cukupmengagumkan disekolah, Then, orang – orang bilang aku ini cantik….
- Tubuhku tinggi
- Kulitku putih
- Mataku indah
- Hidungku bangir
- Bibirku manis,apalagi kalau aku tersenyum
Yang paling penting, nich… kata orang- orang aku itu orangnya baik,saking baiknya, aku selalu berbagi jawaban setiap kali ada PR bahkan ulangan sekalipun.
“Wanita kamu sudah belum PR Matematika ? pasti sudah kan? Aku boleh nggak pinjam bukumu? Sebentar saja , soalnya aku belum sama sekali. Semalam waltu aku mau ngerjain aku diajak ibuku…….” Yach celoteh Rena kayaknya nggak akan ada habisnya.
“iya ini !” seraya menyerahkan buku PR ku. Entah apa yang dipikirkan, Rena menatapku dengan tatapan kosong.
“makasih ya”
“sama – sama “

Seperti biasanya lagi – lagi aku diberi kepercayaan Bu Anti untuk mengerjakan soal – soal Fisika didepan kelas. Dengan sabarnya Bu Anti membimbingku untuk menyelesaikan soal – soal tersebut.
Bruuuk…kk
Serentak seluruh siswa memalingkan pandangannya ke luar kelas. Oh No !! suara itu berasal dari Haikal yang terjatuh karena memperhatikanku dari jendela kelas. Aku hanya dapat tersipu malu menyaksikan dan mendengar sorak – sorai teman – teman di kelas. Dengan segerapun Haikal mengambil langkah seribu meninggalkan kami.
“Siapa dia Wanita?” Tanya bu Anti
“Haikal Bu”dengan tangkasnya Rena menyambar pertanyaan dari bu Anti.
Entah mengapa seakan konsentrasiku hanyut terbawa rintik hujan yang turun dari langit. Yach, gimana bu Anti dapat yakin mempertahankanku untuk menyelesaikan beberapa soal lagi di depan kelas,kalau aku saja tidak sadar kalau boardmaker ku telah terjatuh dari genggaman tangan ku ke lantai.
“Ya sudah, kamu lanjutkan lagi mencari jawaban itu dibangkumu”.
Entah apa namanya perasaan ini? Aku ingin menjaganya sendiri tanpa ada orang lain yang mengetahuinya. Sungguh aku tak ingin orang lain mengetahui apa yang aku rasakan.

“Rena, Yuriz…”
“Siapa ya? Bagaimana kamu tahu namaku?” Tanya Yuriz yang menatap aneh ketika ku memakai jilbab baruku ini.
“tunggu,ini Wanita kan! Ya ampun ini Wanita”
Aku mengikuti perintah mereka berputar – putar layaknya Barbie menari hingga tubuh ini terhuyung kebelakang. Oh my god, kayak di sinetron – sinetron korea aja dech ! Haikal yang nggak sengaja lewat di dekatku memegang bahuku agar tidak terjatuh.
“Makasih yach?”
“kamu nggak apa – apa kan? Oh ya, sama – sama “.
“cie… haikal sampai salting gitu ngeliat Wanita, ya nggak Riz?”
“ehm iya!”
“Wanita cantik banget ya Kal?” celoteh Rena.
“Banget, eh nggak! Kamu cantik pakai jilbab ini”.
“Makasih”
“oh ya, aku ke kelas duluan ya?”.
“iya’
“ehm… Ren kayaknya ada yang lagi jatuh cinta nich”
“Ha…! Ih apaan sich Yuriz. Biasa aja kali yach”.
“cie, beneran nich kamu juga suka sama Haikal, to?”
Ya ampun kok bisa – bisanya sich mereka Tanya ke aku terus, kenapa juga aku hatus bingung menjawabnya.
“do..o.oorrrr, cie dia malah ngelamun. Emang bener ya yang Yuriz tanyain tadi?” aku pun hanya tersipu malu menjawabnya…
“kok jawabannya Cuma senyum aja. Ok kalau kamu nggak mau jawab tentang itu, tapi kamu cerita,kenapa kamu pakai jilbab kayak gini.:”
“teman – teman, aku laper nich “ sindir Yuriz mengajak makan ke kantin.
“ ya udah berhubung Yuriz laper sebaiknya kita ke kantin”.
“yach kok kamu nggak mau verita kenapa kamu pakai jilbab?”
“iya nanti di kantin”.
Suasana kantin dipagi hari emang kayak gini,hening. Terbukti suara hentakan kaki yang melewati kantin, sendok jatuh, begitu tedengar dengan jelas.
“ hey tunggu bentar lagi yah, nggak lama lagi makanannya dating. Oh iya katanya tadi ita mau cerita sama kita?”.
“ oh iya aku sampai lupa. Berita ini bisa dibilang kabar baik atau mungkin juga menyedihkan. Aku pakai jilbab ini karena nazarku, sebab aku di terima menjadi salah satu mahasiswa di Universitas di Singapura, dan dua bulan lagi aku akan kesana”.
“o….. , ya amun kami pasti bakal merindukanmu dengan sangat Ta”>
“Thanks ya guys!”

2 bulan kemudian
Kenangan SMA
By : Indah Wanita
Senyum manis itu,
Canda tawa itu,
Suka duka itu,
Air mata itu,
Cerita – cerita itu,
Saat – saat menjalani hukuman bersama,
Saat – saat terbahak bersama,
Dan ketika kenangan itu kan melekat
Selamanya disini,
Selamanya di SMA ini.

Sungguh ku tak percaya atas yang ku saksikan dengan mata kepalaku sendiri, Haikal orang yang paling peduli denganku, tidak memberikan tepuk tangannya untuk ku. Ku akui puisi yang kubawakan tadi sangatlah sederhana untuk perpisahan ini. Atau mungkin sejelek itukah penampilanku tadi hingga sulit baginya mempertahankanku di hatinya.
“Wanita , awas !” seru Rena padaku. Oh my God, apa yang terjadi? Dimanakah Wanita yang selalu sempurna, always luck !. pertama kali kurasakan perasaan malu, ketika disaksikan ratusan pasang mata bersama kebaya cantik putih ini aku terjatuh di tangga ketika turun dari panggung.
Ya ampun, semua orang didepanku tertawa menatapku. Tanpa berfikir panjang lagi, aku mengikuti langkah yang akhirnya membawaku ke taman belakang sekolah. Aku berusaha menyembunyikan tangisku, tapi apakah ku mampu ketika ku melihat Yuriz dan Haikal sedang berbicara sesuatu yang aneh dihadapanku sambil menyeru namaku diantaranya.
“Kal, aku tinggal duluan ya?”
Segera ku hapus air mata di pipiku, perlahan aku mendekati Haikal.
“kalau boleh tau, apa yang kalian bicarakan tadi?oh, kalau nggak mau cerita juga nggak apa – apa kok. Aku Cuma amu kasih tau,kalau nanti aku mau……”
“mau pergi jauh?”
“iya”
“Nggak sesuai”
“maksudnya?”
“penampilan aja sok alim,pakai jilbab, Yuriz sudah menceritakan semuanya kepadaku”.
“Wanita kamu nggak apa – apa kan?”tubuhku lemah tak berdaya, ku hanya dapat menangis, mungkin ini bisa menenangkanku seraya menyandarkan kepalaku di bahu Rena ketika ia duduk disampingku.

Pukul 13.25 ! sudah saatnya aku pergi kebandara. Hari ini sungguh berbeda dari hari – hari biasanya. Bukan hanya Haikal, tapi juga orang tua ku. Tidak seperti biasanya, dengan alasan pekerjaan, mereka tidak dapat mengantarkanku ke Bandara,sebenarnya yang paling aneh hari ini adalah Yuriz.
Hmmmm… panjang umur orangnya.
“Wanita aku mau bicara sesuatu padamu”.
“Sebenarnya aku yang bilang ke Haikal kalau kamu sering membohongi orang tuamu dan mencuri uang mereka untuk mentraktir kita, terus…..”
“orang tuamu mengetahui hal itu dan kamu dipaksa pindah ke Madiun, tinggal bersama nenekmu”.
Apa yang Yuriz katakana itu? Kenapa orang yang ku anggap baik ternyata dia musuh dalam selimut.
“kenapa? Kenapa kamu lakukan itu semua kepadaku?”
“karena kamu! Aku benci melihat Wanita yang selalu dipuji. Cerdaslah, lucky, aku bosan melihatnya”.
“5 menit terakhir, maaf aku harus pergi sekarang”.
“Wanita kamu tidak sakit hati?”.
“untuk apa? Agar kamu senang kita semua sama – sama sakit?”
“Wanita”.
“yang namanya bangkai tidak perlu dicari tau, toh akan tercium dengan sendirinya”.
Sejujurnya aku cukup sakit hati atas apa yang kau lakukan Yuriz. Aku tak tau mengapa, karena diam – diam aku mencintai Haikal atau mungkin karena?
“terlambat”
Aku telah terlambat 15 menit dari seharusnya. Aku melangkahkan kakiku keluar Bandara dan masuk ke kedai kopi untuk menenangkan diriku, hati dan perasaanku. Aku memesan the manis dan sepotong roti.
Yach sekarang aku bukan seorang Wanita yang sering orang bicarakan. Wanita is always luck! Tidak ada teman, tidak ada dambaan hati, bahkan orang tua yang selalu care padaku. Beasiswa itu hilanglah sudah. Seprtinya kesempurnaan telah berpaling dariku.
Mungkin aku telah jauh dari keberuntungan sama seperti yang disiarkan di televise tentang pesawat tujuan Singapura keberangkatan pukul 14.20 yang hilang dan belum di ketemukan. Oh my God, subhanallah.

Dongeng Mimpi

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Agni: Bocah Dalam Cangkang

Beri aku satu kesempatan untuk mencintai. Sebelum raga ini terkutuk di mata kalian, terdapat hati yang murni jauh di dalamnya. Kupersembahkan untuk seseorang dimana kami tumbuh bersama saling mengenal. Cintaku ceria, berlari-lari sambil tertawa. Menangis kesal akan kenakalan. Jujur segala dalam dunia kanak-kanak. Cinta monyet. Cinta konyol. Cinta bohong-bohongan bahan tertawaan orang-orang dewasa.

Pun waktu memegang peranan. Hidup berjalan seiring jarum jam. Cinta ini tak pernah memudar. Apa daya jarak semakin memisahkan, mengasingkan kami satu sama lain, terhempas kesendirian masing-masing. Itulah saatnya melupakan masa ceria yang pernah ada. Tubuh kami semakin tinggi, nalar terus menguat, meninggalkan dongeng indah yang semakin suram tak dipedulikan. Namun tanpa mereka ketahui, gadis di dalam diri ini menjaga segalanya dengan hati-hati, sembunyi-sembunyi, melindungi sepotong kenangan dalam cangkang yang tak lapuk terkikis waktu. Cangkang itu persembunyianku. Tempat dimana kumelarikan diri sejenak dari hiruk pikuknya dunia orang dewasa. Menghangatkan hati di depan unggun cahayanya. Menemukan kembali hantu-hantu kami yang masih tertawa-tawa berayun di bawah pohon mangga.

Lelaki kecil itu masih mengajakku bermain. Menari jiwa kami bersama dalam melodi tak kasat telinga. Nada-nada bening dan murni yang hanya bisa di dengar hati. Ruh dalam ruh. Terlalu dalam untuk dijangkau logika. Dimensi waktu seperti dinding rumah sakit jiwa. Tebal dan melindungi dari arus luar. Hangat, dingin sesekali, namun merengkuh kuat.

Lelaki dewasa dalam dunia nyata tetaplah si bocah dalam dunia cangkangku. Ia hanya terperangkap dalam dada bidang dan bahu tegapnya. Sinar mata nakalnya tertutup kacamata prestise tanda kegemilangan otaknya. Tangan kami semakin jauh berjarak. Ia tak lagi menjambak rambutku, menjegal kaki yang sedang berlari, bahkan berucap sekedar sapa.

Dinding pemisah adalah kepala yang saling tertunduk malu, tak mampu menatap akan kenangan masa lalu. Sesak dan tanya memenuhi dada, masihkah ia sahabat lalu?

Kami melintasi ratusan hari menuju tua. Belajar di atas kerikil, berlari mengejar mimpi dan sesekali memuas dahaga oleh kasih sayang yang terjaja. Kami mencari pintu dalam labirin kaca. Cermin di kanan kiri menguatkan peringatan akan diri selama mencari pintu akhir. Aku bahkan tak bernafsu mencari ujung. Sesekali tak keberatan untuk terus terperangkap di dalamnya. Namun bila teringat bocah kecil dalam cangkang, aku seperti mengendus jejak untuk keluar. Kupejamkan mata dan selalu melihatnya berdiri menunggu.

Laki-laki itu adalah Gi. Cinta masa kecil yang apinya tetap hidup dalam dunia tersembunyiku. Bocah dalam cangkang.

Gi : Separuh Jiwa

Setiap insan yang dilahirkan akan menjalani pola sesuai perjanjian ruh mereka pada Sang Pencipta. Dijatuhkan kita ke atas bumi dengan peta yang hanya bisa diingat samar-samar. Tersimpan penuh misteri bahkan bagi diri sendiri. Dimana ia berada? Di belakang otak? Di antara lipatan nurani? Atau terseret bersama sel-sel darah?. Dalam bingung menjatuhkan diri di atas lutut, mengangkat tangan memohon petunjuk. Bagaimana kita tahu jawabNya? Nyata bersinar pada neonboard jalanan? Atau tersirat dalam rasa merinding kedinginan? Atau benderang dalam bola lampu khayal?

Aku ini lelaki, pemimpin untuk diri sendiri dan keluarga yang kubentuk kelak. Mengumpulkan ilmu untuk bertahan hidup. Strategis untuk sebuah tujuan. Harus selalu menjadi nomor satu sebagai yang pertama lahir dari rahim ibu. Rencanaku terbentang, kulempar sejauh jarak bintang untuk kemudian kukejar. Aku bolehlah panutan, dalam keluarga, dalam lingkungan, dalam setiap rencana kesuksesan masing-masing orang.

Sampai kelompok sayap kemilau datang. Mereka menawarkan sumur ilmu yang lebih dalam. Tak pernah kudengar dari guru-guru awam.  Aku adalah saudara mereka, katanya. Calon ahli surga yang berhak menimba dari sumur istimewanya. Tak ada syarat tak ada kontrak, dibelai bagai raja dipersilahkan duduk di singgasana. Rakus kutarik katrol bercahaya. Haus yang semakin menjadi di setiap tarikan. Peluhku adalah butiran emas kata mereka, agung bak sultan di atas pelana.

Kian hari tak kusangka membutuhkan banyak kepala terpenggal untuk sebuah dogma. Menyerah untuk berdarah dibawah mantra. Doktrin cerdas bagi para pencari kesempurnaan. Tiket sekali jalan ambiguitas abu-abu antara ketuhanan dan ketidakmanusiawian.

Semakin jauh aku terlempar, semakin ku ingin pergi pulang. Perapian hangat disamping meja dimana ibu menghidangkan kasih sayang dalam roti lembut setiap pagi. Suara adik-adik berteriak manja, endusan lucu kelinci peliharaan si bungsu, betapa kujatuh merindu.

Ragaku sebebas manusia lainnya namun jiwaku yang lama dilepas paksa. Keasingan terasa di setiap tarikan nafas. Siapa yang sedang menghirup udara menggunakan hidungku? Siapa pula yang memerintah kemana udara tersebut dipakai dalam diri ini?. Aku ingin kembali ke pelukanmu, ibu. Tidakkah kau melihatku menangis dalam mimpimu? Temukan kembali ruhku yang terusir entah kemana. Aku berdoa setiap malam dengan segenap kemampuan akal sehatku. Aku melihat seorang wanita menjaganya, ibu, tapi itu bukan kau. Ia menjaga ruhku. Siapa dia, ibu?

Seperti melayang menggelayut jarum jam, aku memohon pada setiap orang tanpa berkata. Hingga kutemukan gadis ini. Gagah berani menemaniku untuk kembali pulang. Berkibar kerudungnya syahdu, menyala semangatnya laksana api. Tangan lembutnya kuat menarikku ketika nyaris terperosok ke dalam jurang kemarahan kelompok sayap kemilau yang menawanku.

Gadis ini akan membawaku kembali padamu, ibu. Bilang pada ayah untuk tak khawatir. Siapkan sup hangat di atas meja, nyalakan perapian di kala hujan karena aku akan pulang meski diri ini tak utuh lagi. Sahara akan mengawalku.

Sahara: Laki-Laki Yang Aku Cintai

Cinta adalah anugerah. Begitu pula ketika merasakan tubuhku terkena pukul rotan seseorang yang hendak memukul Gi di siang yang terik itu. Rona memar ini masih terasa sekalipun sakitnya sudah lama hilang. Aku terpaksa meneriakinya maling  demi membuatnya tak berkutik di dalam genggaman massa. Aku tak bisa membiarkannya pergi lagi padahal ia tak ingin. Laki-laki dengan sorot mata hilang arah yang mencoba kabur dari kelompok berbahaya. Sebuah dilema. Setengah diri Gi terpasung, sebagian lagi hilang. Raganya semu seperti boneka kayu. Bisa bergerak namun tak bernyawa. Menghilang pria gemilang yang pernah kukenal di sekolah tertelan dalam kabut sarat konspirasi konflik pihak-pihak yang mencoba memanfaatkannya. Semua terlalu rumit, semua terlalu gelap. Meraba-raba kumencari tangan lemahnya untuk kutarik keluar.

Cinta adalah mendampingi. Aku hanyalah wanita dengan kodrat tak sekuat pria. Namun kekuatan itu selalu datang setiap kali Gi akan terperosok. Mengangkatnya, menopangnya, menyeretnya melawan taifun kesesatan.

Cinta adalah kesabaran tanpa batas. Mungkin adakalanya ia menipis tapi tak akan pernah hilang. Ia akan selalu muncul, selalu ada, selalu terasa. Di sampingnya menjalani penyembuhan yang panjang. Mengembalikan ingatannya, mengembalikan hidupnya, mengembalikan senyumnya.

Gi adalah laki-laki yang kucintai. Laki-laki yang kuat. Betapa tidak, jauh dalam dirinya kemurnian menyelamatkan diri Gi sendiri. Bangkit dari lubang yang dulu membuatnya  terjebak akibat nafsu kesempurnaan. Mengejar apa yang sudah terlewat dari hidupnya, dan kebanggaanku adalah berjalan disisinya. Hidup memberkahi kami dengan jalan yang sulit dan berliku, penat dan air mata, tanda tanya dan makna kesesatan. Dan tunas cinta lahir dari sana…

Agni: Bocah dan Pria Dewasa

Dia tak mengenaliku. Atau mencoba untuk tak mengenaliku. Tapi mengapa setiap malam hadir dalam mimpi-mimpi membingungkan? Tersenyum pernuh keramahan, pelukan hangat sahabat lama, canda anak kecil yang melungsur dewasa.

Wanita di sebelahnya bersanding kukuh. Seperti ratu langit bersuamikan penguasa jagad raya. Ialah sang pahlawan yang disebut-sebut dengan bangga. Membersihkan ingatannya akan keberadaanku dan Gi di bangku berayun berpuluh tahun yang lalu.

Menunduk sambil menjauh penuh rasa rendah kumeninggalkan mereka dalam megahnya kebahagiaan. Melapuk hatiku mungkin sampai kutemukan pengganti meski hanya untuk hati terluar. Karena cangkang rahasia dalam dunia kecilku masih milikku dan Gi. Selalu ada bunga-bunga liar tempatku jatuh karena terjegal kakinya. Masih pula ada bangku berayun tempat kami beristirahat untuk kemudian lanjut bermain.

Bocah itu lebih familiar daripada sosok Gi saat ini. Yang berdiri disana bukan Gi yang sesungguhnya. Semua orang mungkin bisa tertipu dan percaya bahwa itu adalah Gi yang sama yang mereka kenal. Namun aku tahu dimana Gi yang sesungguhnya, dan aku menutup rapat-rapat cangkang itu dari mereka.

Gi: Punggung Itu

Ia hanya satu dari ratusan tamu yang datang. Tapi melihat wajahnya seperti menatap pigura hitam putih tua. Apakah ia sekedar teman lama? Mengapa punggungnya tak asing kulihat di beberapa malam yang meresahkan? Malaikatkah ia? Atau iblis pencuri kenangan? Pertanyaan-pertanyaan ini semakin membuat kepalaku terasa ditekan dari berbagai arah. Ia tak seanggun pengantinku, tapi kenapa aku terus ingin menatap punggungnya?

Sedikit terekam aroma bunga liar ketika kami bersalaman tadi. Wangi musim semi, ceria dan penuh canda. Ingatan menyenangkan yang tak pernah aku ingat. Sepotong kenangan yang hilang.

Kembali Ke Cangkang Mimpi

Dalam mimpi kami bertemu. Sebuah dimensi dimana semua ringan melayang. Unggun keunguan, semilir angin di atas bukit hijau memainkan rambut ikalnya yang menyala laksana api jinak. Ruang khusus déjà vu dimana kami saling memahami dengan lega.

Disanalah jiwa yang pernah hilang berada, ditemani bersama seorang wanita. Wajahnya ceria seperti matahari pagi, kemerahan seperti jari-jari Eos. Di atas tanah disuratkan perjalanan hidup yang berbeda namun di dunia kami tak ada siang dan malam. Suasana hati kami sesuka mengatur cuaca. Hangat mencinta seperti jingga sore hari atau megah gemintang laksana malam musim panas. Dunia kami takkan ditemui oleh siapapun.

Ketika kami memejamkan mata di malam hari, itulah saatnya waktu bermain tiba. Ketika kami melepas penat sepanjang hari, kamipun melepas ruh kami pergi ke dunia cangkang. Mengobrol, tertawa, meneguk kasih sayang sampai kami kekenyangan.

Bila suatu hari kami berpapasan di dunia nyata, kami hanya bertegur sapa layaknya kawan lama. Dunia kami adalah dunia mimpi yang akan tetap hidup selama malam masih hadir dan rasa lelah adalah gerbang yang terbuka lebar. Untuk bisa bertemu denganku kau hanya cukup memejamkan mata, tidur dan bermimpi…

  • @Facebook

    Peluang Bisnis Oriflame