GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Author Detail

Registered Since: 2010-05-29 05:39:23

Posts by adolf:

    Sukses adalah sarana membentuk kualitas hidup*

    Sukses adalah sarana membentuk kualitas hidup*

    Dalam kelas training saya pernah bertanya, apakah kamu ingin sukses? Dengan spontan peserta tersebut menjawab, Ya saya ingin sukses. Sedangkan peserta lain menjawab dengan ragu-ragu. Keraguan itu, mengundang saya untuk bertanya, apa yang membuat kamu ragu-ragu menjawabnya?. Peserta itu menjawab, “ saya bingung dan merasa tidak memunyai kemampuan untuk bisa sukses. Kemudian saya bertanya balik, “menurutmu sukses itu seperti apa?”. Pertanyaan-pertanyaan ini sering kita dengar, baik di dalam seminar, kelas training maupun buku-buku yang banyak mengulas kesuksesan otrang-orang hebat.
    Arti kata sukses memunyai banyak definisi, salah satunya adalah tercapainya sebuah tujuan. Jadi sukses tidak saja datang dan juga pergi dengan begitu cepat. Mengapa? Untuk bisa sukses setiap orang membutuhkan proses panjang. Tidak instan dan semudah membalikkan telapak tangan. Namun kesuksesan bisa tercapai apabila sejak awal, sudah menentukan visi dan misi hidupnya. Melalui visi dan misi, setidaknya dalam pikiran orang sudah memunyai rancangan meraih sesuatu. Sehingga tujuan yang akan diraih menjadi begitu jelas. Kemudian apakah selesai sampai disitu saja? Tentu tidak. Seseorang bisa sukses tidak hanya sekedar memunculkan visi ataupun misinya. Lebih dari pada itu, yaitu action. Apakah setelah action, tujuan bisa tercapai? Belum tentu. Karena hanya dengan action saja tanpa strategi dan kesiapan mental, seseorang tidak mudah begitu saja meraih impiannya. Sudah pasti, ada kendala ataupun hambatan yang akan merintanginya. Apabila ini dialami oleh seseorang yang tidak memunyai kesiapan mental, maka perjuangannya tidak pernah bisa terwujud. Oleh karena itu,untuk bisa sukses dibutuhkan pribadi-pribadi yang tangguh dan memunyai mental pantang menyerah. Dengan begitu, pribadi kita akan teruji, dan selalu positif memandang sesuatu.
    Dengan menjadi pribadi tangguh dan pantang menyerah ini, kualitas hidup akan semakin berkembang. Maka kesuksesan seseorang merupakan sarana dalam membentuk kehidupan yang berkualitas dalam segala bidang. Yang mana untuk membentuk kualitas hidup perlu menanamkan beberapa hal di bawah ini. Yaitu pertama seseorang harus memunyai hasrat dan kehendak yang kuat untuk sukses. Mengupayakan diri selalu belajar dari pengalaman dan orang lain. Bukan berarti tidak ada kelemahan, namun melaluinya selalu mengusahakan untuk menjadi yang terbaik. Kedua, terbuka dengan cara berpikir dalam memahami sesuatu. Sehingga setiap pribadi semakin diperkaya untuk membekali diri dalam meraih sukses. Ketiga terdorong untuk menemukan jawaban dari banyaknya masalah dalam tataran ekologis. Karena kesuksesan kita tidak lepas dari orang-orang disekitar kita. Keempat, memunyai tanggungjawab, komitmen, konsisten, serta memiliki kompentensi untuk terus berpola pikir sebagai orang sukses. Kelima, selalu rendah hati untuk mau berbagi pengalaman yang memungkinkan terciptanya relasi yang saling mendukung.
    Dari kelima hal ini, pribadi kita disadarkan bahwa sukses bukan akhir sebuah perjalanan, melainkan sukses adalah awal menuju kesuksesan berikutnya. Akhir kata kesuksesan merupakan panggilan serta sarana, menuju kualitas hidup yang lebih baik. Selamat ulang tahun MDI News, semoga selalu membuka wacana alam berpikir bagi pembacanya.

    Oleh : Adolf B
    *Pernah dimuat di Majalah MDI Megazine april 2011

    Babak baru generasi Papua (1)

    Babak baru generasi Papua (1)

    Tiga tahun lamanya saya meninggalkan tanah Papua, tepatnya akhir juni 2008. Diatas geladak kapal Labobar yang akan membawa saya ke Jawa, saya berdiri menatap sederetan pegunungan yang mulai gelap diselimuti malam. Di dalam hati, saya bertanya, “akankah saya kembali lagi ke tanah Papua ini?.” Pertanyaan ini sangat beralasan, karena begitu banyak kehidupan Papua ini begitu mengesankan. Begitulah kiranya, saya yang kurang lebih 2 tahun mengabdikan diri bergelut di dunia pendidikan Papua. Tentu ada suka dukanya. Yang dari mencari murid ke pedalaman Papua tepatnya Waghete dan Moenamani, sampai menghadapi serangan malaria yang mengganas sudah menjadi ritme hidup. Begitu pula menyesuaikan diri menghadapi peserta didik dan orang tua dengan berbagai macam karakter. Sungguh merupakan tantangan tersendiri. Anak-anak sendiri terkadang membutuhkan teman bercerita, sambil refreshing menikmati indahnya pantai Papua yang sangat jernih. Mereka adalah anak-anak yang memunyai semangat tinggi, mau maju dan berkembang untuk meraih kesempatan emas. Kenapa harus mereka? Mereka adalah babak baru generasi yang akan membangun Papua tanahnya sendiri. Merekalah yang akan menjadikan Papua, menjadi pencetak keunggulan dalam mengelola daerahnya. Ya Papua harus maju melalui pendidikan.
    Itu adalah harapan, yang selalu mengiringi langkahku di tanah Papua. Sebuah idealisme yang masih begitu kuat menancap di otak ini. Idealisme ini semakin kuat saat berjumpa beberapa anak Papua di sebuah gereja Pulomas. Ternyata mereka adalah anak lulusan SMA Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville tempat saya mengajar dulu, yang sedang kuliah di Jakarta mengambil jurusan Kedokteran di salah satu universitas swasta. Kebanggaan menjadi semakin berkobar, disaat mendengar bahwa ada lulusan sekolah dulu yang akan melanjutkan pendidikan di Cina. Wow luar biasa, pikirku. Belum lagi beberapa dari mereka yang sedang matrikulasi di Karawaci untuk mempersiapkan diri berangkat ke Jerman. Dan bahkan sudah ada yang di Jerman. Saya sempat tertegun mendengar kisah yang mereka ceritakan.
    Rasa senang sekaligus haru, masih menyelimuti hati ini, disaat resepsi pernikahan seorang teman di hari yang sama, mata kami saling menatap di antara tamu undangan. Kelima orang tersebut tersenyum lebar, sambil menghampiriku. Kamipun saling berpelukan. Ya mereka anak didik dari SMA Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville Nabire yang begitu antusias belajar dan berjuang mendapatkan impiannya dengan kuliah di Jakarta. Informasi yang saya peroleh dari mereka selain kuliah di Atmajaya Jakarta, UKRIDA, UNTAR, UMN anak-anak Papua ada yang melanjutkan pendidikan di UGM, STPDN, IPB, Parahiyangan, Sanata Dharma dan masih banyak lagi, selain profesi-profesi yang sudah ditekuni. Mereka sedang mengawali satu babak kehidupan untuk meraih cita-cita. Wajah merekapun menyiratkan semangat itu. Mata mereka seakan mengkomunikasikan kebanggaan akan proses yang sudah dilaluinya. Perjumpaan kemarin di hari sabtu menjadi moment penting, sekaligus menjadi refleksi perjalanan hidupku. Bahwa pendidikan begitu penting dan dibutuhkan generasi muda Papua. Memang harus diakui, perjuangan masing panjang. Mereka yang saat ini masih mengeyam pendidikan di Papua mengharapkan kepedulian dan bantuannya untuk mengelola pendidikan supaya lebih humanis. Dana BOS yang diharapkan membantu pengembangan fasilitas pendidikan masih membutuhkan evaluasi kembali. Lebih tepatnya proses penyalurannya pun masih membutuhkan tangan-tangan kejujuran. Hal ini yang terkadang menjadi batu sandungan terciptanya pendidikan di tanah Papua. Di tengah perjuangan anak asli Papua mendapatkan impiannya, masih saja ada yang menjadi penghambat. Cukup ironis.
    Selain itu, yang menjadi perhatian kita adalah para pendidik atau guru. Baik secara kuantitas atau jumlah guru yang masih kurang, permasalahan lain adalah kualitas serta tanggungjawabnya. Seorang anak didik pernah bercerita, “Bapa guru baru di sekolah ini sa belajar benar,”. Kemudian saya bertanya, “memang ko di pedalaman tra pernah belajarkah?”. Dia pun menjawab dengan raut muka yang serius,”Ah tra pernah Bapa Guru, kitorang lebih sering main volly dari pada belajar”, kitorang pu guru tra pernah mengajar, dorang berbulan-bulan ke kota.” “Nanti mendekati ujian baru mereka mengajar.”. Para guru ini, rupanya lebih sering menghabiskan uang gaji mereka di kota. Tidak banyak guru yang betah tinggal di pedalaman dan mengajar. Mereka telah meninggalkan, tugas dan tanggungjawab sebagai pendidik. Ini satu permasalahan lagi yang harus diselesaikan. Mental para guru perlu dibangun kembali. Bahwa panggilan dan pengabdian sebagai guru adalah sangat mulia. Bersambung….

    Babak baru generasi Papua (1)

    Babak baru generasi Papua (1)

    Tiga tahun lamanya saya meninggalkan tanah Papua, tepatnya akhir juni 2008. Diatas geladak kapal Labobar yang akan membawa saya ke Jawa, saya berdiri menatap sederetan pegunungan yang mulai gelap diselimuti malam. Di dalam hati, saya bertanya, “akankah saya kembali lagi ke tanah Papua ini?.” Pertanyaan ini sangat beralasan, karena begitu banyak kehidupan Papua ini begitu mengesankan. Begitulah kiranya, saya yang kurang lebih 2 tahun mengabdikan diri bergelut di dunia pendidikan Papua. Tentu ada suka dukanya. Yang dari mencari murid ke pedalaman Papua tepatnya Waghete dan Moenamani, sampai menghadapi serangan malaria yang mengganas sudah menjadi ritme hidup. Begitu pula menyesuaikan diri menghadapi peserta didik dan orang tua dengan berbagai macam karakter. Sungguh merupakan tantangan tersendiri. Anak-anak sendiri terkadang membutuhkan teman bercerita, sambil refreshing menikmati indahnya pantai Papua yang sangat jernih. Mereka adalah anak-anak yang memunyai semangat tinggi, mau maju dan berkembang untuk meraih kesempatan emas. Kenapa harus mereka? Mereka adalah babak baru generasi yang akan membangun Papua tanahnya sendiri. Merekalah yang akan menjadikan Papua, menjadi pencetak keunggulan dalam mengelola daerahnya. Ya Papua harus maju melalui pendidikan.
    Itu adalah harapan, yang selalu mengiringi langkahku di tanah Papua. Sebuah idealisme yang masih begitu kuat menancap di otak ini. Idealisme ini semakin kuat saat berjumpa beberapa anak Papua di sebuah gereja Pulomas. Ternyata mereka adalah anak lulusan SMA Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville tempat saya mengajar dulu, yang sedang kuliah di Jakarta mengambil jurusan Kedokteran di salah satu universitas swasta. Kebanggaan menjadi semakin berkobar, disaat mendengar bahwa ada lulusan sekolah dulu yang akan melanjutkan pendidikan di Cina. Wow luar biasa, pikirku. Belum lagi beberapa dari mereka yang sedang matrikulasi di Karawaci untuk mempersiapkan diri berangkat ke Jerman. Dan bahkan sudah ada yang di Jerman. Saya sempat tertegun mendengar kisah yang mereka ceritakan.
    Rasa senang sekaligus haru, masih menyelimuti hati ini, disaat resepsi pernikahan seorang teman di hari yang sama, mata kami saling menatap di antara tamu undangan. Kelima orang tersebut tersenyum lebar, sambil menghampiriku. Kamipun saling berpelukan. Ya mereka anak didik dari SMA Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville Nabire yang begitu antusias belajar dan berjuang mendapatkan impiannya dengan kuliah di Jakarta. Informasi yang saya peroleh dari mereka selain kuliah di Atmajaya Jakarta, UKRIDA, UNTAR, UMN anak-anak Papua ada yang melanjutkan pendidikan di UGM, STPDN, IPB, Parahiyangan, Sanata Dharma dan masih banyak lagi, selain profesi-profesi yang sudah ditekuni. Mereka sedang mengawali satu babak kehidupan untuk meraih cita-cita. Wajah merekapun menyiratkan semangat itu. Mata mereka seakan mengkomunikasikan kebanggaan akan proses yang sudah dilaluinya. Perjumpaan kemarin di hari sabtu menjadi moment penting, sekaligus menjadi refleksi perjalanan hidupku. Bahwa pendidikan begitu penting dan dibutuhkan generasi muda Papua. Memang harus diakui, perjuangan masing panjang. Mereka yang saat ini masih mengeyam pendidikan di Papua mengharapkan kepedulian dan bantuannya untuk mengelola pendidikan supaya lebih humanis. Dana BOS yang diharapkan membantu pengembangan fasilitas pendidikan masih membutuhkan evaluasi kembali. Lebih tepatnya proses penyalurannya pun masih membutuhkan tangan-tangan kejujuran. Hal ini yang terkadang menjadi batu sandungan terciptanya pendidikan di tanah Papua. Di tengah perjuangan anak asli Papua mendapatkan impiannya, masih saja ada yang menjadi penghambat. Cukup ironis.
    Selain itu, yang menjadi perhatian kita adalah para pendidik atau guru. Baik secara kuantitas atau jumlah guru yang masih kurang, permasalahan lain adalah kualitas serta tanggungjawabnya. Seorang anak didik pernah bercerita, “Bapa guru baru di sekolah ini sa belajar benar,”. Kemudian saya bertanya, “memang ko di pedalaman tra pernah belajarkah?”. Dia pun menjawab dengan raut muka yang serius,”Ah tra pernah Bapa Guru, kitorang lebih sering main volly dari pada belajar”, kitorang pu guru tra pernah mengajar, dorang berbulan-bulan ke kota.” “Nanti mendekati ujian baru mereka mengajar.”. Para guru ini, rupanya lebih sering menghabiskan uang gaji mereka di kota. Tidak banyak guru yang betah tinggal di pedalaman dan mengajar. Mereka telah meninggalkan, tugas dan tanggungjawab sebagai pendidik. Ini satu permasalahan lagi yang harus diselesaikan. Mental para guru perlu dibangun kembali. Bahwa panggilan dan pengabdian sebagai guru adalah sangat mulia. Bersambung….

    Disaat Bersemayamnya Nurani tanpa Aksi

    Disaat Bersemayamnya Nurani tanpa Aksi

    Sudah sekian lama Jakarta, menjadi incaran orang daerah dalam mencari kerja. Begitupun aku yang tahun ini memasuki tahun ketiga. Yang mana satu tahun ini selalu melewati jalan yang sama, apabila pulang kerja. Yaitu jalur Cassablanca yang sekarang penuh sesak karena pembangunan disana sini. Itulah fakta bahwa pembangunan disatu sisi memberikan manfaat, namun disisi lain mengorbankan banyak kepentingan. Ya sebuah konsekuensi tentunya. Mungkin dari pembangunan itulah, ada realitas yang tentu saja, terlupakan yaitu perhatian akan kualitas manusia. Sehingga hampir setiap hari aku selalu disuguhi pandangan segerombol manusia yang meminta-minta disetiap lampu merah. Tentu saja, yang lebih memiriskan hati adalah hampir sebagian mereka merupakan anak-anak. Dengan wajah yang kusam, dekil, mereka menelusup diantara banyaknya mobil mewah dan kendaraan bermotor hanya untuk mendapatkan sekeping uang. Dan aku yakin walaupun hanya sekeping, bagi mereka, itu sangatlah berarti.
    Di hari itu, sore seperti biasa aku pulang melewati cassablanca. Sejenak aku tertegun menatap seorang Ibu dipinggir trotoar yang sedang meratapi anaknya yang tergolek lunglai di pangkuannya. Pandangan itu membuat konsentrasiku berkendaraan sempat hilang. Sehingga dengan sekejap aku mengurangi laju motor ini. Akupun berjalan pelan, sambil merenungkan peristiwa yang aku lihat. Rupanya tangisan ibu tadi tidak membuat kendaraan yang berlalu-lalang berhenti. Seakan-akan waktu dan kemacetan yang membuat mereka tidak peduli. Begitupun aku, yang tidak tahu harus berbuat apa. Batinku miris, dan menangis. Tapi apa yang bisa ku perbuat? Ditengah roda pembangunan yang begitu gencar, masih saja menyisakan drama kehidupan yang begitu miris. Disitulah aku dihadapkan pada potret kehidupan anak manusia yang sedang membutuhkan pertolongan, namun hati nuraniku terkunci rapat-rapat. Akupun menjadi seperti manusia yang berkendara, yang hanya lewat melongok, melihat pemandangan tadi. Sepertinya aku diuji, dan barangkali pemandangan itu akan selalu mengusik hati ini. Tapi biarlah, waktu sudah berlalu dan faktanya aku harus berani jujur, bahwa aku tidak bisa berbuat banyak.
    Jakarta terlihat kejam, bagi mereka yang mengalami drama kehidupan diluar harapannya. Jakarta terlihat seperti monster yang menelan puluhan orang, tanpa peduli dengan nasib kehidupannya. Namun Jakarta terlihat seperti surga, bagi mereka yang korupsi, menikmati gemerlapnya malam, para eksekutif bergaji jutaan, ataupun meluapkan hobinya dengan berbelanja puluhan juta. Ritme kehidupan kota ini, sekilas meminggirkan nurani untuk tidak berani berbuat sesuatu buat sesama. Inilah kehidupan di Jakarta. Semua orang berlomba, berjuang dalam tujuan dan hidupnya masing-masing. Memang betul, bahwa manusia harus hidup dengan tujuan. Dan di Jakarta ini, tidak semua harus dipandang dari sisi negatifnya saja. Itu harus diakui, pada kenyataannya banyak orang sukses justru melewati masa perjuangannya di Jakarta. Menghadapi banyak tantangan, menjadi makanan sehari-hari bagi mereka yang mau ditempa oleh zaman. Seakan-akan Jakarta menjadi ajang perlombaan, dan yang kalah harus tersingkir. Itulah pergulatan hidup, dan kita harus menyakini akan niat baik untuk berbuat sesuatu bagi dunia di sekitar. Apa yang kita tanamkan, yakinlah suatu saat tuaian akan banyak.

    PASTELLO Kisah perjumpaan

    PASTELLO Kisah perjumpaan

    Andaikan perjumpaan ini tidak terjadi, tentu kisahnya akan lain. Lain dalam arti, pertama saya tidak lagi mengingatnya, baik itu kabar maupun kehidupannya. Kedua, apabila perjumpaan itu terjadi beberapa tahun silam, kisah kehidupan saya bak seorang yang sedang jatuh cinta, kemudian pacaran. Ketiga, jatuh cinta berlanjut pada tahap yang lebih serius, saling berkomitmen untuk menjalani kehidupan bersama, baik suka dan dukanya. Mungkin juga ada arti-arti yang lain, sehingga tidak bisa saya tuliskan di sini. Sekian arti yang muncul, tentu ada baiknya buat perjalanan hidup kami. Itu keyakinan saya. Mengapa? Saya mengusahakan untuk meletakkan setiap peristiwa, yang selalu memiliki benang merah. Maka, berputarlah memori di dalam otak ini, untuk mengingat masa kecil sampai munculnya getaran naluri kemanusiaan.
    Diawali perjumpaan di sebuah komunitas musik yang sedang mempersiapkan diri untuk mengisi acara. Kami berlatih tiap minggu sore di sebuah lokasi yang sekarang, sudah tidak berbekas lagi. Pada waktu itu, kami masih berstatus sebagai siswa sekolah dasar di SD kami masing-masing. Dari saling mengejek dan bercanda, layaknya orang dewasa timbullah rasa yang senang, happy, sedikit perubahan dari perilaku. Malu-malu kalau ketemu dengannya, tetapi saat wajahnya tidak menghiasi mataku, hati terasa sepi. Muram dan tidak semangat bermain musik. Yah, namanya juga lagi menyukai seseorang. Seorang anak kecilpun sudah jatuh cinta selayaknya orang dewasa. Rentetan peristiwa itu, menjadi lucu apabila dipahami dalam pola pikir sekarang.
    Sekian lama, kira-kira hampir enam tahun lamanya kita tidak pernah berjumpa. Namun selintas sayup-sayup terdengar kabarnya diujung sana. Dorongan untuk merajut kembali, terasa dibatasi oleh jarak dan tidak adanya kesempatan. Pelan-pelan hati meredup, kalaupun tidak dikatakan mati, setidaknya masih tersisa goresan hati ini. Dan memang benar, pertama kali dari sekian lama tidak berjumpa, akhirnya kami dipertemukan di salah satu kampus di Jogja. Mulailah ingatan kembali hidup, dan mendorong diri ini untuk lebih dekat kembali. Tapi anehnya, selalu saja kedekatan itu pudar tanpa sebab. Kehidupan kampus, membuat kami larut, menutup pintu hati untuk kembali bersama. Dia dengan kehidupannya, dan saya dengan kehidupan yang lain. Tidak ada niatan kembali untuk menjalin sebuah relasi yang menurut saya, masih pantas. Namun disatu waktu, ada pengalaman yang sulit untuk saya lupakan. Pada akhirnya, kedekatan kami terbangun, karena suatu kegiatan yang mengharuskan untuk bersama. Seminggu sekali, saya menjemputnya. Dan diluar kegiatan tersebut, kami sering jalan. Mulailah goresan hati yang masih ada muncul kembali. Satu hal yang saya ingat, adalah menonton pertunjukkan seni di purna budaya, pengalaman itu teringat amat dalam. Bagi saya, kebersamaan itu seakan sudah menjadi komitmen. Saya merasa sudah memosisikan diri sebagai pacarnya. Sampai saat itu saya tidak, pernah mengetahui apa yang dirasakan hatinya. Ah jogja memang selalu membikin setiap insan manusia yang hadir membawa kenangan. Sudut kota Jogja selalu menawarkan keunikan dan pancaran keindahan. Ada saja moment penting yang terjadi di kota ini. Sehingga menjadi sarana untuk mereka yang memadu kasih. Tetapi Jogja pun juga bisa membuat hati terluka. Pedih dan menyakitkan. Tentu saja bagi yang mengalaminya. Sehingga akan menjadikan kota ini, sumber penderitaan. Namun bagi saya, jogja masih memunyai tempat di hati ini.Walaupun sampai pada akhirnya kami sampai pada ketidakjelasan. Dan itu telah dilakukannya. Pertanyaanku kepadanya, ”mengapa kamu melakukan itu?” Pertanyaan itu yang selama beberapa tahun tidak pernah saya tanyakan.
    Tahun demi tahun berlalu, tanpa jejak hidupnya hinggap dalam ingatanku. Setelah lulus kuliah, rekam jejaknya tidak lagi terasa jelas. Akses komunikasi terputus, bak hilang ditelan zaman. Perjumpaan tidak lagi terjadi hanya menyisakan rautan kekecewaan saja. Namun hidup terus berjalan dan berubah. Sampai suatu ketika, media membantu mempertemukan kami lagi. Walaupun sebatas komunikasi melalui email ataupun chatting, saya kira sudah cukup baik. Tetapi kami harus menyadari bahwa faktanya status kami sudah berubah. Dia tidak sendiri begitupun saya. Barangkali karena itu, kami sepakat untuk berjumpa, kembali membangun persaudaraan. Dan itu terjadi di Jakarta. Cuma apa di kata, kekecewaan muncul kembali, dikarenakan kesepakatan untuk bertemu tidak terwujud. Saya menyimpulkan ada salah pengertian diantara kami. Sampai beberapa bulan, kami kembali dalam keadaan diam membisu. Ditambah kesibukan saya, dan juga dia dala pekerjaannya menimbun keinginan untuk berjumpa kembali. Sempat pikiran ini, ingin melupakannya. Namun justru, tanpa disengaja kami berjumpa di sebuah RS. Dia duduk sambil diam terpaku menatap saya. Saya pun berdiri mematung menatapnya. Kamipun saling mengucap salam, dan berpelukan tanda kedekatan yang pernah kami rasakan bersama. Obrolanpun menjadi panjang lebar. Dan kami sepakat untuk berjumpa di suatu mall. Dari obrolan itulah jawaban yang saya tunggu-tunggu akhirnya diceritakannya.
    Perjumpaan siang itu, membawa kerinduan untuk bertemu kembali. Dorongan hati, menggerakkan tubuh fisik ini untuk dekat dengannya. Namun saya menyadari akan posisi masing-masing. Tidak mudah untuk menutupi perasaan ini. Sekejap saya terdiam dan merenung, mengapa semua ini terjadi sekarang? Apa yang membuat perasaan ini begitu menggelora? Hal ini bukan perkara mudah, untuk hidup dalam kegelisahan terus menerus. Katanya ”sulit untuk bertemu tanpa membawa perasaan masing-masing!”. Melalui kisah ini, saya kiranya kami mampu belajar untuk kembali mengelola perasaan supaya lebih terekspresikan dengan baik. Menghindari hal-hal yang membuat kami larut. Faktanya kami sudah tidak bisa bersama lagi. We can’t change the fact. Jadi biarlah ini semua menjadi satu cerita kehidupan bagi kami. Tersimpan rapat-rapat di relung hati kami. Hanya kami dan Tuhan yang tahu. Tentunya kami tetap berjalan sebagai teman, saudara, dan sahabat. Saling mendukung, untuk berani menghadapi setiap tantangan dalam kehidupan ini. Bagi saya inilah pembelajaran berharga yang kami peroleh.

    Jatuh Cinta atau Cinta Sejati????

    Jatuh Cinta atau Cinta Sejati????

    Kadang orang selalu menanyakan apa itu cinta? Seberapa besar cintamu padaku? Apakah kamu mencintaiku? Bicara mengenai cinta tentu saja tidak lepas dari relasi atau hubungan antara manusia. Tidak hanya pria dan wanita. Tetapi bicara cinta bisa dipahami dalam hubungan di dalam keluarga. Antara orang tua dan anak atau saudara. Mungkin juga terhadap pekerjaan yang sedang dijalani. Cinta itu universal dan cukup luas untuk hanya dipahami dalam satu aspek saja. Mungkin membicarakan teori mengenai cinta, memunyai banyak pemahaman tersendiri. Dan bahkan cinta itu suatu misteri yang tidak terungkap. Apakah cinta hanya berkaitan dengan rasa dan ungkapan kata-kata? Di dalam artikel ini saya berusaha untuk berbagi teori dan pemahaman mengenai cinta. Dan saya hanya memfokuskan pada hubungan pria dan wanita. Tidak lebih.
    Terkadang cinta banyak dipahami dari berbagai sudut pandang. Setiap orang bisa menafsirkan cinta menurut pandangannya. Silahkan dan itu tidak salah. Untuk mengawalinya, saya akan bertanya kepada kamu,”Mengapa kamu mau jadi pacarnya?” ”Apa yang membuat dirimu tertarik padanya?” ”Apa kamu mencintainya?” ”Kok kamu mau sama dia?” Ini pertanyaan sederhana yang sering ditanyakan. Namun kita justru sulit untuk menjawabnya. ”Ya pokoknya saya mau aja!”. ”Habis dia ganteng sich!”. ”Dia cantik dan kulitnya mulus”. ”Dia orangnya baik dan pintar”. “Ya! Aku mencintainya karena bla bala bla….Seabreak jawaban kamu bisa sampaikan. Tapi apakah karena itu semua? Itu yang perlu kita lihat sekarang.
    Jatuh Cinta
    Sobat! Pernahkah kamu jatuh cinta? Saya yakin pasti kamu pernah merasakannya. Bukankah jatuh cinta itu seperti hidup di dalam keindahan? Kalau di sinetron orang yang sedang jatuh cinta diibaratkan sedang berjalan di suatu taman yang indah. Kupu-kupu beterbangan dan bunga saling bermekaran. Mungkin ini hanya suatu penggambaran dari pribadi seseorang yang sedang merasakan cinta. Atau mencintai seseorang dan saling bertaut. Keduanya merasakan hal yang sama. Di dalam buku karangan seorang teman yang saya baca disebutkan bahwa, kalau kita sedang jatuh cinta, kita cenderung menunjukkan hal yang baik dari diri sendiri. Tidak hanya itu, kita juga melihat orang yang dijatuhi cinta itu sebagai sosok yang ideal, yang tidak atau sedikit memiliki kesalahan. Kita tidak menginginkan keburukan, kejelekan atau kelemahannya. Prinsipnya, orang yang kita jatuhi cinta itu baik seturut dengan mata kita. Yang lain tentu saja ngontrak bukan? Nah Kalau hal ini terjadi di dalam diri kita, maka kita menjadi sulit untuk berbagi. Kebaikan hanya untuk kita sendiri, yang lain tidak kebagian. Dalam keadaan jatuh cinta kita akan menampilkan cinta yang tidak autentik. Semua serba disembunyikan, ditutupi bahkan kita akan berlagak sabar, lucu, sok perhatian, dan kemana-mana harus berdua. Ada kewajiban malam kinggu harus ngapel, Bertemu secara fisik tiap hari, memberi kabar tiap jam, wah banyak lagi dech. Pokoknya romantis sekali!. Maka kita akan menjadi tidak senang kalau orang yang kita jatuhi cinta itu didekati orang lain. Ingat! Orang yang kita jatuhi cinta bukan hanya miliki kita sendiri. Nah dalam keadaan jatuh cinta seperti ini biasanya tidak bertahan lama, karena tidak dibangun dengan dasar yang kuat. Sehingga yang terjadi adalah kerapuhan pondasi, karena tidak autentik tadi.

    Cinta sejati
    Nah sobat bagaimana dengan cinta sejati? Pernahkan kamu menemukan orang yang tepat untuk kamu sebut sebagai cinta sejati? Dialah cinta sejatiku!! Mungkin kamu akan mengatakan demikian. Cinta sejati berbicara tidak hanya dalam satu waktu saja. Cinta sejati dibangun atas dasar keseluruhan pribadi yang nampak pada seseorang. Dan ini bisa dibuktikan dengan berjalannya waktu. Waktulah yang bisa menguji apakah dia cinta sejatiku atau tidak. Kalau sedang jatuh cinta kita hanya melihat kebaikannya saja, dalam cinta sejati kita diajak untuk mengenali keburukannya. Barangkali tidak hanya itu, melainkan keseluruhan pribadi yang awalnya tidak terlihat pada tampilan luarnya. Contoh sederhananya adalah kalau kita suka pada ketegasan pacar kita, meskipun suatu kali nampak plin-plan, kita tetap tertarik padanya. Intinya cinta sejati tidak hanya sekedar melihat latar belakang kehidupan pacar kita, melainkan berpusat pada pribadi orang yang kita cintai. Saling menerima kekurangan dan kelemahan masing-masing merupakan sikap terbuka untuk membangun suatu relasi dan pondasi yang kuat. Maka cinta sejati mendorong orang untuk lebih menghargai, menghormati dan menerima keseluruhan aspek di dalam diri masing-masing. Saling mendukung dalam hidup dan membangun keterbukaan diri masing-masing merupakan pembelajaran dalam relasi. Nah di dalam cinta sejatipun “perbedaan” menjadi salah satu pondasi untuk saling berbagi. Nah kalau cinta itu dibangun dengan tulus tentunya, keberadaan kita akan diterima oleh orang lain. Teman kita akan menerima hubungan kita, artinya temanmu adalah temanku, temanku adalah temanmu juga. Maka cinta sejati akan bersifat inklusif, bukan eksklusif. Artinya semua orang lain dapat masuk jaringan relasi diantara kita dan orang yang kita cintai itu. Begitu yang tercatat dalam buku karangan teman saya. Lebih sederhananya teman saya merangkum pembedaan sebagai berikut:

    Aspek Jatuh cinta Cinta sejati
    Dasar ketertarikan pada pasangan Penampilan fisik yg bisa dikenali secara inderawi Keseluruhan pribadi yg ada di balik penampilan fisik
    Waku permulaan Berlangsung cepat (hari/minggu) Bertahap, relatif lama (bulan/tahun)
    Konsistensi ketertarikan Berubah-ubah tergantung pada mood atau kontak fisik yg disukai Konsisten menerima perubahan segi-segi yg bisa berubah dlm diri seseorang
    Pengaruuh pd perkembangan kepribadian Mengganggu konsentrasi, berlaku aneh, tidak autentik Membangun, menjadi pribadi yg lebih realistis dan berkembang
    Adanya perselisihan Lebih sering berat membahayakan Semakin jarang dan soal kecil yang tidak membahayakan
    Dampak rasa cemburu Lebih sering dan merepotkan Jarang muncul dan tidak membebani
    Sikap secara keseluruhan Prinsip apa yg kuperoleh Prinsip berbagi, membebaskan, memperhatikan kepentingan orang yg dicintai secara seimbang

    Nah sobat! Jatuh cinta ataupun cinta sejati adalah anugrah. Sebuah karunia dari yang Ilahi untuk kita. Mengapa? Karena di dalam diri kita sudah ada cinta sejak dilahirkan. Setelah dewasapun cinta itu tetap ada. Terlepas cinta itu mau diekspresikan dalam relasi dengan sesama atau tidak (contoh Rahib kontemplatif) Kalaupun tidak, kita sebenarnya sudah membangun relasi dengan yang Ilahi. Kita ada di duniapun merupakan buah cinta dari yang Ilahi. Salam

    Referensi
    Buku Seks Gadis? Memahami Seks Membuktikan Cinta, karangan A. Setyawan, 2004 penerbit Galang press Yogyakarta.

    Long a cultural Journey

    Long a cultural Journey

    Dalam kehidupan beragama, kita mengenal agama Hindu yang pemeluknya sebagian besar berada di Bali. Sedangkan minoritas Hindu juga terdapat di tanah Jawa. Tentu saja sebagian besar Hindu ini dianut oleh masyarakat Suku Jawa. Mengingatkan kembali pada beberapa ratus tahun lalu, agama Hindu pernah mengalami masa kejayaannya yaitu pada zaman Kerajaan Majapahit. Dan selama kurang lebih 1000 tahun, agama Hindu yang langsung di bawa dari India ini, mulai menyatu dan merasuk pada sendi kehidupan masyarakatnya. Maka dalam perkembangannya nanti kita kenal dengan istilah sinkretisme. Yaitu menurut wikipedia adalah upaya untuk penyesuaian pertentangan perbedaan kepercayaan, sementara sering dalam praktek berbagai aliran berpikir. Istilah ini bisa mengacu kepada upaya untuk bergabung dan melakukan sebuah analogi atas beberapa ciri-ciri tradisi, terutama dalam teologi dan mitologi agama, dan dengan demikian menegaskan sebuah kesatuan pendekatan yang melandasi memungkinkan untuk berlaku inklusif pada agama lain. Begitupun saat masuk dan menyebarnya Islam terutama di Jawa tidak lepas dari sinkretisme. Maka di Jawa dikenal istilah Islam kejawen. Islam yang menoleransi praktek-praktek kuno (Hindu dan Budha) dalam kehidupan beragamanya. Contohnya sesajian, selametan dan kendurian. Walaupun begitu praktek ini, tetap terlihat ciri keIslamannya, karena ada doa-doa secara Islam.
    Pengantar diatas mengingatkan saya pada sebuah perjalanan ke Bali beberapa minggu lalu. Dan selama perjalanan itu, kami disuguhi sebuah pemandangan unik yang mungkin sudah jarang dijumpai di tanah Jawa. Keunikan ini sebenarnya mengingatkan saya waktu kecil yaitu meletakkan sesajian di pinggir desa atau gapura masuk ke sebuah kampung. Dan di Bali saya teringat kembali akan hal itu walaupun dalam konteks maksud dan tujuan sesajian yang tidak sama. Dalam Kultur masyarakat Bali (secara khusus Hindhu) sesajian dimaksudkan untuk menghormati dan menghargai serta menunjukkan kehadiran Yang Widhi di tengah kehidupan umat. Maka tidak hanya di depan rumah saja, melainkan di bus, kantor, sekolah, maupun tempat wisata sesajian itu pasti ada. Itu semua menunjukkan bahwa masyarakat Bali berusaha dalam kesehariannya mendekatkan diri dengan Yang Widhi. Sang pemberi hidup yaitu Tuhan sendiri. Bagi saya, masyarakat Hindu Bali sungguh-sungguh mempraktekkan ajarannya dalam keseharian. Sebagai contoh saat hari raya nyepi, masyarakat Bali berkesempatan untuk merenungkan sejenak kehidupannya yang lalu, dengan tidak melakukan aktifitas sama sekali.
    Kembali pada proses menyelaraskan tadi, dalam kehidupan masyarakat Hindu Jawa, yang tentunya tidak sama persis seperti hindu Bali, maka masyarakat Hindu Jawa juga menunjukkan identitasnya melalui kehidupan beragamanya. Salah satunya yang pernah saya lihat di Gunung Kidul (DIY) adalah sesajian. Sejauh saya mengamati perbedaan mencolok terletak pada cara mereka berpakaian. Di jawa tentu saja cara berpakaiannya menggunakan blangkon dan surjan Selain itu perbedaan yang lain mungkin terletak pada tata cara ibadatnya. Hindu Jawa sendiri juga tidak benar-benar murni agam Hindu melainkan juga sinkretisme antara anismisme/dinamisme dan Kejawen (Agama Jawa). Namun perbedaan ini adalah suatu kekayaan dan keindahan. Karena dalam prakteknya unsur budaya yang berada di tengah masyarakat tidak akan punah, justru akan terus berkembang seiring dengan datang dan majunya zaman. Sisi lain bahwa budaya memunyai fleksibilitas, maka kita bisa melihat praktek-praktek budaya yang masih cukup kental, hidup dan terus menunjukkan rohnya. Pertanyaannya sekarang mengapa praktek-praktek budaya di Bali dan Jawa masih hidup? Menguraikan definisi budaya sebenarnya cukup terkait dengan tetap berlangsungnya praktek tersebut. Karena budaya sendiri merupakan ekspresi kelompok manusia hasil pengolahan – budi daya akan budi manusia. Jadi ada unsur berproses, saling menyelaraskan dan teruji dalam lintasan sejarah.

    Memaknai Natal dengan kesederhanaan dan solidaritas

    Memaknai Natal dengan kesederhanaan dan solidaritas

    Setiap tahun umat sebagian umat Kristen di seluruh dunia merayakan hari lahir Yesus sebagai juru selamat. Mengapa saya katakan sebagian umat? Karena ada sebagian umat Kristen (ortodok) yang merayakan Natal pada tanggal 6 januari. Perbedaan ini biasa dan tidak perlu dipermasalahkan. Namun melalui tulisan ini, saya tidak akan membahas perbedaan tersebut. Saya lebih memfokuskan bagaimana merayakan dan memaknai Natal dalam bingkai kemanusiaan kita. Bingkai persaudaraan kasih antar umat manusia.
    Sudah tidak asing lagi, hampir setiap tahun selalu diwarnai dengan berbagai macam pernak-pernik, hiasan pelengkap menjelang Natal. Mulai dari pohon Natal, discount yang gede-gedean serta berbagai macam barang konsumtif lainnya. Tawaran ini sungguh menggugah selera bagi mereka yang memunyai cukup duit. Tetapi kita perlu melihat juga, bahwa ada sebagian masyarakat yang merayakan dengan kesederhanaan. Tanpa baju baru dan pernak-pernik penghiasan kegembiraan. Untuk itu kita perlu mengingat kembali, makna kelahiran dalam kacamata iman. Kelahiran itu sendiri adalah sebagian dari proses kemanusiaan, dan tentu saja ada peran Tuhan didalamnya. Menjadi berbeda karena, kelahiran dipandang sebagai bentuk solidaritas dan kesederhanaan. Sebuah pengharapan serta pembebasan umat manusia. Mengapa? Yesus lahir tidak di rumah sakit dengan peralatan medis yang lengkap, namun di dalam sebuah kandang domba. Begitupun dengan solidaritas, Yesus sudah menunjukkan itu saat lahir dan tumbuh menjadi bayi mungil. Sampai kemudian mengungsi ke tanah Mesir. Aspek kelahiran seperti inilah yang harus diwartakan kepada umat manusia, untuk lebih merefleksikan diri dalam merayakan kelahiran Yesus.
    Melihat belakangan ini, tentu saja perlu mewujudkan makna Natal tersebut. Mengingat konteks zaman sudah berubah, maka cara mewujudkannya pun harus relevan. Dengan tidak melupakan fakta-fakta yang ada. Termasuk saudara-saudara kita yang sedang dilanda musibah. Natal tahun ini memang diwarnai dengan banyak bencana alam. Tetapi melalui kelahiran Kristus di dunia, merupakan tonggak dan sejarah, bagaimana Tuhan ikut solider dan hidup bersama saudara kita yang sedang dilanda musibah. Pada dasarnya Natal adalah sebuah sikap solidaritas, yang bersama-sama membangun kehidupan lebih baik. Ini menandakan bahwa Tuhan membahasakan sebentuk cinta melalui kelahiran dan tentu saja kemudian hidup di tengah umat manusia, dengan begitu manusia bisa memberikan cinta serta berjuang dan dewasa dalam menyikapi berbagai tantangan di dunia ini. Selamat Natal, semoga damai Kristus bersama anda.

    Pendidikan yang Humanis Menempatkan Manusia pada Asasinya Oleh: Adolf Bramandita AN

    Pendidikan yang Humanis
    Menempatkan Manusia pada Asasinya
    Oleh: Adolf Bramandita AN

    Berbicara mengenai pendidikan di zaman sekarang sepertinya memerlukan suatu perhatian khusus. Dimana keterbukaan masyarakat terhadap institusi pendidikan memengaruhi permintaan akan kualitas serta hasil yang bisa dibanggakan. Pendidikan apabila dikembalikan ke akarnya, merupakan pondasi dasar bagi pembentukan karakter bangsa. Yang mana memerlukan keterlibatan semua pihak, agar pencapaian ke arah tujuan pendidikan itu sendiri, tidak menyimpang dari kesakralannya. Namun justru disinilah letak kesakralan pendidikan yang nampaknya mulai mengubah karakter anak didik yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Sekedar contoh sederhana yaitu bagaimana seorang guru yang hanya mengajar pelajaran tanpa mempedulikan perkembangan anak didik. Tanpa pendampingan dan pengamatan khusus serta ikut terlibat dalam dinamika anak didik. Terkadang guru sudah merasa melakukan tugasnya dengan mengajar, padahal belum sampai pada esensi dari tugas mulianya sebagai guru.
    Seperti apakah pendidikan yang humanis tersebut? Pendidikan humanis lebih dipahami dalam konteks tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, namun lebih dari pada itu, pendidikan yang dikemas dalam konsep mendidik. Dalam pidato mantan rektor Kolese de Britto, Pater J. Oei Tik Joen, S.J. menyampaikan bahwa mendidik diartikan tidak hanya mengajar, tetapi juga menolong, membantu mencarikan pengarahan kepada anak didik supaya dapat memilih jalan hidup serta perbuatannya sendiri, tanpa sebelumnya atau sesudahnya menutup rapat-rapat kemungkinan pemilihan lain. Anak didik seharusnya ditempatkan sebagai sosok pribadi yang pada hakekatnya seorang manusia dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Disinilah letak nilai dari sebuah pendidikan humanis, dengan menempatkan anak didik sebagai pribadi yang utuh. Utuh sebagai insan manusia yang butuh pendampingan, pendidikan dalam sebuah dinamika hubungan antar manusia.
    Dalam sebuah catatan kecil pendidikan Ignatian di Kolese Jesuit dan tantangannya, dikatakan bahwa tujuan karya pendidikan Jesuit adalah ”pendidikan yang baik bagi kaum muda merupakan usaha baik untuk merubah dunia”. Nampaknya agak berlebihan, namun akan baik apabila dipahami dalam perspektif latihan rohani Santo Ignasius. Selain itu usaha merubah dunia mungkin bisa dipahami juga, tidak hanya kecerdasan otak yang brilian, namun bagaimana sosok pribadi anak didik yang berada ditengah masyarakat mampu terlibat dan melibatkan diri, mendorong terciptanya perubahan kearah yang lebih baik.
    Guru merupakan panggilan profesi yang mulia. Mulia dikarenakan bahwa sosok guru menjadikan anak didik menemukan jati diri, membantu anak didik menjadi manusia seutuhnya. Pendidikan yang humanis tidak lepas dari peran guru, yang menyediakan diri untuk ikut terlibat dalam dinamika anak didik. Yang secara sadar tahu bahwa institusi pendidikan adalah sebuah sarana dan tempat terbentuknya pribadi-pribadi yang tangguh. Pada akhir catatan kecil ini, saya menyampaikan suatu kalimat yang disampaikan oleh Pater Jendral Jesuit Nicolas Adolfo, S.J. yaitu “In education, we make people different…… Our Schools are not competitors for top schools, but to make people who look differently at reality and at themselves” . AMDG

    Adolf Bramandita
    Pernah mengajar di Kolese Le Cocq d’Armandville, Nabire Papua
    Sekarang berkarya di Jakarta

    Menjadi Guru yang di Senangi Murid Part 2

    Menjadi Guru yang di Senangi Murid
    Part 2

    Dalam konteks di senangi, pemahaman ini memang luas penafsirannya. Bukan berarti, apabila guru ingin disenangi anak didiknya kemudian memberikan berbagai macam kemudahan. Tentunya yang bersifat tidak mendidik. Ada memang penafsiran anak didik yang menyenangi gurunya dikarenakan, guru tersebut tidak pernah marah. Suka bercanda, menghibur, menyenangkan, dsbnya. Itu hanya sebagian kecil saja dari proses pendidikan. Jangan salah sayapun pernah marah sewaktu di kelas. Saya marah karena ada satu anak yang ribut tidak mendengarkan atau bicara sendiri. Guru yang berharap disenangi murid tidak serta merta meninggalkan prinsip mendidiknya. Kalau memang harus marah, dalam hal ini dipahami sebagai sebuah ketegasan. Dan ada unsur mendidiknya. Tidak hanya marah karena luapan emosi yang tidak terkendali. Kemudian dimana letak unsur mendidiknya? Biasanya selepas kelas selesai atau waktu istirahat, saya dekati anak itu. Sekedar mengajak ngobrol dan berbincang, saya mulai menyinggung kenapa tadi membuat ribut. Sudah menjadi kebiasaan, bahwa diluar kelas hubungan terbangun kembali sebagai teman. Wajah anak didikpun tidak menampakkan dendam atau kemarahan. Ini bisa terjadi dikarenakan sejak awal sudah terbina BUILDING RAPPORT (membangun keakraban). Pola ini dapat disebut sebagai bagian dari pendidikan yang membentuk karakter untuk saling menghargai dan menghormati walaupun memunyai perbedaan pandangan.

    ”disenangi” hanya Sebuah Sarana
    Disaat percakapan sedang berlangsung, disitulah fungsi PACING. Menyelaraskan, mendengarkan dan mencoba memahami penjelasan dari anak didik. Dan kemudian guru bisa melakukan LEADING atau mengarahkan. Membawa anak didik untuk berpikir mengenai dampak suasana gaduh karena perbuatannya tadi. Sehingga anak didik juga merasa dihargai, diperhatikan dan diajak untuk mengolah setiap permasalahan yang terjadi. Dalam pendidikan kolese, LEADING dipahami mengarahkan anak didik supaya dapat memilih jalan hidup serta perbuatan sendiri, tanpa sebelumnya atau sesudahnya menutup rapat-rapat kemungkinan pemilihan lain (pidato rektor Kolese De Britto tahun 1976). Misi dari sebuah pendidikan yang utama sebenarnya adalah membentuk manusia berkarakter yang sadar akan kebebasannya sebagai asasi yang paling tinggi. Kebebasannya ini yang nantinya menjadi sebuah pertanggungjawaban sebagai proses menemukan nilai-nilai dari sebuah misi yang harus diperjuangkan. Bukan kebebasan dalam arti yang tidak disadari. Dan bebas dalam arti ada perbuatan lain yang harus diperjuangkan.Tetapi kebebasan yang kemungkinan mengarah pada perbaikan (manusia), entah itu disebut modernisasi dan pembangunan. (pidato rektor Kolese De Britto tahun 1976)
    Menjadi guru yang disenangi murid sebenarnya merupakan sebuah sarana untuk mencapai kebebasan yang dihayati. Baik itu oleh guru/pendidik terlebih dahulu, karena penyampaian nilai kemanusiaan bukan sekedar indoktrinasi melainkan sebuah proses terus menerus diantara pribadi satu dengan yang lain. Sehingga anak didik berani untuk hidup ditengah masyarakat serta memperjuangkan nilai sebuah kehidupan. Sebuah keberanian untuk menentukan sikap dan bebas untuk berbuat sesuatu bagi bangsa dan negara. Disitulah peran guru yang mengikhlaskan diri untuk membangun misi pendidikan menjadi misi pribadi guna membentuk anak didik masuk dalam pergumulan dunia. Tentunya bagi perkembangan sebuah bangsa yang bermartabat. Salam