GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Author Detail

fitri gustav

Registered Since: 2009-06-29 17:05:00

Description: Name: Fitri Gustav. B-day: August 12. Interest: writing, travelling Education: - 2002 Graduated the Diploma 3, Faculty of Communication, Major in Broadcasting, Universitas Indonusa Esa Unggul-Jakarta - 2008 Got the Bachelor's of Communication, Major in Journalism, Universitas Indonusa Esa Unggul-Jakarta.

Posts by fitri gustav:

    Perkebunan Stroberi

    Perkebunan Stroberi

    Kabut tipis menyelubungi pagi. Sang surya menyambut hari dengan malu-malu namun pasti. Langit tampak agak mendung. Dengan sweater dan syal berwarna hijau muda aku berjalan menyusuri perkebunan stroberi milik kakekku. Tak lama lagi hamparan pohon berbuah lezat di atas tanah seluas dua hektar ini kemungkinan besar akan menjadi milik orang lain. Kakek ingin menjualnya kepada salah seorang pengusaha furniture yang ingin mencoba lahan bisnis baru. Katanya, ia ingin membagikan uang hasil penjualan itu kepada anak-anaknya sebelum ‘pergi’.
    Sebenarnya anak-anak maupun semua cucunya Kakek (termasuk aku) tak ada yang setuju kalau perkebunan tersebut dijual. Tapi entah mengapa Kakek begitu ngotot dengan keinginannya. Apakah karena beberapa minggu yang lalu dia kena serangan jantung dan sempat koma sehingga dia merasa hidupnya tak akan lama lagi?
    Aku sangat sedih memikirkan apa yang Kakek pikirkan. Dia merasa akan segera ‘meninggalkan’ kami. Kalaupun perkebunan ini tetap jadi dijual, siapa yang akan tega menerima uang warisan dari orang yang masih hidup? Kakek pernah mengatakan padaku alasan mengapa dia harus melakukannya, ialah karena ia tak ingin sepeninggalnya kelak akan terjadi perebutan harta. “Oh Kakek, kenapa Kakek berpikir seperti itu?” air mataku perlahan jatuh. Kakek hanya tersenyum.
    Laki-laki tua itu amat kusayangi karena dia selalu melimpahiku dengan kasih sayang tanpa batas sejak aku hadir ke dunia. Dia yang selalu menghibur tiap kali aku menangis gara-gara habis diomeli Mama karena kebandelanku sendiri. Biasanya, Kakek akan mengajakku berkeliling kota bersama Sir Roland, anjing St. Bernard kesayanganku dengan mobil antik kebanggaannya. Sir Roland yang selalu duduk di belakang akan mengeluarkan kepalanya lewat jendela mobil supaya angin dapat menerpa wajahnya. Anjing pintar itu memang sangat menyukai angin.
    Ah, rasanya tak mungkin kuceritakan semua kisah indah bersama Kakek hanya dalam beberapa lembar kertas saja. Kasih sayangnya pun sulit untuk kulukiskan dengan kalimat-kalimat puitis sekalipun. Tak akan pernah ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkannya. Aku tidak sanggup membayangkan bila Kakek benar-benar akan ‘meninggalkan’ kehidupan ini.
    Jika saja bisa, aku ingin sekali mencegah Kakek untuk tidak menjual perkebunan stoberinya. Sebab kebun inilah yang menyatukan seluruh keluarga. Di pinggir sebelah barat kebun ini, di tanah yang terpisah dari perkebunan, Kakek membangun empat buah rumah. Yang satu untuk dia sendiri, sedangkan tiga lainnya diberikan pada anak-anaknya. Salah satu anak Kakek itu adalah ibuku. Sedangkan di antara perkebunan itu Kakek membangun sebuah restoran yang khusus menyajikan berbagai masakan Sunda. Terdapat juga lima belas kolam ikan berisi antara lain ikan mas, mujair, lele, patin dan gurame. Jadi pengunjung yang datang ke perkebunan untuk memetik buah stoberi, bisa sekalian menikmati hidangan hangat berbagai macam ikan di restoran. Restoran tersebut selalu ramai pengunjung karena terkenal dengan cita rasa masakannya yang enak
    *
    Sejak toko barang elektronik milik Om Emil bangkrut beberapa bulan yang lalu Kakek mulai berubah. Om Emil merupakan suami dari Tante Hetty. Sedangkan Tante Hetty ialah kakak kandung ibuku. Aku punya firasat Om Emil tidak sebaik kelihatannya, meskipun semua orang di keluarga mempercayainya. Dia memang dari dulu pandai ‘menjilat’. Bahkan modal untuk membuka toko barang elektroniknya saja berasal dari kantong Kakek yang ‘termakan’ rayuannya. Kini besar kemungkinan Kakek lagi-lagi kena bujuk rayu menantunya yang mata duitan itu.
    Ini bukan sekedar berburuk sangka tanpa alasan. Suatu hari ketika Kakek sedang beristirahat di kamarnya tanpa sengaja kulihat Om Emil masuk ke kamar Kakek. Aku curiga kenapa pamanku itu tiba-tiba jadi perhatian pada mertuanya, padahal selama ini dia tak pernah peduli sedikit pun. Sewaktu dulu Kakek pernah memintanya membantu mengurus perkebunan stroberi saja dia selalu menolak dan berlagak sok sibuk mentang-mentang usaha toko barang elektroniknya sedang jaya. Jangan-jangan dia merencanakan sesuatu.
    Ternyata sore itu terbukti kecurigaanku benar. Aku berhasil ‘nguping’ pembicaraan antara Kakek dan Om Emil dari balik pintu kamar. Isi pembicaraan tersebut intinya adalah pamanku itu membujuk Kakek untuk menjual perkebunan stroberi lengkap dengan seluruh isinya. Sedangkan Om Emil minta bagian paling besar karena ia ingin menyekolahkan anaknya ke Inggris, jadi butuh biaya banyak. Dari semua cucu Kakek, memang hanya anaknya Om Emil dan Tante Hetty lah yang belum jadi Sarjana. Handi namanya, dia sebentar lagi akan menamatkan pendidikan SMU. Padahal setahuku Handi tak pernah ingin kuliah di luar negeri. Dia itu kan ‘Anak Mami’ banget. Jadi mana bisa jauh dari keluarga. Tapi sepertinya Kakek akan mengabulkan permintaan pamanku itu.
    Tiap kali kutanyakan alasan yang sesungguhnya kenapa Kakek bersikeras mau ‘melepas’ perkebunan miliknya, dia tak pernah memberitahu jawaban yang sesungguhnya, padahal aku sudah tahu. Sewaktu aku mencoba menceritakan hal yang sebenarnya pada Mama dan Om Dadang (adik kandung Mama) mereka tidak percaya. Ingin sekali rasanya aku dapat membuktikan kebenaran itu sebelum terlambat. Tapi bagaimana caranya? Aku tidak tahu.
    *
    Calon pembeli perkebunan sudah tiba. Dia datang dari pulau seberang untuk membicarakan tentang harga. Meski dengan perasaan berat aku ikut menyambutnya. Lalu Kakek memperkenalkan aku pada orang beralis tebal itu. Sepertinya dia orang yang baik. Meskipun garis wajah itu terlihat tegas namun ia tampak ramah dan murah senyum. Menurut ibuku orang tersebut seminggu yang lalu sudah pernah datang sewaktu aku sedang bekerja. Dia kesini bersama dua orang asisten dan sopir pribadi untuk melihat-lihat perkebunan, kolam ikan serta restoran. Karena ramai pengunjung maka kemudian dia tertarik untuk memilikinya.
    Sepanjang obrobal bisnis antara Kakek dan orang itu hanya Om Emil yang ikut nimbrung. Dia bersemangat sekali ingin membantu untuk mendapatkan harga terbaik. Tentu saja, karena uang itu yang nanti akan masuk ke kantongnya. Pembicaraan tersebut dilakukan di dalam ruangan kedap suara yang merupakan kantor pribadi Kakek.
    Aku menunggu dengan gelisah. Segenap pikiranku berharap calon pembeli itu mengurungkan niatnya. Mama, Papa, Om Dadang, istrinya Om Dadang, Kak Angga, Kak Revan dan Kak Amel (adik sepupuku) juga kelihatan cemas. Tante Hetty dan Handy sepertinya juga gelisah, meski aku tak tahu mereka gelisah karena apa.
    Setelah hampir dua jam kami menunggu, akhirnya Kakek, Om Emil dan orang dari pulau seberang itu keluar dari ruang rapat. Muka mereka tampak sumringah seperti orang bisnis yang sama-sama menang. Apakah bisnisnya sudah deal? Itu berarti kebun stroberi, kolam ikan dan restoran hanya akan menjadi kenangan.
    Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus mencegahnya. Akan tetapi tak boleh ada orang rumah yang tahu. Ketika orang beralis seperti semut berbaris itu menunjukkan gelagat ingin pergi, aku segera bergegas dengan sepeda motor menuju ke pintu gerbang depan untuk mencegatnya. Gerbang besar itu jaraknya lumayan jauh sebab rumah Kakek memiliki pekarangan yang luas.
    “Stop!” sepeda motorku menghadang mobil mewah pengusaha itu.
    Nampak sang sopir agak kaget dan keheranan. “Ada apa, Non?” tanya si sopir.
    Aku mengetuk kaca mobil di pintu belakang. Lalu kaca tersebut perlahan terbuka. “Maaf Pak Marzel, boleh saya bicara sebentar dengan Bapak?” tanyaku.
    “Lho, ada apa Ririn? Apa ada barang saya yang tertinggal di rumah Kakekmu?” dia bertanya balik dengan ramah.
    “Tidak, tapi ada hal penting yang ingin saya tanyakan. Maaf kalau cara saya kurang sopan. Tolong beri waktu sebentar saja,”
    Orang itu terdiam sejenak seperti sedang berpikir. “Oke lah, saya kira tak ada salahnya meluangkan waktu sejenak. Tapi dimana kita akan bicara?”
    “Kalau itu saya tidak tahu. Terserah Bapak saja yang memutuskan,” kataku.
    Dia tertawa kecil. “Begini saja, saya kan menginap di hotel dekat sini. Di depan hotel itu ada restoran seafood. Nah kita bertemu disana saja, ya?”
    “Baiklah…” dan sepeda motorku langsung meluncur ke lokasi itu.
    Tak lama kemudian kami sudah duduk saling berhadapan. Tanpa banyak basa-basi aku menanyakan apakah orang yang bernama Pak Marzel tersebut jadi membeli perkebunan Kakek atau tidak. Ternyata jadi. Setelah itu aku memintanya sedemikian rupa untuk membatalkan pembelian itu, namun ia menolak dengan cara yang sangat halus tapi tegas. Pembicaraan tak berlangsung lama, sebab tak ada lagi yang ingin kubicarakan. Aku pun segera pamit untuk pulang.
    “Hey, jangan terlalu bersedih ya, Nak. Hati-hati di jalan. Semoga harimu menyenangkan,” Meski enggan membatalkan pembelian perkebunan milik Kakek, raut muka Pak Marzel tetap menunjukkan rasa penyesalan yang tulus.
    *
    Perkebunan stroberi Kakek akhirnya sudah berganti pemilik. Meski demikian aku masih dapat berjalan-jalan dengan bebas di tempat itu karena khusus untuk semua keluarga Kakek, Pak Marzel yang baik hati tidak mengenakan biaya masuk. Dia bahkan menganggap kami seperti keluarga. Para petani yang bekerja disana pun tetap menghormatiku walau mereka tahu bahwa Kakek bukan lagi bos mereka.
    Sekarang pasti Om Emil merasa puas, sebab rencananya berjalan dengan baik. Ugh! Sebal sekali rasanya kalau mengingat dia. Kenapa juga aku tak dapat berbuat banyak untuk mempertahankan perkebunan Kakek? Parahnya lagi, anak-anak kandung maupun menantu lainnya Kakek tak ada yang berani menentang keinginan Om Emil. Aku sudah gagal menyadarkan Kakek kalau di balik mulut manisnya Om Emil sebenarnya dia itu cuma menginginkan uang. Dan uang tersebut yang akan dibagi-bagikan siang ini dalam rapat keluarga.
    Semua anak termasuk menantu dan cucu-cucu berkumpul di ruang keluarga rumah Kakek. Kami duduk di atas sofa berbahan kulit asli yang masih kelihatan dalam kondisi sangat baik meski usianya sudah puluhan tahun. Dari semua kepala yang ada di ruangan itu hanya Om Emil yang tampak paling bersemangat, seperti orang yang baru memenangkan suatu perlombaan dan akan mendapat hadiah utama.
    Aku sempat berpesan pada Mama, kalau nanti dapat ‘bagian’, maka bagian itu harus dikembalikan atau setidaknya disimpan untuk keperluan Kakek. Pokoknya jangan dipakai seperser pun selain untuk kepentingan Kakek. Untunglah sejak awal Mama memang tidak terobsesi dengan uang tersebut.
    Tak lama kemudian Kakek datang dari arah kantor pribadinya. Seorang laki-laki berpakaian rapi dengan dasi mengikuti langkahnya. Ia membawa sebuah koper berukuran lumayan besar. Mungkin koper itu berisi uang hasil penjualan perkebunan yang akan diserahkan pada Om Emil. Entah kapan pria itu tiba. Yang jelas aku tidak mengenalinya. Seluruh anggota keluarga bertanya-tanya siapa gerangan orang tersebut.
    Sebelum rapat dimulai, Kakek memperkenalkan laki-laki yang bekerja di sebuah kantor pengacara itu sebagai orang yang dipercaya untuk mengurus surat wasiat.
    “Apa? Surat wasiat? Apa maksudnya?” tanya Om Emil, mengagetkan seisi ruangan dengan suara yang mendadak lantang, seperti tidak terima dengan keputusan itu. Dia kelihatan bingung. Aku sama bingungnya.
    Lalu pria paruh baya berdasi itu membuka koper. Isinya ternyata bukan uang melainkan hanya beberapa lembar kertas. Kemudian ia mulai menjelaskan sesuatu. Dari awal hingga akhir aku memperhatikan kata-katanya dengan seksama. Mulutku seakan gagu, tak tahu harus berkata apa. Namun perasaanku sungguh lega. Kakek telah membagi-bagikan warisan secara adil di dalam surat wasiat tersebut. Jadi itu berarti Om Emil gagal menguasai uang hasil penjualan perkebunan.
    “Tapi Pa, bukankah Papa sudah setuju dengan pembicaraan kita beberapa waktu yang lalu?” tanya Om Emil dengan muka tidak puas.
    “Ya, aku telah setuju untuk menjual perkebunanku. Tapi aku tidak pernah menyetujui idemu yang lain,” jawab Kakek dengan santai.
    Kakek mulai menandatangani surat wasiat itu, disusul oleh para ahli waris.
    “Kamu kuliahkan Handi disini saja, biar cucu-cucuku yang lain tidak iri…” kata Kakek pada Om Emil yang nampak loyo. Aku tersenyum ke arah Kakek, dan dia membalas senyumannku penuh arti. *** (tamat).

    Celengan

    Celengan
    By: Fitri Gustav

    Los Angeles, 15 November 1990
    Dearest Meylo…
    Mama sudah sampai di Amerika dengan selamat. Meylo sayang, ternyata Amerika itu indaaah sekali. Meylo ingin nggak main kesini? Kalau ingin sekolah yang pintar dan rajin menabung ya. Nanti kita pergi bersama. Sekian dulu ya, sayang. Nanti pulangnya Mama bawakan oleh-oleh yang banyak.
    Peluk dan cium,
    Mama.
    Selembar kartu pos bergambar Donald Duck masih terselip di dalam sebuah album foto. Hanya diselipkan, namun selalu ada disitu. Meylo menemukannya sewaktu mengemasi barang-barang. Besok ia akan pindah ke rumah baru bersama istri tercintanya, bertepatan dengan tahun baru. Pria muda itu membacanya kembali dengan perasaan penuh rindu. Secuil kenangan indah 23 tahun silam melintas di benaknya.
    Saat itu Meylo masih duduk di bangku kelas 2 SD. Ibunya, Renita, yang bekerja sebagai seorang sekretaris mendapat kesempatan untuk mengunjungi Negeri Paman Sam. Namun Meylo tidak ikut karena harus tetap sekolah. Bocah itu dititipkan selama sebulan kepada nenek dan kakeknya
    Atas ajakan dari bosnya, Ibu Lilian, Renita akhirnya bisa menginjakkan kaki di negara yang sejak dulu hanya dapat ia bayangkan. Telah lama wanita berusia 31 tahun tersebut memimpikan pergi ke Amerika. Putra bungsu bosnya yang kuliah disana sebentar lagi akan diwisuda. Suami Ibu Lilian telah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Sedangkan kedua putrinya yang lain terlalu sibuk mengurusi bisnis mereka masing-masing. Ia tak ingin menghadiri acara wisuda itu seorang diri, karena itulah ia mengajak Renita. Lagipula Renita memang telah menjadi orang kepercayaannya.
    Dibukanya album foto lawas itu halaman demi halaman. Kegembiraan dan keceriaan tampak jelas di wajah sang Mama yang berfoto di tempat-tempat wisata terkenal. Ketika berpose di depan sebuah casino di Las Vegas dengan Ibu Lilian, sewaktu bergaya di antara badut-badut Dysneyland seperti Mickey Mouse, Donald dan Daisy Duck, Pluto, serta kawan-kawan. Bahkan saat berdiri di samping sebuah boneka salju di malam hari senyum cerianya selalu mengembang menghiasi paras cantiknya meski hanya diterangi lampu taman yang minim dan blitz dari kamera. Nampaknya saat itu Ibu Lilian sengaja ingin sekalian mengajaknya berwisata ke tempat-tempat wisata terkenal di Amerika sebagai bonus karena Renita selama ini telah setia dan banyak membantunya.
    *
    Suara sebuah mobil terdengar dari kejauhan. Suara itu kian terdengar jelas. Meylo kecil yang siang itu tengah menikmati makan siang ditemani neneknya langsung berteriak kegirangan begitu melihat sebuah sedan putih menghampiri pekarangan rumah neneknya. “Mama…..!!! Horeeee…Mama udah pulang!!!”
    Mainan mobil-mobilan, robot-robotan, sepatu, makanan snack asli buatan Amrik yang pada tahun itu belum hadir di Indonesia, beberapa helai baju, berbagai souvenir dan seabreg barang lain membanjiri tempat tidurnya. Meylo sangat senang, oleh-olehnya banyak sekali.
    Semua bagus dan sesuai dengan yang ia idamkan. Dari semua oleh-oleh itu ada sebuah barang yang begitu berkesan. Sebuah celengan berbentuk babi sebesar kepala orang dewasa, terbuat dari bahan keramik dengan cat berwarna pink. Dari sebuah celengan dengan bentuk menggemaskan sekaligus menggelikan itu Renita mengajarkan putera semata wayangnya untuk menabung.
    Sejak memiliki celengan babi yang lucu itu Meylo begitu bersemangat untuk menabung. Apalagi Renita sering bilang bahwa hemat pangkal kaya. Setiap mendapat uang jajan dari ibunya, tantenya, omnya, maupun dari nenek dan kakeknya, pasti ia masukan ke dalam celengan dan tak pernah dipergunakan walau sepeserpun. Tak jarang, Ibu Lilian yang baik hati juga sering memberinya hadiah uang tiap kali Meylo mendapat juara kelas. Dengan begitu isi celengannya makin penuh. “Aku mau keliling dunia sama Mama,” ujar bocah lugu itu berulang kali. “Meylo juga mau beli rumah baru buat Mama,”
    Renita hanya tersenyum tiap kali mendengar buah hatinya berkata ingin membelikan sebuah rumah. Suatu hari ia iseng bertanya, “Kenapa Meylo mau beli rumah baru untuk Mama? Memangnya Meylo sudah nggak betah tinggal di rumah kita ini?”
    Sejenak Meylo terdiam, lalu memberikan jawaban, “Ini bukan rumah kita, Ma. Ini rumah Papa. Papa kan nggak pernah pulang, jadi mendingan kita beli rumah soalnya Meylo benci Papa. Papa lebih sayang sama Tante Mary daripada kita. Papa jahat!”
    Renita kaget mendengar putranya berkata seperti itu. Lalu dengan suaranya yang lembut ia mencoba menjelaskan, “Eeeh, Meylo nggak boleh benci sama Papa. Kan masih ada Mama yang selalu sayangin Meylo. Lagian rumah ini sudah diberikan untuk kita kok,” Ia berusaha tetap menunjukkan wajah senang. Namun jauh di lubuk hatinya berkecamuk antara rasa marah dan kecewa kepada Hendra, mantan suaminya.
    Sejak bekerja di perusahaan perminyakan di Riau, Hendra jarang pulang. Alasannya tentu karena jarak antara Jakarta dan Riau cukup jauh. Namun ternyata juga ada penyebab lain. Hadirnya wanita bernama Mary membuat Hendra lupa pada keluarganya. Renita dan Hendra tak pernah bercerai secara hukum, namun pria itu tak pernah pulang. Ia menghilang begitu saja tanpa kabar apapun.
    Kegiatan menabung Meylo terus berlanjut dari waktu ke waktu. Setiap kali celengan babinya telah penuh, isinya akan dikeluarkan melalui lubang di bawahnya yang tertutup bahan karet. Lalu uang tersebut dititpkan pada Renita. Kemudian ia akan menabung lagi di celengan itu, dan seterusnya. Sejak usianya menginjak 17 tahun barulah ia punya rekening bank atas namanya sendiri. Pokoknya tiap kali mendapat uang, anak pintar itu selalu menyimpannya. Ia masih bercita-cita ingin membelikan rumah untuk Renita. Dan seiring berjalannya waktu, wajah Hendra kian terlupakan. Renita dan Meylo telah bahagia dalam dunia mereka sendiri.
    *
    Hari baru, tahun ajaran baru dan kampus baru. Tak terasa kini Meylo sudah mulai kuliah. Armaylo bukan lagi Meylo kecil yang lugu. Kini, pria muda itu mulai memikirkan untuk punya hubungan serius dengan seorang gadis. Renita menyambut gembira ketika Meylo memperkenalkannya pada gadis bernama Icha, teman sekampusnya. Icha merupakan gadis baik, sikapnya santun dan bersahaja. Ia menyayangi Renita seperti mamanya sendiri. Renita benar-benar bahagia. Dunianya terasa sempurna, seperti tak kurang suatu apapun.
    Namun suatu hari Renita mengeluh sakit kepala. Ketika konsultasi ke dokter dan dilakukan pemeriksaan ternyata ia mengidap kanker stadium awal. Penderitaannya makin bertambah karena suami yang dulu pernah menyia-nyiakannya kembali dengan kondisi bangkrut karena berjudi. Ia datang pada hari Minggu di saat Meylo sedang pergi bersama Icha ke sebuah pameran buku. Sedangkan Bi Ipah, pembantu di rumahnya yang telah bekerja di rumah itu sejak Meylo masih bayi, kebetulan sedang membeli beras ke warung. Renita sangat terkejut. Mukanya berubah pucat seperti habis melihat setan. Dengan terbata-bata, ia segera mengusir laki-laki itu.
    “To…tolong pe….pergilah Mas,.” katanya.
    “Tapi, ini kan rumahku. Ayolah, jangan seperti itu.”
    “Aku tahu ini rumahmu. Tapi Meylo sangat membencimu. Akan sulit baginya untuk menerima kehadiranmu saat ini…”
    “Aku akan minta maaf padanya, aku tahu aku bersalah. Please Renita, izinkan aku tinggal disini karena aku sudah tak punya apa-apa lagi,” pinta Hendra memelas.
    Renita masuk ke dalam kamar. Ia mengambil sesuatu untuk diberikan kepada Hendra, “Ini, ambil semua perhiasan ini…” Renita menyerahkan sekotak pehiasan emas pada Hendra. “Kalau kau jual perhiasan ini uangnya bisa kau pakai untuk membuka usaha. Tapi tolong jangan ganggu kami lagi. Meylo sudah sangat menderita karena kau sia-siakan, jadi jangan rusak kebahagiaannya yang tak seberapa,” katanya dengan hati tersayat-sayat
    “Tapi aku ingin bertemu putraku,”
    “Tidak! Dia sangat membencimu. Jadi tolong pergilah sekarang juga!” Renita menjadi geram.
    “Baiklah, aku akan pergi sekarang. Tapi suatu hari aku pasti akan datang lagi kesini,” Hendra akhirnya pergi.
    Renita tak pernah menceritakan kejadian hari itu kepada Meylo. Ia tak ingin membuat putra kesayangannya terluka. Namun ketakutan akan datangnya lagi Hendra ke rumahnya terus menghantui bagai mimpi buruk yang tak berkesudahan. Menggangu pikirannya.
    Selama ini Meylo merawat ibunya dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Ia dengan rajin mengantar Renita bolak-balik ke rumah sakit untuk melakukan kemotheraphy. Bahkan dengan telaten memperhatikan menu makanannya setiap hari yang dimasak oleh Bi Ipah. Akan tetapi, meski telah dirawat sedemikian rupa penyakitnya tak kunjung membaik, malah bertambah parah.
    Suatu malam Renita tiba-tiba merasa menggigil. Tubuhnya gemetaran. Seketika itu juga Meylo langsung memeluknya. Ia berteriak kepada Bi Ipah supaya menyeterika beberapa lembar selimut. Kemudian selimut hangat itu langsung dibalutkan ke tubuh ibunya. Namun tetap saja Renita menggigil. “Dingin….dingin sekali,” katanya. Dengan rasa panik dan ketakutan yang mencekam, tanpa pikir panjang lagi Meylo segera menggotong ibunya ke dalam mobil dan melarikannya ke rumah sakit. “Bertahanlah, Ma…” pinta Meylo. Ya Tuhan, apa artinya ini semua? Apakah aku akan kehilangan mamaku? Tanya Meylo dalam hati.
    Sesampainya di rumah sakit, Renita langsung masuk ke Instalasi Gawat Darurat. Badannya masih tetap menggigil. Namun tak lama kemudian rasa menggigil itu berangsur menghilang sebelum dokter sempat melakukan apa-apa. Renita ‘masih ada’. Terima kasih Tuhan…
    Kanker terus menggerogoti tubuh Renita tanpa ampun. Kini ia hanya bisa menghabiskan tiap detik kehidupannya di rumah sakit. Ia mulai kehilangan asa. Kemotheraphy yang membuat rambutnya rontok dan perutnya selalu mual tak sanggup lagi dijalaninya. Sedangkan operasi yang dilakukan oleh dokter tidak ada yang membuahkan hasil.
    Meylo tak habis pikir, mengapa penyakit ibunya tak kunjung sembuh. Sepertinya perjuangan lebih dari setahun hanya sia-sia. Ia takut akan kehilangan ibunya. Meylo menangis sejadi-jadinya malam itu dalam kesunyian hati. Air mata mengalir deras di pipinya yang putih bersih.
    Meylo sedih sekali melihat kondisi ibunya. Badannya kurus, kepalanya hampir botak, dan pipinya sangat cekung. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?
    Di saat putranya sedang berjuang untuk menyelamatkan nyawa ibunya, Hendra juga berjuang untuk membiayai hidupnya sendiri yang berantakan. Sebenarnya ia telah bertobat. Namun semua uang hasil menjual perhiasan pemberian Renita terpaksa dipakai untuk membayar hutang berjudi yang masih belum terbayar. Ia memang harus membayarnya karena kalau tidak ia akan ‘dihabisi’ oleh si bandar judi. Kini Hendra begitu malu untuk kembali lagi menemui Renita, dan ia juga takut tiap kali membayangkan kemarahan Meylo. Sedangkan saudara-saudaranya tak ada yang tahu dimana laki-laki tua berusia 55 tahun itu tinggal sehingga tak bisa memberi kabar tentang kondisi Renita.
    Meylo sedih memikirkan derita ibunya. Ia juga bingung karena faktor keuangan. Selama ini Renita tidak pernah memiliki asuransi jiwa, sehingga semua biaya medis harus ditanggung sendiri. Telah habis tabungan Renita di bank. Mobil dan sebidang tanah investasiya di Bandung pun telah dijual.
    Meylo tidak bisa minta bantuan pada Ibu Lilian, karena mantan bos ibunya itu telah meninggal setahun silam akibat kecelakaan di jalan tol. Sementara itu bantuan dari saudara-saudaranya tidak terlalu banyak, karena kemampuan ekonomi mereka yang memang terbatas. Para kerabat yang menjenguk juga ada beberapa dari mereka yang memberi sumbangan. Tapi tetap saja, biaya medis yang dibutuhkan masih jauh lebih besar.
    Meylo tahu, para dokter telah ‘angkat tangan’. Penyakit Renita yang amat parah mungkin sudah tak bisa diapa-apakan lagi. Sedangkan tagihan rumah sakit terus membengkak. Tapi biarlah waktu terus berjalan. Aku tetap akan berjuang untuk mamaku. Berapapun biayanya akan kucari. Pokoknya Mama harus mendapat perawatan terbaik. Tiba-tiba ia teringat, Celenganku….Ya, aku kan masih punya uang di bank. Semangatnya telah kembali.
    Namun Renita malah makin sering tertidur, tak sadarkan diri. Sejak mengucapkan pesan terakhirnya, Renita tak pernah bangun lagi. Namun ia masih bernapas. Suatu pagi Meylo menemukan ibunya tak bernapas lagi. Kemudian dokter memastikan bahwa Renita sudah benar-benar ‘tiada’. Celengan Meylo tak mampu menyelamatkan nyawa ibunya. “Mamaaaaa……!” Meylo berteriak histeris. “Jangan tinggalkan Meylo, Ma. Kalau Mama pergi nanti Meylo sama siapa? Katanya Mama mau keliling dunia bersama Meylo?!” Tapi Renita telah ‘pergi’ dengan rasa bahagia. Bahagia karena memiliki anak yang sangat mencintainya. Kebahagiaan yang tak dapat ditukar dengan apapun.
    *
    Setahun setelah ‘kepergian’ Renita, Meylo menikah dengan Icha walau belum lulus kuliah. Ayahnya Icha yang membiayai pernikahan itu. Hanya sebuah pernikahan sederhana dengan biaya seadanya, namun terasa indah. Ia percaya kalau Meylo dapat membahagiakan putrinya.
    Sejak menikah Meylo mengajak Icha untuk tinggal di rumah yang selama ini ditempatinya bersama Renita. Meylo tetap melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri dari sisa uang yang masih ada di tabungannya. Ia ingin mewujudkan keinginan terakhir ibunya, yakni menjadi seorang Sarjana dan sukses. Demi menafkahi istrinya, Meylo berjualan ikan bakar dengan warung tenda. Warung tersebut buka mulai sore hingga jam 12 malam, sebab dari pagi hingga siang Meylo harus kuliah. Sedangkan waktu libur pada hari Minggu ia manfaatkan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah.
    Sepuluh tahun sejak kepergian Renita telah berlalu. Kini Armayllo Bima Sakti bukan lagi pemilik warung tenda biasa. Ia sudah menjadi bos dari beberapa restoran yang tersebar di seluruh Nusantara. Ma, sekarang aku sudah sukses. Terima kasih karena telah mengajariku menabung. Semoga Mama bisa melihatku dari ‘atas’ sana dan bahagia…. Album foto itu perlahan ditutup dan disimpan bersama barang-barang berharga lainnya..
    Meylo menyambut hari baru dengan hati yang bersih dan bergembira. Telah lama ia melupakan kemarahan terhadap ayahnya meskipun hingga detik itu sang Ayah belum pernah menemuinya untuk minta maaf. Namun seperti yang juga dipesankan oleh Renita sebelum ‘pergi’, Meylo telah memaafkan ayahnya.