02.09.2010
by Homosapiens
Category Serba - Serbi
No Comments →
17:02
Aku duduk terdiam di depan sebuah makhluk tak bernyawa bernama laptop, aku terhenyak ketika perutku mulai menunjukan kehebatanya dalam mengeluarkan bunyi-bunyian. Sesaat mendung datang, aku masih terdiam menunggu jam ini lebih cepat bergerak. Aku sadar hari ini aku telah sedang menjadi hamba tuhan yang taat.
Hujan turun di saat mata ini mulai ingin tertutup rapat, aku lelah karena tidurku. Dinding kamarku mulai panas mengeluarkan asap, mungkin ia lelah selalu terkena sinar matahari dan terguyur lebatnya air hujan. Aku termenung, melihat ibuku membuatkanku secangkir teh hangat dengan uapnya yang masih mengepul.
Dalam hati aku bertanya, ” apakah arti dari semua usahaku ini, aku lapar dan juga haus, lalu apa yang aku dapat?”
Aku mengerti perasaan otakku sendiri, ia yang menggerakanku untuk bertanya atas apa yang aku lakukan. Aku renungkan lagi isi pikiranku tadi, aku belum menemukan jawaban ini, tapi aku mau menemukanya !!
Aku bukanlah orang yang sepenuhnya taat, tapi aku mulai menemukan arti dari apa yang telah aku lakukan selama ini..
Ramadhan membukakan cara kerja otakku, akan sebuah perjuangan menuju satu kemuliaan yang paling berarti..
Ramadhan membuatku paham akan cara mereka mengais rezeki dengan susahnya…
dan ramadhan, mengajarkanku bagaimana cara untuk memperlakukan nafsuku dengan semestinya…
Untuk bulan yang penuh dengan perjuangan dan pengharapan….
02.09.2010
by Homosapiens
Category Serba - Serbi
68 Comments →
Siang ini aku terduduk termenung di balik tumpukan semen yang telah terbentuk sempurna…
Aku terdiam berfikir pada suatu saat dimana aku bisa mengendarai “mobil sport” berwarana kemerahan dengan sorot lampu tajam buatan luar negri. Aku tak tau bagaimana rupaku ketika aku masuk ke dalamnya dengan harapan akan melaju dia atas kecepatan tinggi.
sesaat aku terhenyak, terbangun dalam kisah yang sebenarnya sangat ingin aku alami, Aku berfikir….
Dua belas tahun ini aku hanya membuang waktuku dengan waktu kosong pemberian zat maha kuasa yang harusnya aku manfaatkan. Aku tidak pernah berfikir bagaimana diriku merusak diriku sendiri dengan berjuta perilaku tak “manusiawi”. Semua ini tergambar seakan aku menyaksikanya dalam sebuah layar besar berisikan semua film tentang diriku sebagai pemeran utamanya.
Aku berdiri menatap diriku sendiri dan berkata, “Aku telah berhasil mencapai suatu kehidupan baru dalam ruang imajinasiku…”
Aku menatap diriku sendiri dan masih berkata, “Apa aku bisa ? lalu harus bagaimana aku?”
Aku menjalani hari-hariku bersama anak-anak seusiaku dan aku menemukan banyak rahasia dalam diri mereka yang belum pernah aku temui sebelumnya. Aku terdiam terangguk kaku dalam setiap pertanyaan yang mereka lontarkan. aku hanya mengangguk ketika mereka menceritakanku akan hidup yang pernah mereka alami.
Dari saat itulah aku mulai mengumpulkan kembali imajinasiku yang hilang karena diriku sendiri. Aku mulai menemukan arti hidup di saat aku mulai kehilangan semangat untuk memulainya. Semuanya datang begitu saja, tak bicara juga tak diam. Aku mulai mengerti diriku sendiri dan bagaimana cara memperlakukan diriku sendiri. Aku sadar kesempatan ini adalah “Gift” yang diberikan oleh tuhan untukku, untuk memulai hidup baruku dengan semua mimpi-mimpiku yang pernah aku kubur di atas ego dan pola pikir rendahku.