GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Author Detail

Registered Since: 2008-08-12 16:47:05

Posts by Irwan:

    abangku yang dulu

    Suaranya yang gemuruh menggelegar

    Terdengar dari kamarku sempit

    Saat kapal besar itu mulai merapat,

    Dan jangkar diturunkan

     

    Riuh sambutan meriah terdengar semarak

    Pintunya terbuka dan jalan menuju dermaga didekatkan

    Dimulai dari wajah penumpang kelas 1 yang bersih

    Hingga penumpang kelas kandang yang kumal

     

    Disetiap sudut dermaga

    Berdiri para kuli panggul

    Satu diantaranya ialah abangku sendiri

    Ia berdiri menawarkan kekuatan bahunya yang selama ini

    Menafkahi keluarga kami

     

    Aku hanya bisa melihatnya dari sini

    Berdiri mematung dari jendela rumah kami

    Yang nyaris tak ada bedanya dengan bedeng

     

    Dilain tempat, sebuah roda berputar oleh tubuh yang keras

    Keras karena sering menarik gerobak kaki lima yang padat

    Ditengah terik panasnya matahari

    Tanpa alas kaki yang bahkan tak merasakan panasnya aspal disiang hari

    Karena telapak kakinya telah menebal keras

     

    Matanya miris bersama ribuan titik peluh yang keluar ditubuhnya

    Hampir setiap hari ia begitu.

    Menjajakan barang dagangannya dibeberapa sekolah dasar

     

    Dia juga abangku….mereka berdua abangku,

    Yang selalu melarang aku bekerja keras karena penyakit yang aku derita

    Yang selalu menyuruhku belajar agar kelak aku tidak bernasih sama seperti mereka

    Yang selalu senang melihatku senang meski mereka buta huruf

    Hingga maut memisahkan kami bertiga….dan kinipun aku tidak tahu

    Dimana pusara keduanya semenjak peristiwa Tj.Priuk 1984

     

     

    abangku dulu…

    Suaranya yang gemuruh menggelegar

    Terdengar dari kamarku sempit

    Saat kapal besar itu mulai merapat,

    Dan jangkar diturunkan

     

    Riuh sambutan meriah terdengar semarak

    Pintunya terbuka dan jalan menuju dermaga didekatkan

    Dimulai dari wajah penumpang kelas 1 yang bersih

    Hingga penumpang kelas kandang yang kumal

     

    Disetiap sudut dermaga

    Berdiri para kuli panggul

    Satu diantaranya ialah abangku sendiri

    Ia berdiri menawarkan kekuatan bahunya yang selama ini

    Menafkahi keluarga kami

     

    Aku hanya bisa melihatnya dari sini

    Berdiri mematung dari jendela rumah kami

    Yang nyaris tak ada bedanya dengan bedeng

     

    Dilain tempat, sebuah roda berputar oleh tubuh yang keras

    Keras karena sering menarik gerobak kaki lima yang padat

    Ditengah terik panasnya matahari

    Tanpa alas kaki yang bahkan tak merasakan panasnya aspal disiang hari

    Karena telapak kakinya telah menebal keras

     

    Matanya miris bersama ribuan titik peluh yang keluar ditubuhnya

    Hampir setiap hari ia begitu.

    Menjajakan barang dagangannya dibeberapa sekolah dasar

     

    Dia juga abangku….mereka berdua abangku,

    Yang selalu melarang aku bekerja keras karena penyakit yang aku derita

    Yang selalu menyuruhku belajar agar kelak aku tidak bernasih sama seperti mereka

    Yang selalu senang melihatku senang meski mereka buta huruf

    Hingga maut memisahkan kami bertiga….dan kinipun aku tidak tahu

    Dimana pusara keduanya semenjak peristiwa Tj.Priuk 1984