GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Author Detail

Registered Since: 2008-08-12 16:47:05

Posts by Irwan:

    script ( part 2 )

    Bab 2

     

    Dimatanya, Erwin lebih dari sosok lelaki yang begitu baik dan apa adanya. Keberadaannya dikampung Acah selama ini ternyata tidak sia – sia. Erwin mampu mencuri simpati para warga karena kepekaan sosialnya yang tinggi. Dengan berbekal kepiawaiannya memperbaiki mesin pompa air dan pijitannya yang mujarab, tidak jarang ia dipanggil kesana kesini oleh warga yang membutuhkan keahliannya. Meski ia tidak memasang tarif sedikitpun, warga tetap memberinya tips sekedar untuk jajan atau memberinya makanan. 

    Entah kenapa, sejak dua hari yang lalu Anti selalu memimpikannya. Diusapnya naskah perdana Blind team dengan telapak tangan kanannya. Detak jantungnya makin berdebar kencang saat mulai membuka halaman pertama. 

    Sesaat sosot matanya miris tertuju kearah jendela kamarnya yang tertutupi hordeng berwarna pink. Anti menarik nafas panjang untuk memberanikan dirinya membaca naskah itu. Batinnya mengatakan ‘pasti Erwin menuliskan sebuah kalimat yang selama ini ia tunggu’.

     

    # 1

    Kami akan  berusaha menelusuri kota kecil yang memang jarang terjamah oleh para pengamat lingkungan. Tapi saya seperti baru pertama kalinya merasa dihargai orang selama tinggal dikota kecil itu.

    Disini. Masyarakatnya sangat menghormati pendatang . Dan bukan hanya terhadap saya saja. tapi semuanya. Saya tidak pernah merasa seakrab dan sedekat ini dengan orang lain. Padahal sebelum saya memutuskan untuk keJakarta, banyak rumor yang bilang “ orang – orang kota cuek – cuek, beda dengan orang desa yang perduli dan saling kenal satu sama lain”.

    Dalam bab pertama ini. Kami akan mempresentasikan sebuah wilayah. Yang mungkin banyak orang bilang kalau wilayah ini kumuh, tapi ini hanya sebuah kota kecil, namanya Kampung ‘Seman’.  Saat memasuki Kampung ini. Kita akan bertemu dengan seorang tukang becak yang berperawakan tinggi dan berkulit hitam, warga Seman biasa menyapanya dengan sebutan bang Boim. Dia penghuni asli Seman. Biasanya setiap ada pendatang yang ingin menyewa kamar kost, selalu dia yang memberitahu, bahkan tidak jarang juga dia mengantar tanpa upah sepeserpun. Akupun dulu begitu, dulu waktu pertama kali tiba dikampung ini, orang pertama yang kukenal adalah dia. Dia biasa mangkal didepan pintu masuk. Meski terkadang suka berpindah – pindah tempat.

    Begitu kita melewati pintu masuk, mau tidak mau kita harus melihat sebuah area perbelanjaan milik seorang warga yang biasa disapa ‘bu bengkel’, dia disapa seperti itu karena suaminya punya sebuah bengkel motor yang ada dibelakang rumahnya. Tapi dia tidak berprofesi sama seperti suaminya sebagai tukang servis motor. Dia menjual sayur – sayuran disekitar area itu. hampir semua jenis sayuran. Tidak hanya itu, daging, ikan, telur juga ada diarea itu. Dan hampir mayoritas warga kampung Seman biasa berbelanja disitu setiap harinya.

    Area itu lumayan panjang sekitar 10 meter. Panjangnya membentang hingga berdekatan dengan tiang listrik bercat hitam.

    Setelah melewati area itu. kita akan melihat sederetan kontrakan panjang milik pak Haji Usman. Dia termasuk orang terkaya dikampung Seman. Tidak hanya pemilik kontrakan saja, dia juga terkenal sebagai juragan angkot. Kedua anaknya sudah sarjana dan sudah berumah tangga. Kini hanya pak Haji Usman dan istrinya saja yang tinggal dikampung Seman. Terkadang, saya sendiri sering dipanggil kerumahnya jika ia sakit, karena saya ahli memijit. Sesekali pak Haji mengajak saya makan dirumahnya, istrinya juga baik kepada saya. Saya seperti sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Dua hari yang lalu, aku disuruh mengecat seluruh tembok rumahnya sekaligus memperbaiki mesin pompa airnya yang bermasalah. Tapi saya tidak pernah mengharapkan imbalan barang sepeserpun karena dia sudah saya anggap seperti orang tua sendiri.  

    Setiap pagi saat saya berangkat kuliah melewati rumahnya. Saya pasti dipaksa sarapan dulu sama pak Haji. Malah terkadang setelah sarapan dia suka menaruh ongkos dikantung kemeja saya.  Bagi saya, dia merupakan sosok seorang ayah, sikapnya yang tidak sombong dan selalu murah senyum kepada siapapun sepertinya patut diteladani. Dia juga tekenal sebagai salah satu sesepuh dikampung Seman.

    Masih disekitar kampung Seman. Ada lapangan luas membentang yang berada kurang lebih 15 meter dari rumah pah Haji Usman. Setiap tahun menjelang 17 Agustus’an lapangan ini selalu ramai dipenuhi warga, baik yang tidak maupun yang mengikuti lomba. Biasanya, seminggu sebelumnya saya selalu ditunjuk oleh pak Kardi, ketua Rt 04, untuk mengecat setiap gapura agar terlihat baru sekaligus mengganti tahunnya. Saya juga sering ditunjuk untuk menjadi panitia lomba setiap tahunnya.

    Saya mengekost disalah satu rumah warga. Namanya ibu Indah. Janda beranak satu yang mulai membuka usaha kost sejak tahun tujuh tahun lalu. Letaknya didekat Balai Rakyat tempat saya dan teman – teman rapat, karena saya juga terlibat dalam organisasi karang taruna disekitar Rt 04.

    Kamar kost saya ada didalam rumahnya. Saya ialah satu dari 9 penyewa kamar kostnya. Beberapa peraturan tertera saat mulai menginjak lantai 2 rumahnya. Bla bla bla..diantaranya ialah dilarang pulang lewat dari jam 10 malam. Kamar kost yang ia sewakan khusus untuk laki – laki saja. Padahal dia punya anak perempuan.

    Anaknya bernama Santi. Mahasiswa semester 2 yang bekerja sebagai penjual pakaian  anak – anak disekitar kampung Seman.

     

    Seketika Anti berhenti membaca, pikirannya menerawang mengingat – ingat ucapan yang pernah terlontar dari mulut Erwin. Disela – sela itu konsentrasinya buyar begitu mendengar suara ibunya yang menggelegar dari arah tangga. Anti menutup naskah itu. Ia menoleh kearah pintu kamar sambil mengernyitkan dahinya. Suara ibunya yang keras namun agak terdengar samar seakan menusuk – nusuk telinganya. Anti meletakan naskah itu diatas kasurnya lalu bergegas meletakkan telinganya dipintu kamar.

                “Nggak bisa ibu maunya kontan!”

                “kamu ini makin lama makin banyak alesan aja!”

                “kamu pikir dengan mendekati anak saya itu lantas kamu bisa bayar setengahnya aja? begitu!!,” suaranya terdengar membentak sejadi – jadinya.

                “bukannya begitu bu…saya minta kebijaksanaan sekali ini aja deh bu, ini yang terakhir,”

                “nggak!!”

                “bulan depan pasti saya…”

                “pokoknya nggak bisa!!”  bu Indah memutuskan pembicaraan Erwin. 

                “kalo sekarang kamu tetep mao bayar segitu ya silahkan, tapi setelah itu silahkan cari tempat lain!!…” ketusnya jutek.

    Anti tercengang. Tak sedikitpun kebahagiaan yang nampak diwajahnya hingga matanya berkaca – kaca dan bibirnya bergemetar. Keringat mulai keluar membasahi keningnya. Anti tak akan membiarkan kebahagiaannya terhempas oleh ucapan yang baru saja keluar dari mulut ibunya. Malam ini ia pasti gak bisa tidur. 

     

                                                                            ****

     

    Dibalik mimpi buruk yang semalam singgah dikegepalan malam. Erwin malah berniat ingin mewujudkan mimpi buruk itu, ia memutuskan untuk pergi daripada                     terus – terusan ditagih sama ibu kostnya. Saat sinar matahari pagi menembus masuk kekamar kost nomor 5. Erwin tengah sibuk mengemas perlengkapannya.                                                tok       tok            tok   Anti mengetuk pintu kamarnya yang setengah terbuka.                  

                “Anti boleh masuk gak?” tanyanya lembut.

    Erwin tersenyum paksa saat menoleh kearahnya.

                “boleh,”

    Perlahan Anti bergerak masuk. Erwin masih saja mengemas barang – barangnya. Anti meneguk ludahnya sendiri.

                “Anti boleh duduk gak?” ucapnya lirih.

                “silahkan aja,” respon Erwin tanpa menoleh kearah Anti.

    Mereka berjeda sesaat. Anti seperti berat untuk berucap.

                “semalem Anti udah denger kok,” ucapnya saat duduk dikasurnya Erwin.

    Erwin masih saja mengemas, tanpa berucap sedikitpun.

                “kok Mas Erwin diem aja sih? marah yach ama Anti?”

                “nggak…nggak kok An…”

    Anti mulai menampakkan kesedihannya. Matanya mulai berkaca – kaca menatap Erwin.

                “Mas mau kemana sekarang?” tanyanya lirih.

                “nggak tau deh,” jawabnya agak malas.

    Anti terus menatap Erwin seperti itu.

                “ini semua emang salah aku An, udah dua bulan aku nggak bayar kost, sebenernya aku udah berusaha, tapi…” tuturnya lembut sambil memasukkan pakaiannya kedalam tas ransel.

    Anti menunduk lemas, ia sama sekali tidak menduga kalau akhirnya Erwin memutuskan untuk meninggalkan kamar kost yang selama lima tahun ini bersamanya. Ia takut kehilangan Erwin. Air matanya sudah tak terbendung lagi hingga ia harus mengusapnya beberapa kali. Telapak tangannya mulai menutup bibirnya yang bergemetar. Dadanya sesak, Isak tangisnya seakan menepuk pundak Erwin. Erwin menoleh kebelakang, ia terpana melihat Anti menangis.

    Erwin mengabaikan pakaiannya lalu duduk disebelahnya.

                “kok nangis?” tanyanya seraya menatapnya pasrah.

                “mas Erwin sih mau pergi, Anti maunya mas disini aja,” paparnya manja sambil menangis.

    Benak Erwin tersentak mendengar ucapan itu. Erwin mengusap rambutnya yang lurus dan berkilau hingga seleher. Anti menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

                “Aku nggak bakalan pergi jauh dari sini kok,” gumam Erwin.

                “nggak mau, anti maunya Mas tetap ngekost disini,” Anti makin menangis manja.

                “Tapi sekarang Mas lagi nggak punya duit buat bayar kost,”

    Perlahan Anti mulai memperlihatkan wajahnya yang semula tertutupi kedua telapak tangannya, lalu menoleh kearah Erwin meski matanya masih memerah.

                “pake duit Anti aja dulu, gimana? mau gak?”

    Erwin berjeda sesaat menimbang – nimbang ucapan itu.

                “emangnya kamu punya duit?”

                “punya, pokoknya cukup deh buat nutupin utang Mas sama Mama,”

                “aku nunggak dua bulan..”

                “Anti punya kok duit sebanyak itu,” putus Anti.

    Erwin masih menimbang – nimbang hingga lambat laun iapun tersenyum, sekilas nampak beban diwajahnya mulai berkurang. Antipun tak bisa menyembunyikan kebahagiaanya melihat Erwin tersenyum pasrah seperti itu. Lambat laun pula Iapun tersenyum simpul meski air matanya belum kering.

                “kamu baik banget An, tapii nggak usahlah, biar aku pinjem sama teman aku aja,”

                “lho? kok? kenapa nggak pake duit Anti aja sih?” 

                “udahlah nggak usah, kamu kan selama ini baik banget sama aku,”

                “justru itu karena Anti nggak mau kehilangan Mas Erwin,” tandasnya cukup keras namun sedikit serak.

                “Ssst, jangan keras – keras…ntar kalo ada yang denger gimana? hehehe,”

    Erwin tertawa begitu juga Anti, mereka terlihat sangat bahagia. Anti mengusap air matanya sendiri sambil tertawa. Anti bagai bocah berumur lima tahun yang mudah tertawa saat menangis.

                “biarin aja,” responnya sambil tersenyum meski kelopak matanya masih memerah bekas tangisan tadi.   

                “kalo mamamu denger?”

                “biarin aaaja,”

    Erwin mengusap kembali rambutnya Anti. Anti terdiam menunggu keputusan dari Erwin. Keputusan yang sangat ia inginkan.

    Erwin menarik nafas sedalam mungkin. Ia kembali menimbang – nimbang sambil mencubit – cubit pipinya sendiri. 

                “ya udah deh, kalo gitu aku pinjem duit sama kamu sebanyak enam ratus ribu..paling lambat bulan depan aku ganti,” gumamnya.

    Anti tersenyum lebar. Ia sangat menerima keputusan itu. Tapi kali ini, ia mulai memberanikan diri menanyakan sesuatu yang jarang terdengar ditelinga Erwin.

                “mmm…mas Erwin..” sapanya hangat.

                “apa?”

    Anti menunduk lalu tersenyum malu, tentu hal itu membuat Erwin penasaran.

                “lho? kenapa mba Anti?….” ucapnya tidak kalah hangatnya.

                “mas Erwin….udah punya pacar belom sih?,” tanyanya perlahan tanpa berani menatap Erwin saat itu. Akhirnya pertanyaan itu terlontar juga.

                “kamu pasti belum baca naskah itu ya?”

                “baru bab pertama,”

                “tapi belum selesai kan?”

    Anti mengangguk.

                “emangnya kenapa?” sekarang Anti yang penasaran.

                “kalo kamu udah selesai baca bab pertama, kamu pasti nggak bakal tanya begitu, sumpah aku menulis naskah itu dari lubuk hatiku yang paling dalam,”

    Anti langsung shock mendengar ucapan itu. hatinya mulai berceloteh                     Jangan – jangan dia udah punya pacar ’. Seketika wajahnya pucat dan berkeringat. Tapi ia mencoba bersikap biasa meski hatinya begitu cemas dengan apa yang ia belum ketahui.

                “aku minta kamu baca sampai selesai,” perintah Erwin cepat.

    Erwin memang sengaja ingin membuat Anti penasaran. Anti kembali mengangguk.

                “eeee….” Anti kebingungan harus berkata apa.

    Anti menatap wajah Erwin dengan nafas terengah – engah. Perlahan bola matanya turun menatap bibir Erwin yang tipis. Ia menggigit bibirnya sendiri. Ingin sekali ia mengecup bibir yang tipis itu. Tapi ia menunggu Erwin yang memulai duluan.

    Sesaat Erwin memeletkan lidahnya. Ternyata Erwin sama sekali tidak mau berbuat yang macam – macam terhadap Anti. Meski Anti tidak akan menolak jika ia mengingingkannya.

                “mama kamu ada dibawah?”

    Anti menggelengkan kepalanya sambil menjilati bibirnya sendiri.

                “dia lagi ikut arisan dirumah temennya,”

                “ooo,”

                “emangnya kenapa?”

                “nggak…”

                “apaa…mama kamu tahu?”

                “tahu apa?”

                “kalo selama kita ini deket? pasti tahu yach,” Erwin sengaja menanyakan hal itu meski ia sudah tahu jawabannya.

    Tiba – tiba Anti tertawa sambil menutup bibirnya.

                “emangnya kenapa kalo tahu?”

                “jawab dulu dong,”

                “ya dia tahu,”

    Erwin menarik nafas sedalam mungkin. 

                “dia pasti nggak setuju kalo seandainya kita pacaran,”

    Anti terpana menatap Erwin. Baru kali ini Erwin berucap begitu dihadapannya.  

                “masa sih? biarin aja…” Anti mengernyitkan dahinya menatap Erwin serius dengan wajah sumringah.

                “apa kata orang nanti…”

                “biarin aja orang mao ngomong apa kek, Anti nggak perduli,” ucapnya manja.

                “tapi itu seandainya lho,”

    Anti kembali meneguk ludahnya sendiri. Seketika darah didalam tubuh Erwin naik – turun.  Kini giliran Anti yang menarik nafas sedalam mungkin.

                “ya udah, mmm, Anti ambil dulu duitnya yach,”

                “oh iya, jangan semuanya deh, setengahnya aja, aku bisa jual hand phone  besok,”

    Anti kembali mengernyitkan dahinya.

                “kenapa musti jual hand phone?”

                “aku nggak mau terlalu ngeberatin kamu sayang, eh salah, An,”

    Anti menatapnya pasrah. Erwin mulai beraksi salah salah ucap.

                “setengahnya aja,” ucap Erwin serius.

                “ya udah,”

    Anti bergegas keluar dari kamar kost Erwin melewati pintunya yang tak tertutup.

    Erwin tersenyum sendirian menatap keluar pintu saat Anti hilang dari pandangannya.

                “Santi Latifah….mmmm boleh juga hehehe,” gumamnya bicara sendirian.

    Sementara Anti sempat berhenti saat berlalu dari pintu kamar nomor 5 yang setengah terbuka.

                “dasar Erwin jelek…” ucapnya dalam hati kemudian lari tergopoh – gopoh menuju kamarnya.

    Hanya dalam beberapa menit saja, mimpi buruk yang semalam menghantui Anti terhapus, ternyata itu memang hanya mimpi…dan tidak akan pernah teringat lagi.

     

                                                                            ****

     

    script (cerber)

    “ Script “

     

    Hari ini tanggal 3 Februari.  Gerimis mulai turun sejak dua jam yang lalu, rintik - rintiknya terdengar samar menggelitik dari luar rumahnya yang kini berdiri kokoh. Setiap tetesannya menyiratkan makna mendalam tentang arti kalimat ‘ kecil jadi teman, besar jadi lawan,’. Saat ini, dara berusia 25 tahun itu tengah menggoreskan tinta hitam pekat dilembaran buku hariannya. Karena ia mulai mengerti mengapa ada air didunia ini.

    Air ibarat makhluk yang lembut tapi kuat. Ia mampu melubangi batu yang besar nan keras hanya karena tetesannya yang terus – menerus menetes tanpa henti.

    Air ibarat sinyal yang menandakan perasaan seseorang. Keluar dari pelupuk mata, menetes dan mengalir membasahi pipi.

    Air penanda kehidupan. Dia fleksibel, berada dimanapun. Bahkan ia mampu menguatkan. Menyatukan dua elemen material pasir dan semen menjadi dinding yang keras.

    Dia mampu meresap dan mengalir…tapi jika ada yang menghalangi arah kemana ia harus mengalir, menutup celah dimana ia harus meresap…maka iapun akan berubah menjadi garang. 

     

    Dulu. Tapi belum terlalu lama. Empat tahun yang lalu. Aku pernah melihat wajah seorang pria yang tegar bercampur pasrah menghadapi kenyataan….lalu, dia menghilang tanpa kabar…entah kemana ia pergi, entah dimana ia sekarang, entah apakah ia sudah tiada….hingga detik inipun, aku tidak tahu jawabannya.

    Dulu. Ia pernah menulis didalam naskahnya. Bagaimana ia mengagumi tempat dimana kami tinggal. Kampung Acah, nama itu sudah tiada lagi. Dulu, kami pernah sepakat untuk menamainya dengan sebutan‘ Jasminia’.

    Dan kini, nama itu sudah terkubur. Kampung Acah kini sudah rata. Ditelan bumi dan akan tertindih untuk selamanya oleh bangunan besar yang dijadikan pusat perbelanjaan.  

    Empat tahun lalu, itu belum terlalu lama. Dia hadir untuk mewarnai lembaran hidupku meski hanya sementara.

    Erwin Muntoha………

    Gadispun itu menerawang mengingat – ingat. Menghela nafas panjang. Mencoba membuka semua kenangan yang berkaitan dengan nama itu.

     

     

                                                                ****

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Bab 1

     

    Kampung Acah termasuk berada didataran paling rendah dikota Jakarta.  Terdiri dari 6 RT dan 1 RW, masing – masing wilayah RT ditandai dengan berdirinya sebuah gapura setinggi 5 meter.

    Ada dua jalan untuk memasuki kampung ini. Pertama, lewat belakang. Tapi harus melewati jalan yang berada diantara dua sawah. Jalan itu hanya bisa dilewati oleh pengendara sepeda motor karena terlalu sempit, selain itu jalanannya agak retak meskipun beraspal. Kendaraan roda empat tidak bisa lewat jalan ini. Jalan inilah yang menghubungkan antara kampung Acah dengan kampung yang ada dibelakangnya.

    Yang kedua, lewat depan. Sebelum kita masuk mau tidak mau kita harus melewati gapura besar bertuliskan Jl. Serambi I, itu tandanya dibalik gapura itu adalah wilayah sekitar Jl. Serambi I. Gapura ini lebarnya sekitar 4 meter, kendaraan roda empat memang bisa masuk tapi harus hati – hati karena banyak sekali anak – anak kecil yang bermain disekitar jalan ini. Jalannya agak menurun dan bila bertemu pas – pasan dengan kendaraan lain, maka harus ada yang mengalah, karena lebar jalannya hanya cukup untuk satu jalur saja.

    Hampir disetiap gapura selalu ada pangkalan becak atau ojek. Dan bila ada pendatang dari luar Jakarta yang hendak ngekost. Dikampung ini juga banyak sekali rumah yang menyewakan kamar kost. Salah satunya ialah yang ada di Jl. Serambi IV. Disitu ada rumah yang menyewakan kamar kost. Pemiliknya biasa disapa bu Indah, janda beranak satu yang menyewakan kamar kost sejak 7 tahun lalu.

    Dan ada salah satu pengekostnya yang sedang kami incar. Namanya Erwin. Dia salah satu penyewa kamar kost yang wajah dan namanya sudah tidak asing lagi dikampung Acah. Hampir seluruh warga disekitar kampung Acah mengenalnya. Erwin memang sudah dianggap orang kampung Acah sejak dirinya terlibat dalam organisasi karang taruna disekitar wilayah RT 04.

    Seluruh warga yang tinggal disekitar RT.04 mulai dari orang tua, anak muda sampai anak – anak dibawah umurpun mengenalnya.

    Rumahnya ibu Indah memang agak luas. Berlantai dua. Kamar kostnya berada didalam rumahnya. Dilantai dua. Berjejer 9 kamar kost, dan kamar mandi berada di paling pojok dekat kamar nomor 9.  Erwin penghuni nomor 5, tapi kali ini, dari sembilan pengekostnya hanya tersisa dua, Erwin dan tetangganya yang bernama Harry atau yang biasa disapa mas Harry. Alasannya kenapa tujuh pengekost itu hengkang hanya satu. Mereka takut banjir. Karena tepatnya lima tahun lalu, kampung Acah kebanjiran sampai selutut.

    Tahun ini. Proyek perbaikan pintu air yang berada beberapa kilometer dari kampung Acah akan selesai dibangun. Hari peresmiannya hanya tinggal menunggu beberapa hari saja.

    Berita itu disebarkan diberbagai media cetak dan electronic. Dan kini, lelaki berusia 25 tahun yang bernama Reza tengah sedang membaca berita itu dikoran yang baru saja ia beli didalam Bus.

                “Fachri kok masih belum muncul juga ya….” Lelaki itu gelisah melihat – lihat sekeliling taman Mawar, sesaat  ia membaca Judul artikel Koran yang dibaca Rizal.

                “Win, ini pintu airnya kan nggak terlalu jauh dari tempat kos elu kan?” tanya Reza sambil membaca.

                “ya..”    

    Erwin melihat jam yang melingkar ditangannya dengan wajah cemas.

                “dia dateng gak sih hari ini?” 

                “dateng, gua yakin dateng,” respon Rizal meyakinkan seraya membaca koran.

    Selang beberapa menit kemudian, orang yang mereka tunggupun muncul, namanya Fachri.

                “nah itu dia…”

    Fachri muncul dari depan taman dengan penampilan ala Asianya, dia berjalan tegak menghampiri Reza dan Erwin yang duduk dikursi Taman Mawar.

                “sori..sori bangeet….”  tukas Fachri saat mendekati kedua rekannya dengan nafas sedikit terengah – engah.

    Fachri duduk dikursi panjang itu dengan wajah lelah lalu menghela nafas panjang.

                “nih, huh..akhirnya selesai juga, udah setahun loh kita bikin novel ini,”  Fachri memberikan sebuah naskah kepada Reza dan Erwin.

                “udah 11 kali revisi…semuanya sampai 110 halaman, fontnya comic sans, spasinya 1.5…”  ucap Fachri tegas.

                “hmm, kapan kita kirim ini naskah?” tanya Erwin kepada Reza dan Fachri sambil memegang naskah itu. Erwin menatap wajah kedua rekannya itu secara bergantian.

                “gua sih terserah lu aja, lu kan leadernya,” jawab Reza.

                “saran gua sih jangan buru – buru,”

                “lu udah ngubungin penerbitnya?” tanyanya serius kearah Fachri.

                “udah, dia bilang batas akhir keputusannya tiga bulan setelah naskahnya terkirim,”

                “elu Ja? udah ngubungin yang laen?”

                “udah, beda sebulan sama yang dihubungin Fachri, empat bulan,” Reza mengangkat keempat jemarinya.

                “gimana kalo kita kirim keredaksi majalah?”

                “redaksi majalah? maksud lu jadi cerita bersambung?” Fachri sedikit mengernyitkan dahinya.

    Erwin mengangguk. Fachri menampakkan wajah keberatannya. Reza hanya tersenyum.

                “ya terserah elu aja deh,”

    Erwin menatap Fachri dan Reza serius.

                “kita kirim ketiga – tiganya aja,” saran Reza “dua penerbit satu redaksi majalah,”

                “kita kan udah ngerjain ini novel selama setahun, masa cuma dikirim kesatu tempat aja?,” tambahnya.

                “ya udalah,” respon Fachri mengangkat kedua bahunya.

    Erwin melihat – lihat keadaan sekelilingnya kemudian menoleh kearah langit yang makin mendung.

                “oiya, gua baru inget” tandas Reza menepak dahinya sendiri. “dipenerbit Ben’ dia minta fontnya arial, spasinya satu setengah,”

                “wah, berarti kita musti ngeprint lagi dong,” tukas Fachri.

                “berapa sisa uang kas kita Ja?” tanya Erwin.

    Reza bergegas mengeluarkan dompetnya kemudian memperlihatkan isinya.

                “sisa 25 ribu…”

    Erwin menimbang – nimbang.

                “cukup gak ya?” 

                “udahlah Win satu penerbit aja dulu, ini kan uang kas kita udah                    pas – pasan banget,” 

                “tapi sisa kertas sama tintanya masih ada kan dirumah lu?”

                “ya masih ada sih tapi tintanya tinggal dikit, soalnya gua pake settingan Best bukan Normal,”

                “kenapa musti pake Best?” 

                “gua takut tulisannya nggak jelas, lu tau sendiri printer gua tuh printer jadul,”  jelas Fachri.

    Mereka berjeda beberapa saat. Erwin mengernyitkan dahinya menatap print out cover novel mereka yang dominant berwarna hijau lalu kembali menyerahkannya kepada Fachri.

    Gerimis mulai turun seakan memaksa mereka untuk berpindah tempat sharing,   Fachri menyimpan naskah itu kedalam folder plastic. 

                “ke Mesjid aja yuk, sekalian sholat,” saran Reza.

    Mereka bertiga berjalan cepat menuju masjid. Dan  setibanya dimasjid, gerimis kian berubah menjadi hujan deras.

    Waktu menunjukkan pukul 11.30. Mereka meneduh diteras masjid yang dingin. Hujan semakin deras hingga merekapun semakin mendekati pintu Masjid.

    Beberapa plafon teras Masjid mulai bocor.

    Erwin, Fachri dan Reza hanya bisa pasrah terkena hembusan angin hujan yang membuat wajah mereka basah. Dan mendengar suara hujan yang membanting suara mereka hingga memaksa mereka untuk berbicara keras.

                “kenapa setiap volume air hujan itu sama ya?” kata Fachri.

                “apa?” tanya Reza seraya mengeryitkan dahi dan menutup telinganya.

    Erwin dan Reza memfokuskan pendengaran mereka meski harus mengernyitkan dahi.

                “nggak kedengeran,”

                “kenapa setiap volume air hujan itu sama?!” kata Fachri lebih keras dari sebelumnya.

                “tanya sama yang maha kuasa,” jawab Erwin.

                “itu kebesaran Tuhan Fachri,” tambah Reza.

                “tadi diperjalanan gua lihat banyak jalanan yang udah kena banjir, tapi baru sampe setengah betis,” kata Fachri mengingat – ingat.

                “ya, kayaknya bakalan banjir besar nih,”

                “jangan ngomong gitu dong, elu berdua enak tinggal sama orang tua..” tukas Erwin sedikit memelas.

                “ups, sori Bos,”

    Mereka kembali berjeda beberapa saat menatap hujan yang membuat lantai tempat mereka duduk semakin bertambah dingin dan lembab.

    Reza menatap pasrah rintik hujan sambil menata rambutnya yang panjang hingga sebahu dengan jemari tangannya. 

                “gua liat dikoran tadi pagi, pos siaga banjir udah pada dikerahin disejumlah titik rawan banjir,”  

                “mudah – mudahan aja rumah gua nggak kebanjiran,” 

                “elu gimana Win? apa lu masih setia ngekost disono?”

                “ya…,” jawabnya lemas.

                “berapa sih perbulannya sekarang?”

                “tiga ratus,”

    Wajah Erwin mulai memelas jika membicarakan hal yang berkaitan dengan urusan pribadinya.

                “labtop yang kemaren lu jual laku berapa?” tanya Reza.

                “sejuta,”

    Reza dan Fachri terdiam mendengarnya. Mereka mengerti betul keadaan Erwin yang serba kekurangan.

    Erwin menatap focus kearah satu titik atap Masjid yang bocor.

                “denger pesen gua nih…kalo sampe novel perdana kita ini tembus, jangan  sampe ada yang keluar dari blind team,” tandas Erwin sambil cukup keras.

    Erwin menatap kedua rekannya dengan dahi berkerut.

                “tahu kan maksudnya?”

    Fachri dan Reza mengangguk.

    Hujan makin deras hingga memaksa mereka untuk bicara lebih keras lagi.         

                “oiya, gua lupa mao ngasih tau sesuatu, bad new…” ucap Fachri mengagetkan.

    Spontan Erwin dan Reza langsung menatap Fachri.

                “computer gua kena virus makro…jadi semua file termasuk file novel perdana kita ini kemakan sama virus itu,” 

    Seketika Reza dan Erwin terperanjat mendengar berita itu. Fachri mendesah sebal dengan apa yang baru ia ucapkan, sesaat ia mendecakkan lidahnya.

                “bukannya komputerlu ada anti virusnya?” tanya Reza.

                “iya, tapi udah lama nggak gua update, jadi yaa, begitu deh, tapi dikomputerlu ada kan filenya Ja?”

                “apa lu lupa? computer gua kan lagi rusak,” jawab Reza sambil melotot cemas.

                “oiya, ck….” Respon Fachri dengan senyum lelah.

                “ya, itu baru berita buruk….” Erwin pasrah mendengar semua itu.

    Ketiga pemuda itupun bergeming merenungi bad news yang menimpa mereka.   

    Perlahan Erwin menundukkan kepalanya lalu memijat – mijatnya.

                “woy, bengong aja nih leader,” Fachri sedikit menyentak.

    Erwin menarik nafas sedalam mungkin.

                “mana naskahnya Ri?”

    Fachri membuka folder plastic yang berada didalam tasnya kemudian memberikan naskah itu kepada Erwin.

     

                “gua bawa dulu deh…minggu depan baru kita kirim, ada orang pertama yang mao baca soalnya ,” Erwin mengedipkan matanya beberapa kali kearah Fachri.

    Reza tersenyum kearah Fachri sambil mencuri – curi pandangannya kearah Erwin. Fachri mulai mengerti hingga iapun tersenyum.  Reza tertawa renyah.

    good news, kayaknya Erwin udah punya..ehem ehem,” ledek Fachri.

    Erwin hanya mengangkat kedua alisnya sambil bersiul – siul menatap rintik hujan yang makin deras.

                Cieee, jangan – jangan Santi Latifah bener – bener ada nih,” tukas Reza menerka.

     

                                                                            ****

     

    Blind team terdiri dari Erwin, Reza dan Fachri. Mereka sudah sepakat untuk tetap konsisten membentuk team work novel. Novel perdana mereka sudah selesai dan akan dikirim kepenerbit pada pertengahan bulan Februari tahun ini.

    Setiap hari kamis mereka selalu ketemuan di taman mawar untuk sharing mengenai proyek novel yang sedang mereka buat.

    Erwin sangat yakin kalau novel pertama mereka ini akan laku keras. Ini sudah lima tahun lamanya dia kuliah. Tapi masih belum juga lulus. Karena kuliahnya berantakan akibat tuntutan tugas yang terlalu banyak dan kondisi keuangannya yang selalu pas – pasan.

    Kini hanya satu impiannya yang ia  tunggu – tunggu selama ini, ia ingin novel perdana blind team kelak bakal laris dipasaran melebihi Harry Potter nya J.K. Rowling. Impian mustahil yang memang gila.

    Dia pria kelahiran Bogor 27 tahun silam yang kini tinggal diJakarta. Erwin berperawakan tinggi dan agak kurus. Berkacamata. Dan terkenal suka berbaur dengan masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Bila dilihat sekilas, wajahnya mirip dengan James Barrie. Pengarang cerita “Peter Pan” yang pernah diperankan oleh Johnny Depp dalam film ‘ Finding Neverland ’. 

    Dia benar – benar lagi paceklik. Laptopnya baru saja ia jual demi kebutuhannya                    sehari – hari yang makin meningkat. Kiriman uang dari orangtuanya juga lagi macet. Belakangan ini ia sering termenung didalam kamar kostnya. Bingung harus berbuat apa lagi. Sekalipun ada uang kiriman dari orang tuanya, paling hanya cukup buat bayar kuliah semester ini saja. Belum lagi tuntutan tugas kuliah yang menumpuk. Jaman sekarang ini, jangankan mahasiswa jurusan desain grafis, mahasiswa jurusan seni lukispun membutuhkan computer. Padahal laptop yang baru saja ia jual masih belum lama umurnya. Masih bagus. Tapi daripada dia kelaparan, mending dijual saja. Mengingat saat ini dia masih belum ada pekerjaan. Dan tidak ada seorang sanak familipun yang tinggal diJakarta.

    Memang susah tinggal dikota besar, apalagi bagi perantauan seperti dia. Tapi disela – sela itu semua, anak semata wayang bu Indah menyukainya. Namanya Santi. Sapaannya Anti. Dia juga kuliah, tapi baru semester awal. Dia kuliah dijurusan Akuntansi. Dan letak kampusnya agak berdekatan dengan kampus tempat Erwin kuliah.

    Erwin berusaha masuk kedalam rumah ibu kostnya tanpa suara sedikitpun. Ibu kost yang biasa disapa bu Indah sedang memasak didapur. Tangga menuju kamar kostnya memang berada didekat ruang dapur. Selangkah demi selangkah Erwin melangkahi setiap step tangga itu. Tapi bayangannya seolah tidak bisa diajak kompromi, bu Indah tetap melihatnya.

                “nak Erwin!!” sapanya mengejutkan dari arah dapur.

                “ya…” jawabnya pasrah.

                “ini udah tanggal berapa?”

                “mmm…” Erwin bingung harus cari alasan apa lagi. Wajahnya penuh pikiran.

                “inget ya kamu udah nunggak selama dua bulan sejak bulan Desember,” cetusnya sambil terus memasak tanpa menoleh kebelakang sedikitpun. Bagi Erwin, sapaan itu bagaikan tangan yang menarik kerah bajunya dari belakang untuk kembali turun.

    Erwinpun turun dengan langkah malas menuju pintu dapur yang terbuka.

                “iya bu saya tahu, pokoknya nanti..”

                “nanti nanti kapan?” tandasnya memutus pembicaraan “setiap ditanya pasti jawabannya nanti,”

                “apa selama ini saya masih kurang sabar? sekarang kan biaya apa – apa serba mahal, sudah untung nggak saya naikkan,” cecar bu Indah kemudian mengecap masakannya. ”kalo kamu udah nggak bisa ngekost disini lagi ya silahkan cari tempat yang lain, asal kamu tahu aja ya, disini tuh paling murah,”

    Erwin menghela nafas sedalam – dalamnya, wajahnya penuh lelah. Ia hanya berharap agar ibu kostnya itu tidak berceloteh kelamaan.

                “ibu sengaja kasih kamu keringanan soalnya kamu kan yang paling lama ngekost disini, tapi kalo terus – terusan nunggak!! maap maap aja deh,”

                “saya pasti bayar kok bu,” ucap Erwin mencoba meyakinkan ibu kostnya itu.

                “kapan?!!,”

                “sekalian sama bulan depan deh, pasti…” pintanya lembut.

    Ibu kost menoleh kebelakang menatap Erwin yang memelas. Ia menatap Erwin dari bawah keatas dengan penuh keheranan.

                “pertengahan bulan ini!!” putusnya cepat.

    Erwin terperanjat.

                “awal Maret deh,” pintanya lagi.

                “nggak bisa!!, itu udah paling lambat!!”

    Erwin berpikir sejenak. Mempertimbangkan keputusan yang cepat dan tegas namun masih sangat memberatkannya itu.

                “pokoknya sampe pertengahan bulan ini kalo kamu masih belom bisa melunasi semua biaya kost yang selama dua bulan itu…silahkan cari tempat lain!!” tandas ibu kostnya itu menggelegar hingga anak semata wayangnya yang akrab disapa Anti mendengar dari dalam kamarnya.

    Erwin hanya bergeming pasrah mendengar semua keputusan itu. Lalu kembali melangkah malas menginjak step tangga menuju kamarnya.

    Sepertinya hari ini sama seperti seminggu yang lalu, tidak ada sesuatu yang sangat berkesan, beban pikirannya dipaksa menyeruak hingga memberatkan kakinya untuk melangkah menuju pintu kamar kost.

    Beberapa langkah sebelum tiba dipintu kamar kostnya. Ada lelaki tinggi berbadan tegap berjalan terburu - buru menghampirinya dengan tas ransel yang terlihat penuh dipundaknya.

                “Mas Harry, mao kemana?” Erwin bersalaman erat dengannya.

                “Mao pulang kampung Win,”

                “Sekarang?”

                “Ya iya…”

    Erwin agak heran melihat wajah mas Harry yang sedikit ketakutan.

                “kamu sendiri kenapa nggak pulang?” tanyanya antusias.

                “mmm, kayaknya kalo sekarang nggak mungkin deh, ini aja udah dua bulan nunggak,”

                “kamu udah denger ditv belom? sejumlah tempat dikota ini sudah diprediksikan bakalan kena banjir,” ucapnya serius.

                “bukannya nakut – nakutin lho!, sekarang ini udah masuk ditahun siklus lima tahunan,”

                “makanya mending saya pulang kampung aja deh, kamu tahu sendiri kan disini kalo lagi banjir apa – apa serba susah, apalagi kita perantauan, siapa orang yang mao perduli sama kita kalo bukan kita sendiri? kalo lima tahun yang lalu saja banjir sudah mulai menelan korban jiwa, bagaimana kalo tahun ini?” ucap mas Harry cepat seraya menatap Erwin serius.

    Erwin terpana menatap Mas Harry. Ucapan itu cukup membuatnya sedikit merinding.

                “tapi kita kan nggak tahu apa yang akan terjadi nanti,”

                “yeee, kamu ini kok malah ngeyel, kamu pernah baca koran gak sih? banjir kanal yang dibuat pemerintah 3 tahun lalu sekarang lagi ada masalah, dan sejumlah pintu air diJakarta juga lagi ada masalah, saya yakin pasti bakalan dateng banjir kiriman yang lebih besar dari lima tahun lalu, apalagi disini inikan dataran rendah,”

                “tapi kan proyek pintu air di Plampang udah selesai,”

                “itu bukan jaminan Win…proyek itu masih belum fix,”

                “tapi kan sebentar lagi gubernur bakal meresmikannya,”

                “iya saya tahu, tapi saya masih belum yakin kalau pintu air itu bisa mencegah banjir, setahu saya, pintu air itu fungsinya untuk mengendalikan aliran air,”

                “darimana mas tahu kalau proyek itu masih belum fix?,”

                “dari teman saya yang bekerja disana, dia bilang proyek itu hanya baru sampai 90 persen jadi,”

                “kalo gitu kenapa harus diresmikan bulan ini?”

                “kalo soal itu aku nggak tahu deh,”

    Erwin meneguk ludahnya sendiri mendengar ucapan itu. Mas Harry yang selama ini ia kenal sebagai lelaki yang humoris dan pemberani, kini tiba – tiba berubah menjadi sosok lelaki yang takut dengan kata ‘ banjir ’.

                “kapan balik lagi kesini?” tanya Erwin sedikit bergemetar.

                “wah aku nggak tahu deh,” mas Harry bicara lepas seakan kapok ngekost disitu lagi.

                “ya udah sampai ketemu lagi Win, jaga diri kamu yach,” mas Harry langsung memeluk Erwin kemudian berjalan menuju tangga.

                “kalo udah sampe jangan lupa SMS,”  ucap Erwin sambil menyaksikan kepergian tetangganya itu.

                “beres, Assalamualaikum,” mas Harry mengangkat tangan kanannya mendadahi Erwin sambil berjalan.

                “Waalaikum salam,”

    Erwin merogoh kunci yang ada didalam kantong celananya, ia sempat terdiam merenungi apa yang baru saja ia dengar dari mulutnya mas Harry.

     

    Beberapa saat sebelum pintu kamarnya terbuka. Sesosok gadis berambut lurus hingga seleher dengan poni lurus hingga diatas alisnya berdiri diujung tangga menatap Erwin dengan penuh senyuman dan kekaguman.

                “Mas Erwin..” sapanya hangat.

    Erwin menoleh malas.

                “Hai…” Erwin melihat Anti dengan senyum lelah.

                “kok sekarang pulangnya sorean sih?,” tanyanya agak manja.

    Erwin tersenyum lemas.

                “tadi kan hujan deras, jadi nunggu sampe hujannya brenti dulu,” paparnya perlahan menjelaskan.

    Anti tersenyum simpul. Erwin masih berdiri didepan pintunya dan masih menunggu pertanyaan Anti yang selanjutnya. Karena setiap kali ia pulang, biasanya Anti selalu mengajukan sejumlah pertanyaan sebelum ia masuk kekamar kostnya.

                “Mm, novelnya udah jadi belom?”

                “udah, nih ada didalam tas, aku bawain special  buat kamu…”

    Spontan Anti kegirangan mendengar ucapan itu. Wajahnya berseri – seri penuh harapan.

                “tapi aku mandi dulu ya,”

                “ya udah,” responnya kemudian berlari turun kebawah.

    Begitu Erwin membuka pintunya, Anti kembali naik.

                “Mas Erwin!!…” teriaknya dari ujung tangga.

                “apalagi An?….” tanya Erwin agak lemas.

                “udah makan belom?”

    Perlahan Erwin melirik kelantai bawah.

    “udah…hehehe,” 

                “yee malah ketawa, serius, kalo belom Anti masakin mie,”

                “serius….”

    Mereka saling menatap. Lambat laun Erwin tersenyum, Anti seakan tidak pernah bosan menatap Erwin meski saat itu wajahnya Erwin sedikit berkeringat dan berdebu. Anti mulai malu disenyumi seperti itu, ia langsung bergegas turun dengan wajah memerah.

    Erwin menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak semawa wayang ibu kostnya itu.   

     

                                                                            ****

     

    Selang 20 menit kemudian saat Erwin tiduran dikamarnya seraya menatap         langit – langit kamarnya yang mulai berwarna kecoklatan. Anti kembali hadir, kali ini ia berdiri dibalik pintu kamarnya Erwin. Mengatur nafasnya sebisa mungkin, menenangkan jantungnya yang kian bergetar. Lalu…

                “mas Erwiin,” sapanya Anti dari balik pintu.

    Erwin bergegas berdiri untuk membuka pintu kamarnya. Ia membuka pintunya hingga setengah terbuka. Nampak sosok Anti yang berdiri dibalik pintu memegang piring yang berisi beberapa potong kue lapis legit dengan kedua tangannya.

    Erwin mengangkat kedua alisnya menatap kue itu. Anti menatapnya penuh senyuman dan harapan sambil menggigit bibirnya sendiri.

                “kebetulan tadi Anti ngeliat kue ini dipasar, jadi yaa…karena mas Erwin suka sama kue lapis legit, Anti beliin deh..,” 

    Seketika Erwin tersanjung dalam hati. Anti memang benar – benar tahu karakter, kebiasaan, sampai makanan favorite Erwin. Mereka memang sudah saling kenal sejak pertama kali Erwin ngekost disitu lima tahun silam.

    Erwin langsung menerima piring yang berisi kue kesukaannya itu. kemudian mempersilahkan Anti masuk kedalam kamarnya. Tapi pintunya tidak ditutup.

                “kamu ini emang adikku yang paling baik…” paparnya sambil mencicipi kuenya.

    Seketika wajah Anti cemberut mendengar kalimat itu, karena ia tidak ingin dianggap sebagai Adik. Ia ingin lebih dari itu.

    Anti duduk dikasurnya Erwin sambil terus menatapnya cemberut. Erwin membuka resleting tasnya kemudian memberikan naskah novel perdana Blind team kepada Anti.

    Anti menerima naskah itu meski wajahnya masih murung.

                “nama kamu ada kok disitu…disitu kamu berperan sebagai penjual pakaian,”

    Erwin tersenyum membayangkan apa yang ia alami selama lima tahun belakangan ini.

                “aku banyak terinspirasi selama ngekost disini…suasana dilingkungan sini berkesan banget, makanya kamu ada disitu, karakternya juga sama…agak agak manja gitu kalo ngomong,”

    Anti melihat covernya yang unik.

                “ini covernya siapa yang buat?” tanyanya lembut.

                “Fachri….” Jawabnya sambil makan kue.

    Perlahan Anti mulai membuka halaman pertama.

                “kenapa nggak nulis novel sejak pertama kali ngekost disini?”

                “itu dia masalahnya…aku kayak baru engeh setahun yang lalu, padahal dulu aku sering banget nulis cerita dibuku tulis…” ucapnya sedikit lemas memandang 45 derajat kearah dinding kamarnya.

                “kuliah Mas kapan selesainya?”

                “nggak tahu…udahlah jangan ngebahas masalah itu, pusing,”

                “kamu sendiri gimana kuliahnya? udah punya cowok belom?”

                “udah, Mas Erwin cowoknya,” jawabnya spontan.

                “maksud aku tuh pacar,”

    Kontan Anti merasa jengkel dengan ucapan itu. Anti menatap Erwin lemas. Sebenarnya dia ingin sekali Erwin mengerti perasaannya. Tapi Justru Erwin malah menatapnya penuh keheranan.

                “oh…maap ya An, aku bicaranya keterlaluan yach,”

    Anti kembali melihat naskah yang berada dipangkuannya itu dengan sorot mata yang lemas.

                “ya udah Anti pinjem dulu deh naskahnya,” Anti langsung berdiri dari duduknya kemudian berjalan keluar bersama raut wajahnya yang mulai jutek.

    Tidak biasanya Anti bersikap begitu, Erwin langsung bergegas mengejarnya, hingga harus berdiri dihadapan Anti saat Anti berada diluar kamarnya. Ia memegang kedua bahunya Anti sambil menatapnya serius.

                “maapin aku ya An…” ucapnya lirih.

                “orang Anti mao turun juga,” ucapnya manja sambil menunduk dihadapan Erwin.

                “tapi kenapa mukanya murung gitu?”

                “Antiii!!…” teriak bu Indah, ibunya Anti yang juga sebagai ibu kostnya Erwin dari bawah.

                “iya maaah!!…” jawabnya reflek.

    Anti menampik kedua tangan Erwin lalu berlari menuju tangga sambil memeluk naskah itu.

     

                                                                            ****

     

    Sebenarnya Erwin menyadari kalau Anti sangat mencintainya. Erwin memang pernah punya pacar, tapi itu dulu, bahkan sebelum ngekost dirumahnya bu Indah.

    Anti yang selama ini menganggap Erwin lebih dari seorang kakak, masih saja bertanya – tanya dalam hatinya. Apakah perhatiannya selama ini masih belum bisa mengetuk pintu hari Erwin kalau dia benar – benar mencintainya?. Sudah lima tahun Anti memperhatikan Erwin, bahkan sudah sering pula ia berkorban demi Erwin, sampai – sampai apapun yang Anti belikan untuk Erwin tidak pernah diketahui ibunya. Tapi hingga detik inipun, Erwin masih menjadi tanda tanya besar bagi Anti.

                “kamu kenapa nggak kuliah sich An?” tanya ibunya saat menyiangi sayuran bersama anak semata wayangnya itu.

                “males mah…” jawabnya sambil mengupas bawang.

                “kok males?, udah dibiayain mahal – mahal malah males, kamu ada ujian gak hari ini?”

                “nggak tahu…”

                “lho?, kok nggak tahu?”

                “abis Erwinnya sih…”

                “Erwin?” bu Indah terkejut mendengar anaknya menyebut nama Erwin.

                “Erwin siapa?, jangan – jangan si Erwin yang ngekost disini lagi, kamu diapain sama dia!!” tanyanya kesal.

                “nggak…bukan dia….” Anti membohongi ibunya agar tidak ketahuan.

                “ooh, kirain dia…lantas siapa? temen kuliah kamu?”

                “iya iya…oh iya, mmm.. mas Erwin udah bayar kost belom mah?”

                “huh, boro – boro, itu anak makin lama makin tambah nyebelin aja…udah dikasih kebijaksanaan selama dua bulan masih alesan aja,” cetusnya kesal.

                “gimana kalo Anti aja yang nagih mah?”

                “percuma kalo kamu yang nagih, ntar kamu malah digodain lagi,”

                “dih mamah apaan sich,”

                “kamu kok selama ini mama perhatiin deket sama dia?” tanyanya serius.

                “soalnya selama ini Anti sering butuh bantuannya dia…”

                “bantuan apa? tugas kuliah?”

                “he eh,”

                “bener cuma itu aja? awas lu kalo sampe ketahuan…” ancam mamanya.

                “dih emangnya ngapain sih Mah?, yeee,”

    Anti tersenyum bahagia sambil menggigit lidahnya yang sedikit menjulur keluar.

                “pokoknya mama nggak setuju kalo kamu sampe suka sama dia!!,”

    Kontan ucapan itu mampu mengejutkan lubuk hati Anti yang paling dalam, meski wajahnya masih tersenyum.

                “Anti!!, kamu denger gak!!” gertak mamanya.

                “iya maaah,”

     

                                                                            ****