script ( part 2 )
Bab 2
Dimatanya, Erwin lebih dari sosok lelaki yang begitu baik dan apa adanya. Keberadaannya dikampung Acah selama ini ternyata tidak sia – sia. Erwin mampu mencuri simpati para warga karena kepekaan sosialnya yang tinggi. Dengan berbekal kepiawaiannya memperbaiki mesin pompa air dan pijitannya yang mujarab, tidak jarang ia dipanggil kesana kesini oleh warga yang membutuhkan keahliannya. Meski ia tidak memasang tarif sedikitpun, warga tetap memberinya tips sekedar untuk jajan atau memberinya makanan.
Entah kenapa, sejak dua hari yang lalu Anti selalu memimpikannya. Diusapnya naskah perdana Blind team dengan telapak tangan kanannya. Detak jantungnya makin berdebar kencang saat mulai membuka halaman pertama.
Sesaat sosot matanya miris tertuju kearah jendela kamarnya yang tertutupi hordeng berwarna pink. Anti menarik nafas panjang untuk memberanikan dirinya membaca naskah itu. Batinnya mengatakan ‘pasti Erwin menuliskan sebuah kalimat yang selama ini ia tunggu’.
# 1
Kami akan berusaha menelusuri kota kecil yang memang jarang terjamah oleh para pengamat lingkungan. Tapi saya seperti baru pertama kalinya merasa dihargai orang selama tinggal dikota kecil itu.
Disini. Masyarakatnya sangat menghormati pendatang . Dan bukan hanya terhadap saya saja. tapi semuanya. Saya tidak pernah merasa seakrab dan sedekat ini dengan orang lain. Padahal sebelum saya memutuskan untuk keJakarta, banyak rumor yang bilang “ orang – orang kota cuek – cuek, beda dengan orang desa yang perduli dan saling kenal satu sama lain”.
Dalam bab pertama ini. Kami akan mempresentasikan sebuah wilayah. Yang mungkin banyak orang bilang kalau wilayah ini kumuh, tapi ini hanya sebuah kota kecil, namanya Kampung ‘Seman’. Saat memasuki Kampung ini. Kita akan bertemu dengan seorang tukang becak yang berperawakan tinggi dan berkulit hitam, warga Seman biasa menyapanya dengan sebutan bang Boim. Dia penghuni asli Seman. Biasanya setiap ada pendatang yang ingin menyewa kamar kost, selalu dia yang memberitahu, bahkan tidak jarang juga dia mengantar tanpa upah sepeserpun. Akupun dulu begitu, dulu waktu pertama kali tiba dikampung ini, orang pertama yang kukenal adalah dia. Dia biasa mangkal didepan pintu masuk. Meski terkadang suka berpindah – pindah tempat.
Begitu kita melewati pintu masuk, mau tidak mau kita harus melihat sebuah area perbelanjaan milik seorang warga yang biasa disapa ‘bu bengkel’, dia disapa seperti itu karena suaminya punya sebuah bengkel motor yang ada dibelakang rumahnya. Tapi dia tidak berprofesi sama seperti suaminya sebagai tukang servis motor. Dia menjual sayur – sayuran disekitar area itu. hampir semua jenis sayuran. Tidak hanya itu, daging, ikan, telur juga ada diarea itu. Dan hampir mayoritas warga kampung Seman biasa berbelanja disitu setiap harinya.
Area itu lumayan panjang sekitar 10 meter. Panjangnya membentang hingga berdekatan dengan tiang listrik bercat hitam.
Setelah melewati area itu. kita akan melihat sederetan kontrakan panjang milik pak Haji Usman. Dia termasuk orang terkaya dikampung Seman. Tidak hanya pemilik kontrakan saja, dia juga terkenal sebagai juragan angkot. Kedua anaknya sudah sarjana dan sudah berumah tangga. Kini hanya pak Haji Usman dan istrinya saja yang tinggal dikampung Seman. Terkadang, saya sendiri sering dipanggil kerumahnya jika ia sakit, karena saya ahli memijit. Sesekali pak Haji mengajak saya makan dirumahnya, istrinya juga baik kepada saya. Saya seperti sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Dua hari yang lalu, aku disuruh mengecat seluruh tembok rumahnya sekaligus memperbaiki mesin pompa airnya yang bermasalah. Tapi saya tidak pernah mengharapkan imbalan barang sepeserpun karena dia sudah saya anggap seperti orang tua sendiri.
Setiap pagi saat saya berangkat kuliah melewati rumahnya. Saya pasti dipaksa sarapan dulu sama pak Haji. Malah terkadang setelah sarapan dia suka menaruh ongkos dikantung kemeja saya. Bagi saya, dia merupakan sosok seorang ayah, sikapnya yang tidak sombong dan selalu murah senyum kepada siapapun sepertinya patut diteladani. Dia juga tekenal sebagai salah satu sesepuh dikampung Seman.
Masih disekitar kampung Seman. Ada lapangan luas membentang yang berada kurang lebih 15 meter dari rumah pah Haji Usman. Setiap tahun menjelang 17 Agustus’an lapangan ini selalu ramai dipenuhi warga, baik yang tidak maupun yang mengikuti lomba. Biasanya, seminggu sebelumnya saya selalu ditunjuk oleh pak Kardi, ketua Rt 04, untuk mengecat setiap gapura agar terlihat baru sekaligus mengganti tahunnya. Saya juga sering ditunjuk untuk menjadi panitia lomba setiap tahunnya.
Saya mengekost disalah satu rumah warga. Namanya ibu Indah. Janda beranak satu yang mulai membuka usaha kost sejak tahun tujuh tahun lalu. Letaknya didekat Balai Rakyat tempat saya dan teman – teman rapat, karena saya juga terlibat dalam organisasi karang taruna disekitar Rt 04.
Kamar kost saya ada didalam rumahnya. Saya ialah satu dari 9 penyewa kamar kostnya. Beberapa peraturan tertera saat mulai menginjak lantai 2 rumahnya. Bla bla bla..diantaranya ialah dilarang pulang lewat dari jam 10 malam. Kamar kost yang ia sewakan khusus untuk laki – laki saja. Padahal dia punya anak perempuan.
Anaknya bernama Santi. Mahasiswa semester 2 yang bekerja sebagai penjual pakaian anak – anak disekitar kampung Seman.
Seketika Anti berhenti membaca, pikirannya menerawang mengingat – ingat ucapan yang pernah terlontar dari mulut Erwin. Disela – sela itu konsentrasinya buyar begitu mendengar suara ibunya yang menggelegar dari arah tangga. Anti menutup naskah itu. Ia menoleh kearah pintu kamar sambil mengernyitkan dahinya. Suara ibunya yang keras namun agak terdengar samar seakan menusuk – nusuk telinganya. Anti meletakan naskah itu diatas kasurnya lalu bergegas meletakkan telinganya dipintu kamar.
“Nggak bisa ibu maunya kontan!”
“kamu ini makin lama makin banyak alesan aja!”
“kamu pikir dengan mendekati anak saya itu lantas kamu bisa bayar setengahnya aja? begitu!!,” suaranya terdengar membentak sejadi – jadinya.
“bukannya begitu bu…saya minta kebijaksanaan sekali ini aja deh bu, ini yang terakhir,”
“nggak!!”
“bulan depan pasti saya…”
“pokoknya nggak bisa!!” bu Indah memutuskan pembicaraan Erwin.
“kalo sekarang kamu tetep mao bayar segitu ya silahkan, tapi setelah itu silahkan cari tempat lain!!…” ketusnya jutek.
Anti tercengang. Tak sedikitpun kebahagiaan yang nampak diwajahnya hingga matanya berkaca – kaca dan bibirnya bergemetar. Keringat mulai keluar membasahi keningnya. Anti tak akan membiarkan kebahagiaannya terhempas oleh ucapan yang baru saja keluar dari mulut ibunya. Malam ini ia pasti gak bisa tidur.
****
Dibalik mimpi buruk yang semalam singgah dikegepalan malam. Erwin malah berniat ingin mewujudkan mimpi buruk itu, ia memutuskan untuk pergi daripada terus – terusan ditagih sama ibu kostnya. Saat sinar matahari pagi menembus masuk kekamar kost nomor 5. Erwin tengah sibuk mengemas perlengkapannya. tok tok tok Anti mengetuk pintu kamarnya yang setengah terbuka.
“Anti boleh masuk gak?” tanyanya lembut.
Erwin tersenyum paksa saat menoleh kearahnya.
“boleh,”
Perlahan Anti bergerak masuk. Erwin masih saja mengemas barang – barangnya. Anti meneguk ludahnya sendiri.
“Anti boleh duduk gak?” ucapnya lirih.
“silahkan aja,” respon Erwin tanpa menoleh kearah Anti.
Mereka berjeda sesaat. Anti seperti berat untuk berucap.
“semalem Anti udah denger kok,” ucapnya saat duduk dikasurnya Erwin.
Erwin masih saja mengemas, tanpa berucap sedikitpun.
“kok Mas Erwin diem aja sih? marah yach ama Anti?”
“nggak…nggak kok An…”
Anti mulai menampakkan kesedihannya. Matanya mulai berkaca – kaca menatap Erwin.
“Mas mau kemana sekarang?” tanyanya lirih.
“nggak tau deh,” jawabnya agak malas.
Anti terus menatap Erwin seperti itu.
“ini semua emang salah aku An, udah dua bulan aku nggak bayar kost, sebenernya aku udah berusaha, tapi…” tuturnya lembut sambil memasukkan pakaiannya kedalam tas ransel.
Anti menunduk lemas, ia sama sekali tidak menduga kalau akhirnya Erwin memutuskan untuk meninggalkan kamar kost yang selama lima tahun ini bersamanya. Ia takut kehilangan Erwin. Air matanya sudah tak terbendung lagi hingga ia harus mengusapnya beberapa kali. Telapak tangannya mulai menutup bibirnya yang bergemetar. Dadanya sesak, Isak tangisnya seakan menepuk pundak Erwin. Erwin menoleh kebelakang, ia terpana melihat Anti menangis.
Erwin mengabaikan pakaiannya lalu duduk disebelahnya.
“kok nangis?” tanyanya seraya menatapnya pasrah.
“mas Erwin sih mau pergi, Anti maunya mas disini aja,” paparnya manja sambil menangis.
Benak Erwin tersentak mendengar ucapan itu. Erwin mengusap rambutnya yang lurus dan berkilau hingga seleher. Anti menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Aku nggak bakalan pergi jauh dari sini kok,” gumam Erwin.
“nggak mau, anti maunya Mas tetap ngekost disini,” Anti makin menangis manja.
“Tapi sekarang Mas lagi nggak punya duit buat bayar kost,”
Perlahan Anti mulai memperlihatkan wajahnya yang semula tertutupi kedua telapak tangannya, lalu menoleh kearah Erwin meski matanya masih memerah.
“pake duit Anti aja dulu, gimana? mau gak?”
Erwin berjeda sesaat menimbang – nimbang ucapan itu.
“emangnya kamu punya duit?”
“punya, pokoknya cukup deh buat nutupin utang Mas sama Mama,”
“aku nunggak dua bulan..”
“Anti punya kok duit sebanyak itu,” putus Anti.
Erwin masih menimbang – nimbang hingga lambat laun iapun tersenyum, sekilas nampak beban diwajahnya mulai berkurang. Antipun tak bisa menyembunyikan kebahagiaanya melihat Erwin tersenyum pasrah seperti itu. Lambat laun pula Iapun tersenyum simpul meski air matanya belum kering.
“kamu baik banget An, tapii nggak usahlah, biar aku pinjem sama teman aku aja,”
“lho? kok? kenapa nggak pake duit Anti aja sih?”
“udahlah nggak usah, kamu kan selama ini baik banget sama aku,”
“justru itu karena Anti nggak mau kehilangan Mas Erwin,” tandasnya cukup keras namun sedikit serak.
“Ssst, jangan keras – keras…ntar kalo ada yang denger gimana? hehehe,”
Erwin tertawa begitu juga Anti, mereka terlihat sangat bahagia. Anti mengusap air matanya sendiri sambil tertawa. Anti bagai bocah berumur lima tahun yang mudah tertawa saat menangis.
“biarin aja,” responnya sambil tersenyum meski kelopak matanya masih memerah bekas tangisan tadi.
“kalo mamamu denger?”
“biarin aaaja,”
Erwin mengusap kembali rambutnya Anti. Anti terdiam menunggu keputusan dari Erwin. Keputusan yang sangat ia inginkan.
Erwin menarik nafas sedalam mungkin. Ia kembali menimbang – nimbang sambil mencubit – cubit pipinya sendiri.
“ya udah deh, kalo gitu aku pinjem duit sama kamu sebanyak enam ratus ribu..paling lambat bulan depan aku ganti,” gumamnya.
Anti tersenyum lebar. Ia sangat menerima keputusan itu. Tapi kali ini, ia mulai memberanikan diri menanyakan sesuatu yang jarang terdengar ditelinga Erwin.
“mmm…mas Erwin..” sapanya hangat.
“apa?”
Anti menunduk lalu tersenyum malu, tentu hal itu membuat Erwin penasaran.
“lho? kenapa mba Anti?….” ucapnya tidak kalah hangatnya.
“mas Erwin….udah punya pacar belom sih?,” tanyanya perlahan tanpa berani menatap Erwin saat itu. Akhirnya pertanyaan itu terlontar juga.
“kamu pasti belum baca naskah itu ya?”
“baru bab pertama,”
“tapi belum selesai kan?”
Anti mengangguk.
“emangnya kenapa?” sekarang Anti yang penasaran.
“kalo kamu udah selesai baca bab pertama, kamu pasti nggak bakal tanya begitu, sumpah aku menulis naskah itu dari lubuk hatiku yang paling dalam,”
Anti langsung shock mendengar ucapan itu. hatinya mulai berceloteh ‘Jangan – jangan dia udah punya pacar ’. Seketika wajahnya pucat dan berkeringat. Tapi ia mencoba bersikap biasa meski hatinya begitu cemas dengan apa yang ia belum ketahui.
“aku minta kamu baca sampai selesai,” perintah Erwin cepat.
Erwin memang sengaja ingin membuat Anti penasaran. Anti kembali mengangguk.
“eeee….” Anti kebingungan harus berkata apa.
Anti menatap wajah Erwin dengan nafas terengah – engah. Perlahan bola matanya turun menatap bibir Erwin yang tipis. Ia menggigit bibirnya sendiri. Ingin sekali ia mengecup bibir yang tipis itu. Tapi ia menunggu Erwin yang memulai duluan.
Sesaat Erwin memeletkan lidahnya. Ternyata Erwin sama sekali tidak mau berbuat yang macam – macam terhadap Anti. Meski Anti tidak akan menolak jika ia mengingingkannya.
“mama kamu ada dibawah?”
Anti menggelengkan kepalanya sambil menjilati bibirnya sendiri.
“dia lagi ikut arisan dirumah temennya,”
“ooo,”
“emangnya kenapa?”
“nggak…”
“apaa…mama kamu tahu?”
“tahu apa?”
“kalo selama kita ini deket? pasti tahu yach,” Erwin sengaja menanyakan hal itu meski ia sudah tahu jawabannya.
Tiba – tiba Anti tertawa sambil menutup bibirnya.
“emangnya kenapa kalo tahu?”
“jawab dulu dong,”
“ya dia tahu,”
Erwin menarik nafas sedalam mungkin.
“dia pasti nggak setuju kalo seandainya kita pacaran,”
Anti terpana menatap Erwin. Baru kali ini Erwin berucap begitu dihadapannya.
“masa sih? biarin aja…” Anti mengernyitkan dahinya menatap Erwin serius dengan wajah sumringah.
“apa kata orang nanti…”
“biarin aja orang mao ngomong apa kek, Anti nggak perduli,” ucapnya manja.
“tapi itu seandainya lho,”
Anti kembali meneguk ludahnya sendiri. Seketika darah didalam tubuh Erwin naik – turun. Kini giliran Anti yang menarik nafas sedalam mungkin.
“ya udah, mmm, Anti ambil dulu duitnya yach,”
“oh iya, jangan semuanya deh, setengahnya aja, aku bisa jual hand phone besok,”
Anti kembali mengernyitkan dahinya.
“kenapa musti jual hand phone?”
“aku nggak mau terlalu ngeberatin kamu sayang, eh salah, An,”
Anti menatapnya pasrah. Erwin mulai beraksi salah salah ucap.
“setengahnya aja,” ucap Erwin serius.
“ya udah,”
Anti bergegas keluar dari kamar kost Erwin melewati pintunya yang tak tertutup.
Erwin tersenyum sendirian menatap keluar pintu saat Anti hilang dari pandangannya.
“Santi Latifah….mmmm boleh juga hehehe,” gumamnya bicara sendirian.
Sementara Anti sempat berhenti saat berlalu dari pintu kamar nomor 5 yang setengah terbuka.
“dasar Erwin jelek…” ucapnya dalam hati kemudian lari tergopoh – gopoh menuju kamarnya.
Hanya dalam beberapa menit saja, mimpi buruk yang semalam menghantui Anti terhapus, ternyata itu memang hanya mimpi…dan tidak akan pernah teringat lagi.
****







