Aku sampai di tempat itu , sebelumnya aku memandangi lukisan itu selama 4 jam. Sejak pertama aku sudah merasa familiar dengan lukisan itu. Ternyata ibu pernah mengajakkku hiking di sana. Mungkin hari ini aku akan memanjakan kameraku . Pemandangan yang indah seharusnya diabadikan agar dapat dinikmati lagi lain waktu
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Sebenarnya apa maksud ibu, dengan menulis memo seperti itu? Apakah ibu menginginkanku untuk bertemu dengan seseorang di sana? Atau hanya ingin aku refreshing saja?
Mungkin saja
Tapi ada sesuatu yang aneh dari foto-foto ini. Bayangan-bayangan foto mulai terlihat saat aku menaruhnya di dalam air bening, sedikit-sedikit aku dapat melihat hasil fotoku.
Satu per satu kuperhatikan hasil foto itu. Aneh… foto-foto hitam putih yang kuambil semuanya pasti ada bayangannya, bayangan kabur tetapi membentuk pola yang sama, seperti sesosok orang. Tapi tak mungkin. Aneh jarang sekali hasil kameraku seperti ini.
Aku mulai membandingkan foto “matahari terbit”ku dengan lukisan “matahari terbit” ibu. Satu kali… dua kali….. tiga kali…… sama persis , nayangan itu membentuk sosok yang ada di gambar ibu. Apa ini yang ingin ibu beritahu? Siapa pria itu? Rasa penasaran mulai menyelmutiku. Aku harus mencari tahu kebenarannya. Pasti ada petunjuk lagi di salah satu lukisan ibu.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Aku menemukan 1 petunjuk. Petunjuk tersebut kutemuakdi lukisa sebuah tangan yang sedang meletakkan secarik kertas. Saat aku meraba di bagian kertas itu seperti ada tulisan timbul. Kutuangkan cat merah , tak begitu kental aku hanya perlu melihat bentuknya saja
JANE AUSTEN
Jane Austen adalah salah satu pengarang favourite ibu, hampir setiap bukunya ibu beli, mulai dari Sense and Sensibility, Mansfield Park, Pride and Orejudice dan banyak lagi. Tapi ada keganjilan saat aku melihat buku Pride and Prejudice. Halamannya ada yang hilang seperti di robek. Ceritanya berakhir pada bagian saat Lady Catherine menyuruh Elizabeth Bennet untuk berjanji agar tidak menikahi Mr.Darcy. Jadi ceritanya tidak berakhir bahagia, hanya berakhir seperti itu. Apa yang ingin ibu katakan?
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
“Jangan mendekati anakku lagi, jangan rusak masa depannya.’” Sosok wanita paruh baya itu sangat menyebalkan. Ia memandang jijik ke arah seseorang. Tapi aku tidak tau siapa dia. Mukanya tak terlihat jelas
wanita tua itu mengeluarkan sebuah amplo dari tasnya. Dan melemparkan amplop itu tepat ke muka gadis itu. Sepertinya gadis itu tak dapat menahan amarahnya lagi. Harga dirinya sudah diinjak sebegitu rupa, ia mulai bertindak. Ia seret wanita tua itu, ia tak perduli lagi apa yang wanita tua itu katakan kepadanya. Ia membanting pintu tepat di depan mukanya. Wanita tua itu seharusnya bersyukur atas perlakuan seperti itu, jika aku diperlakukan seperti itu akan aku panggil Rumah sakit jiwa untuk menyeret wanita tua itu. Aku tak ingin tangan bersihku ini dikotorkan karna telah memegang wanita tua gila itu.
Air mata mengalir dari mata gadis itu. Dengan tangannya ia memegang perutnya dan berkata.”Jangan kuatir nak, kau tak sendirian.”
Suara itu, suara ibu
“IBU!!” tengah malam aku terbangun karna mimpi itu. Apakah ini yang ingin Ibu katakan?
Aku bangkit dan meraih buku itu. Kutelusuri lagi. Mungkin saja ada petunjuk selanjutnya. Aneh kenapa ibu menandai kata “daughter” di sini? Apa ini berhubungan denganku. TApi aku tak punya petunjuk apapun? Lukisan!!”
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
KUpandangi lukisan ku dulu, lukisan gadis mungil yang sedang duduk manis . Tapi tak ada petunjuk di sini. Tapi tiba-tiba saja lampu mati. Aneh padahal aku sudah membayar tagihan listrilk kemarin. Aku pergi ke dapur untuk mengambil lilin. Setelah kunyalakan , aku berniat untuk kemabli tidur, tapi ada dorang yang sangat kuat. Yang membuatku ingin pergi untuk melihat lukisan itu.
Kulihat kemabali lukisan itu, tak kusangka. Petunjuk itu, bersinar.
Tulisan itu terlihat sekali di tengah-tengah kegelapan. Ibu menuliskan petunjuk , dengan pena glow in the dark.
Petunjuk itu berisi
32851
Bukalah, kau tidak sendirian
Angka-angka itu, mungkin merupakan pin, Serperti yang dikatakan ibu, bukalah. Tapi hanya ada 1 berankas di sini. Dan pin itu berbeda pin yang biasanya kugunakan 32854 kata ibu itu diambil dari tanggal kelahiran ku 3 Februari 1985 dan angka 4 berarti selama 4 menit ibu keskitan mengeluarkanku. Sedangkan yang ada di dalam petunjuk pin berakhir dengan angka 1???
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
“3krek…………..2 krek…….. 8 krek…….. 5 krek……….. 1 krek………”
mungkin agak aneh mana mungkin 1 berankas mempunyai 2 pin. Tapi mungkin saja, semua hal memungkinkan. Ibu adalah orang yang sangat kreatif dan kuakui ide-ide ibu agak aneh . Mungkin ini salah satu ide aneh ibu. Kuberanikan diri untuk menarik gagang pintu berankas itu.
Dan ternyata berankas itu dengan mudah dapat kubuka. Tapi isinya berbeda dengan berankas yang biasanya kubuka. Berankas yang biasanya berisi uang hasil penjualan lukisan ibu dan fotoku. Yang ada di dalam berankas sekarang ini hanya sebuah kotak. Mungkin aku harus segera membukanya karna aku mulai sangat penasaran
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Kotak berdebu itu berisi foto-foto , sura dan banyak lagi yang lainnya. Aku kaget sekali membaca surat-surat ini. Ini adalah surat cinta ibu, mungkin ini dari ayah tapi di setiap tidak tertulis siapa yang menulis, hanya ada inisial LOVE. Arghhh… aku sudah pusing dengan teka teki ini. Tapi aku sangat penasaran ke mana ini berujung. Di setiap foto terdapat keterangan tanggal dan tahun di baliknya. Kucoba untuk mengurutkannya sesuai dengan tanggalnya. Hampir semua foto adalah foto ibu. Tidak ada sama sekali foto laki-laki yang mengirimkan surat cinta ke ibu. Tapi ada 2 foto yang bukan foto ibu, yang pertama pada tahun1985 , foto 2 bayi, sepertinya kembar , tetapi ada bercak darah di sebelah kanan foto. Apa ini darah ibu?
Dan yang terakhir pada tahun 1987 terdapat foto sebuah rumah. Mungkin saja inilah kunci jawabannya. Di balik foto itu tertulis sebuah alamat yang aku yakini adalah alamat rumah tersebut.
Bougenville,192, Perumahan Jatibening
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Akhirnya portal telah dibuka, aku dapat memasuki area kompleks itu sekarang. Jantungku berpacu lebih cepat dari laju mobilku. Aku tak tau apa yang sedang menungguku di dalam rumah itu. Aku takut akan kebenaran ini.
Ting..tong…
Kutekan bell rumah itu, rumahnya sama persis seperti yang ada di foto kecuali tambahan ruangan yang ada di sampingnya, sepertinya baru ditambahkan, tapi secara keseluruhan inilah rumahnya . Aku yakin. Tanganku gemetar setelah menekan bell itu, dan kakiku tak kuat lagi menahan berat badanku.
Tenang anakku ibu di sini
Seketika dapat kurasakan suara ibu di sampingku. Tangan ibu menggenggam tanganku yang gemetar ini. Mungkin terdengar gila. IBu tetaplah di sini, biarlah rasa nyaman ini tetap bersamaku. Tetaplah bersamaku
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
“Kau sungguh mirip dengan ibumu.” Seorang pria paruh baya itu duduk di depanku. Mungkin dia adalah ayahku? Ialah yang membukakan pintu unutkku.
“Kau mengenal ibuku?’
“Maafkan aku.” Jawabannya tadi sama sekali tidak menjawab pertanyaanku.
“Bisakah kau menjelaskan apa yang sedang terjadi.”uaraku bergetar, memaksa pria itu menceritakan apa yang telah terjadi. Dengan semua teka teki ini.”apa maksud dari semua ini,” kulemparkan semua petunjuk dari ibu. Foto-foto dan yang lainnya.
“Nala.”
“Kau tau namaku?apakah mungkin kau adalah..”
“Nala?”seorang pemuda jangkung keluar dari persembunyiannya. Tubuhnya yang tegak dan dengan raut muka yang bingung ia memandangku. Pandangan matanya mengingatkanku pada ibu.
“Nanda, “sahut pria paruh baya itu kepada laki-laki tegak yang sekarang berdiri tepat di hadapanku.menatapku bingung
nanda?? Itu kah namanya?
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
“Maafkan Ayah, Nala.” Kata-kata yang sangat sulit untukku terima .Ibu telah menderita. Buku itu, kisah Elizabeth Bennet dan Mr.Darcy , adalah kisah ibu dan ayah. Tetapi tidak berakhir bahagia. Kakekku ,menyuruh orang-orang menghancurkan keluarga ibu. Kakek dan nenek dari ibu selalu saja terancam keselamtannya. NEnek dari ayah, selalu mengusir ibu. Mereka adalah orang yang sangat berkuasa. Ayah tidak dapat berbuat apapun , dan ayah saat itu juga tidak mengetahui bahwa ibu telah mengandung .. Demi menolong ibu dan keluarganya , ayah bersedia menikah dengan perempuan kaya. Ibuku hanya dapat melihat kebahagiaan ayah dari jauh saja.
Tapi mereka orang yang sangat egois. Perempuan yang menikah dengan ayah tidak dapat mengandung. Ibuku yang sedang hamil besar menjadi sasaran, tidak kuat untuk melarikan diri . Mereka mengetahui ibu sedang mengandung dan ternyata anak yang di dalam kandungan ibu kembar. Karena dikejar oleh suruhan kakek. Ibu harus melahirkan di rumah penduduk dengan bantuan bidan. Ibu melahirkan bayi kembar, yang satu perempuan, Nala dan yang satu lagi adalah laki – laki, Nanda. Keluarga ayah sangat menakutkan , mereka tega-teganya memisahkan Nanda, dari sisi ibu dan aku. Ibu yang baru sajamelahirkan tidak kuat untuk melawan mereka. Sang bidan berusaha sekuatnya memegang Nanda tapi orang suruhan kakek sangat kuat. Sang Bidan tak dapat mempertahankan Nanda. Tangan ibu yang gemetar memelukku erat.
Setelah kejadian itu berlalu, ibu berterima kasih kepada sang Bidan yang telah membantu ibu. Sang bidan pun menyerahkan sebuah foto. Anak perempuannya yang tadi juga ikut membantu ternyata adalah seorang fotografer, ia sangat suka memfoto, dan tak sengaja pasangan bayi kembar ini sempat diabadikan olehnya.
Beberapa kali ibu mencari Nanda. Tapi ternyata keluarga ayah sudah membawa Nanda pergi ke Amerika. Pertama kali ayah mengira Nanda adalah anak adopsi, istrinya dan orang tua ayah bersekongkol membohongi ayah tapi 3 th yang lalu semua terbongkar. Ayah menceraikan istrinya tanpa memberitahu alasannya kepada Nanda.
“Kenapa ayah tidak mencari ibu?”
“Iya, tidak ingin menemuiku. Ia mengusirku.”
“Apakah ayah sekarang tau ibu di mana?”
“Pasti masih di Gallery bukan.”
Hatiku sakit, melihat dan mendengar ini. Mengapa ayah begitu bodoh, apakah harus setidak peduli itukan aya kepada ibu? Kenapa sampai sekarang ayah pun masih tidak tau bahwa ibu sekarang sudah tidak ada di dunia lagi.
Tapi tiba-tiba saja tangan hangat merangkulku, tangannya menghangatkan hatiku yang perih. Nanda. Kakakku
“Ibu sudah meninggal yah.” Kataku serak
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Kami bertiga memandangi batu nisan itu, berkumpul . Ayah berlutut di depan batu nisan ibu. Menangis, meratapi. Dan Nanda hanya tertegun melihatnya, aku tau sebenarnya di dalam hati Nanda, ia menangis
Aku bergerak ke arahnya. Dan memeluknya, memeluk kakakku
“Kita akan selalu bersama.”
……………………………………………………………
Sudah 2 tahun kami bersama, aku sekarang sudah tidak lagi sendirian , kami bertiga membangun keluarga kami yang hilang dulu. Kami selalu bersama, tak kala setiap bulan kami pergi ke kuburan ibu.
Dan kadang kami meluangkan waktu kami untuk hiking ke gunung. Ternyata gunung yang waktu itu ada di lukisan ibu, merupakan tempat di mana ayah dan ibu membuat perjanjian untuk saling mencintai walaupun ditentang oleh orang tua. Dan karena keegoisan orang tua mereka, serta karena rasa cinta mereka yang dalam, lahirlah kami berdua.
Aku berjanji aku dengan Nanda tak akan berpisah. Kami akan selalu bersama.
The end