GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Author Detail

Registered Since: 2009-09-07 11:48:05

Posts by ravina katriana:

    Blood novel part 1

    NOVEL

    Suasana jalan yang tenang berada di hadapanku sekarang. Lalu lintas yang santai tanpa keributan terhampar di sini. Jarang sekali kutemukan pemandangan ini di Jakarta, tentu saja tidak mungkin suasana ini aku temukan di Jakarta yang padat penduduk dengan kapasitas tempat yang kurang memadai, telah membuat jakarta menjadi sempit, dan kacau. Berbeda di dengan San Fransisco ini, meski pun di sini sudah pukul 10 pagi tapi tetap saja lalu lintasnya bebas dari kemacetan. aKu berjalan terus hingga ,aku merasakan sesuatu… Harum bunga mawar… harum sekali. Wanginya benar-benar membuatku ingin mencarinya.. Kuberjalan terus tanpa henti sampai kutemukan toko bunga itu
    “How much is it??” tanyaku kepada seorang nenek tua penjaga toko bunga itu
    “Just one dollar for a bouqutte.”jawabnya diakhiri dengan senyuman yang menghangatkan
    “Oke, here.. I want a bouquette of rose. please.”
    Tak berapa lama kemudian
    “Here young lady.” jawabnya sambil menyerahkan seikat bunga mawar kepadaku.
    Setelah seikat bunga mawar sudah berada di tanganku, aku beranjak dari tempat itu untuk melanjutkan perjalananku.. Sambil menghirup harum mawar merahku aku pun berjalan
    Argh…. seringaiku
    tangan ku berdarah, sepertinya tersilet oleh duri mawar ini yang tajam. Aneh harusnya sudah dibersihkan. kulihati orang di sekelilingku, mereka semua menatapku, Apa yang mereka lihat?? aku tidak mengerti sama sekali…
    Apa yang salah dari diriku… lalu aku berbalik melihat ke arah kaca sebuah toko. Kulihat bayanganku di sana… tak ada yang salah pikirku?
    Tapi mereka tetap melihatku, lalu aku berbalik ke arah bayanganku… dan ARGHHHHHHHH………………………………….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    ““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““ Bi Inem yang kaget karena jeritan , langsung beranjak dari tidurnya. Ia buru-buru mengambil mantel birunya untuk memeriksa keadaan no

    sinopsis blood novel

    hhhee, kali ini gw pengen bikin novel, sebenernya belum selesai sih masih dalam perjalanan tapi semoga aj novel ini selesai
    cerita tentang seorang kiki,siswi SMA yang sedang pusing karena mimpi buruknya yang selalu menggentayanginya selama 3 bulan . Ia berusaha untuk menghilangkan mimpi buruknya itu dengan ikut kembali bergabung dengan bandnya yaitu 93′s band. tapi kemunculan Arga si cowo populer di sekolahlah yang membuat kiki tidak pernah mimpi buruk kembali, Apakah gerangan yang menyebabkan kiki tidak pernah mimpi buruk lagi?? apakah ada hubungannya Arga dengan mimpi-mimpi buruknya??

    me and my bodyguard part II

    Dengungan mesin mobil menderu halus, tak lama kemudian suara itu berhenti.
    “ah…akhirnya sampai juga” ucapku dalam hati, menghembuskan nafas. Aku segera melirik jam guess terbaruku yang betenger manis di lengan kiriku. Sudah pukul 7.45, tinggal 15 menit lagi waktu yang tersisa bagiku dan Russ untuk memasuki gedung sekolah sebelum pintu utama di tutup.
    “gue duluan, kalo ada apa-apa lo tinggal telpon gue.” Ucap Russ dingin dan melangkah keluar dari mobil meninggalkan aku sendirian di dalam mobil.
    Aku yang diperlakukan seperti itu hanya bisa diam terpaku melihat Russ keluar begitu saja tanpa melakukan sesuatu untukku. Biasanya bodyguard-bodyguardku yang terdahulu selalu membukakan pintu untuk diriku, tapi tidak dengan Russ, ia malah keluar begitu saja dengan terburu-buru dan mengacuhkan aku.
    “sudahlah, aku bisa membukanya sendiri” gumamku kecewa dan keluar dari mobil.
    “hei !” teriak seseorang, menepuk pundakku, kaget.
    “Britanny Christie ! kau membuatku kaget tahu !” ujarku kepada orang yang belum lama mengagetkanku.
    Dia adalah Brittanny Christie gadis berusia 16 tahun dan berdarah campuran Inggris-Indonesia. Ayahnya adalah seorang direktur dari sebuah perusahaan asing yang cukup ternama di Indonesia, oleh karna itu tak heran ia dapat bersekolah di sekolah yang mahal tak terhingga seperti sekolah ini.
    “hahaha ! maaf-maaf gw kan sengaja, lebay ah lo…yang penting kan lo masi idup tauk !” Brit membela diri.
    “yee, bukannya gitu ! nanti kalo suatu saat gw tiba-tiba jantungan karna lo kagetin gimane non” balasku asal
    “ya mati ! amin kalo lo masuk surga ra !huahahahaha” jawabnya lebih ngasal dan tertawa meledekku.
    “heh, kebanyakan ketawa pagi-pagi bisa bikin gila bego !hahaha.eh, by the way brit, lo udah tau belom kalo hari ini gw udah mulai di pakein bodyguard baru lagi ?” Raut muka Brit seketika itu juga berubah mendengar pertanyaanku.
    “wow ! kok cepet banget sih ?!terus terus gimana bodi baru nih ?” tanya Britanny bersemangat sembari berjalan berdampingan denganku.
    “gimana apanya ???gak gimana-gimana lah. Nih, lo tau Russ ga ?yang anak kelas 3 itu loh..” jawabku tak kalah bersemangat.
    “Russ ??yang bokapnya satu perusahaan sama bokap gw itu ?” tanya Britanny makin penasaran.
    “uhuh” jawabku santai
    “hah ??tunggu deh, jangan bilang kalo…” Britanny sengaja menghentikan kalimatnya.
    “yeah, he’s my new bodyguard. Okay ?” Lora mengiyakan maksud tatapan mata Brit
    “damn ! how could he ???wow !dia ganteng honey” ucap Brit yang masih tak bisa menutupi rasa kagetnya karna mendengar pernyataan Lora tadi.
    “yeah,he is…sangat malah..hehehe” aku tersenyum
    “yeah, tapi lo tau Apple gak ra ?”
    “Apple ?buah apel ?” jawabku polos
    “no ! bukan sayang !. Duh, kenapa lo jadi bego amat sih Lora…Apple loh…yang satu kelas sama kita…Biology. Remember ?”
    “Apple yang rambutnya brownish black ??yang pendiem itu ?”
    “iya-iya, dia !” Brit terlihat lebih bersemangat kali ini, seperti ingin memberi tahu sesuatu.
    “okay, okay, so..dia kenapa ?” aku juga jadi ikut-ikutan penasaran.
    “dasar temen gw yang satu ini gaptek ! lo kemane aje non ? kayaknya orang-orang juga udah pada tau dari jaman bahala, kalo Russ itu digossipin suka sama Apple, dan lo tauk ga sih ra ??kayaknya gossip tentang dia bener deh” jawab Britanny berapi-api.
    Hah,aku sedikit putus asa mendengarnya. Tapi tidak terlalu kuhiraukan juga sih, aku masih sedikit belum yakin tentang gossip tersebut.
    “belom tentu juga kan ?emang lo tau kalo itu bener darimana ??” tanyaku.
    “abis tadi gw liat Russ nyamperin Apple di taman belakang gitu, ra. Trus gw liat mereka lagi duduk berduaan , bener-bener kayak orang pacaran gitu lah” jawab Brit.
    “oh…mungkin emang bener kali. I don’t care either” ujar Lora tak bersemangat.
    Padahal pada kenyataannya aku sungguh perduli dengan hal tadi, karna aku sadar semakin kecil peluang bagiku untuk membuat Russ berpaling kepadaku. Tapi aku sadar bahwa diriku ini bukanlah siapa-siapa bagi Russ, maka itu aku tidak berkomentar lebih lanjut lagi tentang pembicaraan tadi. Aku lebih memilih untuk diam dan mengalihkan pembicaraan, hinga kami sampai di ruangan kelas jam pertama kami.

    o o o

    “hoahm” aku menguap seusai pelajaran terakhirnya berakhir, ngantuk sekali rasanya.
    Sambil menunggu Russ menghampiriku, aku mencuri-curi kesempatan untuk tidur sejenak
    Baru juga rasanya mengedipkan mata, Russ sudah berdiri menungguku merapikan buku-bukuku yang tersebar berantakan di meja. Ah, mengapa cepat sekali ia datang ?tidak tahu apa akau masih mengantuk ! huh !. Mau tak mau dengan ogah-ogahan aku merapikan buku-bukuku yang berantakan di meja.
    “lelet banget sih ! gw kan uda bilang gw gak suka nunggu, sini !” ujar Russ kasar, lalu merapikan semua buku-bukuku yang berantakan di meja. Tak butuh waktu yang lama bagi Russ untuk membereskan semua buku-buku dan peralatan sekolahku yang berserakan.
    Dengan cekatan Russ menahan buku-bukuku dengan sebelah tanganya dan berjalan mengikuti langkahku di belakang ke arah loker. Yah, memang begitu peraturan yang telah ditetapkan, selama Russ masih menjadi bodyguardku ia harus selalu bersamaku sebisa mungkin, harus menjadi supir untukku dan melindungiku dari bahaya, tak terkecuali membawakan buku-buku juga tas sekolahku.
    “Oi ! jalannya lama banget sih !” ucapku kesal karna Russ yang berjalan sangat lamban di belakang mengikuti diriku. Bahkan saat aku berbalik Russ masih ketinggalan jauh di belakang, sibuk dengan handphonenya.
    Russ yang menyadari hal tersebut segera berlari mendampingi Lora, tapi tetap tidak terlepas dari handphonenya.
    “bukan gw yang jalannya kelamaan, tapi lo yang kecepetan ! udah,ayo jalan lagi !” ujar Russ kembali mengikutiku dari belakang.
    aku acuh tak acuh mendengar ucapannya, capai bertengkar mulut dengannya.
    “oi !” sambut Raka, anggota kepresidenan sekolah yang sudah nongkrong duluan di ruangan OSIS begitu kami sampai.
    “oi !sori ya lama,hehe” balasku tersenyum.
    “santai aja, hari ini kan kita gak ada kerjaan apa-apa, gue juga ke sini cuma buat ngabsen doing kok” Raka menyeringai.
    “Dasar lo emang !”. Tak sengaja mataku tertuju pada sebuah rangakaian bunga berwarna-warni indah yang di letakan di atas meja kerjaku. Itu bagian baiknya tapi bagian buruknya, Raka menyadari apa sedang kulihat.
    “ah…itu. Titipan dari Albert tadi tuh ra buat lo !hahaha” Raka tertawa cekikikan. Kesalnya diriku.
    Rasanya mendengar nama “Albert” saja aku langsung bergidik ngeri, bahkan masih terasa hingga aku duduk di kursi kerajaanku. Albert Hermes Thorn – nama yang tak asing lagi di telingaku – ia adalah anak pertama dari sahabat dekat ayahku, Edward Columbus Thorn, dia juga merupakan satu-satunya pewaris tunggal perusahaan Om Edward yang kebetulan adalah sebuah perusahaan supermarket kecil waralaba yang tersebar luas di kawasan Asia Timur. Tapi sayang, ia bodoh. Ia lebih memilih mendekatiku yang sudah jelas menolaknya mentah-mentah daripada mengejar nilai-nilai pelajarannya agar ia bias segera lulus dari sekolah ini dan meneruskan perusahaan megah ayahnya. Sebenarnya, aku tidak ingin mengakui ini, tapi memang pada kenyataannya Albert bukanlah seorang yang buruk rupa. Sejujurnya ia tampan dan harum, ia rapi, dan dia tidak bodoh dalam hal apapun alias multitalented. Maka itu tak heran bila kalian menemukan pengakuan beribu-ribu – yah,beribu-ribu mungkin agak berlebihan – wanita yang rela mati hanya untuk bisa menjadi pacarnya, hanya untuk bisa menjadi pacarnya saja loh !
    Tak lain dengan Russ, ia juga sama seperti Albert. Diidolakan oleh para wanita dimanapun ia berada. Hanya saja ia tidak mau tahu akan setiap wanita yang mengejar-ngejar dirinya, ia hanya melihat satu wanita. Ia hanya melihat Apple, yang bahkan otaknya pun tidak jauh lebih pintar dari pada aku.
    “woy !” gebrakan Raka membuatku tersentak kaget. “Sadar woi sadar !hahaha”
    Dasar ni anak betawi satu !demen banget sih ngagetin orang !
    “Damn you !kaget gue tauk !” umpatku.
    “hahaha !lagian bengong sih lo !hahaha” ia berhenti sejenak,lalu melanjutkan. “minggu ini lo tugas bersih-bersih ruangan kan ya ?” tanyanya santai.
    “masa sih ?” tanyaku bloon.
    “heeh ! kalo gitu gw balik duluan ya beb !happy working !” senyumnya, kemudian meninggalkanku sendirian di ruang OSIS. Kulirik jam dinding yang tergantung di sudut ruangan.
    Jam sudah menunjukan pukul empat saat itu, aku pun mulai bergegas melakukan jatah tugas bersih-bersihku minggu ini. Tapi rasanya seperti ada yang kurang di ruangan ini, aku berpikir sambil terus melamun di atas meja. Ah ! Russ tidak ada bersamaku sekarang ! hah,kemana lagi sih dia ??membuatku repot saja. Aku segera merogoh kantong rok sekolahku dan mengambil handphone untuk meneleponnya.
    “halo”
    buset, galak banget Russ jawabnya. Apa dia lupa siapa yang majikan dan siapa yang bawahan ?!
    “dimana lo ?” tanyaku tak kalah galak
    “lo dimana ?nanti gw kesana”
    cih !berlagak sekali sih.
    “gw lagi di ruang OSIS, dan gue mao sekarang juga lo kesini, got it ?” lalu aku langsung memutus telepon.

    “apple…” gumamku kecil, mencoba memulai pembicaraan dengan Apple yang duduk manis di sebelahku, membaca buku.
    Apple sepertinya menyadari gumamanku.
    ”kau memanggilku ?”
    ”uh..yah” nada suaraku mulai tidak jelas.”uhm..”
    aku terlalu gugup. Ayolah, kau harus mengucapkannya Russ, HARUS ! hanya satu kalimat,setelah itu akan selesai,tak ada lagi kalimta lain yang harus kau katakan.
    ”ya ?” Apple menunggu sepatah kata terucap dari mulutku yang pilu ini.
    ”uh…Apple,aku…”
    SHIT ! aku gugup sekali,kata-kata itu seakan tertahan di ujung bibirku
    ”aku…”

    I MAKE SOME GOOD GIRLS GO—

    Ringtone Cobra starship yang sengaja ku pasang dengan volume kencang tiba-tiba berbunyi dari dalam kantong celana panjang sekolahku. Mengagalkan semua rencanaku.
    Ringtone itu segera terputus begitu aku mengangkatnya
    “halo” jawabku kesal, sementara Apple masih menunggu perkataanku dan memandangiku
    ”dimana lo ?” balas suara di seberang telepon
    Ah ! mau nagapain sih anak ini ?!
    “lo dimana ?nanti gw kesana”
    “gw lagi di ruang OSIS, dan gue mao sekarang juga lo kesini, got it ?”
    pembicaraan pun langsung di matikan oleh Lora.
    ”uh, Apple” ucapku setelah selesai menelepon
    “ya ?”
    “sepertinya ada urusan yang harus ku selesaikan sebentar, tak apa kan ka—”
    ucapanku di potong olehnya
    ”tak apa, kamu beresin dulu aja aku gak apa-apa kok di tinggal sendirian” Apple tersenyum
    ”bener ?kamu mau nunggu aku sebentar ?”tanyaku tidak yakin
    ”iya,gak apa-apa kok, kalo sempet aku nunggu kamu kok di sini”
    ”yaudah,aku pergi dulu ya, kalo ada apa-apa aku mau kamu telepon aku, oke ?”
    setelah aku meyakinnya dan ia meyakinkanku, aku mulai berlari ke tempat Lora berada.
    Ah, mengapa Lora selalu saja mangacau ?! padahal tinggal sedikit lagi aku dapat menyatakan perasaanku kepada Apple. SUCH A BAD DAY .
    Tak butuh lama bagiku berlari menuju ruang OSIS, aku pun membuka pintu dengan napas yang sedikit ngos-ngosan
    ”ada apa lo manggil gue ?”ucapku galak begitu memasuki ruangan
    hanya ada Lora dan aku di dalam ruangan ini, ia sedang duduk dengan santai di bangku singgasananya. Menunggu diriku sepertinya.
    Lora kaget mendapati aku telah sampai di ruangannya.
    ”hei !gak bisa ketuk pintu dulu apa lo ?”ucapnya agak ketus
    ”buat apa ?emang ada tulisannya ?” balasku ketus
    ”buat ngajarin lo sopan santun !ga ada sopan-sopannya lo jadi cowo !” balas Lora tak mau kalah
    ”dasar lo sok tau”
    ”oh ya ?terus apa namanya kalo buka pintu ga ngetuk dudlu dan pergi ga bilang-bilang hah ?itu yang lo sebut sopan Russ Chlore yang terhormat ?”
    aku terdiam, tak bisa membalas
    ”none of your business” jawabku singkat,lalu melanjutkan.“lo manggil gue ke sini cuma buat berantem?”
    “hei boy,kalo gue mau mau berantem, banyak orang yang nantangin gue di luar sana, so gak perlu repot-repot manggil elo, jadi gak usah sok penting lo” ia berhenti sebentar. “and you have to know ya,hari ini gue lagi males banget karna sikap nyolot lo itu jadi bisa tolong beres-beresin ruangan ini ?sekalian di bersihin juga”
    “Cuma buat itu doang ?” tanyaku, kaget mendengar jawaban Lora
    SHE REALLY RUIN MY LIFE TODAY
    “mau di tambah ?”
    “no, thanks” jawabku singkat, jelas dan padat.
    Ruangan ini berantakan banget ! aku tak mau terlambat lagi kali ini dan segera mulai membersihkan ruangan. Semoga saja Apple masih menungguku.

    continue to part III

    me and my bodyguard part I

    Kriett

    “Non Lora bangun, sudah jam 7 pagi” ucap seorang wanita separuh baya.

    “Uh ! pasti bibi deh !” keluhku.

    aku perlahan-lahan terbangun dan benar-benar sadar dari tidur nyenyakku. Hari Senin, hari setelah hari minggu, hari saat dimana rasanya semua orang masih ingin bemalas-malasan dan bersantai-santai sejenak sebelum kembali ke kesibukan mereka sehari-hari.

    aku duduk bersila di atas ranjang bulu angsaku, mencoba meregangkan otot-otot badanku yang masih kaku.

    “bibi turun aja, nanti Lora turun, oke ?” ucapku agak parau

    “baik non. O iya non, bodyguard enon yang baru udah nunggu di bawah daritadi loh non, ganteng banget deh non !” ucap bibi ratih,pelayan pribadiku juga sekaligus ibu kedua bagiku.

    “hahahaha” tawaku .“ia nanti Lora turun kok. 30 menit lagi deh bi, bibi bilang aja ke bodyguard baru Lora biar dia nunggu Lora sebentar” ucapku panjang lebar.

    Setelah Bibi Ratih keluar dari kamar ku, sebenarnya aku masih ingin melanjutkan tidurku tapi mengingat bahwa ada bodyguard baru yang sudah menunggu diriku sedari tadi, aku pun urung untuk tidur kembali. Segera kuberanjak dari ranjang, menuju kamar mandi pribadiku. Tidak butuh waktu yang lama bagiku untuk mandi pagi dan bersiap-siap, seperti apa janjiku tadi pada bibi . 30 menit.

    Ah, maaf ! Perkenalkan, namaku Lora Candella, umurku baru saja 15 tahun, tapi aku sudah duduk di kelas 11 sekarang. Bahkan aku menjabat sebagai presiden sekolah di East Sunrise High School, sekolah bertaraf internasional yang merupakan SMA tempatku bersekolah.

    Aku berjalan menuruni tangga rumahku yang megah, dan aku mulai teringat akan cerita masa laluku saat tinggal di San Fransisco dulu, saat masih mendapat pelajaran kepribadian oleh nenek, Ronna Candella.

    Waktu itu aku masih seorang gadis kecil yang baru berumur 8 tahun, saat aku merengek-rengek kepada nenek agar di pindahkan ke sekolah yang sama dengan sekolah Alex,sepupu sepermainanku. Alex bersekolah di sekolah umum yang terletak di kawasan San Fransisco. Itulah sebabnya mengapa nenek tidak mau memindahkanku ke sekolah itu, karena sekolah yang di kunjungi Alex setiap hari adalah sebuah sekolah umum. Tapi begitulah nenek-nenek yang lain pada umumnya, mereka tidak mungkin hanya berdiam diri saat melihat cucu tersayangnya terus menerus merengek-rengek kepada dirinya,bahkan hingga menangis sesungukan di hadapannya. Nenek Ronna tetaplah seorang nenek yang mempunyai hati, seorang nenek keluarga Candella yang selalu sayang kepada cucu-cucu dan anak-anaknya. Nenek Ronna pun akhirnya mengjinkan aku bersekolah di sekolah yang sama dengan Alex. Aku ingat sekali, saat itu hari sudah sore dan jalanan sudah sepi akan pejalan kaki juga mobil yang berlalu lalang, aku sedang berjalan pulang bersama Alex. Kami tertawa bercanda bersama sepanjang perjalanan pulang, sampai akhirnya ada sebuah tangan besar yang membungkam mulutku dari belakang  dengan sapu tangan dan menghentikan perjalanan kami . Alex kontan terpaku melihat pria pemilik tangan besar tersebut, ia hanya bisa tertegun tak berkedip dan berdiri terpaku saat melihat pria itu, sementara aku terus-menerus meronta-ronta agar dapat bebas dari bungkaman yang menahan tubuhku unutk berlalri menjauh . Dan  Alex hanya bisa diam melihat kejadian yang terjadi di depannya, ia terlalu takut dan kecil untuk melawan pria tersebut. Akhirnya, aku pun pingsan karena menghirup obat bius dan Alex berlari menjauh dari diriku yang mulai tak sadar karena ketakutan.

    Selama 3 hari aku di sekap di sebuah gudang tua yang gelap dan bau. Dingin, lapar, dan kesepian. Hingga akhirnya , Nenek Ronna datang bersama kedua orang tuaku dengan membawa sejumlah uang tebusan . aku sudah berdiri di ambang pintu saat aku melihat mereka berdiri di ujung, memberi kode agar aku segera lari menuju tempat dimana mereka berpijak. Saat mataku menyadari kode tersebut, spontan aku berlari secepat mungkin ke tempat mereka berdiri, bersamaan itu juga mereka melemper uang tebusan ke arah para bandit yang menculik diriku dan tim gabungan SWAT langsung membidik mereka dengan senjata laser. Sayang, saat aku sudah berlari menjauh, salah satu dari bandit-bandit tersebut menembaku dengan pistol yang di selipkan di pinggangnya. Pelurunya melesat cepat membelah udara, terasa panas menembus kulit bagian bawah tulang selangkaku, semakin panas dan semakin panas, hingga merobek dagingku, hingga akhirnya darah mengucur dari tempat peluru biadab tersebut menembus kulitku, melumuri baju kesayanganku yang kukenakan saat itu. Tapi aku sama sekali tidak perduli, aku terus berlari dan berlari. Seketika itu juga Tim SWAT segera keluar dari tempat mereka bersembunyi dan mengepung para bandit-bandit tersebut. Dan aku,tidak tahu lagi kelanjutan karma pingsan menahan rasa sakit itu.

    “Sudahlah itu sudah lama terjadi,tak usah ku ingat-ingat lagi kejadian buruk itu. Mengingatnya malah membuatku ingin menangis.” ujarku dalam hati. Menahan air mata yang sudah siap jatuh dari pelupuk mataku.

    “Selamat pagi, Non Lora.” ucap salah satu pelayan pria di rumahku, saat aku menginjak ruang makan.

    “Pagi.” Balasku tersenyum

    ternyata di dalam sudah ada dua orang pria yang sedang menungguku sedari tadi.

    “Perkenalkan bodyguard baru anda, Nona Lora.” ucap manager keamanan di perusahaan ayahku, Eddi.

    “Russ Chlore” sambung Eddi.

    aku berjalan menghampiri Russ yang berdiri tak jauh dari tempat Pak Eddi berdiri dan mengulurkan tangan mungilku.

    “Hai.” aku tersenyum, “Lora Candella, anak ke tiga dari Mister Edward Candella.” sambungku memperkenalkan diri.

    Sebenarnya Russ bukanlah orang asing lagi bagiku, karna pada kenyataanya aku sering mengamati Russ saat ia di sekolah. Dan kalian akan kuberitahu salah satu rahasiaku . Aku menyukai Russ sejak dahulu. Tapi sayang, sepertinya rasa suka yang kupendam ini tidak akan terbalas, Russ tidak membalas uluran tanganku sama sekali.

    “Russ Chlore, seperti yang sudah kau tahu.” Ucap Russ dingin.

    Otomatis aku menurunkan tangannya.

    “ah…” ucapku sedikit kecewa, “Aku Lora Candella.” senyumku.

    “udah sarapan ?” Tanyaku hangat. Russ tidak membalas.

    aku mulai kesal dengan sikap Russ yang hanya diam saja daritadi.

    “oh…uda sarapan ya ?yaudah, kalo gitu gue makan dulu ya, selesai gue makan baru kita berangkat sekolah, oke ?” ucapku.

    “jangan lama-lama, gue gak suka nunggu.” Balas Russ ketus.

    Aku dan Pak Eddi hanya bisa berpandangan mendengarnya.

    continue to part II

    together 2

    Aku sampai di tempat itu , sebelumnya aku memandangi lukisan itu selama 4 jam. Sejak pertama aku sudah merasa familiar dengan lukisan itu. Ternyata ibu pernah mengajakkku hiking di sana. Mungkin hari ini aku akan memanjakan kameraku . Pemandangan yang indah seharusnya diabadikan agar dapat dinikmati lagi lain waktu

    ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

    Sebenarnya apa maksud ibu, dengan menulis memo seperti itu? Apakah ibu menginginkanku untuk bertemu dengan seseorang di sana? Atau hanya ingin aku refreshing saja?

    Mungkin saja

    Tapi ada sesuatu yang aneh dari foto-foto ini. Bayangan-bayangan foto mulai terlihat saat aku menaruhnya di dalam air bening, sedikit-sedikit aku dapat melihat hasil fotoku.

    Satu per satu kuperhatikan hasil foto itu. Aneh… foto-foto hitam putih yang kuambil semuanya pasti ada bayangannya, bayangan kabur tetapi membentuk pola yang sama, seperti sesosok orang. Tapi tak mungkin. Aneh jarang sekali hasil kameraku seperti ini.

    Aku mulai membandingkan foto “matahari terbit”ku dengan lukisan “matahari terbit” ibu. Satu kali… dua kali….. tiga kali…… sama persis , nayangan itu membentuk sosok yang ada di gambar ibu. Apa ini yang ingin ibu beritahu? Siapa pria itu? Rasa penasaran mulai menyelmutiku. Aku harus mencari tahu kebenarannya. Pasti ada petunjuk lagi di salah satu lukisan ibu.

    …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

    Aku menemukan 1 petunjuk. Petunjuk tersebut kutemuakdi lukisa sebuah tangan yang sedang meletakkan secarik kertas. Saat aku meraba di bagian kertas itu seperti ada tulisan timbul. Kutuangkan cat merah , tak begitu kental aku hanya perlu melihat bentuknya saja

    JANE AUSTEN

    Jane Austen adalah salah satu pengarang favourite ibu, hampir setiap bukunya ibu beli, mulai dari Sense and Sensibility, Mansfield Park, Pride and Orejudice dan banyak lagi. Tapi ada keganjilan saat aku melihat buku Pride and Prejudice. Halamannya ada yang hilang seperti di robek. Ceritanya berakhir pada bagian saat Lady Catherine menyuruh Elizabeth Bennet untuk berjanji agar tidak menikahi Mr.Darcy. Jadi ceritanya tidak berakhir bahagia, hanya berakhir seperti itu. Apa yang ingin ibu katakan?

    …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

    “Jangan mendekati anakku lagi, jangan rusak masa depannya.’” Sosok wanita paruh baya itu sangat menyebalkan. Ia memandang jijik ke arah seseorang. Tapi aku tidak tau siapa dia. Mukanya tak terlihat jelas

    wanita tua itu mengeluarkan sebuah amplo dari tasnya. Dan melemparkan amplop itu tepat ke muka gadis itu. Sepertinya gadis itu tak dapat menahan amarahnya lagi. Harga dirinya sudah diinjak sebegitu rupa, ia mulai bertindak. Ia seret wanita tua itu, ia tak perduli lagi apa yang wanita tua itu katakan kepadanya. Ia membanting pintu tepat di depan mukanya. Wanita tua itu seharusnya bersyukur atas perlakuan seperti itu, jika aku diperlakukan seperti itu akan aku panggil Rumah sakit jiwa untuk menyeret wanita tua itu. Aku tak ingin tangan bersihku ini dikotorkan karna telah memegang wanita tua gila itu.

    Air mata mengalir dari mata gadis itu. Dengan tangannya ia memegang perutnya dan berkata.”Jangan kuatir nak, kau tak sendirian.”

    Suara itu, suara ibu

    “IBU!!” tengah malam aku terbangun karna mimpi itu. Apakah ini yang ingin Ibu katakan?

    Aku bangkit dan meraih buku itu. Kutelusuri lagi. Mungkin saja ada petunjuk selanjutnya. Aneh kenapa ibu menandai kata “daughter” di sini? Apa ini berhubungan denganku. TApi aku tak punya petunjuk apapun? Lukisan!!”

    ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

    KUpandangi lukisan ku dulu, lukisan gadis mungil yang sedang duduk manis . Tapi tak ada petunjuk di sini. Tapi tiba-tiba saja lampu mati. Aneh padahal aku sudah membayar tagihan listrilk kemarin. Aku pergi ke dapur untuk mengambil lilin. Setelah kunyalakan , aku berniat untuk kemabli tidur, tapi ada dorang yang sangat kuat. Yang membuatku ingin pergi untuk melihat lukisan itu.

    Kulihat kemabali lukisan itu, tak kusangka. Petunjuk itu, bersinar.

    Tulisan itu terlihat sekali di tengah-tengah kegelapan. Ibu menuliskan petunjuk , dengan pena glow in the dark.

    Petunjuk itu berisi

    32851

    Bukalah, kau tidak sendirian

    Angka-angka itu, mungkin merupakan pin, Serperti yang dikatakan ibu, bukalah. Tapi hanya ada 1 berankas di sini. Dan pin itu berbeda pin yang biasanya kugunakan 32854 kata ibu itu diambil dari tanggal kelahiran ku 3 Februari 1985 dan angka 4 berarti selama 4 menit ibu keskitan mengeluarkanku. Sedangkan yang ada di dalam petunjuk pin berakhir dengan angka 1???

    …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

    “3krek…………..2 krek…….. 8 krek…….. 5 krek……….. 1 krek………”

    mungkin agak aneh mana mungkin 1 berankas mempunyai 2 pin. Tapi mungkin saja, semua hal memungkinkan.  Ibu adalah orang yang sangat kreatif dan kuakui ide-ide ibu agak aneh . Mungkin ini salah satu ide aneh ibu. Kuberanikan diri untuk menarik gagang pintu berankas itu.

    Dan ternyata berankas itu dengan mudah dapat kubuka. Tapi isinya berbeda dengan berankas yang biasanya kubuka. Berankas yang biasanya berisi uang hasil penjualan lukisan ibu dan fotoku. Yang ada di dalam berankas sekarang ini hanya sebuah kotak. Mungkin aku harus segera membukanya karna aku mulai sangat penasaran

    …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

    Kotak berdebu itu berisi foto-foto , sura dan banyak lagi yang lainnya. Aku kaget sekali membaca surat-surat ini. Ini adalah surat cinta ibu, mungkin ini dari ayah tapi di setiap tidak tertulis siapa yang menulis, hanya ada inisial LOVE. Arghhh… aku sudah pusing dengan teka teki ini. Tapi aku sangat penasaran ke mana ini berujung. Di setiap foto terdapat keterangan tanggal dan tahun di baliknya. Kucoba untuk mengurutkannya sesuai dengan tanggalnya. Hampir semua foto adalah foto ibu. Tidak ada sama sekali foto laki-laki yang mengirimkan surat cinta ke ibu. Tapi ada 2 foto yang bukan foto ibu, yang pertama pada tahun1985 , foto 2 bayi, sepertinya kembar , tetapi ada bercak darah di sebelah kanan foto. Apa ini darah ibu?

    Dan yang terakhir pada tahun 1987 terdapat foto sebuah rumah. Mungkin saja inilah kunci jawabannya. Di balik foto itu tertulis sebuah alamat yang aku yakini adalah alamat rumah tersebut.

    Bougenville,192, Perumahan Jatibening

    …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

    Akhirnya portal telah dibuka, aku dapat memasuki area kompleks itu sekarang. Jantungku berpacu lebih cepat dari laju mobilku. Aku tak tau apa yang sedang menungguku di dalam rumah itu. Aku takut akan kebenaran ini.

    Ting..tong…

    Kutekan bell rumah itu, rumahnya sama persis seperti yang ada di foto kecuali tambahan ruangan yang ada di sampingnya, sepertinya baru ditambahkan, tapi secara keseluruhan inilah rumahnya . Aku yakin. Tanganku gemetar setelah menekan bell itu, dan kakiku tak kuat lagi menahan berat badanku.

    Tenang anakku ibu di sini

    Seketika dapat kurasakan suara ibu di sampingku. Tangan ibu menggenggam tanganku yang gemetar ini. Mungkin terdengar gila. IBu tetaplah di sini, biarlah rasa nyaman ini tetap bersamaku. Tetaplah bersamaku

    ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

    “Kau sungguh mirip dengan ibumu.” Seorang pria paruh baya itu duduk di depanku. Mungkin dia adalah ayahku? Ialah yang membukakan pintu unutkku.

    “Kau mengenal ibuku?’

    “Maafkan aku.” Jawabannya tadi sama sekali tidak menjawab pertanyaanku.

    “Bisakah kau menjelaskan apa yang sedang terjadi.”uaraku bergetar, memaksa pria itu menceritakan apa yang telah terjadi. Dengan semua teka teki ini.”apa maksud dari semua ini,” kulemparkan semua petunjuk dari ibu. Foto-foto dan yang lainnya.

    “Nala.”

    “Kau tau namaku?apakah mungkin kau adalah..”

    “Nala?”seorang pemuda jangkung keluar dari persembunyiannya. Tubuhnya yang tegak dan dengan raut muka yang bingung ia memandangku. Pandangan matanya mengingatkanku pada ibu.

    “Nanda, “sahut pria paruh baya itu kepada laki-laki tegak yang sekarang berdiri tepat di hadapanku.menatapku bingung

    nanda?? Itu kah namanya?

    ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

    “Maafkan Ayah, Nala.” Kata-kata yang sangat sulit untukku terima .Ibu telah menderita. Buku itu, kisah Elizabeth Bennet dan Mr.Darcy , adalah kisah ibu dan ayah. Tetapi tidak berakhir bahagia. Kakekku ,menyuruh orang-orang menghancurkan keluarga ibu. Kakek dan nenek dari ibu selalu saja terancam keselamtannya. NEnek dari ayah, selalu mengusir ibu. Mereka adalah orang yang sangat berkuasa. Ayah tidak dapat berbuat apapun , dan ayah saat itu juga tidak mengetahui bahwa ibu telah mengandung .. Demi menolong ibu dan keluarganya , ayah bersedia menikah dengan perempuan kaya. Ibuku hanya dapat melihat kebahagiaan ayah dari jauh saja.

    Tapi mereka orang yang sangat egois. Perempuan yang menikah dengan ayah tidak dapat mengandung. Ibuku yang sedang hamil besar menjadi sasaran, tidak kuat untuk melarikan diri . Mereka mengetahui ibu sedang mengandung dan ternyata anak yang di dalam kandungan ibu kembar. Karena dikejar oleh suruhan kakek. Ibu harus melahirkan di rumah penduduk dengan bantuan bidan. Ibu melahirkan bayi kembar, yang satu perempuan, Nala dan yang satu lagi adalah laki – laki, Nanda. Keluarga ayah sangat menakutkan , mereka tega-teganya memisahkan Nanda, dari sisi ibu dan aku. Ibu yang baru sajamelahirkan tidak kuat untuk melawan mereka. Sang bidan berusaha sekuatnya memegang Nanda tapi orang suruhan kakek sangat kuat. Sang Bidan tak dapat mempertahankan Nanda. Tangan ibu yang gemetar memelukku erat.

    Setelah kejadian itu berlalu, ibu berterima kasih kepada sang Bidan yang telah membantu ibu. Sang bidan pun menyerahkan sebuah foto. Anak perempuannya yang tadi juga ikut membantu ternyata adalah seorang fotografer, ia sangat suka memfoto, dan tak sengaja pasangan bayi kembar ini sempat diabadikan olehnya.

    Beberapa kali ibu mencari Nanda. Tapi ternyata keluarga ayah sudah membawa Nanda pergi ke Amerika. Pertama kali ayah mengira Nanda adalah anak adopsi, istrinya dan orang tua ayah bersekongkol membohongi ayah tapi 3 th yang lalu semua terbongkar. Ayah menceraikan istrinya tanpa memberitahu alasannya kepada Nanda.

    “Kenapa ayah tidak mencari ibu?”

    “Iya, tidak ingin menemuiku. Ia mengusirku.”

    “Apakah ayah sekarang tau ibu di mana?”

    “Pasti masih di Gallery bukan.”

    Hatiku sakit, melihat dan mendengar ini. Mengapa ayah begitu bodoh, apakah harus setidak peduli itukan aya kepada ibu? Kenapa sampai sekarang ayah pun masih tidak tau bahwa ibu sekarang sudah tidak ada di dunia lagi.

    Tapi tiba-tiba saja tangan hangat merangkulku, tangannya menghangatkan hatiku yang perih. Nanda. Kakakku

    “Ibu sudah meninggal yah.” Kataku serak

    ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

    Kami bertiga memandangi batu nisan itu, berkumpul . Ayah berlutut di depan batu nisan ibu. Menangis, meratapi. Dan Nanda hanya tertegun melihatnya, aku  tau sebenarnya di dalam hati Nanda, ia menangis

    Aku bergerak ke arahnya. Dan memeluknya, memeluk kakakku

    “Kita akan selalu bersama.”

    ……………………………………………………………

    Sudah 2 tahun kami bersama, aku sekarang sudah tidak lagi sendirian , kami bertiga membangun keluarga kami yang hilang dulu. Kami selalu bersama, tak kala setiap bulan kami pergi ke kuburan ibu.

    Dan kadang kami meluangkan waktu kami untuk hiking ke gunung. Ternyata gunung yang waktu itu ada di lukisan ibu, merupakan tempat di mana ayah dan ibu membuat perjanjian untuk saling mencintai walaupun ditentang oleh orang tua. Dan karena keegoisan orang tua mereka, serta karena rasa cinta mereka yang dalam, lahirlah kami berdua.

    Aku berjanji aku dengan Nanda tak akan berpisah. Kami akan selalu bersama.

    The end

    together

    Together

    Ada satu hal yang paling kutakuti di dunia ini. Satu hal yang paling kutakuti itu telah terjadi kepadaku

    Takut………. Aku takut jika aku harus sendirian

    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

    Suara detak jantung itu dapat kurasakan saat aku medekap ibu. Wanita separuh baya itu terlihat sangat lemah, mukanya sangat pucat. Hatiku sangat sakita setiap melihat ibuku harus terbaring lemas di kamar Rumah sakit ini. Penyakit jantung ibu semakin lama semakin memburuk. Aku tak pernah ingin membayngkan, jika aku harus hidup tanpa ibu.

    Sudah cukup aku terlahir tanpa kehangatan seorang ayah. Aku tak ingin kehilangan ibuku. Wanita perkasa dan tangguh yang telah menjagaku selama 23 tahun. Seorang artistic, pelukis handal dan seorang ibu yang sangat kucintai

    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

    Gallery ibu sangat sepi. Sudah berhari-hari pembantu rumah tidak masuk kerja, dan sudah berminggu-minggu ibu terbaring di Rumah sakit. Air kataku sudah tak kuasa lagi kutahan. Kata-kata dokter selalu saja terulang di dalam pikiranku “Bersiap-siaplah Nala

    Air mataku mengalir deras, terus dan terus . Setiap sudut ruangan ini terdapat banyak sekali kenangan tentang ibu. Setiap lukisan penuh sekali dengan sentuhan ibu. Aku ingat sekali lukisan ini. Setiap lekukannya mengingatkanku kepada seorang gadis kecil, yang 13 tahun lalu duduk manis di sebuah bangku kecil sambil menunggu sang Ibu selesai melukisnya.

    “Ibu apakah sudah selesai?”

    “Belum sayang , ibu belum selesai menggambar matamu yang bulat dan indah, tunggu sebentar. Habis ini ibu akan membuatkan waffle blueberry kesukaanmu.

    “Horee.”

    “Jangan bergerak ya sayang.”

    Aku menyentuh kanvas tersebut. Dapat kurasakan setiap memori itu . DApat kurasakan bagaimana kerja keras ibu selama ini. Aku Rinala, yang sekarnag telah menjadi seorang photographer terkenal. Semua ini berkat kerja keras ibu. SEtiap keringat yang ia keluarkan dan yang ia tuangkan ke dalam kanvas . Siang dan malam bekerja hanya unutk membiayaiku.

    Ibu… kerja kerasmu tak sia-sia. Aku sekarang dapat berdiri tegak karnamu.

    Aku akan membuatkan pameran yang terakhir unutkmu ibu. Terakhir kalinya.

    ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

    “Ibu ingin melihat sesuatu Nala,”suara lembut ibu mulai menjadi parau

    “Melihat apa , Bu?”

    “Ibu ingin melihat pameran yang engkau buatkan untuk ibu.”

    “Tapi dokter bilang ,kondisi ibu sedang kriati

    “Nantinya Ibu juga akan mati , NAla.”

    “Ibu jangan berkata seperti itu, lebih baik ibu menuruti apa yang dikatakan dokter saja”

    “Dokter sudah berkali-kali berkata seperti itu Nala. Dan pada akhirnya ibu dapat pulang”

    “Ibu.”

    “Ibu tau kondisi ibu yang sekarang lebih parah. Makanyabiarlah ibu melakukan apa yang ibu inginkan.”

    Aku tak dapat menolak permintaan ibu lagi. Maka itu aku dengan berat hati harus membawanya ke pameran tersebut. Dinding-dinding putih sudah dihiasi lukisan-lukisan artistic , hasil karya ibu. Satu per satu , ibu melihat hasil karyanya.

    “Berhenti NAla.”Ibu menyuruhku untuk berhenti mendorang kursi rodanya.

    “ada apa Bu?”

    Ibu tak menggubris , ia hanya memandangi lukisan itu seakan ibu masuk ke dalam lukisannya. Air mukanya berubah tak terbaca. Entah ada apa dengan lukisan itu?

    Padahal menurutku lukisan itu terlihat biasa saja. Lukisan itu menampilakan seorang laki-laki , entah muda atau tua . Ia sedang menghadap kea rah matahari yang baru saja terbit. Sudut yang diambil seakan kita sedang memandangi laki-laki tersebut. LUkisan itu tidak diberi warna hanya sekedar hitam putih saja, kecuali di bagian matahari terbit. Tapi ada ala di balik lukisan ini? Kuakui memang cara penyajian lukisan ini sangat artistic tapi apa yang istimewa dari lukisan nini. Aku mulai mengamati raut muka Ibu. Dan ternyata air mata mulai mengalir dari mata ibu.

    Ada apa ibu?

    …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

    “Para saudara sekalian kita berkumpul di sini untuk melepas kepergian saudari Margaretha Triatone yang telah dipanggil ke dalam pangkuan Bapa di surga. Mari kita………”

    Suara Pendeta Yakub mulai menuntunku kembali kepada kenangan – kenangan ibu. Kakiku gemetar, tak kuat lagi menopang tubuhku, sendi-sendiku terasa nyeri dingin menyelimuti tubuhku. Selendang hitam  yang menutupi kepalaku, jatuh ke atas pundak karna tertiup angina. Mulai hari ini aku akan berjalan sendiri di muka bumi….. sendiri.

    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

    Air mataku sudah habis , di setiap sesi penguburan. Tidak ada setetes pun air mata yang keluar. Pikiranku melayang. Tatapan-tatapan kasian semua terlontar dari mata mereka.

    …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

    Di Gallery ibu, aku merasa sangat hangat. Seakan – akan , ibu sedang memelukku. Aku duduk memeluk lututku, meringkuk di sudut ruangan. Dinding – dinding menjulang . Saat itu semuanya seakan mau runtuh.

    Jam berganti jam , minggu telah  berganti, dan waktu pun terus berjalan tanpa mempedulikan kesedihan, penderitaan .

    Gallery ibu , terasa sangat dingin. Aku tak ingin menjual gallery  ini, karna di sini terdapat banyak sekali sentuhan ibu. Tinggal di sini seakan aku masih tinggal bersama ibu. Aku merubah gallery ibu menjadi galleryku.

    Banyak sekali lembaran-lembaran foto berserakan di lantai, sama seperti bercak-bercak cat yang dulu selalu ada setelah ibu bekerja.

    Sudah waktunya berbers-beres. Hari ini aku harus Membersihkan foto-foto yang berserakan ini. Kepalaku pusing dan tubuhku terasa berat sekali, sofa kuning yang sekarang menjadi singgasanaku terasa sangat nyaman. Aku merasa sangat enggan untuk bangkita dari sofa ini. Angin mulai masuk membelai wajahku. Korden putih berterbangan tertiup angin, sejuk sekali. Sayangnya aku sendirian. .

    Satu per satu kuambil lembara-lembaran foto itu, mulai dari yang berada di bawah sofa, di atas meja, di atas kursi serta yang terselip di sela-sela lukisan ibu . Beberapa lukisan ibu yang tak ikut pameran tetap kusimpan sebagai kenang-kenangan. Kuambil salah satu foto yang terselip tepat di bawah salah satu lukisan ibu, tapi tanpa sengaja kain putih yang menutupi lukisan itu terbuka. Kulihat dan kupandangi lekat-lekat lukisan itu. Lukisan yang 1 tahun lalu ibu pandangi. Lukisan terakhir yang ibu lihat, maka itu aku tak rela menjualnya. Aku masih ingat pertanyaan yang kuajukan saat kulihat lukisan ini. Apa yang istimewa dari lukisan ini?? Mungkin aku punya banyak waktu untuk mencari tahunya. Kuangkat tanganku, dan kusentuh setiap lekukan yang tergores di kanvas itu. Tapi ada sesuatu yang ganjil, aku menemukan sesuatu di bingkai lukisan ini. Sebuah kertas yang dibuntal dan diselipkan di sela-sela bingkai. Ini tulisan ibu

    Berharap kau menemukan kertas ini pada waktu yang tepat

    Ibu ingin mengajakmu ke suatu tempat, bisakah kau datang ke tempat di mana lukisan ini

    Datanglah saat matahari terbit. Kau akan menyukainya

    Mom

    Waktu yang tepat? Apakah sekarang adalah waktu yang tepat,bu??

    to be continue….