GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Author Detail

Rini Elvirawaty

Registered Since: 2010-01-17 10:53:37

Description: Aku hanya menulis, tak ada tujuan berakhir menjadi penulis. Biar kepala ini lebih lega, ku pindahkan isinya ke atas kertas putih, bertinta hitam, dan biar semua mengalir apa adanya...

Posts by Rini Elvira:

    SI MERRY TEMAN SAYA

    Teringat seorang teman, yang pernah membuat saya malu. Suatu hari, HP si Merry kecopetan di kereta. Bingung dia, karena dia punya sorang pacar yang hampir tiap menit telpon atau sms. Karena Merry tak punya uang untuk beli HP hingga gajian tiba, tanpa pikir panjang dia membawa telpon rumah nya yang memang tanpa kabel dan ber kartu Flexy. Sebelum berangkat kerja, Merry mengikat telpon tersebut dengan tali rapia agar gagang tidak lepas dari telponnya, dan merebahkan antena nya. Setelah dimasukkan ke dalam tas, pergilah Merry menuju stasiun Depok Baru, di mana saya telah menunggu untuk berangkat kerja bareng, ke Bogor.

    Di tengah perjalanan menuju stasiun Citayam, terdengar bunyi dari tas si Merry. Dia diam saja awalnya, tapi lama-lama Merry sadar bahwa HP nya telah hilang, dan berganti dengan telpon rumah tanpa getar. Paniklah si Merry. Karena kondisi kereta penuh sesak dan mengharuskan kami berdiri, maka susah payah pula si Merry membuka tas sandang kerjanya, kemudian membuka ikatan tali rapia telpon rumahnya. Setelah berhasil, disandangnya kembali tas, tangan kiri memegang telepon, tangan kanan memegang gagang telepon. Ternyata sinyal tidak bagus di dalam kereta, maka si Merry menegakkan pula antenanya, dan Merry tersenyum, karena yang menelpon adalah sang pacar. Merry benar-benar tidak perduli pada puluhan pasang mata aneh yang memandangnya saat itu. Termasuk saya yang saat itu berharap dia bukan teman saya.

    Ketika sampai di stasiun Citayam, masuklah penumpang secara berebut, dan Merry belumlah lagi selesai bercengkrama di telepon. Karena penumpang tambah penuh sesak, membuat badan sering terdorong-dorong oleh penumpang yang lain. Begitu juga juga dengan badan Merry, dan tiba-tiba membuat telpon terlepas dari tangan kirinya. Tinggallah Merry hanya memegang gagang di tangan kanannya. Dia pun sibuk, karena penuh dan tidak bisa menunduk untuk mengambil telepon yang sudah tiba di lantai kereta. Tapi karena sang pacar belumlah selesai berbicara, maka jadilah si Merry berbicara dengan kepala yang agak merendah mengikuti gagang telpon yang agak tertarik ke bawah oleh kabel telepon.

    Lega saya, karena sudah sampai di Bogor, dan terlepas dari kekonyolan si Merry. Sepanjang jam kerja, saya sungguh tidak ingin mengingat kejadian itu. Sampai, tiba jam pulang, dimana saya kembali pulang bersamanya, dengan kereta yang penuh sesak. Sialnya, kembali berdiri, karena terlambat tiba di stasiun. Sebelum pulang seorang teman saya bergurau, “hati-hati Mer, nanti telepon rumah lo lagi yang dicopet. Jangan sampe di punggung lo besok ada box telpon umum yang ada di ujung gang rumah lo…”. Mendengar gurauan temen saya itu, maka si Merry mengambil kantong plastik kresek hitam, dimasukkannya lah telepon rumah itu, yang tentunya sudah diikat dengan tali rapia lagi. Dia bilang, “dengan ini copet gak akan tau bahwa ada telepon dalam kantong kresek”.

    Ketika kereta setengah perjalanan, telpon si Merry berbunyi lagi. Saya berkata, “no Mer, not again”. Tapi Merry tidak menghiraukan saya, karena ini adalah jam nya sang pacar bertanya tentang “sudahkah Merry pulang?”. Merry sibuk membuka tas, dan mengeluarkan kantong kresek dalam tas nya. Saya sudah mulai marah padanya, tanpa pikir panjang saya rebut kantong kresek itu. Merry memiringkan badannya untuk merebut kantong itu, tapi tidak sampai, karena diantara kami berdiri seorang bapak-bapak yang hampir jatuh karena di dorong si Merry. Saya yang takut jatuh pula, akhirnya menggapai rak diatas tempat duduk penumpang, dengan tangan kanan saya yang memegang kantong kresek berbunyi tak henti-henti. Jika pagi fokus orang ke Merry, maka malamnya saya yang jadi pusat perhatian. Karena semua orang melihat saya berpegangan ke atas sambil menenteng kantong plastik berbunyi kriiiing…..kriiiing…kriiiing…yang sungguh nyaring. Merry…Merry…

    AKU MENGGUGAT CUPID

    Putra Nimrod, yang disebut tuhan cinta ini hanya lah seorang bayi tampan yang durhaka pada sang bunda.
    Saat dimana dia diagungkan hanyalah sebuah kata Latin bermakna yang maha perkasa, kuat, dan berkuasa.
    Tak sedikitpun bertautan dengan cinta.
    Jadi mengapa hari itu harus ada?

    Dan bukankah cinta setiap saat harus dan tetap ada?

    Tapi, cinta?
    Terpikir lagi, benarkah kata itu berupa realita?
    Karena jika cinta, bukankah harus memiliki?
    Tidakkah itu cerminan ego diri?
    Kalau cinta tak harus memiliki, apakah tidak menyiksa hati?
    Ketika ada cinta yang lain,
    Apakah akan terus melepasnya atas nama cinta sejati?

    Jadi untuk apa cinta ada?
    Cinta itu muskil
    Memiliki salah, tak memiliki pun susah

    Lebih baik hapuskan saja cinta di dunia

    Pakai saja nama “naluri manusia”
    Karena kata ini tidak selalu berakhir indah
    Sedang cinta seharusnya selalu berakhir bahagia

    Tapi, kata “cinta”?
    Memang siapa yang menemukannya?
    Siapa dia?
    Kenapa rasa yang indah itu berhak dinamakan “cinta”?

    Ah sudahlah…
    Apapun rasanya,
    Namanya,
    Artinya,
    Yang penting tidak akan ku rayakan di 14 February

    Karena semua manusia yang ku “cinta” i
    (Jika memang itu namanya),
    Tak layak untuk mendapatkan ucapan “cinta” dari ku
    (Jika memang itu sinonimnya)
    Di hari dimana begitu banyak sejarah ambigu tentangnya
    Dan Cupid pun terlalu salah untuk dijadikan dewa nya

    Negeri Komplikasi

    Negeriku sakit!!!

    Penjaga setianya berkutat diseputar hukuman mati
    Penjaga hukum berbalik dijegal hukum
    Bukan lalai membela bangsa
    Melainkan hanya karena seorang wanita yang tampak bersahaja

    Hingga negeriku sekarat,
    Paru-parunya berlubang
    bertumpuk titik-titik hitam lisong bertanda CENTURY
    Tak jelas sampai dimana zat itu mengalir,
    masih di hulu atau sudah di hilir
    Siapa yang salah? Pembuat atau penikmat?
    Para dokter uji diagnostik tak habis-habisnya berseteru
    “diagnosa ku yang benar (jadikan aku berpangkat)”
    Dan ditonton oleh jutaan rakyat yang kebingungan tak berpegangan
    “Sakit ini kami tak mengerti, rumit”
    Parodi para dokter justru dagelan yang asyik untuk dinikmati

    Kepalanya pun mengucur darah,
    Habis ditimpuki para mahasiswa yang berteriak “TURUN!!!!!!”
    Si maha yang tak berjati diri
    PEMUDA CINTA TANAH AIR tapi pembuat rusuh tanah air
    Demokrasi kamuflase demoanarki
    Demo kerbau, demo kera, demo ayam
    Demo kebun binatang!!!

    Hingga organ tubuh yang lainnya minta untuk dipisahkan saja
    Karena tak tahan dengan derita
    Hati biar dicangkok orang lain saja,
    jantung sementara berdenyut berirama, tapi suatu saat kan berdenyut kencang hingga meledak dan mematikan,
    ginjal didalamnya membuat ginjal-ginjal kecil yang siap untuk bersatu dan pergi juga meninggalkan tubuh negeri ku yang sedang megap-megap

    Dan anak yang sedang ditimangnya “mengeak”
    Lapar!!!!
    Sakit!!!
    Miskin!!!
    Sedang dokter yang mengurusnya gila mengurus kepentingan ego untuk menguasai tampuk kekuasaan

    Negeriku komplikasi
    Aku pun tak tahan lagi
    Harus kah negeri lain kucari?

    Inspirasiku Tersesat

    Kopi menemani,
    Berharap aromanya menuntun menemukan jalan kedalam palung sekalipun
    Atau labirin tak berpintu masuk dan keluar
    Hilang menemukan yang menghilang
    Terjerembab di bangku taman menerawangi langit mengais awan gelagat
    Jejak dimana mungkin ia pernah menjejak
    Beranjak berjalan susuri jalan menyusur sepanjang dedaunan berguguran
    Menghitung yang tak terhitung
    Menari dalam hujan menghujani setiap sudut tak menyisakan kering
    Membeku dalam kebekuan
    Berucap terbata-bata seolah kata sudah tiba di ujung kelu lidah
    Namun terseret air liur menuju jurang kelam
    Masih tak tertemukan
    Hey kau…
    Kembalilah kau dari kesesatan kepadaku yang tersesat tanpamu,
    Inspirasi ku…

    Berakibat tak Bersebab

    Kata tak bermakna
    Sumpah tak bermantra
    Tangis tak bersedih
    Tawa tak menggelitik

    Pergi tak bertujuan
    Pulang tak beralasan
    Lari tak mengejar
    Berjalan tak melangkah

    Berdiri tak bertegak
    Duduk tak beralas

    Tingkah tak bersebab
    Gila banyak sebab

    Kepada Yth.: BAEKUNI

    Sadis,
    Kau Mengiris
    Tak sedikitpun meringis
    Dan tanpa tangis
    Kau najis !!!

    “Babe” panggilanmu?
    Tak pantas buatmu
    Seribu manusia sepertimu
    Lebih baik ku mandul, tahu !!!

    Susah payah ibu melahirkan
    Walau tak terlalu diperhatikkan
    Bukan hak mu pula menyia-nyiakan
    Don’t you know man !!!

    Kau tak ber-malu
    Seluruh nusantara, tersebar karyamu
    Bisa-bisanya kau lakukan itu
    Two thumbs up for you !!!

    Mendekamlah di balik jeruji
    Semua nyaris kau akui kini
    Salut beiby,
    Kau paedofilia sejati !!!

    Hades, Thanatos, Ker, Mors…

    Oh dewa kematian,
    adakah kau kan bersabar menunggu
    karena aku tak bisa datang senja ini

    Sekejab lagi kan tiba malam
    dan aku masih belum mementaskan tarian terakhir
    agar kau lebih mabuk kepayang
    hingga lupa terjaga

    Detik-detik penghujung ini semakin membuat ku liar dan binal
    gairahku semakin memuncak
    dosa-dosa itu terasa belum terlalu besar
    dan nikmat baru sampai laring saja

    Kumohon, sebentar saja…
    sampai semua zat semu itu telah memenuhi alam nafsu hingga muak
    jemputlah…

    Aku masih ingin bergumul dengan legam dan kelam
    debu-debu yang telah menjadi kulit ari ku pun tak mau pergi
    bagaimana mungkin aku menjadi begawan ?
    satirnya hidup masih membuat ku candu

    Utarakan padaku penguasa kebinasaan
    semua ini untuk apa diciptakan ?
    lalu apa salahku yang meresapinya dengan jujur

    Suci?
    Sebuah kata bengis
    Sama dengan putih, bersih, tulus, apapun
    Perpaduan aksara itu berarti hipokrit
    Kau putih karena berpaling dari hitam
    Kau bersih karena kotor najis kau jamah
    Kau tulus ?
    hanya kau yang tahu

    Kau pun keji
    tidakkah kau bertanya kenapa semua orang tak ingin kau datang ?
    lebih dahulu kau ceritakan semua yang kan dialami jika kau menjemput kelak
    namamu pun iblis di kehidupan

    Jadi aku dan kau sama
    pantas kau menyukaiku
    layak jika kau ingin berkawan denganku

    Akankah kita berdansa disana berdua?
    Jika iya,
    setelah ini aku kan menjangkah riang menuju tiang gantungan

    Jika Tanpa-Mu

    Air, mungkin aku mati kerontang tanpamu
    jagat ini keriput dan menyusut hingga musnah sekecil-kecilnya
    Api, semestinya paru-paruku kan terendam dingin tanpa hangatmu
    Kosmos ini takkan berdaya

    Udara, aku kan sesak diketidakhadiranmmu
    Semesta ini mati tercekik hingga biru
    Dan tanah, tentu aku terhempas ke jurang tanpa alas, tanpa tempat berpijak
    Buana ini membusuk karena akar tak terkubur

    Jika tak jagai,
    Semua kan kembali ke tangan Pemberi
    Dan takkan kembali lagi

    Jika pongah,
    Semua balik menyerang
    Bagai musuh yang semula kau sangka kawan

    Jika ingkar,
    Rasakan prahara terhembus dari langit
    Bumi bagai dadu yang mencari digit, jungkir balik
    Hingga manusia bagai semut yang lubangnya di ketuk

    Jika ku tak berlutut,
    Takkan habis ku mencari kesemuan
    Jika ku tak bersujud,
    Takkan mampu ku resapi semua nikmat
    Jika ku tak mengakui,
    Entah dimana sudah aku tersesat selama ini

    Jika Kau tak ada,
    Akankah ku ada di bumi?
    Dan jika tanpa Mu,
    Maka semua kan tanpa arti

    Tuhan ku, Termulia ku
    Hanya Kau terdalam di hati…

    Surat Cinta dari Perang

    Sayang,
    Sedang apa kau disana?
    Aku begitu rindu pulang, memagut mu hingga bermusim-musim.

    Tahu kah kau?,
    Hari tadi sangat penat, seperti berhari sebelumnya
    Kami dipukul mundur,
    Setelah peluru para serdadu itu tak sebanding lagi
    Dan jiwa sudah letih
    Aku lama bersembunyi dalam perdu
    Kemudian susuri sungai tak berujung
    Bagai dalam wangkang berlayar entah di laut belahan bumi mana

    Perang ini entah apa yang dimenangkan
    Dan entah kalah terhadap apa
    Yang jelas buat ku, jika bahasa dan warna kulit berbeda
    Maka kami bermusuhan, dan semestinya berbunuhan

    Ku ceritakan pada mu…
    Tak terhitung berapa nyawa sudah ku buat binasa
    Juga seorang laki-laki kecil
    Dan ibu nya, perempuan bercadar hitam
    mereka dengan gagah berani mengacungkan pistol tepat di kening ku
    bagai menciumku mengendap-endap
    pernah juga ku tinggalkan seorang kawan yang sedang berjuang menjahit luka, sendirian, di antara rimba
    Atas semua itu, tetap tak ada sesal…

    Padahal aku masih tak mendapatkan arti
    Sebab apa pertempuran ini?
    Kalau tak takut akan mati, tak sedunia akan perang

    Mungkin bagi mu aku zalim
    Tapi bagi ku tunai tugas ku
    Bagi mu aku tak berhati
    Bagi ku itulah janji bakti

    Dan kau pikir aku tak pernah menangis?
    Deras…
    Namun hanya didalam hati, hingga membanjiri jantungku dan berakhir sesak…

    Ah, sudahlah….tetap kau takkan mengerti

    Teringat tangis mu saat ku pergi
    Menangis tak berhenti
    Tak biarkan ku jelaskan semua alasan
    bahwa Semua untuk mu,
    Untuk kita,
    Untuk masa depan,
    Ku pikir kau dan semua orang akan mengerti
    dan seharusnya ini hanya berjalan mudah
    Seharusnya kau bangga pada ku
    Karena seharusnya semua untuk mu…

    Tapi masih kah kau tunggu aku pulang?
    Atau kini kau telah berlayar bersama kapal yang lain?

    Biarlah…
    Yang penting setiap hari aku harus bermimpi
    Bahwa suatu hari aku akan pulang
    Dengan kau yang menyongsongku dipintu dengan tangan terbentang dan seribu peluk
    Membawa serta bau bumbu dan kayu bakar yang khas di raga mu

    Dan pada detik itu aku kan berjanji, tak akan lagi meninggalkan mu
    Karena aku kan selamanya bersama mu, mengayuh biduk
    Membesarkan si buyung dan menanti dia memberikan cucu untuk membawa gelak tawa di kehidupan kita

    Sayang,
    Doa kan aku bisa kembali
    Karena disini setiap saat berarti mati
    Dan jika di malam hari ku masih bisa merasakan selinting mariyuana sambil meneguk arak,
    Berarti mungkin aku kan mati di hari esok nya, atau lusa nya

    Adakah kau kan mengerti?

    Karena surat ini, mungkin sudah baris yang keseribu kalinya, dari sekian banyak kata yang pelik dan getir, sedang kau tak layak mendapatkannya

    Dan lembaran-lembaran itu hanya bisa tersimpan rapi dalam barak rombeng ku…

    Setengah hari yang aneh

    Rajahan di sekujur tangannya,padahal dia cantik, apa masalah mu?

    Hey…berpelukan, berciuman sepanjang koridor, go get a room, will you?

    Ampun, lelaki itu, bertatapan mesra dengan pria itu, ada apa dengan kaum hawa di bumi ini?

    Hahaha…payudara nya hampir menumpahi semua pengunjung, kau dari suku kubu ya?

    Hmm, sok tau kau, sok bergaya orang paling tau sedunia…kenapa kau angkat-angkat tangan setiap kau berbicara? bisakah kau rubah raut muka mu itu?

    Ini apa lagi, gaya bicaranya aneh, bos perusahaan mana kau? di gedung ini banyak orang, kenapa cuma suara kau yang terdengar?

    Ihhhh, pakaian mu kelebihan kain, kau seperti orang-orangan sawah, anting itu, kenapa tidak sekalian saja velg ban kau gantung?

    Aneh…..dunia ini banyak orang aneh….
    dan aku lah yang teraneh…
    karena setengah hari aku hanya berdiri kaku di depan eskalator mall, ternganga dengan mata terbelalak melihat kalian melewati ku…