SI MERRY TEMAN SAYA
Teringat seorang teman, yang pernah membuat saya malu. Suatu hari, HP si Merry kecopetan di kereta. Bingung dia, karena dia punya sorang pacar yang hampir tiap menit telpon atau sms. Karena Merry tak punya uang untuk beli HP hingga gajian tiba, tanpa pikir panjang dia membawa telpon rumah nya yang memang tanpa kabel dan ber kartu Flexy. Sebelum berangkat kerja, Merry mengikat telpon tersebut dengan tali rapia agar gagang tidak lepas dari telponnya, dan merebahkan antena nya. Setelah dimasukkan ke dalam tas, pergilah Merry menuju stasiun Depok Baru, di mana saya telah menunggu untuk berangkat kerja bareng, ke Bogor.
Di tengah perjalanan menuju stasiun Citayam, terdengar bunyi dari tas si Merry. Dia diam saja awalnya, tapi lama-lama Merry sadar bahwa HP nya telah hilang, dan berganti dengan telpon rumah tanpa getar. Paniklah si Merry. Karena kondisi kereta penuh sesak dan mengharuskan kami berdiri, maka susah payah pula si Merry membuka tas sandang kerjanya, kemudian membuka ikatan tali rapia telpon rumahnya. Setelah berhasil, disandangnya kembali tas, tangan kiri memegang telepon, tangan kanan memegang gagang telepon. Ternyata sinyal tidak bagus di dalam kereta, maka si Merry menegakkan pula antenanya, dan Merry tersenyum, karena yang menelpon adalah sang pacar. Merry benar-benar tidak perduli pada puluhan pasang mata aneh yang memandangnya saat itu. Termasuk saya yang saat itu berharap dia bukan teman saya.
Ketika sampai di stasiun Citayam, masuklah penumpang secara berebut, dan Merry belumlah lagi selesai bercengkrama di telepon. Karena penumpang tambah penuh sesak, membuat badan sering terdorong-dorong oleh penumpang yang lain. Begitu juga juga dengan badan Merry, dan tiba-tiba membuat telpon terlepas dari tangan kirinya. Tinggallah Merry hanya memegang gagang di tangan kanannya. Dia pun sibuk, karena penuh dan tidak bisa menunduk untuk mengambil telepon yang sudah tiba di lantai kereta. Tapi karena sang pacar belumlah selesai berbicara, maka jadilah si Merry berbicara dengan kepala yang agak merendah mengikuti gagang telpon yang agak tertarik ke bawah oleh kabel telepon.
Lega saya, karena sudah sampai di Bogor, dan terlepas dari kekonyolan si Merry. Sepanjang jam kerja, saya sungguh tidak ingin mengingat kejadian itu. Sampai, tiba jam pulang, dimana saya kembali pulang bersamanya, dengan kereta yang penuh sesak. Sialnya, kembali berdiri, karena terlambat tiba di stasiun. Sebelum pulang seorang teman saya bergurau, “hati-hati Mer, nanti telepon rumah lo lagi yang dicopet. Jangan sampe di punggung lo besok ada box telpon umum yang ada di ujung gang rumah lo…”. Mendengar gurauan temen saya itu, maka si Merry mengambil kantong plastik kresek hitam, dimasukkannya lah telepon rumah itu, yang tentunya sudah diikat dengan tali rapia lagi. Dia bilang, “dengan ini copet gak akan tau bahwa ada telepon dalam kantong kresek”.
Ketika kereta setengah perjalanan, telpon si Merry berbunyi lagi. Saya berkata, “no Mer, not again”. Tapi Merry tidak menghiraukan saya, karena ini adalah jam nya sang pacar bertanya tentang “sudahkah Merry pulang?”. Merry sibuk membuka tas, dan mengeluarkan kantong kresek dalam tas nya. Saya sudah mulai marah padanya, tanpa pikir panjang saya rebut kantong kresek itu. Merry memiringkan badannya untuk merebut kantong itu, tapi tidak sampai, karena diantara kami berdiri seorang bapak-bapak yang hampir jatuh karena di dorong si Merry. Saya yang takut jatuh pula, akhirnya menggapai rak diatas tempat duduk penumpang, dengan tangan kanan saya yang memegang kantong kresek berbunyi tak henti-henti. Jika pagi fokus orang ke Merry, maka malamnya saya yang jadi pusat perhatian. Karena semua orang melihat saya berpegangan ke atas sambil menenteng kantong plastik berbunyi kriiiing…..kriiiing…kriiiing…yang sungguh nyaring. Merry…Merry…








