GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Author Detail

YADI supriadi wendy

Yahoo IM: yswendy

Web Page: http://geocities.com/yswendy

Registered Since: 2008-01-15 04:10:55

Posts by yswendy:

    Lesson Learned

    Pelajaran Penting ke-1
    Pada bulan ke-2 di awal kuliah saya, seorang Profesor memberikan quiz mendadak pada kami. Karena kebetulan cukup menyimak semua kuliah-kuliahnya, saya cukup cepat menyelesaikan soal-soal quiz, sampai pada soal yang terakhir.
    Isi Soal terakhir ini adalah : Siapa nama depan wanita yang menjadi petugas pembersih sekolah ? Saya yakin soal ini cuma “bercanda”. Saya sering melihat perempuan ini. Tinggi, berambut gelap dan berusia sekitar 50-an,tapi bagaimana saya tahu nama depannya… ? Saya kumpulkan saja kertas ujian saya, tentu saja dengan jawabansoal terakhir kosong.
    Sebelum kelas usai, seorang rekan bertanya pada Profesor itu, mengenai soal terakhir akan “dihitung” atau tidak.
    “Tentu Saja Dihitung !!” kata si Profesor. “Pada perjalanan karirmu, kamu akan ketemu banyak orang. Semuanya penting!.
    Semua harus kamu perhatikan dan pelihara, walaupun itu cuma dengan sepotong senyuman, atau sekilas “hallo”! Saya selalu ingat pelajaran itu.
    Saya kemudian tahu, bahwa nama depan ibu pembersih sekolah adalah “Dorothy”.

    2. Pelajaran Penting ke-2 Penumpang yang Kehujanan
    Malam itu, pukul setengah dua belas malam. Seorang wanita negro rapi yang sudah berumur, sedang berdiri di tepi jalan tol Alabama. Ia nampak mencoba bertahan dalam hujan yang sangat deras, yang hampir seperti badai. Mobilnya kelihatannya lagi rusak, dan perempuan ini sangat ingin numpang mobil.
    Dalam keadaan basah kuyup, ia mencoba menghentikan setiap mobil yang lewat.
    Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia berhenti untuk menolong ibu ini. Kelihatannya si bule ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an, yaitu pada saat itu.Pemuda ini akhirnya membawa si ibu negro selamat hingga suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan si ibu ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu tadi bertanya tentang alamat si pemuda itu, menulisnya, lalu mengucapkan terima kasih pada si pemuda.
    7 hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule ini diketuk Seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah televisi set besar berwarna (1960-an) khusus dikirim kerumahnya. Terselip surat kecil tertempel di televisi, yang isinya adalah :
    “Terima kasih nak, karena membantuku di jalan Tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku.Untung saja anda datang dan menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir disisi suamiku yang sedang sekarat… hingga wafatnya. Tuhan memberkati anda,karena membantu saya dan tidak mementingkan dirimu pada saat itu”
    Tertanda
    Ny.Nat King Cole.
    Catatan :
    Nat King Cole, adalah penyanyi negro tenar thn. 60-an di USA

    3. Pelajaran penting ke-3
    Selalulah perhatikan dan ingat, pada semua yang anda layani. Di zaman eskrim khusus (ice cream sundae) masih murah, seorang anak laki-laki umur 10-an tahun masuk ke Coffee Shop Hotel, dan duduk di meja. Seorang pelayan wanita menghampiri, dan memberikan air putih dihadapannya.
    Anak ini kemudian bertanya “Berapa ya,… harga satu ice cream sundae?”
    katanya. “50 sen…” balas si pelayan.

    Si anak kemudian mengeluarkan isi sakunya dan menghitung dan mempelajari koin-koin di kantongnya.. ..
    “Wah… Kalau ice cream yang biasa saja berapa?” katanya lagi. Tetapi kali ini orang-orang yang duduk di meja-meja lain sudah mulai banyak… dan pelayan ini mulai tidak sabar. “35 sen” kata si pelayan sambil uring-uringan.
    Anak ini mulai menghitungi dan mempelajari lagi koin-koin yang tadi dikantongnya. “Bu… saya pesen yang ice cream biasa saja ya…” ujarnya. Sang pelayan kemudian membawa ice cream tersebut, meletakkan kertas kuitansi di atas meja dan terus melengos berjalan. Si anak ini kemudian makan ice-cream, bayar di kasir, dan pergi. Ketika si Pelayan wanita ini kembali untuk membersihkan meja si anak kecil tadi, dia mulai menangis terharu. Rapi tersusun di samping piring kecilnya yang kosong, ada 2 buah koin 10-sen dan 5 buah koin 1-sen.
    Anda bisa lihat… anak kecil ini tidak bisa pesan Ice-cream Sundae, karena
    tidak memiliki cukup untuk memberi sang pelayan uang tip yang “layak”……

    4. Pelajaran penting ke-4 -Penghalang di Jalan Kita
    Zaman dahulu kala, tersebutlah seorang Raja, yang menempatkan sebuah batu besar di tengah-tengah jalan. Raja tersebut kemudian bersembunyi, untuk melihat apakah ada yang mau menyingkirkan batu itu dari jalan.
    Beberapa pedagang terkaya yang menjadi rekanan raja tiba di tempat, untuk berjalan melingkari batu besar tersebut. Banyak juga yang datang, kemudian memaki-maki sang Raja, karena tidak membersihkan jalan dari rintangan. Tetapi tidak ada satupun yang mau melancarkan jalan dengan menyingkirkan batu itu. Kemudian datanglah seorang petani, yang menggendong banyak sekali sayur mayur. Ketika semakin dekat, petani ini kemudian meletakkan dahulu bebannya dan mencoba memindahkan batu itu kepinggir jalan. Setelah banyak mendorong dan mendorong, akhirnya ia berhasil menyingkirkan batu besar itu. Ketika si petani ingin mengangkat kembali sayurnya,ternyata ditempat batu tadi ada kantung yang berisi banyak uang emas dan surat Raja. Surat yang mengatakan bahwa emas ini hanya untuk orang yang mau menyingkirkan batu tersebut dari jalan.

    Petani ini kemudian belajar, satu pelajaran yang kita tidak pernah bisa mengerti.
    Bahwa pada dalam setiap rintangan,tersembunyi kesempatan yang bisa dipakai untuk memperbaiki hidup kita.

    5. Pelajaran penting ke-5 - Memberi, ketika dibutuhkan.
    Waktu itu, ketika saya masih seorang sukarelawan yang bekerja di sebuah rumah sakit, saya berkenalan dengan seorang gadis kecil yang bernama Liz, seorang penderita satu penyakit serius yang sangat jarang.
    Kesempatan sembuh, hanya ada pada adiknya, seorang pria kecil yang berumur 5 tahun, yang secara mujizat sembuh dari penyakit yang sama. Anak ini memiliki antibodi yang diperlukan untuk melawan penyakit itu.
    Dokter kemudian mencoba menerangkan situasi lengkap medikal tersebut ke anak kecil ini, dan bertanya apakah ia siap memberikan darahnya kepada kakak perempuannya.

    Saya melihat si kecil itu ragu-ragu sebentar, sebelum mengambil nafas panjang dan berkata “Baiklah… Saya akan melakukan hal tersebut…. asalkan itu bisa menyelamatkan kakakku”. Mengikuti proses tranfusi darah, si kecil ini berbaring di tempat tidur, di samping kakaknya.
    Wajah sang kakak mulai memerah, tetapi Wajah si kecil mulai pucat dan senyumnya menghilang. Si kecil melihat ke dokter itu, dan bertanya dalam suara yang bergetar…katanya “Apakah saya akan langsung mati dokter…?”
    Rupanya si kecil sedikit salah pengertian. Ia merasa, bahwa ia harus menyerahkan semua darahnya untuk menyelamatkan jiwa kakaknya. Lihatlah…bukankah pengertian dan sikap adalah segalanya….

    [kiriman dari intan rm]

    2 Manusia Super di Jembatan Setiabudi

    Siang ini February 6, 2008 , tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia
    super.
    Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya
    di atas jembatan penyeberangan setia budi, dua sosok kecil berumur kira kira
    delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.
    Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung
    jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan
    lebar lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan
    ucapan “Terima kasih Oom !”. Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan
    cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka.

    Kaki - kaki kecil mereka menjelajah lajur lain di atas jembatan, menyapa
    seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang
    penuh keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya,
    lagi lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil
    mereka
    Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok
    disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan
    lirikan kearah dalam kantong itu , duapertiga terisi tissue putih berbalut
    plastik transparan .

    Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati
    mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita , senyum diwajah mereka
    terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta .

    ” Terima kasih ya mbak, semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas
    mereka, tak lama siwanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah
    sepuluh ribu rupiah .

    ” Maaf, nggak ada kembaliannya ..ada uang pas nggak mbak ? ” mereka
    menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan
    sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah
    mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

    ” Oom boleh tukar uang nggak , receh sepuluh ribuan ?” suaranya
    mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka . sedikit
    terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food
    court sebesar empat ribu rupiah .

    ” Nggak punya , tukas saya !” lalu tak lama siwanita berkata ” ambil
    saja kembaliannya , dik !” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya
    kearah ujung sebelah timur.

    Anak ini terkesiap , ia menyambar uang empat ribuan saya dan
    menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya
    yang masih tetap berhenti , lalu ia mengejar wanita tersebut untuk
    memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget , setengah berteriak ia
    bilang ” sudah buat kamu saja , nggak apa..apa ambil saja !”, namun mereka
    berkeras mengembalikan uang tersebut. ” maaf mbak , Cuma ada empat ribu , nanti
    kalau lewat sini lagi saya kembalikan !” Akhirnya uang itu diterima
    siwanita karena sikecil pergi meninggalkannya.

    Tinggallah episode saya dan mereka , uang sepuluh ribu digenggaman saya
    tentu bukan sepenuhnya milik saya . mereka menghampiri saya dan berujar
    ” Om, bisa tunggu ya , saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !”.

    ” eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !” saya kasih uang itu
    ke sikecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni
    tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

    Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya ,
    “Nanti dulu Om , biar ditukar dulu ..sebentar ”

    ” Nggak apa apa , itu buat kalian ” Lanjut saya

    ” jangan ..jangan Om , itu uang om sama mbak yang tadi juga ” anak itu bersikeras ” Sudah ..saya Ikhlas , mbak tadi juga pasti ikhlas ! saya berusaha
    membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat , secepat kilat juga ia
    meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.

    ” Ini deh om , kalau kelamaan , maaf ..” ia memberi saya delapan pack
    tissue ” Buat apa ?” saya terbengong

    ” Habis teman saya lama sih Om , maaf , tukar pakai tissue aja dulu ”
    walau dikembalikan ia tetap menolak .

    Saya tatap wajahnya , perasaan bersalah muncul pada rona mukanya . Saya kalah set , ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya .
    Beberapa saat saya mematung di sana , sampai sikecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu , dan mengambil tissue dari tangan
    saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.

    “Terima kasih Om , !”..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan ” Duit mbak tadi gimana ..? ” suara kecil yang lain menyahut ” lu hafal kan orangnya , kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin ….” percakapan itu sayup sayup menghilang , saya terhenyak dan kembali
    kekantor dengan seribu perasaan.

    Tuhan ..Hari ini saya belajar dari dua manusia super , kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh , mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra , mereka tahu hak mereka dan hak orang lain , mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang Tissue

    Dua anak kecil yang bahkan belum baligh , memiliki kemuliaan diumur mereka yang begitu belia.

    YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO

    Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.

    MT

    Saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun
    berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang lain .

    “Usia memang tidak menjamin kita menjadi Bijaksana , kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak”

    Semoga pengalaman nyata ini mampu menggugah saya dan teman lainnya
    untuk lebih SUPER.