He’s ganteng, but…@*% a gay…
Tubuhnya tinggi menjulang. Badannya langsing berisi. Senyumnya manis rupawan. Matanya tajam bak elang menatap.
Jabat tangannya begitu meresap. Erat, namun hangat. Wow, ada dewa turun dari sorga, batinku…
Suaranya mantap, sedikit berat, namun berwibawa. Ia menyebut namanya. Nama yang tidak biasa. Dan tidak pasaran. Seperti wajah tampannya…
Dia karyawan baru di kantorku. Diperkenalkan sebagai kepala departemen strategis. Dan kami satu divisi, artinya bekerja di ruangan yang sama. Satu ruangan dengan dewa? Mau dong….
Hari ke hari kami jarang berbincang. Selain pekerjaan kami yang tidak bertemu, proyek pekerjaanku membuatku lebih sering berada di luar kantor.
Suatu pagi, tak kuduga ia datang ditemani kepala divisi ke tempatku sedang menjalani tugas luar kantor. Menjadi pengamat, katanya ramah.
Bajunya yang berwarna mencolok dan bermotif seru sempat menarik perhatianku. Namun, kemudian segera terlupakan, sampai seseorang melemparkan pertanyaan yang menggelitik hatiku, “Siapa dia?”
Terpana aku memikirkan jawaban, karena aku tidak banyak tahu tentang teman baru di divisiku itu. Not yet.
Lagi, hari demi hari, kami jarang bertemu. Berbincang dengannya satu hal yang langka. Dan aku tidak tidak memikirkan apa pun selain pekerjaanku. Hingga, suatu malam aku bermimpi tentang teman baruku yang ganteng itu.
Pagi itu, ketika tiba di kantor sambil terus memikirkan mimpiku, aku beradu pandang dengannya di depan pintu.
Wow, siapa dia? Kenapa dia datang dalam mimpiku? Adakah artinya bagiku? Tersenyum dia memamerkan gigi putih yang rapih. “Pagi,” sapanya ramah.
Tak mampu aku segera membalas sapaan itu. Senyum gugup terlempar dari wajahku. “Bego,” jerit batinku. Kok kayak masih di jaman SMA.. Biasanya suka nga tau malu, mupeng (muka pengen) seringan “on”…
Sepanjang hari itu, mataku sering berlari ke arah meja kerjanya. Kadang, tatkala tatapan kami tak sengaja bertemu, aku langsung menunduk malu. Aduh, kok jadi begini, senewen nga karuan… Deg-deg-plus, apalagi dia sering sengaja memandang ke mejaku sambil melempar senyuman sihirnya…
Hari ajaib itu berlalu dengan gegas langkahku meninggalkan ruangan dan dia yang masih asyik bekerja. Jalanan ibukota yang pamer (padat merayap) membuatku sejenak melupakan debar hatiku yang terasa nikmat…
Hingga ketika menjelang mata terlelap, seraut wajah tampan nan rupawan muncul di pelupuk mata. Ehhmm… khayalanku langsung melayang. Dadaku berdebar, hatiku berangan-angan…
Keesokkan paginya, setelah kupastikan dia belum tiba, kudekati meja rekan seniorku. Sering kuperhatikan mereka kerap berbincang, karena pekerjaan mereka bertemu.
Tanya sana, tanya sini tentang rekan yang ganteng itu, temanku kemudian terbahak. “Kamu suka ya sama dia?” tembaknya sempurna. Bbrrrr, kupasang wajah poltak (polos tak berotak). “Ngga…….,” jeritku manja.
“Ngga papa, banyak lho yang nanyain doi,” ungkapnya telak. Wuiii, saingan dong, batin bergolak. Cakep, pinter, sopan, katanya memuji. Ehhm masih ada yah laki-laki sesempurna itu?
“Sudah menikah?,” screening pertama kulontarkan. “Kayaknya belum. Masih single,” jawabnya. “Umurnya berapa,” screening kedua berlanjut. “Kayaknya masih muda, paling baru 35-an yach?. Masih, tuaan aku dong,” tegasku manganju.
Personal data: Umur dua tahun lebih muda dariku (bronis, but still acceptable). Single. Mapan. Tinggal bersama orang tuanya di selatan jakarta yang daerahnya bertetangga dengan mantan presiden. But, yang paling penting, baik, ganteng, santun dan pinter, temanku meng-highlight kekagumannya tanpa ragu.
Hari yang kuduga datang tak terduga. Ceritanya, aku masuk rumah sakit karena DB. F**k, sumpah jangan pernah alami sakit itu. Pepatah bilang ‘hidup segan, mati enggan’ begitulah rasanya. Dua minggu berjuang antara hidup dan mati. Dua minggu aku tidak memikirkan pekerjaan, kecuali hidupku.
Hari pertamaku kembali ke ruangan kerjaku, tak sengaja aku berpapasan dengan si ganteng di meja fotokopi. Tanpa basa-basi, ia menyerang dengan kalimat, “Kok lama tidak kelihatan. Kemana aja?”.
My dear godness. He THAT cares? Seriously?? Kupandang wajahnya yang menyungging senyum yang paling menawan. Kian terpana aku. Dadaku mulai berdebur kencang. Sh***t, calm down heart…
“Aku sakit. Dua minggu. DB,” jawabku gugup, sedikit ragu. “Hmm, aku pikir kamu ada proyek baru,” katanya sambil berjalan tenang ke mejanya.
Mataku bergerak mengikuti langkahnya. Ayunan kakinya tegas, namun berirama, seperti sedang menari. Sedikit gemulai, namun indah bagi mataku yang berkejap nanar.
Suatu hari, seorang laki-laki muda menghampiri mejanya. Kulitnya putih, pakainnya rapih, dan wajahnya imut. Sebentar saja mereka berbincang. Ketika diperkenalkan, ternyata ia karyawan baru di divisi lain. Dan, ssttt, itu temannya si ganteng lho, tambah sumber terpercaya.
Jam makan siang. Si ganteng bergegas meninggalkan meja kerjanya. Tumben buru-buru, aku membatin. Mau kemana dia? Biasanya ia makan siang di mejanya, setelah menitip membeli makanan pada Office Boy.
Beberapa menit kemudian, ketika aku keluar lift untuk mencari makan di luar, tak sengaja mataku melihat si ganteng dengan temannya yang diperkenalkan tadi berbelok menuju kantin kantor. Sambil berjalan, mereka berbincang dengan akrab.
Setelah hari itu, hampir setiap hari pada saat jam makan siang, pastilah ia langsung bergegas ke luar ruangan. Pasti makan siang dengan si imut lantai bawah, hatiku menebak-nebak.
Hari-hari kemudian, si imut kerap menyambangi si ganteng ke mejanya pada jam-jam kerja. Kadang sekedar mengobrol. Kadang bergegas mengantar sesuatu, atau membawakan bungkusan yang hanya bisa kutebak-tebak isinya.
Batinku mulai terusik. Walau pun perasaanku kadang mengatakan ia tertarik padaku, namun beberapa bulan setelah pertanyaannya yang penuh perhatian itu, tidak ada tanda ingin mengenalku lebih lanjut.
Tanda-tanda ketertarikan tidak sedikit pun ia tunjukkan, apalagi mengajak untuk makan siang bareng.
Suara-suara miring mulai kudengar tentang dia. Pernah pas di toilet, seorang rekan dari divisi lain kudengar memperbincangkan dia. Di lift, rekan yang lain berbisik-bisik tentang dia. Apa sih yang mereka perbincangkan tentang dia?
Homo??? Bak petir menyambar ketika kudengar berita itu. Kok berani sekali mereka meyakinkan stigma itu padanya, padahal seperti diriku, tukang-tukang gosip ini jarang mengobrol dengannya.
Rekan seniorku yang menjadi penasehatku diawal aku mempelajari dirinya, juga tidak mempercayai rumor itu. Jangan dengarin orang, percaya deh sama dia, nasehatnya jitu berusaha menenangkan.
Secara umur pengalaman hidupku lebih dari satu buku. Pepatah kalau ngga ada api, yah ngga ada asap sungguh jadi pedomanku. Logikaku mulai diajak bekerja. Bayangkan, dari 10 orang, 9 pasti mengatakan rumor yang sama tentangnya.
Sebelum aku termehek-mehek karena perasaanku, berusaha aku untuk mengikuti logikaku. Hati boleh aja bicara, tapi otak tetap perlu bekerja.
Riset kulakukan melalui internet dan majalah yang membahas gaya hidup. Hanya untuk mencari petunjuk tentang apa dan seperti apa gay itu. Dari sekian ciri-ciri yang disebutkan oleh para ahli yang mengaku pakar di bidang per-gay-an, hampir 85 persen dirinya mencirikan itu.
Ahh, tapi dokter Byk juga disangsikan kelakiannya karena gaya dan gerak-geriknya, tapi he’s 100% real man. Ask his wife for sure. Hatiku berusaha untuk merasionalkan pikiranku. Terjadi tarik menarik antara percaya-tidak percaya di dalam diriku.
Dan, hidup berjalan menurut skenario yang telah dituliskan. Hingga aku menuliskan cerita ini, kebenaran tentang apakah dia “gay” atau “lempeng”, masih menjadi tanda tanya besar bagiku.
Aku sebenarnya termasuk manusia nekad, action dulu mikirnya belakangan. But, untuk menanyakan urusan yang paling pribadi ini (“What’s your orientation my friend?”) urat beraniku ternyata baru setipis benang rajut.
Yang aku tahu, hingga kini perasaanku terhadap dirinya masih sama seperti pertama kali kami berkenalan. Dadaku masih suka berdebar bisa bertatapan dengannya. Mimpiku tentang dia pun bukan hanya sekali, namun puluhan kali dia menghiasi tidurku.
Kelak pada suatu hari kebenaran tentang dirinya akan terungkap. Namun, sampai hari itu datang, biarlah perasaan yang indah ini tetap menghiasi hatiku. Agar hari-hariku di kantor yang biasanya ‘garing” kini memiliki nuansa yang sedikit berbunga-bunga. Tidak membosankan seperti dulu. Better think a positive of it, right?! Cheers.











June 7th, 2011 at 3:15 pm
Good read. Seriously, I really wish I could have articles like this nearly as well on my site. Your stuff is well-done. Anyways, just wanted to comment and let you know. Have a good one!
July 16th, 2011 at 6:41 am
Design Strategies for Small Girls Covers along with good knitted feel, laces, tiny flowered designs and plaids should be provided preference.