Pertemuan
Tak kusangka, akhirnya tiba juga saatnya. Sering aku membaca pengumuman seperti itu di sela-sela film yang ku tonton. “Iklan layanan masyarakat. Apa yang merupakan pelayanan,” begitu biasanya aku menggerutu. Tak ada gerutuan kini, sebab iklan itu melayaniku, memberi tahu bahwa akan ada reuni dan aku salah satu yang terundang.
Tanpa pikir panjang, walau hampir tengah malam, aku menelepon salah satu panitian yang tertera di sana. “Kan nomor seluler, berarti boleh di telepon 24 jam dong”. Aku memilih nama perempuan yang terindah dari daftar yang ada. Kemuning. Tak berapa lama, seorang perempuan menjawab, namun bukan Kemuning. “Veronica,” begitu ia memperkenalkan namanya dan memintaku meninggalkan pesan. Kututup telepon dan berkata dalam hati, “Aku akan telepon besok siang saja dari kantor, lumayan ngirit pulsa”. Dan aku beranjak tidur.
Kemuning, adalah nama yang tak pernah bisa hilang. Dia adalah anak kepala sekolah SMA-ku. Satu-satunya perempuan yang pernah menyatakan suka padaku. Sayang, akhirnya kami mesti berpisah. Meski kuakui aku begitu menyayanginya. Bahkan sampai kini, ketika rambutku mulai memutih dan anakku sudah dewasa. Tapi, bukankah setiap orang mempunyai cinta terpendam, jauh di lubuk hatinya. Atau hanya aku seorang.
Reuni tiba. Aku memakai pakaian yang teramat kusuka, yang juga disukai Kemuning; Jeans cutbray warna ungu, T-shirt putih ketat, dan kemeja putih lengan panjang berkantung dua yang kugelung dan kubiarkan tak terkancing.
Kepala sekolahku adalah salah seorang yang ambil bagian sehingga aku dan Kemuning akhirnya berpisah. Dan ternyata ia benar.
Ketika pertama kali ia tahu bahwa aku dan kemuning pacaran. Ia memanggilku ke ruangannya. Aku berpikir perbuatan apa lagi yang kulakukan, hingga aku di panggil. Aku memang sering dipanggil berkat keisenganku. Namun sungguh, sudah 2 minggu ini aku sempat melakukan keisengan. Dua minggu ini hari-hariku kuhabiskan bersama kemuning. Dengan muka bingung dan sorakkan teman sekelasku yang menantikan kabar keisenganku aku melangkah.
“Selamat siang Pak. Bapak memanggil saya?”
“Pendi, apa yang kau lakukan?”
“melakukan apa Pak?”
“Oh, jadi kau tidak mengakuinya?”
“mengakui apa Pak?”
“Perbuatanmu”
“Perbuatan yang mana Pak”
“Kemuning”
“Maksud bapak?”
“Dengar baik-baik. Aku melarang kau mendekati anakku. Dan kalau kau melanggarnya, kau akan terima akibatnya. Sekarang kembali ke kelasmu”.
Aku mengumpulkan ketiga teman baikku. Berempat kami biasa melakukan keisengan demi keisenga. Aku, Ujo, Kelik dan satu-satunya perempuan, Ailen. “Enak saja dia melarangku. Yang suka sama aku kan anaknya. Bukan aku, Kalau mau melarang, larang Kemuning. Bukan aku. Aku kan hanya obyek saja,” khotbahku berapi-api kepada temanku di pojok kantin sekolah.
“Kita harus memberi balasan kepada Kepala Sekolah. Dia gak bisa seenaknya aja main larang,” timpal Ujo temanku. Ujo memang punya hasrat terpendam dengan kepala sekolah, karena tidak meluluskan proposal tentang pengadaan Bazaar tahun lalu.
Kami semua menoleh kepada Ailen. Ailenlah otak dari semua keisengan kami. Aku hanya maskot yang di majukan. “Ada berapa uang kalian”. Ia meminta kami mengeluarkan semuanya, menyerahkannya pada Kelik, “Belikan jangkerik sebanyak-banyaknya. Malam ini kita ketemu di rumah Ujo, aku akan beberkan rencanaku di sana”.
Teras rumah Ujo sering kami gunakan untuk berpikir bersama. Kami sudah lengkap. Termasuk 100 ekor jangkerik yang berhasil d beli Kelik. “Begini rencananya,” Ailen memulai memaparkan rencanaya. “Besok kita bolos sekolah. Pagi-pagi kita semua ke rumah Uwak Sam. Kita kumpulkan tahi ayam sebanyak-banyaknya lalu kita masukkan dalam kaleng. Lalu jangkerik yang kau beli Lik, kita aduk jadi satu dengan tahi itu. Nah, jangkerik itu lalu kita lepas di depan pintu rumah kepala sekolah. Biar tahu rasa dia”.
Dengan penuh semangat kami kembali ke rumah masing-masing. Tak sabar menunggu tibanya esok. Dan yang harus terjadi, terjadilah. Rumah kepala sekolahku penuh dengan jangkerik yang berlumur tahi ayam.
Ujo, Kelik dan Ailen hadir pula dalam reuni. Ujo kini meneruskan perusahaan keluarga. Direktur Utama dia. Memang jalan hidup manusia tak ada yang bisa mene-baknya. Dan 2 anaknya, perempuan dua-duanya, sedang menjalani program Doktoral di negeri Uwak Sam.
Yang paling mengagetkan adalah kelik. Ia kini adalah dokter spesialis di rumah sakit asing pertama dan terbesar de negeri ini. Anak semata wayangnya berusaha mengikuti jejaknya. Tentu saja tak susah, karena ayahnya sudah membuka jalan yang begitu lebar baginya.
Dan Ailen, pemikir kita, ia kini menjadi staff ahli di kedutaan luar negeri. Tetap penuh senyum.
Aku tak bisa lagi menikmati pertemuan ini. Karena tak ada kekaguman yang dapat kuceritakan. Hanya hal-hal biasa saja yang dialami setiap manusia biasa. Aku ingin pulang.
Satu-satunya yang menahanku tetap di sini adalah Kemuning. Walau kita tak saling bisa bicara. Aku dan dia hanya saling memandang, tersenyum. Terlalu sakit untuk mulai bicara.
Selesai juga akhinya. Aku pun melenggang pulang. Baru kuperhatikan, ditempat parkir, hanya aku yang tak mengendarai sedan.
Di rumah, isteriku yang begitu mencintaiku, merajut menungguku. Sungguh aku tak habis pikir. Mengapa perempuan mungil, berkarier cemerlang ini mau mengisi sisa waktunya denganku.
“Hai sudah pulang. Bagaimana tadi reuninya. Wah senang dong bertemu teman-teman lamamu Pah. Ujo, Kelik, Ailen. Bagaimana kabar mereka. Dan Kemuning kau bertemu juga dengannya?” Aku tak tahu bagaimana ia bisa berkata sambil tersenyum begitu. Sepertinya aku tak pernah melihat ia tanpa senyum di bibirnya.
“Aku tak akan pergi ke reuni lagi Bu”.
“lololoh. Gimana kamu ini Pah. Bukankah senang bertemu teman-teman lama,” tetap dengan senyum di bibirnya.
“Bertemu mereka, hanya membuatku merasa gagal Bu”
“Kenapa Pah”
“Mereka menceritakan kesuksesan hidup mereka dan betapa pintar anak-anak mereka. Sedang aku Bu. Hanya seorang pegawai biasa di perusahaan biasa dengan pendapatan yang biasa-biasa yang hanya bisa menghidupi kebutuhan dasar kita Bu. Anak kita juga tidak terlalu pintar. Seperti aku Bapaknya,” dengan pelan aku menghela nafas.
Istriku semakin dalam memandangiku, memegang tanganku dengan lembut. Merapatkannya ke dadanya, berkata dengan lembut, “Kau tidak gagal Pah. Lihat kau berhasil membelikan kami sebuah rumah sebagai tempat berlindung, hingga kami tidak kedinginan. Kau berhasil encukupi kebutuhan kita sekeluarga, sehingga tak kelaparan. Dan anakmu Pah, kau berhasil menyekolahkannya. Bagiku kau adalah Pahlawan Pah”.
Tanpa terasa pipiku basah.
“Lagi pula Tuhan tidak memandang kita dari pekerjaan yang kita miliki atau rekening bank kita Pah. Harga dan martabat kita bukan ditentukan oleh harta kita, tapi oleh kenyataan bahwa Tuhanlah yang menciptakan kita dan Ia pula yang telah menebus kita dari dosa kita Pah. Cukuplah sudah bila kita selalu beriman padaNya dan melayaninya”.
Aku heran Istriku selalu saja bisa menenangkanku dan membangkitkan semangatku.
“Mari Pah, di saat seperti ini tak salahnya kita berdoa. Mengucap syukur pada Tuhan.” Istriku menuntunku untuk berdoa.











June 26th, 2011 at 7:25 am
I take pleasure in, lead to I found just what I used to be having a look for. You’ve ended my 4 day long hunt! God Bless you man. Have a nice day. Bye
June 28th, 2011 at 6:28 am
I am only writing to allow you to know of the intense discovery my wife’s princess loved searching your blog. She discovered quite a few info, which include what it’s like to have a wonderful giving mindset to make the others with out concern comprehend selected specialized issues. You actually did greater than her desires. I respect you for exhibiting these precious, faithful, explanatory not to mention enjoyable methods about your topic to Gloria.
July 11th, 2011 at 8:56 pm
What i do not realize is in fact how you are now not actually a lot more smartly-liked than you might be right now. You’re so intelligent. You realize therefore significantly in terms of this matter, produced me in my opinion believe it from so many numerous angles. Its like men and women are not involved until it is something to accomplish with Girl gaga! Your own stuffs excellent. At all times deal with it up!
July 12th, 2011 at 7:09 am
Finally the primary particular person to comment. You make some nice points here. I was studying John Reese’s weblog the day past about constructing friendships and I see that you just make a degree in this post about constructing friendships and relationships. They’re definitely important.
July 17th, 2011 at 8:40 am
excellent site. Keep doing
July 19th, 2011 at 4:51 pm
Finally I came across this short article. Already been trying to find it for a time, I could not think it is utilizing Search engines
August 2nd, 2011 at 6:42 am
LASIK surgery is affordable and less restrictive. When I ride my motorcycle I had to wear prescription eye glasses to see, and hated wearing the “goggles” on my eye glasses, and now I wear nice motorcycle sunglasses which is less restrictive. I’m thrilled that I had Lasik eye surgery! If you wear prescription eye glasses, check out Lasik eye surgery, you’ll be glad you did!