“Rethinking”
Saya meminjam kata di atas dari sebuah post di blog yang rutin saya kunjungi dalam melihat perspektif berbeda untuk permasalahan yang terjadi di negeri ini. Terlepas apapun dan siapapun blog berlabel Intel itu hadir, tetapi saya menyukai tulisan-tulisan dan perspektif yang disampaikan penulisnya.
Namun di sini “rethinking” yang akan saya coba ungkapkan adalah persepsi saya terhadap ramainya cacian dan makian yang terjadi saat ini di antara 2 negara tetangga, Indonesia dan Malaysia.
Sejujurnya saya sumpek dengan komentar-komentar, baik itu dalam forum online, obrolan bersama teman-teman saya dan juga ramainya media massa yang mengangkat konflik “riweuh” ini karena isinya cuman buah menjelek-jelekan dan memancing emosi serta makian.
Saya berani mengungkapkan rasa “sumpek” ini kepada rekan-rekan yang membaca. Benar-benar sumpek. Apakah saya sendiri tidak cinta dengan negeri ini? Indonesia? Justru karena saya mencintainya saya mencoba rekan-rekan untuk me“rethingking” ulang pemahaman anda terhadap konflik kita dengan negara tetangga Malaysia, maupun konflik batin dengan negara-negara lainnya.
Dalam persepsi kita bangsa Indonesia, Malaysia mencuri lagu dan beberapa objek budaya kita. Jika boleh saya katakan atribut budaya yang kita ributkan dengan Malaysia adalah sebagai objek. Karena kita manusia yang menggunakan atributnya adalah subjek-nya. Seberapa patut si subyek memanfaatkan ke-maha-an objek tersebut? Terlepas dari nilai kebenaran mutlak siapa pemilik yang “haq” dari berbagai objek budaya tersebut, karena jika bicara penelusuran hak milik, maka yang bermain adalah persepsi kita terhadap nilai kebenaran yang absurd oleh sejarah manusia.
Indonesia sendiri sudah dari dulu memliki ahli-ahli sejarah dan budaya yang memetakan berbagai atribut sosial kebudayaan dan kekayaan adat istiadat di seluruh pelosok negeri ini. Sebut saja Prof. T. Jacob, seorang Guru Besar Antropolog Ragawi dan juga ahli ilmu sosial dan perdamaian di negeri ini (”Selamat jalan, Pak.. Semoga harum pemikiran anda tetap hidup di hati negeri ini…”) atau K.R.T. Hardjonagoro yang didaulat sebagai pelopor batik Indonesia di masa Bung Karno.
Apakah saya tahu tentang 2 ahli sejarah dan budaya tersebut? Apakah saya pernah membaca buku-buku mereka tentang kekayaan budaya negeri ini? Padahal mereka hanya sebagian kecil dari banyaknya ahli yang berkontribusi menyumbangkan pemikiran atas pembangunan sosial budaya di negeri ini. Saya TIDAK mengenal banyak dari karya-karya mereka dan pemikiran mereka. Hanya sedikit kepedulian saya hingga tiba waktunya sekarang saya semakin sumpek dengan ramainya maki-makian yang berseliweran saat ini.
Memang kepedulian terhadap sesuatu hal baru muncul ketika sesuatu yang buruk terjadi terhadap hal tersebut. Kita baru berkoar-koar memiliki dan marah ketika salah satu lagu kita dicuri. Kita baru teriak lantang ketika budaya kita diambil. Berkoar, marah dan teriak lantang menyalahkan pihak pencuri.
Tetapi pernah kah berpikir, kemana saja kita selama ini? Apakah kita sudah menjaga apa yang kita punya dengan baik? Apakah kita sudah merawat apa yang kita miliki dengan layak?
Saya terenyuh jika mereview bagaimana saya sendiri juga masih terkontaminasi dengan budaya barat dalam keseharian saya. Tetapi saya memahami itu sebagai sebuah kewajaran, sebagai human being yang berakulturasi dan berkontemplasi dengan sosial budaya di dalam kehidupan harfiahnya. Dan syukurlah saya tidak pernah menklaim bahwa budaya barat yang ada di bagian diri saya adalah jatidiri saya pribadi, apalagi sampai menklaimnya sebagai budaya sendiri.
Dalam dunia yang terus berkembang ke arah globalisasi saat ini, bukanlah waktunya berpikir manja untuk disuapi. Maksudnya adalah sudah sepatutnya kita sendiri merawat apa yang kita punya sebelum diambil oleh tangan-tangan asing. Bukan sekonyong-konyong malah bermental busuk untuk berkolaborasi memberikannya ke tangan asing. Ini berlaku untuk beberapa situasi dan kondisi di negeri ini .
Tidak perlu saya detailkan ungkapan kalimat tersebut diatas. Saya rasa rekan-rekan yang disini bisa memahami apa yang saya maksud.
Kemudian untuk kondisi yang lain lagi, ketika sudah tercuri baru berkoar teriak lantang dan memaki orang lain pencuri. Hey bung, selama ini kita kemana saja?! Apakah kita sendiri sudah cukup menjaga agar tidak tercuri?
Dunia semakin mengarah pada kehidupan persaingan bebas. Semua negara tentunya bersaing untuk semakin maju ke depan. Dan ini konsekuensi alami jika banyak kepentingan negara-negara yang semakin saling berpotongan satu sama lain.
Jepang mengembangkan teknologi Bioindustri yang luar biasa, bahkan terakhir mereka bisa mengembangkan industri Tempe dengan cara lebih advance, terus kita teriak bahwa kita kecurian lagi??!! memang kita kemana selama ini? Apakah kita telah menempatkan perhatian terhadap makanan lokal bergizi kita itu? Simpel nya lagi - Sudah layakkah perhatian pemerintah terhadap penelitian-penelitian anak bangsa ini?
Uncle Sam punya kepentingan terhadap negeri kita, jelas itu mah. Terus solusinya apakah dengan memaki USA karena mereka seenak perut begitu masuk-masuk dalam kebijakan ekonomi negeri kita? Yaa,.. justru sekarang seharusnya berpikir bagaimana kita membentengi diri agar tidak mudah dipotong-potong oleh mereka. Simpel kan?
Saya tidak menjelekkan rekan-rekan yang menjiwai budaya barat dalam kesehariannya. Saya tidak memaki rekan-rekan yang mengharu biru dengan dorama Korea atau anime-anime Jepang. Karena itu adalah kontemplasi teman-teman dalam memahami akulturasi budaya di era global sekarang. Sekonyong-konyong tidak juga mediskreditkan rekan-rekan yang sekedar pragmatis berlabel budaya lokal walau tidak paham maknanya.
Saya hanya berkeluh kesah untuk kita yang semakin lupa dengan cara menjaga apa yang kita miliki. Saya hanya bersedih terhadap mental kita yang tidak mau mengembangkan apa yang kita punya.
Tulisan curahan hati disertai sedikit sekali fakta, “cuma segelas kopi dengan rasa berbeda”
No related posts.







