Ucapan Yang Tertinggal Di Hari Maaf Nasional : Terimakasih…
Umat islam semestinya pantas disebut sebagai ummat pemaaf. Bukan dari segi memberi maaf, tetapi sebaliknya, dari kebiasaan meminta maaf. Paling tidak setahun sekali umat Islam di seluruh dunia, atau setidaknya di tanah air menyelenggarakan apa yang bisa kita sebut sebagai hari maaf nasional.
Ya, di hari Iedul Fitri seperti yang baru berlalu, ummat islam terbudaya untuk meminta maaf pada orang tua, saudara, kerabat, teman dan handai taulan, sebagai bagian dari ritual merayakan hari raya Iedul Fitri.
Diyakini bahwa setelah berpuasa selama satu bulan di bulan Ramadhan, agar mencapai kesucian yang hakiki maka pada hari 1 Syawal ummat islam perlu meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan. Dengan demikian diharapkan setiap pribadi bisa memulai lagi kehidupan baru yang “bersih”.
Tidak ada yang salah dengan hal itu.
Tetapi ada yang kurang bila kita melihat kebiasaan yang terjadi di masyarakat kita.
Mungkin seharusnya kita memadankan antara permintaan maaf, dengan ucapan terimakasih.
Bagaimanapun seharusnya kita sangat memahami bahwa memberi maaf itu sulit. Dan untuk itu layak kalau pemberian maaf diiringi dengan ucapan terimakasih yang sangat.
Dalam sisi yang lain, sebulan kegiatan puasa yang dilakukan ummat Islam seyogyanya juga membekaskan kesalahan-kesalahan yang “baru”.
Di bulan puasa ini, masjid-masjid jadi jauh lebih ramai dibandingkan waktu-waktu sebelumnya.
Suara-suara yang bisa dikategorikan mengganggu dari speaker masjid bukan hanya berlangsung lima kali sehari seperti hari-hari biasa tetapi bertambah frekuensi dan intensitasnya, bahkan pula di tengah malam buta, ketika masjid-masjid meneriakkan peringatan untuk bersahur.
Di penghujung harinya, tepat di malam menjelang hari Idul Fitri, tumpah-ruahnya ummat Islam yang meneriakkan takbir bukan hanya terjadi di kampung-kampung, tetapi juga merambah ke jalan-jalan raya, menyebabkan kemacetan yang luar biasa. Masih belum cukup, saat hari H penyelenggaraan shalat idul Fitri bisa dipastikan jalanan akan macet, terutama setelah shalat dilaksanakan.
Belum lagi menghitung kemacetan akibat arus mudik dan arus balik ummat yang terjadi sejak seminggu atau lebih menjelang hari Idul Fitri dan seminggu sampai sepuluh hari setelahnya.
Hal-hal seperti ini, seyogyanya memberikan ketidaknyamanan tertentu bagi masyarakat secara luas, dan lebih spesifik lagi bagi masyarakat non-muslim yang tidak turut berpesta dalam keriaan hari raya.
Tentu saja sebagai umat yang “pemaaf” seharusnya kita juga meminta maaf kepada saudara-saudara kita yang beragama non-muslim, atas segala ketidaknyamanan yang mereka terima akibat aktivitas kita dalam melaksanakan Ibadah dan berpesta di hari raya.
Sungguh ironis apabila untuk hal-hal seperti itu kita tidak memiliki kesadaran, atau bahkan malah merasa terlalu tinggi hati (karena alasan mayoritas) untuk meminta maaf, dan menyampaikan terimakasih pada saudara yang beragama non-muslim.
Lebih bermakna sebetulnya apabila ucapan terimakasih seperti itu disampaikan oleh pejabat negara atau tokoh-tokoh yang berkepentingan membawa nama ummat. Akan sangat menyenangkan apabila Presiden, jajaran ulama di MUI, atau para kyai-kyai di setiap komunitasnya, membuat pernyataan di media, menyatakan terimakasih yang tak terhingga dari ummat Islam kepada saudara-saudaranya yang beragama berbeda di tanah air ini.
Terimakasih atas pengertian mereka yang mendukung ummat islam dalam menjalankan ibadah puasa.
Terimakasih atas pengertian mereka yang terpaksa dipenjarakan dengan tirai-tirai tertutup saat sedang makan di restoran di siang hari.
Terimakasih karena mereka jadi turut tidak merokok di tempat terbuka saat ummat islam berpuasa.
Terimakasih karena mereka mau bertoleransi atas suara-suara yang mengganggu tidur mereka.
Terimakasih karena mereka mau bertoleransi atas kemacetan yang luar biasa dan turut menanggung biaya pemborosan nasional yang terjadi.
Terimakasih atas segala pengertian mereka atas dimonopolinya siaran radio dan televisi dengan kutbah-kutbah yang tidak sesuai dengan agama mereka.
* * *
Mungkin permintaan maaf dan ucapan terimakasih atas hal-hal itu terkesan naif. Karena di tahun depan mereka akan kembali dihadapkan pada situasi yang sama, dan dipaksa untuk bertoleransi secara luar biasa dengan aktivitas beragama kita sebagai ummat islam.
Tapi mungkin dengan demikian kita bisa sama-sama berharap, semoga di tahun-tahun ke depan kita bisa membangun masyarakat yang lebih dewasa, yang lebih mampu mengaplikasikan hak dan tanggung jawab secara lebih egaliter.
Yang bukan hanya menjadi pemaaf dalam pengertian gemar meminta dan memberi maaf, tetapi juga menjadi masyarakat yang malu bila meminta maaf terus menerus, dan mengulangi lagi kesalahan yang sama.
Untuk saudara-saudaraku yang beragama berbeda dengan kami.
Maafkan kami.
&
Terimakasih.
Sentaby,
DBaonk © 2007
Sumber : http://dennybaonk.multiply.com/journal/item/63
No related posts.







