GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Archive for the ‘Kesehatan’


Membangun Bandung Secara Ecopolis, Humanopolis dan Technopolis

AddThis Social Bookmark Button apply.web.id Lintas Beritakan

ARDA BLOGGING SUCCESS:
|
Arda News Success | Blogging Success | Wisdom Business | Quantum Writers | Inspiring Intelligence | Mosquito & Public Health | Getting Rich | Writers Success | Sprituality Health | Farmakologi | Sanitary | Physiology | House Keeping | Pollution News | Photografy|

Membangun Bandung Secara Ecopolis, Humanopolis dan Technopolis
Oleh: Arda Dinata
Anggota Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI)
Email:
arda.dinata@gmail.com
http://pollutionnews.blogspot.com/

Saat ini Kota Bandung terus berbenah menata kotanya, lebih-lebih sebentar lagi akan menghadapi pesta akbar menyambut digelarnya peringatan Konfrensi Asia-Afrika. Mulai dari pembuatan jalan layang, perbaikan trotoar, saluran irigasi sampai dengan melakukan aneka rekayasa jalur lalu lintas kendaraan untuk menghindari terjadinya kemacetan di sana-sini.

Dapatkan Ebook GRATIS di Situs:
1. Harta Karun Bagi PENULIS & Penerbit BUKU
2. Cara SUKSES Nampang dI INTERNET & Kirim 100-an Email Sekali klik
3. Cara NERBITIN BUKU OK; Asyiknya Menulis Chicken Soup for the Soul; dan Kiat Membuat TULISAN YANG MENARIK

Kalau kita mau jujur, proses pembangunan visualisasi kota itu, sebenarnya mulai menggiat dan sangat berkembang pesat mulai lima tahun kebelakang, terutama pendirian berbagai pusat-pusat perbelanjaan di berbagai sudut-sudut Kota Bandung. Pokoknya, secara singkat dapat dikatakan kalau pembangunan berupa visualisasi kota ini identik dengan bentangan bangunan-bangunan tinggi.

Begitu juga yang menghiasi perjalanan Kota Bandung. Kota yang pernah menyandang predikat sebagai Kota Kembang dan Paris van Java itu, saat ini kelihatannya telah hilang “nyawanya”. Salah satu penyebabnya ialah tidak konsistennya para pengambil kebijakan di Kota Bandung dengan rencana tata ruang kota yang telah disepakti pada awal perencanaan pembangunan Kota Bandung itu sendiri.

Sehingga tidak heran, adanya efek yang muncul dari pelanggaran tata ruang kota ini. Sebagai contoh adalah keadaan lalu lintas yang semerawut dan kemacetan lalu lintas yang terjadi hampir di semua ruas jalan Kota Bandung, terutama di sudut-sudut kota yang memiliki pusat-pusat keramaian dan perbelanjaan. Kondisi kemacetan itu terjadi, karena tidak seimbangnya antara luas badan jalan dengan jumlah kendaraan dan sistem transportasi umum yang tidak sesuai aturan.

Efek lainnya, adalah terjadinya perubahan kondisi udara Kota Bandung. Berdasarkan hasil pengamatan Badan Metereologi dan Geofisika Bandung, mengatakan bahwa temperatur udara di Kota Bandung telah meningkat 1 derajat celcius sejak tahun 1992. Dan inilah barangkali salah satu penyebab mengapa Kota Bandung saat ini tidak sesejuk dahulu di era tahun 1980-an.

Parahnya lagi, kondisi tersebut lebih diperburuk lagi dengan banyaknya lahan terbuka dan taman-taman kota yang telah beralih fungsi. Hal ini, menyebabkan suasana kota pun seakan-akan terasa sarekseuk. Lebih-lebih bila pada musim hujan, maka banjir pun siap menggenang di jalan-jalan Kota Bandung.

Selain dampak seperti itu, sebenarnya masih banyak lagi permasalahan yang timbul di Kota Bandung ini, termasuk masalah persampahan, polusi udara, pencemaran limbah industri, kekeringan air, terjadinya banjir dan lainnya.

Kalau kita mau jujur, adanya berbagai permasalahan yang muncul diperkotaan itu, bila diteliti sebenarnya merupakan efek samping dari perkembangan Kota Bandung itu sendiri yang tidak terkendali. Hal inilah, sebenarnya yang seharusnya kita sadari bersama. Kita tidak mungkin dapat mengelak dari proses perkembangan kota ini. Tapi, di sini yang harus sama-sama kita pikirkan adalah bagaimana caranya kita dapat mengeliminir segala efek negatif dari perkembangan sebuah kota itu, sehingga akhirnya eksistensi dan citra sebuah kota dapat dipertahankan keberadaannya.

Menyikapi adanya pertumbuhan sebuah kota ini, padahal jauh-jauh hari Doxiadis, telah meramalkan bahwa kota-kota yang ada di dunia ini, termasuk di Bandung akan tumbuh dan bengkak semakin besar, semakin kuat dan sulit dikendalikan. Kota (polis) akan menjadi metropolis (kota raya), kemudian megapolis (kota mega), lalu menjadi ecumenopolis (kota dunia), dan bila tidak hati-hati akan berakhir dengan kota mayat (necropolis).

Memadukan konsep pembangunan

Walaupun apa yang diungkapkan Doxiadis di atas, hanya sekedar ramalan, tapi tidak ada salahnya bila kita hati-hati dan mengantisipasinya secara bersama-sama dalam mengelola kota ini secara bijaksana.

Peringatan itu, kelihatannya sejalan dengan apa yang diinginkan oleh John Ormsbee (1986), bahwa kita agar lebih berhati-hati dalam mengelola kota dan lingkungan binaan manusia. Selain itu, yang terpenting adalah kita berharap jangan sampai terjadi “ecological suicide” (baca: bunuh diri ekologi) oleh pihak-pihak tertentu terhadap pembangunan kota ini. Hal ini bisa terjadi secara sadar maupun tidak sadar.

Oleh karena itu, saya kira semua elemen masyarakat yang ada di Kota Bandung harus bahu-membahu terlibat dalam proses perencanaan pembangunan kota yang dihuninya. Saat ini, bukan jamannya lagi pemerintah “bekerja sendirian“ dalam membangun kota dengan mengabaikan peran serta nyata dari semua elemen masyarakatnya.

Sehingga dalam konteks kekinian, menyikapi apa yang terjadi dalam perkembangan Kota Bandung ini, setidaknya ada satu pertanyaan yang mesti disikapi dan dijawab sebagai solusi terhadap fenomena tersebut. Di sinilah kelihatannya kita perlu menerapkan sistem pembangunan berkelanjutan, sebagai sebuah harapan akan kenyamanan dan kewibawaan sebuah kota atas jati diri dan citra kota itu sendiri.

Pembangunan kota berkelanjutan ini, pada dasarnya adalah pembangunan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat masa kini tanpa mengabaikan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka, sebagai suatu proses perubahan di mana pemanfaatan sumber daya, arah investasi, orentasi pembangunan dan perubahan kelembagaan selalu dalam keseimbangan dan secara sinergis saling memperkuat potensi masa kini maupun masa mendatang untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi manusia (Brundtland, 1987).

Dalam bahasa lain, kota berkelanjutan itu adalah kota yang merupakan perpaduan antara konsep ecopolis, humanopolis, dan technopolis. Artinya secara ideal, sebuah kota (termasuk Kota Bandung), bila ingin jati diri dan citra kotanya tetap nyaman serta berwibawa, maka tidak berlebihan bila dalam membangun kotanya menggabungkan dari ketiga konsep itu. Lalu, apa sebenarnya isi dari konsep ecopolis, humanopolis, dan technopolis itu?

Pertama, ecopolis. Konsep ini berarti kalau dalam pembangunan kota itu yang lebih dominan adalah dari kalangan ilmuwan dan pakar ahli lingkungan. Dalam arti lain, konservasi energi dan pelestarian keseimbangan ekologis menjadi pertimbangan utama dalam pembangunan kota.

Kedua, humanopolis. Berarti dalam pengelolaan pembangunan perkotaan ditentukan sendiri sepenuhnya oleh segenap warganya. Menurut Peter Hall (1991), konsep humanopolis mungkin dewasa ini masih akan dinilai utopis.

Ketiga, technopolis. Berarti dalam pengelolan pembangunan kota itu yang mendominasi adalah para rekayasawan dan teknolog. Wujudnya bisa berupa kota yang sarat dengan bangunan tinggi (baca: modern). Misalnya kota kompak satu dimensi, bangunan jangkung, kota terapung, kota di dalam laut, kota di udara, dan semacamnya.

Dari keterangan itu, kita bertanya-tanya bagaimana sebenarnya keadaan pembangunan di Kota Bandung yang terjadi saat ini. Apakah telah memadukan antara konsep ecopolis, humanopolis, dan technopolis sebagai jalan pemecahan permasalahan kotanya serta yang sekaligus merupakan alternatif menjadikan Kota Bandung sebagai kota masa depan. Atau jangan-jangan Kota Bandung ini merupakan kota yang tidak konsisten dengan “konsep” pembangunan kotanya?

Akhirnya, jelas sudah kalau kita ingin Kota Bandung ini menjaga jati diri dan mempertahankan citra kotanya yang pernah disandangnya selama ini, maka kebersamaan dalam membangun kota ini, kelihatannya menjadi sebuah keharusan yang mesti dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung saat ini. Bila hal itu tidak dilakukan, maka jangan harap citra kota ini akan memberi “manfaat” bagi warganya. Wallahu a’lam.***

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.

Labels:

Tips: Let the children know…

AddThis Social Bookmark Button apply.web.id Lintas Beritakan

Maraknya kasus2 pelecehan seksual terhadap anak2 semakin mengkhawatirkan. Saya sebagai orang tua menjadi was2, dan saya rasa sudah waktunya orang tua membuka diri dan mempersiapkan anak2 untuk menghadapi situasi2 seperti ini.

Sepanjang hidup saya, saya sudah menemukan setidaknya 5 kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan oleh orang dewasa. Seperti halnya kasus2 yg terungkap di media massa, saya yakin kejadian yang belum terungkap sangat banyak, karena anak tidak melapor, atau orang tua sengaja menutup2i.

Pada sebagian besar kasus yang saya temukan, anak yang menjadi korban tidak mengetahui bahwa yang dialaminya bukanlah sesuatu yang wajar. Sebagian besar perlakuan orang dewasa terhadap anak2 ini memang tidak cukup kentara, seperti pelukan dan ciuman, sehingga tidak jelas2 merupakan pengalaman yang negatif untuk si anak. Si anak mungkin risih, karena yang memeluk dan mencium bukanlah anggota keluarga, misalnya guru, atau orang yang tidak dikenal.

Salah satu kasus terjadi di sebuah sekolah. Ada seorang guru yang cukup disukai anak2 murid. Suatu ketika guru tersebut mulai mendekati anak2 perempuan. Dia memanfaatkan kesempatan ketika ruangan sepi tanpa orang lain selain dirinya dan anak perempuan tsb. Pada bbrp kesempatan dia menghampiri anak tersebut, memeluk dan mencium sambil mengatakan bahwa anak itu anak yang baik dan cantik, lalu membiarkan anak itu pergi. Pada kesempatan lain, mungkin dia bertambah berani, guru tsb mulai menyentuh bagian2 tubuh tertentu. Baru saat itulah si anak merasa tidak beres dan memberitahukan orang tuanya. Berita ini pun membuat seisi sekolah gempar. Satu orang anak lain muncul dan melaporkan telah memperoleh perlakuan serupa dari pak guru tsb. Beberapa anak lain yang sempat dipeluk dan dicium sang guru pun tersadar, mungkin pak guru itu berencana melakukan hal yang sama thd mereka. Sang guru dikeluarkan dari sekolah.

Sebagian anak akan memberitahukan ortunya jika bagian2 tubuh tertentu dipegang orang, tapi bagaimana jika orang yang melakukan hal tersebut orang yang dikenalnya, yang dihormatinya, atau yang ditakutinya? Dan bagaimana jika orang tersebut membujuk si anak untuk merahasiakan hal tsb? Seperti contoh guru di atas, sebagian anak bahkan merasa guru tersebut benar2 menyayangi mereka karena dia memperlakukan mereka secara istimewa. Jika sudah merasa dekat, kemungkinan anak untuk menuruti kemauannya sangat besar!

Pada kasus lain, seorang anak perempuan berusia 7 tahun suatu hari mengeluh kepada ibunya, mengatakan kemaluannya sakit ketika buang air kecil. Ketika ditanya kenapa, anak menjawab, kemaluannya sakit sejak dipegang oleh pengasuhnya. Sang ibu pun terkejut dan seribu pertanyaan muncul di kepalanya. Sudah sejak kapan dia berani begitu? Kenapa anakku ga pernah bilang? Sudah sejauh apa dia berani menyentuh anak saya? Apakah anakku akan baik2 saja? Begitu ditanya, si pengasuh mengatakan dia gemas pada anak itu.

Orang tua jaman dulu sangat tabu membicarakan hal2 seputar seks dengan anak2, padahal untuk dapat melindungi diri dari kejadian2 seperti di atas diperlukan pengetahuan yang cukup tentang batas2 normal kontak fisik antara anak dan orang dewasa maupun anak lain. Berhubung kejadian seperti ini selalu terjadi di saat orang tuanya tidak ada, maka pertahanan anak yang pertama adalah dirinya sendiri. Karena itu saya rasa penting untuk dilakukan orang tua:

1. Ajak anak anda membicarakan bagian2 tubuhnya sejak ia mulai mengenal laki2 dan perempuan. Apa yang beda antara laki2 dan perempuan.

2. Dengan menggunakan istilah yang baik, tekankan mana bagian tubuh yang sifatnya pribadi, yang tidak kita perlihatkan kepada orang lain, dan tidak boleh orang lain perlihatkan miliknya kepada kita.

3. Bicarakan juga tentang arti kasih sayang. Apa itu kasih sayang, dan bagaimana menunjukkan kasih sayang dengan sesama, misalnya dengan saling menolong, memberi perhatian yang wajar, dengan memberi berbagai contoh hal2 yang dilakukan oleh sesama anggota keluarga sebagai tanda kasih sayang antara satu sama lain. Kontak fisik yang wajar seperti rangkulan, belaian ciuman di pipi, di kening, atau di tangan ayah atau ibu juga bentuk kasih sayang. Sebutkan orang2 di luar keluarga yang juga mengasihi dia, seperti kakek, nenek, mungkin juga om dan tante, dan teman2.

4. Terakhir mulailah membicarakan hal2 yang dilarang. Bagian2 tubuhnya yang pribadi tadi, tidak boleh disentuh oleh orang lain, kecuali ayah ibu, atau dokter saat memeriksa di depan ayah atau ibu. Jika ada orang yang mau melihat atau menyentuh, katakan ‘jangan’ dan segera menjauh dari orang tersebut. Jika ada orang yang merangkul, memeluk, bahkan mencium dan dia merasa risih atau tidak senang, segeralah menjauh. Ajar anak untuk percaya instingnya. Segeralah beritahukan kepada ayah ibu. Pesan yang terakhir ini perlu diulang2 sesekali agar anak tidak lupa.

5. Jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada anak, jangan menyalahkan dia. Kebanyakan anak tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, dan ketika sadar kejadian tersebut merupakan aib, dia sudah menanggung malu dengan sendirinya. Inilah luka yang lebih dalam dan sulit sembuh yang ditinggalkan oleh orang yang melecehkannya. Yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah meyakinkan bahwa kejadian yang menimpa dirinya sama sekali bukan salahnya, tetapi salah orang yang melakukannya. Dengan demikian mudah2an anak akan menyadari posisinya sebagai korban.

6. Jika anda menemukan orang yang tidak beres, pernah melakukan pelecehan atau hal2 yang menjurus ke arah pelecehan seksual, atau tidak wajar terhadap anak2, beritahukan teman2 anda agar waspada dan menjauhkan anak2 dari orang tersebut.

7. Mungkin ini pendapat pribadi saya saja, tapi saya rasa kurang wajar jika anak2 perempuan mengenakan pakaian2 seksi seperti yang modelnya diperuntukkan untuk orang dewasa yang… yah, kurang sopan. Beberapa kali saya melihat lomba fashion show di mal2, anak2 perempuan yang mungil dan polos didandani seperti wts hollywood boulevard, lengkap dengan make-up tebal, rok super mini, sepatu platform berwarna neon, dan fish-net stocking. Mengerikan! Ini bukan soal selera saya rasa, tapi soal kewajaran. Entah apa yang dipikirkan ibu2 mereka, yang jelas saya tidak dapat membayangkan apa yang dipikirkan orang2 dengan kelainan seksual pedophil, yang saya yakin ada di antara penonton.

Untuk kebanyakan korban pelecehan seksual anak2, luka yang tertinggal sangat membekas. Tidak jarang luka tersebut ikut membentuk karakter anak di masa pertumbuhan, mengakibatkan masalah psikologis yang dapat mempengaruhi masa depannya. Karena itu adalah tugas kita sebagai orang tua untuk melindungi dan memastikan anak2 tumbuh sebagaimana mestinya.

Mudah2an tips2 di atas, meski mungkin banyak kekurangannya, dapat membantu orang tua melindungi anak dari pelecehan seksual.