GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Archive for the ‘Lingkungan Hidup’


Anas calon kuat di 2014.

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Anas calon kuat di 2014.

I.Operasi udara saat salah sasaran

Nachrowi : ‘Kami Tetap Yakin AM Jadi PD-1′
Advertorial – detikNews

Bandung – Hentakan palu yang diketuk tiga kali itu pertanda sidang paripurna Kongres II Partai Demokrat, resmi ditutup. EE Mangindaan, pimpinan sidang malam tadi, yang mengetukkan palu itu dengan kencang. “Sidang malam ini dinyatakan diskors, dilanjutkan lagi besok pagi pukul 09.00,” kata Mangindaan, di arena Kongres, Hotel Mason Pine, Bandung , Jawa Barat.

Berakhirnya sidang itu, sedikit merubah alur suasana kongres. Pasalnya, sejak sore hari, sejumlah kubu bakal yakin pemilihan ketua umum bakal bisa dilangsungkan malam itu juga. Upaya untuk mengegolkan itu bisa dibilang lumayan ngotot. Niatan untuk menggelar pemilihan malam itu, akhirnya gagal total. Walau dalam voting sebelumnya, pemilih Opsi B, lebih mendominasi. “Siapa bilang kami kalah,” tandas Nachrowi Ramli, ketua tim sukses AM di Bandung malam tadi (22/05).

Memang, setelah voting sore tadi, seolah-olah opini sengaja digalang untuk mengatakan Andi Mallarangeng (AM) sudah habis. Opini itu terbentuk seketika tatkala Opsi A, yang menginginkan agar kongres berjalan sesuai dengan tata tertib yang disusun oleh panitia, kemudian dikalahkan oleh opsi B yang ingin pemilihan umum digelar lebih dulu. Opini itu terus digembar-gemborkan seolah menangnya opsi B tadi, merupakan kekalaghan buat tim AM. “itu tidak benar sama sekali, AM tetap didukung oleh mayoritas DPC menjadi ketua umum,” tandas Nachrowi. “Buktinya usaha pemilihan malam ini, kan tidak bisa terlaksana juga, toh akhirnya pemilihan bakal dilangsungkan besok juga,” sambung Nachrowi lagi. Pemilihan yang bakal dilangsungkan Minggu (23/05) besok, berarti tetap saja sesuai dengan jadwal yang ditetapkan sebelumnya. “Tak ada yang berbeda,” tambah Nachrowi.

Panangian Simanungkalit, koordinator infokom tim pemenangan AM, juga menegaskan serupa. “Belum tentu hasil voting itu menggambarkan pemilihan ketua umum akan seperti itu,” tukasnya. Yang jelas, tambah Panangian lagi, kekuatan sejumlah pihak luar sangat dirasakan sekali dalam kongres ini. “Terutama untuk menjegal AM, makanya diharapkan kepada seluruh kader PD untuk kembali ke akal sehat, jangan sampai PD ini dikuasai kekuatan luar kongres,” tegasnya. (irw) (adv/adv)

Pendukung AM Haqqul Yakin AM Pasti Jadi Ketum
Advertorial – detikNews

Bandung – Jalanan menuju masuk ke perumahan “Kota Baru Parahyangan” itu berubah sejak kemaren. Biasanya, menuju perumahan elit itu, jalanannya lancar tanpa hambatan. Tapi, sejak kemaren, ratusan mobil berjajar memenuhi pinggir jalan. Tepat di depan Hotel Mason Pine, Padalarang itu, suasana macet tak bisa dihindari. Bukan apa-apa, lahan parkir hotel tempat berlangsungnya Kongres II Partai Demokrat itu, tak sanggup menampung membludaknya kader partai itu, yang datang kesana.

Memang, bukan hanya kader Demokrat saja yang berpesta. Penduduk dari Bandung dan sekitarnya juga sibuk menggelar dagangan, buat dijajakan. Macam-macam yang dijual. Bahkan tukang pijat refleksi juga membanjiri pinggiran jalanan itu. Bak seperti pasar dadakan saja. Pesta demokrasi kaum demokrat ini, juga membuat berkah tak terkira bagi masyarakat disana.

Ratusan orang juga berjejer memenuhi jalanan itu juga. Bagi mereka yang tak bisa masuk ke area kongres, banyak yang duduk santai di pinggir jalan, dengan seragam biru-biru pula. Tapi, kebanyakan adalah fans berat buat AM. Para pendukung AM yang banyak berseliweran di sekitar area kongres itu. Lengkap dengan baju seragam, dengan lambang yang bertuliskan “AM for PD-1,”. Mereka, juga kebanyakan berkumpul di “Kampoeng AM” yang memang wadah menampung para pendukung AM. Tapi, masyarakat umum dan pendukung kandidat lain, juga tak jarang terlihat ikut menikmati hiburan, santapan, pijatan gratis yang diberikan tim sukses AM ini.

Forum Harmoni Nusantara (Forsas) termasuk salah satu tim pendukung AM yang banyak mengerahkan pasukannya. “Kami sampai saat ini tetap yakin AM bakal memenangkan PD-1,” tegas Survenof Sirait, ketua umum Forsas. Hal senada juga diuraikan Zainal Arifin Boediono, koordinator Kaum Muda Indonesia untuk Demokrasi (KMID). Organisasi yang diisi oleh aktivis muda ini, sepenuhnya mendukung AM. Bahkan, anak-anak muda ini tak sekadar mendukungbegitu saja. Sehari lalu, mereka menggelar aksi simpatik di Bandung . Puluhan gadis jelita dan pemuda rupawan, membagi-bagikan bunga tanda dukungan buat AM, di jalanan sekitar Bandung Indah Plaza dan Jalan Merdeka, Bandung . Dengan berbaju bertuliskan “I Love Indonesia ,” para aktivis muda itu menggelar aksinya di Bandung sana . “AM itu tokoh muda yang bisa membuat Demokrat berjaya dalam Pemilu 2014 lalu, dia sangat pantas jadi ketua umum Demokrat,” tegas Zaenal lagi.

Dari arena kongres, puluhan DPC masih tetap ingin AM yang jadi PD-1. “Kami tetap yakin AM akan memimpin PD kedepan, karena hanya dia yang layak,” tukas Haryono Abdul Bari, ketua DPC Sampang, Madura, Jawa Timur. Hal senada diuraikan Tengku Hashimi Puteh, Ketua DPC Kabupaten Aceh Jaya. Jari Kurniato, ketua DPC Pati , Jawa Tengah, tetap bakal terus memperjuangkan AM agar menang dalam pemilihan nanti. “Karena cuma dia yang pantas membawa perahu Demokrat ini kedepan,” katanya. (irw)
(adv/adv)

Jika membaca berita ini seakan akan akan menang mutlak, apalagi jika melihat iklan dijalanan dan dimedia lainnya seakan akan semuanya sudah milik andi mallaranggeng.

Hasilnya ternyata diputaran pertama saja sudah kalah dari anas dan marzuki  dan langsung menjadi panonton. Tanda tanda ini terlihat ketika ketiga kandidat dipanggil ketua dewan Pembina partai democrat bersama ketua umum periode 2005 s/d 2010., posisi andi mallaranggeng berada pada posisi paling jauh dari ketua dewan Pembina partai democrat.

Dibaliik ini semua, bagi para aktifist kekalahan ini tidak aneh karena yg dilakukan tim kampanye andi mallaranggeng adalah kampanye sebagai calon presiden pada 2014 dengan menggunakan momentum kampanye pemilihan ketua umum partai Demokrat.

Kampanye yg mengandalkan operasi udara / iklan adalah operasi yg ditujukan kepada pemilih yang berada pada ruang terbuka dan secara networking tidak mungkin bisa di capai dan digalang. Contohnya pemilihan pemilu kada dan pilpres serta anggota legistative. Pemilihan ketua umum partai Demokrat tidak terlalu jauh dengan pemilihan ketua umum HMI. KAMMI,KAHMI. Himpmi, kadin dll. Artinya yg paling penting adalah bersilaturahmi, berbagi dan bersinergy.  Oleh karenanya hampir pasti kalah jika tidak menggunakan  cara berbagi dan bersinergy kepada pihak yang tepat dan sangat ditentukan oleh jumlah suara, pemilik suara. Serta pemetaan awalnya dan menindaklanjutinya.

II. Bagaimana SBY, kok membiarkan Ibas seperti membiarkan Aulia Pohan.

Terlalu Eksploitasi Ibas & Terkesan Jumawa, AM Kurang Disukai DPC PD
Ayu Fitriana – detikNews

Jakarta – Di atas kertas, modal Andi Mallarangeng terlihat kuat. Dia gencar beriklan dan mendapat dukungan eksplisit dari Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas. Namun tetap saja dia kalah dalam bursa ketum PD.

Kekalahan itu diduga karena Andi terkesan terlalu mengeksploitasi dukungan dari Cikeas, dalam hal ini Ibas. Hal ini membuat Dewan Perwakilan Cabang (DPC) maupun Dewan Perwakilan Daerah (DPD) kurang menyukai AM.

“Dengan caranya yang seperti itu, DPC-DPC merasa nantinya AM hanya akan loyal pada SBY. Nanti tidak memperhatikan kepentingan DPC,” analisis Direktur Eksekutif Reform Institute, Yudi Latief, pada detikcom, Minggu (23/5/2010).

Yudi juga berpendapat, cara kampanye yang dilakukan oleh AM terlalu berlebihan.

“Saya kira dia blunder karena model kampanyenya yang sangat high profile itu kontraproduktif di kalangan DPC-DPC, jadi terkesan jumawa,” kata dia.

Faktor lain yang dianggap menjadi penyebab kekalahan AM adalah terlambatnya AM mengajukan diri sebagai calon ketua umum.

“Kalau Anas dan Marzuki kan sudah lama,” kata dia.

Yudi menilai SBY sudah melakukan tindakan yang tepat dengan tidak memberikan dukungan secara terang-terangan, meskipun ia terlihat cenderung mendukung AM.

“Karena SBY sendiri kan tidak boleh memperlihatkan arah dukungannya,” tutupnya. (nrl/nrl)

Sederhana kelihatanya , gara gara over memanfaatkan maka terjadi arus balik dan langsung dikalahkan padahal menurut analisa kalaupun ia tetapi yg paling menentukan adalah seperti yg disampaikan pada tulisan bagian awal.

Bagi SBY dalam konteks idealis kekalahan ibas sungguh sebuah pengalaman sangat berharga bagi ibasnya. Dan SBY mengatakan ia juga pernah dikalahkan pada pemilihan sebagai wakil presiden sehingga yang akhirnya jadi adalah Hamzah Haz jetika itu, ini disampaikan pada pidato dewan Pembina tadi pagi sebelum pemilihan. Dan sangat mungkin nasehat ini untuk ibas selain pihak lainnya yang dikalahkan pada pemilihan ini.

Bagi ibas kekalahan jagoannya termasuk dirinya membuktikan bahwa memenangkan idea dan pilihannya sangatlah tidak sederhana serta membuktikan juga bahwa partai bisa diluar kendali dan kontrolnya.

Dalam soal kendali ini maka  Anas menang memang ia yang kuat secara  jaringan aktifist, politisi , serta akademis seperti achmad mubarok serta jawa yahya sacamanggala terutama pengalamannya. Dan terbukti juga Ternyata jaringan HMI dan pengalaman berpolitik alumninya pada kongres kongres semasa muda telah menjadi pengalaman yang berharga sehingga berhasil memenangkan ketua Demokrat.

Pengalaman Andy dan Marzuki alie sebagai aktifist memang jauh dibandingkan Anas yang sudah malang melintang didunia persilatan aktifist dan aktifisme.

Oleh karenanya kekalahan Andy malarangeng bukan hanya karena terlalu over memanfaatkan ibas tetapi memang dari segi jam terbang sebagai aktifis memang kalah pengalaman dan kelas dari anas dan jika tajam melihatnya andy tidak akan seterkenal sekarang jika tidak berada didekat SBY. Berbeda dengan Anas yg memang merintisnya berjaringan sejak lama.

Terbukti rame dimedia masa tidak berhasil karena tidak tepat sasaran, begitu anak presiden dan ketua dewan Pembina juga tidak menjamin kemenangan.

Dan apakah disini juga diperlihatkan SBY, bahwa masa depan partai Demokrat memang ada pada anas urbaningrung karena kedua calonlainnya palingan hanya menang menjadi ketum tetapi hampir pasti kalah menjadi RI 1 di 2014.

III. Partai Demokrat sudah punya calon untuk 2014

Bisa jadi kemenangan Anas adalah , Kemenangan Politik Gagasan
Advertorial – detikNews

Bandung – 23 Mei 2010 – “Great ideas often receive violent opposition from mediocre minds” demikian dikatakan salah satu ilmuwan paling terkemuka abad 20, Albert Einstein. Kutipan tersebut merefleksikan bahwa perjuangan mewujudkan sebuah gagasan besar bukan pekerjaan yang mudah. Ia kerap terhalang oleh pemikiran-pemikiran sempit yang mencacinya.

Perjuangan mewujudkan sebuah gagasan membutuhkan militansi intelektual, yang penuh kesabaran, ketekunan, dan kekayaan dialetika berpikir. Bukan sebuah payung cantik yang berusaha melindungi wajah berkosmetik tebal dari panas dan hujan.

Hari ini di Bandung , perjuangan mewujudkan gagasan itu dilakukan. Ikhtiar politik gagasan itu direalisasikan lewat sosok Anas Urbaningrum. Yang tidak berdiri di depan cermin kepalsuan. Yang memimpin dengan hati.

Ini menjadi sebuah titik tolak untuk mewujudkan demokrasi yang modern dan produktif. Yang tidak hanya terpaku pada sebuah konsep namun tercermin hingga tataran praktis dan meritokrasi. Yang tidak hanya dikerjakan oleh kader-kader berpengalaman di Partai Demokrat. Namun juga oleh dinamika generasi baru Indonesia .

Hari ini di Bandung , kemenangan politik gagasan itu terjadi. Kemenangan yang bisa dirasakan, dinikmati dan dirayakan oleh rakyat. Oleh mereka yang hendak bergerak dan bekerja bersama Partai Demokrat.

Bergerak dan bekerja yang dijaga oleh sebuah kesadaran membangun budaya demokrasi yang modern dan dipimpin oleh ketulusan hati.

Hari ini di Bandung , kesadaran yang terpenjara oleh tenda-tenda berpendingin udara terbebaskan oleh kesederhanaan. Fantasi yang dilambungkan oleh balon-balon udara itu kembali di bumikan.

Seperti kata Anas Urbaningrum tahun 1998 silam, “Harga diri demokrasi terletak pada faedahnya bagi publik.” (adv/adv).

Anas sudah menjadi ketua umum partai Demokrat. Kelebihannya sebagai aktifist sudah tidak usah dipertanyakan. Hanya sebagai aktifst sdh pasti tidak akan puas dan menerima kultur keluarga sebagai patron poltik dan penentu arah selamanya.

Hambatan sebagai personal tidak usah dibahas sehingga yang dibahas adalah hambatan berdasarkan pengalaman dan cultural aktifist. Oleh karenanya jika transformasi social di partai demokratnya tidak mulus hampir pasti akan berantakan. Sebelumnya sangat jelas bahwa sentranya adalah SBY, keluarga dan cikeas.  Sekarang ini akan mulai berubah.

Disinilah kita sebaiknya belajar melihat bagaimana cultural yang luhur dan baik ini bisa bertransformasi sehingga pada sisi  pengorganisasian ini dibuktikan bahwa anaslah yang berhasil memenangkan kontestasi di Partai Demokrat ini,

Disini juga terlihat kejelian sang maestro achmad mubarok yang jelas jelas mendukung anas dari sejak awal bahkan sejak pilpres 2009 sudah menyebut bahwa untuk 2014 jika ingin butuh kepastian maka anaslah yang harus menjadi Presiden di 2014.

Disisi lain ini adalah tanda bahwa partai democrat tidak akan seterusnya mengandalkan blessing cikeas karena pasca 2014 sudah pasti keua dewan pembinanya tidak akan menjadi Presiden RI lagi jika Indonesia menggunakan uud yang sekarang digunakan.

Oleh karenanya kekalahan andy dan marzuki bisa dikatakan sebagai era baru partai democrat dimana sebelumnya patronasenya SBY dan cikeas sedangkan kedepannya adalah aktifist dan pegiat politik serta jaringan partai democrat sendiri. Ini berarti bergeser juga dari tadinya patronya keluarga saat ini dengan jelas jelas akibat kekalahan ibas yg mendukung andy maka pusarannya mulai bergerak mendapatkan patron baru yang semakin hari akan semakin terbaca.

Orang juga tidak memperhatikan bahwa Anas memang tidak bersama ibas tetapi jelas sowan bertemu dengan ibu sepuh yg juga jelas putri dari kiai besar di jatim dan disini jugalah cultural NU berpengaruh. Jika pada 2005 yg terjadi sebaliknya dimana calon calon professional mundur dan dikalahkan keinginan dari keluarga supaya hadi utomo yang menjabat saat ini yang terjadi sebaliknya. Oleh karenanya ini adalah momentum membalikan arah jarum jam bagi Partai Demokrat menjadi partai moderen.

Sekarang kesiapan partai Demokrat menjadi partai moderan sedang dipertaruhkan , apakah pengaruh SBY, keluarga dan cikeas akan tetpi dominant sehingga anas walaupun memenangkan kontestasi tetapi kewenangan tetap pada tempat dan posisi semula atau kewenangan itu memang diiklaskan SBY, keluarga dan cikeas diberikan sepenuhnya sepanjang amanah dijaga.?

Jika ini terjadi dan dilakukan maka akan ada perubahan nyata ibas kalaupun tetap penting karena sebelumnya lebih berposisi sebagai putra kerajaan dan putra mahkota. Kedepan jika menginginkan partai dan jenjang politik yang lebih tinggi maka ia harus berkeringat dan tidak bisa lagi mengandalkan hanya menemani kedua orang tuanya dalam kunjungan.

Disisi lainnya tidak ada pilihan bagi ibas selain merubah polanya dalam berpolitik dan ini juga yang ditunjukan SBY kepada anaknya karena dengan cara politik seperti saat ini serta zaman perubahan social seperti ini sudah pasti cara politik yang lamanya tidak akan bertahan lama.

Perubahan perubahan hampir pasti akan terjadi meluas. Dengan adanya Anas hampir pasti intelektual dan cendikiawan akan dipanggil dan masuk. Disini juga jika tidak hati hati akan bergesekan dengan orang orang yg bergelar dan kebetulan sekolah diluar negeri yang sekarang sudah mewarnai Partai Demokrat.

Kita akan melihat berbagai hal baru atau justru akan segera muncul pertentangan akibat perubahan ini.

Kita akan segera melihatnya dalam 3 tahun kedepan? Jika berhasil bertransformasi bagaimana dan sebaliknya.

Semoga bermanfaat.

Agus muldya natakusumah

Indosolution

Menerjang gelombang demi kehidupan.

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Pulau bertam adalah pulau yang dimana di tempati oleh suku anak laut asli, yang dimana sejarah mengatakan dahulu sebelum mereka hidup di darat, mereka hidup di laut. berpindah daru laut satu ke laut yang lain, beristirahat di satu pulau, ke pulau lainnya dikala ada badai. pada tahun 1985 Pulau bertam ini di rintis oleh bapak Siantaran dan pada  tahun 1987 suku laut asli ini di bina oleh Ibunda Sri Soedarsono, sehingga  mereka menggapap Ny. Sri Soedarsono sebagai ibu suku laut mereka, karena  perhatian beliau yang sangat lebih kepada suku laut ini.

Setiap bulan ibunda Sri Soedarsono selalu memasuk sembako untuk semua  warga sini, dan selalu mengadakan kunjungan kesini dengan tamu – tamunya  bahkan ada yang dari Belanda. Namun entah kenapa, pemerintah kota batam  meminta kepada ibunda Sri Soedarsono untuk memberikan tanggung jawab  pulau itu kepada pemko batam sendiri, dengan alasan semua warga pulau  akan di asuh oleh pemko batam sendiri. tapi kenyataannya tidak seperti apa  yang di bayangkan oleh warga sini, mereka seperti kehilangan ibu mereka.  Pulau ini sangat memprihatinka, berbeda dari sewaktu mereka menempati  pulau dan di asuh oleh ibu dar, sekarang bias di lihat. Dermaga kayu yang sudah rusak, rumah” yang tak layak huni, puskesmas yang tidak aktif, fasilitas  sekolah sangat sangat minim. Sekarang suku laut bertam sangat kecewa  terhadap pemerintah sekarang, selain mereka jarang, bahkan gak pernah  menginjakkan kaki ke pulau bertam. mereka juga gak pernah menanggepi  keluhan – keluhan warga disini. Warga disinipun gak tau pemimpin mereka  saat ini siapa, kalau ikutan pemilu, pilkada, pilgub mereka ikutan. tapi gak tau  orangnya yang mana.

Suku laut disini banyak banget yang buta huruf, hampir seluruh warga disini  buta huruf. Harapan warga sini adalah agar anak – anak mereka lebih pandai  dan pintar dari orang tua mereka, sedangkan tenaga pengajar adalah warga  bertam yang telah menikmati bangku sekolah. Sekolah pun tanggung disini,  (tidak sepenuhnya berpengaruh terhadapa atas anak), hanya sebatas SD.  Aktifitas warga disini kebanyakan berdiam diri di pulau karena gak ada  kerjaan yang bisa mereka lakukan, mencari ikan di laut, bahkan itupun jarang  banget dapat ikan untuk di makan maupun di jual kembali. Kalau mengenai kesehatanpun demikian, bahkan mereka harus menerjang  gelombang demi kesehatan, berlayar ke pulau belakang padang ataupun kasu,  kalau parah mereka ke batam. Dan hal yang membuat mereka bahagia di  batam adalah berobat di batam, yaitu di rumah sakit budi kemulian punya ibu  dar, mereka di sana berobat gratis, fasilitas yang mereka dapatipun sama  dengan pasien lainnya, yang mereka bayar hanyya transport taksi dan boat  doank.semenjak pulau bertam di ambil alih oleh pemko batam, puskesmas  disini sudah tidak berfungsi lagi, kalau imunisasi anak – anak mereka, mereka  harus keluar bertam. bahkan air bersih sulit banget mereka dapati disini, kalau  mau mengambil air bersih merek harus membeli ke luar pulau, dengan harga  yang tidak begitu murahnya.

Tradisi adat disinipun sudah terbilang tidak ada lagi, dikarenakan warga disini  pada pindah kepercayaan. jadi agak sulit untuk mengajak mereka. Bahkan  anak – anak muda sekarang tidak mau mengenal sejarah suku nya sendiri, karena pengaruh kehidupan yang modern, sebagianpun mengatakan orang tua  itu kuno, gak modern. padahal jikalau tidak ada yang kuno, kita tidak akan  bisa jadi modern seperti ini.

Harapan yang mereka sangat inginkan kepada pemerintah adalah mereka ingin lebih diperhatikan lagi layak buk dar memperhatikan mereka dahulu,  sedangkan pemerintah hanya banyak janji, jadi kami hanya kekenyangan  makan janji. dan proposal yang berisi keluhan mereka segera di tanggepi  secepatnya, jadi kami gak buang – buang ongkos jauh – jauh ke batam hanya  demi menunggu jawaban dari kepastian pemerintah.

Sampahpun kini telah menceramari lautan mereka.

ini adalah foto”  yang saya peroleh di TKP..

cekidot gan :)
bertam-1bertam-3bertam-2

LELAKI DARI TITIAN NIBUNG

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

LELAKI DARI TITIAN NIBUNG

Menggambarkan keberanian manusia menantang keganasan alam adalah Titian Nibung, sebuah jembatan sembrono di hulu Sungai Batanghari yang berarus deras. Terbuat dari dua potong batang nibung sebesar pinggang orang dewasa, panjang lima atau enam meter saja, jembatan itu menghubungkan tebing sungai yang tegak seperti dinding makam, pada posisi yang riskan dan mematikan. Siapa pun yang melintasinya akan merasakan sensasi bathiniah dan mengakui telah dicurahkan segala tenaga dan keberanian untuk merangkainya. Inilah karya pedalaman yang nekat sekaligus mengagumkan!

Terlindung di bawah kanopi tebal hutan rimba Bukit Tigapuluh, jembatan itu tak pernah mengenal sinar matahari. Pohon munggur di atasnya memayunginya dengan ketat, seperti cendawan raksasa. Rumpun rotan dan pakis raja menutup tebing sungai sedemikian rupa sehingga seolah-olah celah sempit itu tak pernah ada. Dan bagi makhluk yang gopah-gopoh menggunakan kakinya, celah itu merupakan jalan sempurna menuju alam keabadian ……

Lorong sungai meremang puluhan meter di bawahnya. Sayup-sayup bergemuruh menyerupai huru-hara di perut bumi.

Tak banyak orang tahu keberadaan jembatan itu kecuali sekelompok Suku Kubu yang mendiami Bukit Tigapuluh. Tumenggung Petanting, tokoh Kubu yang ternama, merancang dan merakit sendiri jembatan itu untuk membantu warganya menyeberang, dalam rangka interaksi dengan orang kota, barter atau sekedar mengagumi kenderaan melintas di jalan raya. Karya eksentrik itu sejalan dengan manfaatnya, karena itu meski tampak sunyi tanpa suara – orang Kubu terbiasa hidup senyap – tempat itu senantiasa sibuk dengan orang-orang yang melintas, kelompok demi kelompok. Pendek kata, jembatan itu merupakan arteri perlintasan, sekaligus jembatan peradaban mempertemukan budaya kota dengan budaya manusia penghuni rimba raya.

Tapi itu belum cerita seluruhnya. Titian Nibung juga dikenal sebagai jembatan kematian. Sejak resmi digunakan beberapa orang telah tewas, baik yang terpeleset jatuh atau yang sengaja melompat untuk bunuh diri. Hari berganti hari, manusia silih berganti, jembatan itu tetap eksis dengan reputasinya yang menyayat hati.

”Hooou….!”

Dari waktu ke waktu seorang tentara berpangkat kopral mendatangi jembatan itu, Kopral Marzuki. Sebagai babinsa setempat sudah sewajarnya ia membina hubungan dengan semua elemen masyarakat, termasuk Suku Kubu. Baginya, berkomunikasi dengan Orang Kubu jauh lebih menarik daripada berurusan dengan Toga, Toda, Tomas di perkotaan yang pura-pura saleh tapi diam-diam membuat intrik politik. Orang Kubu lebih sederhana dan polos. Kalau pun mereka bersikap curiga kepada orang luar, itu semata-mata upaya preventif melindungi diri dari orang kota yang memang seringkali mengakali mereka.

Selain dari itu, ketertarikan Marzuki pada kesunyian Titian Nibung belakangan ini didasari alasan intuitif, kondisi psikologis khas tentara yang hendak pensiun. Ketika waktu baginya hampir habis, dadanya makin meluap oleh semangat pengabdian. Ia merasa berhutang banyak kepada keluhuran bhakti, semacam rongga berlimpah kerinduan di relung hati. Maka ia berusaha memainkan peranan sekecil apa pun, sebagai simpati bagi sesama manusia yang terperangkap dalam keterbelakangan budaya.

Sungguh aneh dunia ini, demikian ia berpikir, ada populasi manusia memilih hidup nomaden, nyaris telanjang di tengah hutan, dirubung nyamuk dan pacat, tanpa kepastian menyambut masa depan. Marzuki hendak memperbaiki ’cedera’ kehidupan ini, tapi ia sadar batas kemampuannya. Ia telah ambil bagian dalam beberapa operasi militer, ikut menangani konflik horizontal yang keji dan kejam, tapi tak ada yang membebani jiwanya melebihi kemelut kehidupan yang menyelubungi jembatan memilukan ini.

Karena teriakannya tak mendapat jawaban, Marzuki berteriak sekali lagi:

”Houu…., Tumenggung!”

”Houu…., ou…, ou…, ou…!” Terdengar jawaban dari bawah jembatan. Suara itu milik Petanting, memantul-mantul di dinding sungai. Pejabat tinggi Suku Kubu yang hanya bercawat itu gemar turun ke sungai menangkap ikan. Ia bermukim di sekitar tempat itu, gubuknya mungkin menempel pada sebatang pohon, entah dimana!

”Naiklah, aku Marzuki, kita bicara lagi!”

”Tidak perlu.”

”Kubilang perlu. Naiklah!”

Kopral Marzuki meneteskan pemaksaan bernada perlindungan dalam suaranya. Perkenalannya dengan Petanting dalam suatu insiden perkelahian antar kelompok di tengah hutan, berlanjut menjadi persahabatan. Bukan sekali ini saja Kopral Marzuki mendatangi Titian Nibung, tapi sudah berkali-kali. Di kelompok Peranting ia sudah dikenal baik, dianggap saudara, hampir-hampir diperlakukan sebagai anggota marga.

Marzuki malah pernah mengenakan cawat terbuat dari selendang yang dipilin-pilin, hilir-mudik dengan girangnya, ketika ia menghadiri acara perkawinan anggota marga di sela-sela pepohonan.

Di sisi lain, Petanting bukan warga Kubu biasa. Ia mengenal kehidupan kota dengan baik. Bermula dari menjual biji karet, kemudian berdagang rotan, lalu ia menyewa warung kecil di pinggir jalan di luar Kota Jambi. Tapi kesulitan bisnis yang dialaminya, dan kerabatnya yang terus memangil-manggil, membuat Petanting akhirnya kembali ke kehidupan semula. Di tempat aslinya itu ia didaulat menjadi Tumenggung, jabatan yang memang sesuai dengan kemampuannya. Ia tampil ke depan untuk memperjuangkan nasib warganya, khususnya jika terjadi kemelut yang berkaitan dengan hak ulayat atas hutan.

Peristiwa terakhir, Petanting beserta ratusan warganya menyerbu basecamp perusahaan HPH lalu menyulut kobaran api. Mestinya perusahaan itu memiliki ijin beroperasi hanya pada areal yang ditentukan, namun sengaja atau tidak, alat berat mereka telah memasuki hutan lindung dan membangkitkan amarah Suku Kubu.

Tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, tapi seluruh fasilitas camp musnah jadi abu. Beberapa unit buldozer dan traktor kepiting yang masih baru berubah jadi besi tua. Pertikaian itu masih menyisakan dendam yang panas di kedua pihak. Selain melapor kepada pihak kepolisian, pemilik alat berat juga telah menghasut para preman kampung untuk memburu Petanting. Ini berpotensi menjadi prahara lebih besar di tengah hutan, dengan implikasi-implikasi politis yang bisa menarik perhatian dunia.

Marzuki tahu persis dimana Petanting berada dan cara menemuinya. Atas pertimbangan pribadi – pribadi sekali, ia bahkan tidak ingin Petanting tertangkap, maka ia bermaksud melindunginya. Ia harus menemuinya, menenteramkannya, atau paling tidak memperingatkannya.

Lama menunggu, kuatir tokoh yang kumal itu tak mau menemuinya, Marzuki melangkah hati-hati menuju tepi tebing. Berpegangan pada batang rotan yang kokoh, ia melongok ke dalam celah. Pemandangan gelap kelam di bawah matanya membuat bulu kuduknya merinding.

”Heeei, Petanting, naiklah!” Suara Marzuki bergema aneh, seperti berteriak di bibir sumur.

”Siap, Komandan!”

”Ah…., kamu ini!” Marzuki kaget bukan kepalang. Muncul tanpa suara, menyelinap entah dari mana, tiba-tiba Petanting telah berdiri di belakangnya dengan tubuh basah. Orang Kubu sangat ahli bersembunyi atau menyelinap.

Marzuki berdehem, langsung ke inti masalah:

”Kejadian kemarin itu, aku berharap tidak terulang lagi. Saya tidak ingin kehidupan kalian menjadi lebih susah di hutan ini, karena setiap kekerasan akan mengundang kekerasan lain. Sebaiknya kalian menahan diri, agar suasana tidak bertambah panas. Mereka tentu marah sekali!”

”Mengenai apa?”

”Lima unit alat berat hangus terbakar. Belum termasuk puluhan senso, dan lainnya.”

”Hanya itu?”

”Masih banyak yang lainnya.”

”Biar mereka tahu, ribuan buldozer telah dibeli dengan kayu yang dicuri dari hutan kami ini. Mereka pencuri, Marzuki! Apakah tak ada yang bisa menghentikan mereka? Sampai berapa lama Bukit Tigapuluh ini bertahan? Apakah mereka memikirkan perlindungan hutan? Keselamatan kami? Omong kosong semua, mereka malah membakarnya!”

”Aparat hukum yang akan menangani mereka.”

”Aparat hukum? Hukum yang mana?”

Petanting lalu melepas kejengkelannya terhadap lemahnya penegakan hukum. Pikiran-pikiran apriori biasa berkembang di kalangan masyarakat bawah, bahwa pembalakan liar berlangsung melalui kongkalikong cukong kayu dengan oknum aparat. Yang lebih menjengkelkan lagi adalah kelestarian hutan hanya dikaitkan dengan isu ’paru-paru dunia’ dan habitat hidup binatang langka khususnya Orang Utan. Tak ada pertimbangan sedikit pun mengenai nasib Suku Kubu yang juga berdiam dalam hutan yang sama.

Rupanya Petanting berharap pola hidup mereka yang janggal itu perlu pula dilindungi dan dilestarikan.

Mau tak mau Marzuki menilainya sebagai keinginan yang jungkir balik, membuatnya nyaris meledak dalam tawa. Melestarikan hidup setengah telanjang, penuh derita dan kejanggalan! Apanya yang hendak dilestarikan? Ditinjau dari sudut mana pun ide ini melanggar kepatutan. Menodai nilai-nilai kemanusiaan!

”Katamu tadi, hutan ini milik siapa?”

”Milik kami, tentu saja!”

”Salah!”

”Salah? Dimana salahnya?”

Tidak sembarang orang dapat mengeluarkan pernyataan seperti ini jika tak ingin melihat tombak dan golok berseliweran. Hanya karena Marzuki memiliki posisi khusus dalam pergaulan Kubu, dan roman mukanya tidak menyimpan arogansi dan kepalsuan, sehingga ucapannya tidak memancing amarah.

”Hutan ini milik kita semua. Kita adalah warga negara yang sama, Republik Indonesia. Kita memiliki hak dan kewajiban yang sama di hadapan Pancasila dan UUD 1945, tanpa kecuali!”

”Maksudmu?”

”Kelestarian hutan ini tanggungjawab kita bersama. Kita jaga bersama dan kita ambil manfaat darinya bersama-sama pula.”

”Puluhan kali kudengar itu, tak ada pengaruhnya. Kami hanya menginginkan tempat tinggal dan sumber makanan, tapi orang kota membabatnya untuk menumpuk kekayaan. Tidak bisa!”

”Heh?”

”Hutan dan semua isinya adalah milik kami!”

Lalu Petanting menjelaskan hukum adat warisan nenek-moyang yang mendasari hak ulayat mereka atas semua hutan. Bukan hanya hutan di Bukit Tigapuluh atau di Propinsi Jambi, tapi seluruh hutan yang ada di muka bumi, berikut isinya. Bagi mereka hutan adalah tumpuhan hidupku. Harus dijaga, dan hanya mereka yang dapat menjaganya dengan penjiwaan yang benar. Pemahaman ini terpatri kuat di kepala semua orang Kubu, dan menjadi penyebab utama keterikatan mereka berdomisili dalam hutan selamanya.

”Harimau itu milik kami!”

”Begitu? Bagaimana dengan kancil?”

”Kancil, rusa, babi hutan. Semua itu milik kami.”

”Bagaimana dengan nyamuk dan pacat?”

”Itu juga, o…, bukan, itu kuserahkan kepadamu. Mau di semprot, terserah saja!”

”Ha ha ha…..”

”Ha ha ha ….”

Setelah puas tertawa, mereka menyalakan rokok. Hidup manusia tak lebih dari selembar daun yang menggelandang di tengah hutan. Keakraban itu menciptakan kesan seolah-olah mereka dua sahabat yang baru saja ditinggal minggat isteri masing-masing. Suasana gembira segera saja muncul jika asap rokok dan bau humus bertemu dalam keheningan hutan.

Bersambung

  • @Facebook

    Peluang Bisnis Oriflame