GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Archive for the ‘Pendidikan’


Kehidupan Adalah Cermin ‘Keputusan Kita’

AddThis Social Bookmark Button apply.web.id Lintas Beritakan

ARDA BLOGGING SUCCESS:
|
Arda News Success | Blogging Success | Wisdom Business | Quantum Writers | Inspiring Intelligence | Mosquito & Public Health | Getting Rich | Writers Success | Sprituality Health | Farmakologi | Sanitary | Physiology | House Keeping | Pollution News | Photografy|

Kehidupan Adalah Cermin ‘Keputusan Kita’

Oleh: ARDA DINATA
Email: arda.dinata@gmail.com

Kehidupan manusia adalah cermin dari keputusan yang telah dibuatnya. Terjadinya bencana banjir, longsor, dan fenomena sosial lainnya yang terjadi di beberapa kota, merupakan sebagian contoh dari buah keputusan yang telah diambil kita sebelumnya. Prinsip ini, harus benar-benar kita sadari dan pahami dalam setiap langkah kita hidup di dunia. Bila tidak, maka siap-siap kesengsaraan dan kerugian menyelimuti kita.

Untuk itu, pandai-pandailah kita dalam mengambil setiap keputusan dalam hidup ini. Pasalnya, setiap perilaku yang teraktualisasikan dalam keseharian kita itu, tidak akan lari ke mana-mana. Ia akan berpulang pada diri kita. Itulah pentingnya kita meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar dalam kehidupan sesuai ketentuan-Nya.

Pada tataran demikian, setiap individu harus mampu merencanakan hal-hal yang dapat menyempurnakan dalam setiap pengambilan suatu keputusan tersebut.

Bukti perlunya tuntutan dalam adanya perencanaan dalam hidup ini, seperti tersebut dalam Alquran surat al-Hasyr (59) ayat 18, yaitu: “Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.”

Maksud ayat itu, kurang lebih ialah bila seseorang tidak terlatih untuk membuat perencanaan —sebagai modal mengambil keeputusan—dalam hidup ini, maka sudah bisa dipastikan aneka ragam kerugian mendatangi kita. Lantas, bagaimana seni mengambil keputusan dan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan terhadapnya?

Mengambil keputusan

Kedewasaan seseorang tidak muncul begitu saja. Tapi, ia muncul karena suatu proses panjang dan ‘melelahkan’. Kedewasaan itu, pada tiap orang berbeda-beda tergantung pada kemampuan masing-masing pribadi untuk mengoptimalkan potensi kedewasaan yang telah diberikan-Nya. Artinya setiap manusia pada dasarnya akan mencapai kedewasaan sesuai kehendak-Nya. Demikian pula halnya dewasa dalam mengambil keputusan.

Pada tiap keputusan itu, selalu ada saat-saat genting, di mana kita harus memilih. Apakah keputusan diambil secara cepat namun bisa mengakibatkan kerugian. Atau sebaliknya, terlalu lama mengambil keputusan sehingga telah melewatkan suatu kesempatan. Satu hal yang sering tidak disadari kita adalah kapan keputusan itu harus dibuat, karena terkadang sama penting atau mungkin, bahkan lebih penting daripada apa yang mereka putuskan.

Kemampuan mengambil keputusan secara hati-hati, adil dan bijaksana adalah bukan tercipta begitu saja. Tapi harus dimulai dari hal-hal yang kecil, agar menjadi suatu kebiasaan yang positif. Dan inilah salah satu yang membedakan seseorang itu telah dewasa atau belum. Lantas, apa saja yang perlu diperhatikan disaat akan mengambil suatu keputusan? Jawabnya, paling tidak ada lima hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, waspadai analisa yang salah. Sebagian dari kita mampu mengambil keputusan hebat secara cepat, karena memanfaatkan waktu yang tersedia sebaik mungkin untuk menghimpun informasi yang lebih detil, mempertimbangkan lebih banyak alternatif, serta bertukar pendapat dengan rekan. Mereka juga berupaya untuk tidak terjerembab dalam data-data, sehingga dapat melihat kenyataan yang sesungguhnya dalam mengambil keputusan yang tepat. Satu hal yang tidak mereka lakukan adalah mencapai kesepakatan bulat.

Pada sebagian yang lain, para pengambil keputusan lambat menghabiskan waktu yang lebih lama, hanya untuk sampai pada kesimpulan yang sama. Mereka berjuang mati-matian untuk menguasai semua data dan mencapai konsensus bersama. Begitu kesepakatan tercapai, sering kali hal itu tidak relevan lagi. Inilah analisa yang salah.

Kedua, pelajari setiap alternatif yang ada. Sikap dan perilaku yang terlalu ekstrim adalah tidak baik dalam pengambilan suatu keputusan. Bersikap dan bertindaklah bijaksana dengan mempelajari terlebih dahulu alternatif pilihan yang akan kita putuskan, agar tidak menimbulkan penyesalan dikemudian hari. Tentu tidak salah, seandainya bertanya kepada orang lain yang menurut kita mempunyai banyak informasi tentang hal itu. Yang jelas, pastikan terlebih dahulu kita baca, selidiki dan ketahui dulu alternatif-alternatif itu sebelum membuat keputusan penting.

Ketiga, ambil keputusan secepatnya. Putuskanlah sesuatu itu dengan segera sesuai kemampuan kita, karena bila menunggu berarti telah melewatkan peluang atau pilihan penting. Perluaslah pola pikir dan sudut pandang kita, sehingga dapat mengambil keputusan lebih cepat dengan mempertimbangkan berbagai alternatif.

Keempat, ambil keputusan dengan sepenuh hati. Jangan mengambil keputusan apapun jika kita merasa tidak yakin dengan apa yang dilakukan. Namun demikian, kita kadangkala perlu juga mengambil risiko saat membuat suatu keputusan. Dengan syarat, keputusan tersebut diambil pada waktu yang tepat dan dilaksanakan dengan sepenuh hati.

Kelima, ambil keputusan pada waktu yang tepat. Waktu yang tepat adalah salah satu faktor penting dalam pengambilan keputusan. Jika makin banyak yang akan menentang suatu keputusan, maka makin penting pula pilihan waktu dalam mengambil keputusan tersebut. Ingatlah bahwa setengah dari peperangan dapat dimenangkan, jika kita tahu kapan waktu untuk menyerang.

Akhirnya, dengan memperhatikan dan berlatih secara benar dalam mengambil setiap keputusan amaliah kehidupan di dunia tersebut, maka kita akan terhindar dari kerugian dan penderitaan. Waallahu’alam.***

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.

ADA EBOOK GRATIS SEBAGAI BONUS YANG WAJIB ANDA BACA:
· Buku Sukses Untuk Anda. Klik di sini ….

· Peta Harta Karun, Menulis Buku & Menerbitkannya Sendiri, dll klik disini…

Labels:

Pemuda Dambaan Ummat

AddThis Social Bookmark Button apply.web.id Lintas Beritakan

ARDA BLOGGING SUCCESS:
|
Arda News Success | Blogging Success | Wisdom Business | Quantum Writers | Inspiring Intelligence | Mosquito & Public Health | Getting Rich | Writers Success | Sprituality Health | Farmakologi | Sanitary | Physiology | House Keeping | Pollution News | Photografy|

Pemuda Dambaan Ummat
Oleh:
ARDA DINATA
http://ardaiq.blogspot.com

MUSTAFA AL-RAFI’IE menggambarkan masa muda dengan mengatakan bahwa pemuda adalah kekuatan, sebab matahari tidak dapat bersinar di senja hari seterang ketika di waktu pagi. Pada masa muda ada saat ketika mati dianggap sebagai tidur, dan pohon pun berbuah ketika masih muda dan sesudah itu semua pohon tidak lagi menghasilkan apa pun kecuali kayu. (Ashur Ahams; 1978).

Berbicara masalah pemuda, tentunya kita tidak boleh melupakan dari sosok pribadi penyokong dari idealisme pola pikir pemuda itu sendiri. Selain itu, perlu pula pemahaman tentang makna realitas kehidupan bagi mereka.

Pemuda merupakan istilah yang ditunjukkan bagi orang-orang yang berada pada suatu tahap kehidupan tertentu dalam rangka perjalanan kehidupan mereka mencapai makom kedewasaan. Bagi komunitas pemuda, realitas kehidupan yang dihadapinya sehari-hari sering kali dipersepsikan sebagai kenyataan-kenyataan yang membatasi idealisme dan hasrat (bersifat muluk) yang mendominasi pikiran mereka. Berbeda dengan orang dewasa, dimana tipikal orang dewasa cenderung untuk melihat kenyataan itu sebagai bagian dari suatu dunia nyata yang mapan.

Dalam hal ini, perlu disadari bersama bahwa bagi setiap insan kamil. Tahap kedewasaan merupakan tahap kehidupan yang pasti dijalaninya. Yang mana, bila pada tahap muda dapat dicapai afeks pertumbuhan fisikis manusia, maka dalam tahap dewasa terjadi kematangan pertumbuhan psikik manusia.

Arti lainnya, kedewasaan seseorang itu minimal harus memenuhi enam syarat, yaitu: (1) Memiliki kemampuan lebih banyak diam daripada berbicara. Artinya ia memiliki kemampuan mendengar lebih baik. Diamnya orang dewasa itu, semata-mata untuk kebaikan.

(2) Memiliki empati yang tinggi. Yakni memiliki kemampuan melihat sesuatu itu, bukan saja hanya dari sisi pribadinya, tetapi juga dari sisi orang lain. (3) Bersikap waro. Orang dewasa itu dalam tindakannya selalu ditata dengan hati-hati terhadap segala hal. Apabila kita berperilaku tidak hati-hati, berarti kita sama dengan anak kecil. Lagian, semakin kita ceroboh, maka kita makin tidak dewasa saja.

(4) Seorang dewasa itu harus memiliki sikap amanah. Yakni pribadinya memiliki kemampuan bertanggung jawab. Orang dewasa itu, harus full tanggung jawab. Semakin seseorang tidak tanggung jawab, maka ia adalah seorang pengecut/ munafik, bukan orang dewasa lagi.

(5) Dapat menjadi suritauladan. Seorang dikatakan dewasa, jika ia mampu menjadi suritauladan bagi keluarganya, anak-anaknya, istrinya, dan lingkungan ummatnya. (6) Bertindak adil. Seorang dikatakan dewasa adalah dilihat dari kemampuan bertindak adil. Tidak berat sebelah dalam suatu keputusan yang diambilnya.

Dari konsep tersebut, kemudian paling tidak akan memunculkan sifat responsif dari pemuda berupa hasrat yang kuat untuk secepatnya mengembangkan kedewasaan dan kematangan psikik mereka. Kemunculan hasrat ini, dikarenakan kesadaran para pemuda bahwa kedewasaan akan memberikan kepada mereka peluang yang lebih besar untuk berkembang dan berkontribusi secara universal kepada bangsa dan negara.

Untuk itu, bulan Oktober merupakan moment yang tepat untuk mengingatkan kembali akan eksistensi dan sikap pemuda yang mesti dimiliki dan dikembangkan dalam rangka menghadapi tantangan dimasa depan. Namun demikian, hendaknya setiap pemuda muslim berhubungan dengan moral, tingkah laku, dan kebijaksanaan yang dituntut dari pemuda muslim yang digariskan dalam Alquran.

Berkait dengan itu, Dr. M. Manzoor Alam (1989: 40-43), menyebutkan ada sifat-sifat dasar yang dituntut dari pemuda Islam itu. Pertama, percaya dan hanya menyembah kepada Allah. Penundukkan diri sepenuhnya, pengikat diri secara total dan penyerahan diri seutuhnya kepada Allah adalah ciri pemuda yang utama. (QS. 17; 23 dan QS. 31: 12-13).

Kedua, baik terhadap orang tua. Islam menekankan pentingnya berbuat baik terhadap orang tua. Hal ini bukanlah demi kepuasan keberadaan sebagaimana yang lazim dalam masyarakat Barat. Tetapi pemuda Islam selalu menyadari kenyataan bahwa berbuat baik terhadap orang tua, memelihara mereka dalam saat yang diperlukan, memohon ampunan Allah bagi mereka, merupakan bagian dari penyembahan kepada Allah Yang Maha Kuasa. (QS. 17: 23).

Ketiga, jujur dan bertanggung jawab. Pemuda Islam hendaknya berikhtiar untuk memanfaatkan karunia atau anugrah yang dilimpahkan kepada mereka seproduktif mungkin. Karunia ini tidak hanya berupa kekayaan, tetapi meliputi pula segala hal seperti kekuasaan dan kedudukan, kesehatan, tindakan, pengetahuan, dll. (QS. 17: 16-17).

Keempat, persaudaran dan kasih sayang. Pemuda Islam hendaknya memiliki sifat mencintai sesamanya dan hendaknya dijiwai oleh semangat berkorban. Mereka hendaknya bagaikan sebuah bangunan yang kekuatannya terletak pada kekompakan dari komponen-komponen yang membentuk bangunan itu. (QS. 49: 10 dan 3: 103).

Kelima, bermusyawarah. Pemuda Islam harus berpegang kepada bermusyawarah dan harus selalu mentaati norma-norma permusyawarahan, seperti diamanatkan dalam Alquran Surat Asy-Syurura (42): 38 dan Ali ‘Imran (3): 159.

Sifat-sifat dasar tersebut mesti di bangun pada tiap-tiap pemuda Islam untuk menjadi sebuah idealismenya. Baru dari komitmen tersebut, akan melahirkan pemuda-pemuda ideal yang diharapkan menjadi generasi Rabbi Rodhiya.

Yang mana, generasi Robbi Rodhiya ini setidaknya memiliki parameter-parameter yang bisa kita amati, diantaranya berupa:

v Mempunyai keterikatan pada Ilahi. Di dalamnya terhujam rasa cinta yang membara kepada Allah dan melangkahkan kaki sesuai dengan kehendak Allah, sebagai kekasihnya. Satu-satunya alternatif dalam hidupnya adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT. (QS. 6: 162 dan QS. 3: 31).

v Memiliki keberanian untuk berjihad dengan harta dan jiwa demi tegaknya kalimatullah. (QS. 9: 41).

v Berserah diri secara total (kafah) kepada Allah dengan harapan mendapat petunjuk dan keridhoan-Nya. (QS. 2: 128).

v Memberikan penghormatan kepada kedua orang tuanya sebagai salah satu alternatif untuk mendapatkan keridhoan Allah. (QS. 17: 23-24 dan QS. 31: 14).

v Membina diri untuk selalu menegakkan sholat, berakhlak bijaksana dalam da’wah serta memiliki kesabaran dalam menghadapi cobaan. Dan rendah hati, tidak takabbur, dan tidak ingin pujian serta membantu orang yang lemah dengan harapan mendapat cinta Allah. (QS. 31: 17).

v Gandrung akan ilmu pengetahuan, peka terhadap lingkungan, banyak berdzikir dan pandai membaca situasi dan kondisi yang berkembang. (QS. 39:91).

v Memiliki perkataan dan tingkah laku yang lemah lembut, sangat kuat pendiriannya terhadap kebenaran, bagaikan bangunan yang berdiri kokoh, sehingga ia tidak takut dan berduka cita. (QS. 46: 13-14).

v Gemar membaca Alquran dan menjadikannya sebagai sistem kehidupan. Dengan Alquran ia dapat membedakan antara haq dan bathil, cara berpikir dan bertindaknya didasari pada Alquran dan Sunah Nabi. Ia berusaha untuk menjadi Quran yang hidup dan ia tidak suka kalau hanya bicara tanpa beramal, karena Allah memang tidak suka pada yang demikian. (QS. 2: 44 dan QS 61: 2-3).

Alangkah indahnya, bila ciri-ciri tersebut ada dalam pemuda Muslim Indonesia. Dan Pemuda seperti itulah harapan ummat. Pertanyaannya, mampukah kita membangun terwujudnya pemuda yang sesuai dengan tuntutan Alquran tersebut?***

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia,

http://www.miqra.blogspot.com.