GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Archive for the ‘Rohani’


Merekam Lentera Hikmah

AddThis Social Bookmark Button apply.web.id Lintas Beritakan

Judul : Yang Sarat dan Yang Bijak

Penulis : M. Quraish Shihab

Penerbit : Lentera Hati, Jakarta

Cetakan : 1, September 2007

Halaman : Vi + 259 halaman

Resentator : Rahmat Hidayat Nasution

Setelah bukunya yang berjudul: “Yang Riang dan Yang Jenaka” mendapat respon positif dari khalayak. Kini, M. Quraish Shihab kembali menulis buku yang serupa dengan judul: “Yang Sarat dan Yang Bijak”. Namun Kandungan buku ini, sebagian besarnya, bersumber dari kliping koran dan majalah, atau catatan-catatan yang ia himpun saat studi di Mesir puluhan tahun yang lalu. Dan terbitnya buku ini kian jelas menampilkan sosoknya sebagai ulama dan cendikia.

Bukti sosok ulamanya cukup konkrit, ketika penulis tetap menjadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai teladan dan rujukan utama. Karena, menurut penulis, salah satu keistimewaan Nabi Muhammad Saw. adalah kemampuannya menyampaikan kalimat-kalimat singkat sarat makna, atau yang penulis namai Jawaami al-Kaliim. Digelar sebagai sosok cendikia, karena dalam buku ini memberikan keterangan dan petunjuk bahwa hikmah tidak selalu hanya diperoleh dari orang yang pandai dan berakal atau taat dan patuh. Ia bisa saja terucapkan oleh yang bodoh. Bahkan, dalam buku ini penulis mengajarkan bahwa untuk mendapatkan hikmah tidak perlu mempertimbangkan agama atau kepercayaan pengucapnya. Argumentasi itu dilandasinya dengan tuntunan Nabi Muhammad Saw. yang bersabda: “Hikmah kebijaksanaan adalah milik orang mukmin, di mana pun ia temukan, maka ia lebih berhak mengambilnya.”

Selain itu, yang membuat buku ini berbeda dari buku sejenis adalah kemampuan penulis menyusun rangkaian tulisan dengan cukup apik, menarik dan mempesona. Diawali dengan ungkapan-ungkapan padat dan bijak yang datang dari Rasulullah Saw., para sahabatnya, dan aneka pertanyaan yang dijawab dengan ayat-ayat al-Qur’an. Juga dihimpun beragam sikap, pandangan hidup, dan ucapan dari sekian banyak orang bijak, baik dari Timur maupun dari Barat. Bahkan, penulis juga menyusun dalam beberapa bagian yang didasarkan pada kesamaan jumlah materi dalam satu nasehat. Misalnya bilangan lima, berisi kumpulan nasehat-nasehat yang masing-masing memuat lima materi.

Karena itu, saya merekomendasikan Anda untuk membaca buku ini. Menurut saya, buku ini sangat penting. Tidak hanya untuk kalangan para pendidik tapi juga untuk masyarakat umum. Namun, harus diingat bahwa membaca dan merekam hikmah saja tidak cukup. Ia harus dihayati dan diamalkan. Kalau tidak, ia hanya akan menjadi penghias bibir semata. []

rahmat_arab@yahoo.co.id

PERANGKAP TIKUS, sebuah renungan

AddThis Social Bookmark Button apply.web.id Lintas Beritakan

Sepasang suami-istri petani pulang ke rumah setelah berbelanja dari pasar. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus yang bertiarap di kolong meja memperhatikan dengan seksama sambil menggumam : “hmmm…makanan apa lagi yang mereka bawa  ??”


Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus tentu kaget ! bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak ” Ada Perangkap Tikus di rumah….di rumah sekarang ada perangkap tikus….” katanya sambil terengah-engah.

 

Ia mendatangi ayam dan berteriak “ada perangkap tikus”. Sang Ayam berkata dengan rileks : “Tuan Tikus…, aku turut bersedih, tapi itu kan tidak berpengaruh terhadap keselamatanku”. Kecewa mendapat jawaban Ayam, Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak. Sang Kambing pun berkata : “Aku turut ber simpati…tapi tidak ada yang bisa aku lakukan”

Tikus lalu menemui Sapi, dengan harapan mendapatkan jawaban yang diingininya. Sayang, ia mendapat jawaban yang selalu sama. ” Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buatku sama sekali”. Ia ahirnya lari ke hutan dan bertemu Ular, walaupun sebetulnya menantang bahaya. Sang ular berkata : “Ahhh…Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku”. Dengan lunglai, akhirnya Sang Tikus kembali ke rumah dengan pasrah, kepalanya menunduk menatap kosong jalan bebatuan, mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendirian.


Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi, menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan. Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit dan beberapa hari kemudian istrinya sudah boleh pulang. Sayang, demam istrinya tak pernah hilang.

Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya (konon sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam). Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya. Tapi setelah beberapa hari, sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya. Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia. Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman, sehingga sang Petani harus menyembelih sapi untuk memberi makan orang-orang yang melayat.

Hujan rintik sore itu. Di bawah pohon nangka, Sang Tikus menatap kandang yang kosong penuh kesedihan. Dan beberapa hari kemudian ia melihat perangkap tikuspun sudah tidak di tempatnya lagi ……………………


REKAN, SUATU HARI…………….. KETIKA KITA MENDENGAR SESEORANG DALAM KESULITAN DAN MENGIRA ITU BUKAN URUSAN KITA… …………. MAKA MARILAH KITA FIKIRKAN SEKALI LAGI …………… PALING TIDAK UNTUK BER-EMPATY ………

[kiriman dari NK]