GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Archive for the ‘Rohani’


Beato Yohanes Soreth (1394-1471)

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Beato Yohanes Soreth (1394-1471).
Pemimpin Berjiwa Pembaharu

Pada akhir abad pertengahan dan renaissance semangat Ordo religius mengalami kemunduran. Ini juga menjadi gambaran yang cukup nyata dalam kehidupan kekristenan yang semakin menjalani kemerosotan yang serius dan kompleks. Selama tahun 1309-1377 di dalam Gereja ditemukan banyak korupsi. Lagi pada masa ini khususnya tahun 1378-1447 terjadi skisma barat, yang membawa pada terbaginya kesatuan Gereja – terdapat dua dan tiga Paus. Akibatnya ketaatan dan kesetiaan Ordo religius terpecah, ada yang pro pada Paus dan anti pada Paus. Ini juga terjadi dalam tubuh Ordo Karmel – antara tahun 1381-1411 Karmel terpisah menjadi dua Prior Jenderal.

Yohanes Soreth lahir di Caen , Normandia, Perancis tahun 1394 dan bergabung dengan Ordo Karmel pada usia yang relatif muda. Dia ditahbiskan imam tahun 1417 dan mendapat gelar doktor di Universitas Paris tahun 1438. Menjadi Prior Provinsial Prancis tahun 1440-1451. Tahun 1451 diangkat menjadi Prior Jenderal Ordo Karmel – dan mulai pada saat itu jalan untuk pembaharuan yang menyeluruh dalam Ordo dipersiapkan. Dari tahun 1451 sampai wafatnya di Angers pada tahun 1471, ia menjabat Prior Jenderal Ordo.
Soreth dikenal sebagai tokoh pembaharu – menyebarkan semangat penghayatan hidup religius dan seorang pribadi yang unggul dalam menafsirkan regula. Pada tahun 1462 ia membaharui dan menerbitkan konstitusi Ordo. Dengan persetujuan dan bahkan atas inisiatipnya sejumlah rumah yang ada mengikuti pembaharuan. Ia juga dikenal sebagai seorang tokoh besar dan pembaharu yang sangat dikenal Gereja dengan membaharui kehidupan dan semangat Ordo Karmel (Ordo I), juga perintis dan yang memajukan Ordo II (para suster Rubiah Karmel), dan membentuk kelompok awam yang menghidupi semangat dan karisma Ordo Karmel (Ordo III).

Usaha Pembaharuan
Penyebab yang paling berpengaruh dalam kehidupan membiara adalah terjadinya kemerosotan semangat hidup religius pada abad XIV. Ordo Karmelpun tak luput dari situasi ini. Kemerosotan penghayatan semangat Karmel menyangkut segi kehidupannya yang hakiki. Paling tidak ada tiga hal penting yang mengalami penurunan dari semangat hidup Ordo seperti yang tampak mendapat sorotan dalam pertemuan resmi Ordo: hidup doa, kemiskinan dan kehadiran dalam acara bersama.
Pada jaman Renaisance diketahui adanya kemerosotan moral kaum religius, yang menimbulkan suatu reaksi umat untuk melakukan pembaharuan Gereja di kalangan atas dan anggotanya. Ordo Karmel bernasib baik pada jaman kemerosotan hidup religius dalam Gereja, diberikan seorang Prior Jenderal, Yohanes Soreth yang memiliki jiwa pembaharuan.
Usaha yang ia lakukan sebagai langkah awal adalah mengakhiri skisma di provinsi Jerman. Dan pada saat yang sama ia meneguhkan pendirian biara Mors. Selain itu dia juga melakukan kunjungan kanonik ke seluruh Eropa dan menggerakkan berlakunya peraturan baru, baik dalam provinsi-provinsi maupun dalam biara-biara.
Setiap anggota menolak semua kenikmatan-kenikmatan duniawi dan semua keistimewaan yang ditawarkan melalui mitigasi. Semua anggota mengikuti acara komunitas secara bersama, seperti makan bersama, misa dan ibadat bersama. Ia juga menekankan bahwa setiap tamu biara diterima atas ijin Prior.
Ia juga berusaha untuk setia pada bentuk hidup yang mereka aktualisasikan. Tidak sedikit usaha Soreth untuk kemajuan kehidupan religius, untuk menghadirkan kehidupan Ordo yang tertib, memperbaiki simbol-simbol hukum yang diterima dalam penggunaannya untuk melawan reformasi dalam hidup religius. Dengan tujuan untuk memperbaiki peraturan religius dalam Ordo Karmel, Yohanes Soreth mengeluarkan Konstitusi baru. Secara dasar konstitusi itu masih tetap sama, Soreth hanya mencoba merubah beberapa bagian yang dapat memperburuk penghayatan hidup religius dalam menanggapi kemiskinan. Dengan kata lain ia tidak membatalkan kelonggoran dalam hal pantang dan puasa yang telah beberapa puluh tahun sebelumnya diberikan oleh Tahta Suci. Malahan ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk meningkatkan semangat doa, memperjuangkan penghayatan kemiskinan secara merata dan menekankan kebersamaan dan persaudaraan.
Dan perlu dicatat pula bahwa Bapa Paus melihat segala usaha yang dilakukan oleh Yohanes, dan ingin mengangkatnya sebagai Kardinal. Tetapi Yohanes menolak kehormatan itu dengan alasan bahwa ia menganggap uasaha memoerbaiki Ordonya lebih berguna bagi Gereja saat itu. Kebesarannya semakin nampak jelas ketika ia menerima perempuan-perempuan pertama dan awam sebagai angota Ordo.

Yohanes Soreth meninggal dunia di Angers pada tanggal 25 Juli 1471. Digelari Beato oleh Paus Pius IX tahun 1866. Peringatannya jatuh pada tanggal 24 Juli.

ETALASE LANGIT

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Sebentuk ragu menggumpal di kepalamu

Sedangkan camar laut menikmati

Sebuah keniscayaan TuhanNya

Sebentuk ragu membanjiri rongga mulutmu

Berbusa sumpah serapah

Sedangkan burung masih bersiul menatap mentari

Diantara geliat cacing-cacing

Dan tasbih-pun berhamburan di setiap kepak sayapnya

Tiadakah kepalamu mendongak lurus keatas

Jentera langit masih menyimpan

Selaksa rahasia

Tentang dirimu dan semua mahluk langit bumi

Saat tiupan bayu mengetuk lembut kulitmu

Tiadakah rahasia agung dibaliknya?

Sedang kau sendiri menikmatinya

( Teruntuk diriku yang selalu lupa pada-Nya)