GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Archive for the ‘Rohani’


postingan pertama yang nekad dari saya..

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Apologize

Musik terhenyak aku marah.

Dentuman nafsu drum dan teriak saxophone menyeruak.

Tak terarah.

Amarahku membuncah.

Detik-detik alunan hari akhir seolah menggelitik waktu.

Aku yang kecil masih berjongkok di dalam hatiku.

Menjadi pecundang di hadapan Tuhan.

Urat-urat penyesalan seolah maya di selaput duri manusia.Kaum nestapa yang tak kenal kata Tuhan dan Neraka.

Aku yang kecil masih berjongkok di dalam hatiku.

Menutup telinga ketakutan tak hendak mendengar apa yang Malaikat teriakkan.

Goncangan melumpuhkan urat nadi bumiku.

Bukan hendak aku berlari mencari Tuhan.

Aku masih berjongkok di dalam hatiku.

Tak terbata terlebih mengeja atau gelagapan mencari kata pembelaan di peradilan Malaikat.

Aku masih berjongkok malu dan takut.

Mungkin maaf bukan yang hendak Tuhan mau.

Bukan maaf yang menjadi tiket biar selamat lewati Syirotul Mustaqin…

Makannya aku tak berkata, maaf misalnya.

Aku hanya berjongkok menutup telinga.

Di dalam hati, bunker teraman sampai detik habis bumi.

22-11-2009:lol::roll:;-)

Berhutang Pada Diri Sendiri – Bagian 2

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Oleh. M. Eko Purwanto/Wiradarma

Sambungan dari Bagian 1, …

Sebagai contoh saja, ia saat ini masih harus melunasi angsuran 3 tahun lagi ke salah satu bank swasta nasional terkemuka di Bekasi, sejak 4 tahun lalu. Pinjaman usaha yang hanya berjumlah 56 juta, dengan bunga 1,75% (Flat) per bulan, ia harus membayar Rp. 1.700.000,-/bulan, selama 7 tahun. Dengan angsuran sebesar itu dan penghasilan tetap yang sudah tidak ada lagi, dari mana ia bisa membayar angsuran, sementara ketiga anaknya belum mampu membantu meringankan beban hutangnya di bank. Warung yang dimilikinya hanya beromset duaratus ribu saja perhari, dari omset sebesar itu paling tinggi hanya menghasilkankan keuntungan 20 % saja. Kalau saja ia tidak makan setiap hari selama sebulan, 20 % dari keuntungannya sebulan bisa diperoleh Rp. 600.000,-, uang sebanyak ini tidak cukup mengangsur hutang bank yang ia tanggung.

Berhutang Pada Diri Sendiri 2Namun, dengan keyakinannya yang tinggi dan semangatnya yang tidak pernah putus, ia bisa melunasi angsuran hutang bank tersebut setiap bulannya. Bagaimana ia dapatkan kekurangan angsuran bank dan untuk makan sehari-hari bersama istri dan satu anaknya yang belum bekerja itu ?. Nah, dari sinilah saya kemudian menemukan apa yang ia sikapi dan lakukan dalam hidupnya sehari-hari ternyata memiliki kekuatan spiritual untuk menghasilkan uang. Sementara ia sendiri tidak menyadarinya, bahwa apa yang ia lakukan mampu menghadirkan apa yang ia inginkan. Jangankan teman saya ini memahami hukum-hukum universal, baca buku-buku tentang pengembangan pribadi saja, belum pernah. Apalagi memahami tentang ayat-ayat dalam Al Qur’an yang menginformasikan tentang hal ini, karena saya sendiri belum paham betul apa hakekat  Iman, Tawakal dan Taqwa yang secara definitif saja masih sulit saya pahami. Read More

Berhutang Pada Diri Sendiri – Bagian 1

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan
//

Oleh. M. Eko Purwanto

Setelah Tarawih, halaman Masjid masih dipenuhi hujan yang turun cukup lebat. Di depan pintu keluar Masjid, saya memandangi butiran hujan yang berhamburan diatas genangan. Udara dingin yang berbisik halus, menyelimuti kerinduan saya pada seorang teman, dan mengantar langkah kaki ini pergi ke rumah seseorang yang kebetulan dekat dengan tempat dimana saya menyelesaikan rekaat demi rekaat tarawih malam ini.

Berhutang Pada Diri SendiriDengan agak tergopoh-gopoh, sampai juga saya di depan warung milik teman dan mengucap salam, “Assalaamu’alaikuuuum.” Namun, tidak spontan saya dengar yang punya rumah menjawab salam saya, meski menurut saya suara salam tadi pun terdengar oleh beberapa tetangga di kiri-kanannya. Sebelum ucapan salam sekali lagi terucap, suara langkah yang mengayun cepat menghampiri saya dengan sedikit terkejut. Dari dalam warung Istri teman saya menyapa, “oh… dik Eko !, masuk masuk !. Hujan-hujan begini sempet-sempetnya bisa mampir kesini ?,” sambil membuka pintu rumah di sebelah warungnya.

Belum sempat saya menjawab pertanyaan ini, istri teman saya menimpalinya lagi, “maaf lho dik tadi saya ada di belakang, jadi nggak tahu siapa yang mengucap salam.”

”Nggak apa-apa bu, Pak Sapar ada ?.” Read More

  • @Facebook

    Peluang Bisnis Oriflame