GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Archive for the ‘Serba - Serbi’


======= story about tears ========

AddThis Social Bookmark Button apply.web.id Lintas Beritakan

sepenggal kisah tersisa dikota tua
jalan ini begitu sepi tak berpenghuni
kicau gagak menambah suram suasana
aku dengan bayanganku berjalan tak tentu arah
mencari dimana kerinduan ini bisa berteduh

tanganku tak kalah merindu hingga kusentuh dinding berdebu
gumpalan itu mengotori tanganku lalu hilang dihembus angin berlalu
dingin….
hatiku menggigil
mengingat hangatnya suara yang menghidupi kota ini
mengingat setiap insan mengisinya dengan cerita drama bersahaja

langkahku tetap mencari ke ujung tiap belokan
hanya dinding kota tua yang rapuh
dan temaran pantul sinar senja di jendela kaca
dan sepi
dan sendiri
berharap kotaku hidup sekali lagi
walau oleh seribu tangisku

Sepenggal nafas

AddThis Social Bookmark Button apply.web.id Lintas Beritakan

Kalau hati berpikir sejenak tentang cerita keluarga, rasanya tabu untuk di perbincangkan. Begitu banyak konflik tak berujung yang menyayat dan meninggalkan luka bernanah di lubuk hati. Tangis melebihi tawa yang ada. Rasanya tak ingin aku mengenang semua curahan hati mama yang disampaikan bercucur air mata. Begitu banyak masalah yang harus dihadapi oleh perempuan ini dari kecil hingga aku beranjak dewasa. Perlakuan tak adil dari saudara sendiri yang semustinya adalah pihak paling pantas untuk saling jaga. Entah dimana Tuhan meletakkan keadilan, hingga perempuan ini teraniaya semasa muda-nya. Malam ini diantara bimbang dan amarah, tanganku bekerja. Mengetikkan gundah yang melarang aku lelap dalam mimpi-mimpi ku.

Dalam hidupku yang tengah berada diluar badai gelombang dimana kemarin aku berada, aku dipaksa masuk kembali dalam pusarannya yang membuatku muak dan ingin muntah. Aku bertemu dengan utusan dari negeri sebelah yang mengajak ku merajai kembali dunia kelam yang aku tinggalkan. Dunia Ego yang terpendam puluhan tahun lamanya. Walau segan, dalam sanubariku bertitah dan jasad ini pun tak mampu membangkang. Lirih hatiku berbisik “Tuhan… mungkin ini saatnya menuntaskan.” Dan aku pun berangkat… menuju kegelapan yang sempat kutinggalkan.

Ya… aku kembali menapaki jalan sempit yang kelam dihimpit bangkai pohon angker yang membuat bulu kudukku berdiri. Sekawanan kelelawar bergantung dengan mata sinis menelanjangi setiap makhluk yang lewat. Dan aku meneruskan langkahku tanpa menghiraukan itu. Langkahku pelan tapi pasti, tak ingin menambah kesuraman jalan setapak ini dengan riuh kepak sayap kelelawar yang ketakutan. Sayup berlangsung hingga ketika aku memasuki gerbang kota tua, bangunannya tua, dan bau-nya pun tua, benar-benar kota mati yang telah ditinggalkan. Hatiku mencela “Hanya bangkai yang betah tinggal disini.”

Dibawalah aku pada penguasa baru dunia kelam ini, beliau bersinar dalam topeng dan kostum bertahta berliannya, menyimpan jasad busuk yang sama seperti penghuni kota lainnya. Kebusukannya tercium walau telah tersamar oleh minyak harum seribu bunga langka yang sangat berharga. Hatinya yang busuk tak mampu ia sembunyikan walau mantel istimewa telah membungkus rapat. Disanalah aku berdiri sebagai orang yang dipanggil pulang, untuk menyelesaikan apa yang tersisa dimasa lalu.

Diperlihatkan padaku sebuah kotak, kotak Pandora. yang isinya aku sulit terka. Baikkah ?, atau burukkah ? hanya Tuhan dan kotak ini yang tahu. Sang Penguasa kota bertitah padaku dengan lantang memekik telinga di kesunyian panjang. “Wahai pengkhianat yang meninggalkan kegelapan menuju terang, hari ini pilihanmu ada di depan mata. Kotak Pandora. Aku sebagai penguasa baru tak tahu apapun itu di dalamnya, tapi sesuai perintah penguasa-penguasa sebelum aku… Pengkhianat harus memilih, Kotak Pandora atau Menyatu dalam kegelapan. Dan kamu… tentukan pilihanmu !!!”

Kini bimbang mencabik-cabik otakku. Apakah aku harus kembali masuk dalam pusaran kegelapan yang setengah mati aku lari darinya ? Apakah aku akan membiarkan masa lalu merusakkan semua yang telah aku rancang ? Apakah perempuan itu akan memaafkanku bila aku melupakan penderitaannya ? Mungkinkah ia akan merelakan anaknya menjadi pengecut yang kalah sebelum berperang ?

Pelan tanganku melaju menuju kotak itu. Kotak Platinum berukir phoenix bertahtakan batu jamrud, garnet, jade, dan tepat di tengahnya adalah sebongkah merah saphire serupa mata yang menatap tajam padaku. Dan hatiku menciut dibuatnya.

Gerakku tak berlama-lama. kusentuh detail ukiran kotak Pandora. kubuka pelan dan kurasakan setiap momentnya. Inilah akhir dari sebuah pelarian, inilah penentuan. Sekilas remang-remang lalu berubah benderang. Cahaya dari kota menyilaukan seisi ruangan, membutakan mata yang lama bertahan dalam gelap. Kegelapan itu… sirna.

Aku terbangun di padang rumput. Kejadian semalam seolah mimpi buruk yang telah berakhir. Dan aku akan sangat bersyukur bila itu adalah mimpi, tapi tidak dengan kotak Pandora dalam pelukanku. kotak itu telah kosong setelah memuntahkan isinya, seluruh cahaya yang telah aku kumpulkan selama pelarian. Cahayaku yang telah mengalahkan kegelapan masa lalu. Perasaanku kini lebih ringan, dan wanita itu tak perlu lagi menangis mengenang kegelapan itu karena aku telah mengalahkan kegelapan… seluruh kegelapan itu. Yang tersisa adalah terang dan sepenggal nafas ku, menghembuskan kepuasan atas keberanian yang kuambil, sebagai batu pertama untuk membangun istana cahaya yang kurancang sejak meninggalkan kegelapan.

Pelarian tak pernah menyelesaikan masalah, tapi pergi mencari solusi dan kembali untuk menyelesaikan adalah jalan yang paling tepat.