LELAKI DARI TITIAN NIBUNG
LELAKI DARI TITIAN NIBUNG
Menggambarkan keberanian manusia menantang keganasan alam adalah Titian Nibung, sebuah jembatan sembrono di hulu Sungai Batanghari yang berarus deras. Terbuat dari dua potong batang nibung sebesar pinggang orang dewasa, panjang lima atau enam meter saja, jembatan itu menghubungkan tebing sungai yang tegak seperti dinding makam, pada posisi yang riskan dan mematikan. Siapa pun yang melintasinya akan merasakan sensasi bathiniah dan mengakui telah dicurahkan segala tenaga dan keberanian untuk merangkainya. Inilah karya pedalaman yang nekat sekaligus mengagumkan!
Terlindung di bawah kanopi tebal hutan rimba Bukit Tigapuluh, jembatan itu tak pernah mengenal sinar matahari. Pohon munggur di atasnya memayunginya dengan ketat, seperti cendawan raksasa. Rumpun rotan dan pakis raja menutup tebing sungai sedemikian rupa sehingga seolah-olah celah sempit itu tak pernah ada. Dan bagi makhluk yang gopah-gopoh menggunakan kakinya, celah itu merupakan jalan sempurna menuju alam keabadian ……
Lorong sungai meremang puluhan meter di bawahnya. Sayup-sayup bergemuruh menyerupai huru-hara di perut bumi.
Tak banyak orang tahu keberadaan jembatan itu kecuali sekelompok Suku Kubu yang mendiami Bukit Tigapuluh. Tumenggung Petanting, tokoh Kubu yang ternama, merancang dan merakit sendiri jembatan itu untuk membantu warganya menyeberang, dalam rangka interaksi dengan orang kota, barter atau sekedar mengagumi kenderaan melintas di jalan raya. Karya eksentrik itu sejalan dengan manfaatnya, karena itu meski tampak sunyi tanpa suara – orang Kubu terbiasa hidup senyap – tempat itu senantiasa sibuk dengan orang-orang yang melintas, kelompok demi kelompok. Pendek kata, jembatan itu merupakan arteri perlintasan, sekaligus jembatan peradaban mempertemukan budaya kota dengan budaya manusia penghuni rimba raya.
Tapi itu belum cerita seluruhnya. Titian Nibung juga dikenal sebagai jembatan kematian. Sejak resmi digunakan beberapa orang telah tewas, baik yang terpeleset jatuh atau yang sengaja melompat untuk bunuh diri. Hari berganti hari, manusia silih berganti, jembatan itu tetap eksis dengan reputasinya yang menyayat hati.
”Hooou….!”
Dari waktu ke waktu seorang tentara berpangkat kopral mendatangi jembatan itu, Kopral Marzuki. Sebagai babinsa setempat sudah sewajarnya ia membina hubungan dengan semua elemen masyarakat, termasuk Suku Kubu. Baginya, berkomunikasi dengan Orang Kubu jauh lebih menarik daripada berurusan dengan Toga, Toda, Tomas di perkotaan yang pura-pura saleh tapi diam-diam membuat intrik politik. Orang Kubu lebih sederhana dan polos. Kalau pun mereka bersikap curiga kepada orang luar, itu semata-mata upaya preventif melindungi diri dari orang kota yang memang seringkali mengakali mereka.
Selain dari itu, ketertarikan Marzuki pada kesunyian Titian Nibung belakangan ini didasari alasan intuitif, kondisi psikologis khas tentara yang hendak pensiun. Ketika waktu baginya hampir habis, dadanya makin meluap oleh semangat pengabdian. Ia merasa berhutang banyak kepada keluhuran bhakti, semacam rongga berlimpah kerinduan di relung hati. Maka ia berusaha memainkan peranan sekecil apa pun, sebagai simpati bagi sesama manusia yang terperangkap dalam keterbelakangan budaya.
Sungguh aneh dunia ini, demikian ia berpikir, ada populasi manusia memilih hidup nomaden, nyaris telanjang di tengah hutan, dirubung nyamuk dan pacat, tanpa kepastian menyambut masa depan. Marzuki hendak memperbaiki ’cedera’ kehidupan ini, tapi ia sadar batas kemampuannya. Ia telah ambil bagian dalam beberapa operasi militer, ikut menangani konflik horizontal yang keji dan kejam, tapi tak ada yang membebani jiwanya melebihi kemelut kehidupan yang menyelubungi jembatan memilukan ini.
Karena teriakannya tak mendapat jawaban, Marzuki berteriak sekali lagi:
”Houu…., Tumenggung!”
”Houu…., ou…, ou…, ou…!” Terdengar jawaban dari bawah jembatan. Suara itu milik Petanting, memantul-mantul di dinding sungai. Pejabat tinggi Suku Kubu yang hanya bercawat itu gemar turun ke sungai menangkap ikan. Ia bermukim di sekitar tempat itu, gubuknya mungkin menempel pada sebatang pohon, entah dimana!
”Naiklah, aku Marzuki, kita bicara lagi!”
”Tidak perlu.”
”Kubilang perlu. Naiklah!”
Kopral Marzuki meneteskan pemaksaan bernada perlindungan dalam suaranya. Perkenalannya dengan Petanting dalam suatu insiden perkelahian antar kelompok di tengah hutan, berlanjut menjadi persahabatan. Bukan sekali ini saja Kopral Marzuki mendatangi Titian Nibung, tapi sudah berkali-kali. Di kelompok Peranting ia sudah dikenal baik, dianggap saudara, hampir-hampir diperlakukan sebagai anggota marga.
Marzuki malah pernah mengenakan cawat terbuat dari selendang yang dipilin-pilin, hilir-mudik dengan girangnya, ketika ia menghadiri acara perkawinan anggota marga di sela-sela pepohonan.
Di sisi lain, Petanting bukan warga Kubu biasa. Ia mengenal kehidupan kota dengan baik. Bermula dari menjual biji karet, kemudian berdagang rotan, lalu ia menyewa warung kecil di pinggir jalan di luar Kota Jambi. Tapi kesulitan bisnis yang dialaminya, dan kerabatnya yang terus memangil-manggil, membuat Petanting akhirnya kembali ke kehidupan semula. Di tempat aslinya itu ia didaulat menjadi Tumenggung, jabatan yang memang sesuai dengan kemampuannya. Ia tampil ke depan untuk memperjuangkan nasib warganya, khususnya jika terjadi kemelut yang berkaitan dengan hak ulayat atas hutan.
Peristiwa terakhir, Petanting beserta ratusan warganya menyerbu basecamp perusahaan HPH lalu menyulut kobaran api. Mestinya perusahaan itu memiliki ijin beroperasi hanya pada areal yang ditentukan, namun sengaja atau tidak, alat berat mereka telah memasuki hutan lindung dan membangkitkan amarah Suku Kubu.
Tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, tapi seluruh fasilitas camp musnah jadi abu. Beberapa unit buldozer dan traktor kepiting yang masih baru berubah jadi besi tua. Pertikaian itu masih menyisakan dendam yang panas di kedua pihak. Selain melapor kepada pihak kepolisian, pemilik alat berat juga telah menghasut para preman kampung untuk memburu Petanting. Ini berpotensi menjadi prahara lebih besar di tengah hutan, dengan implikasi-implikasi politis yang bisa menarik perhatian dunia.
Marzuki tahu persis dimana Petanting berada dan cara menemuinya. Atas pertimbangan pribadi – pribadi sekali, ia bahkan tidak ingin Petanting tertangkap, maka ia bermaksud melindunginya. Ia harus menemuinya, menenteramkannya, atau paling tidak memperingatkannya.
Lama menunggu, kuatir tokoh yang kumal itu tak mau menemuinya, Marzuki melangkah hati-hati menuju tepi tebing. Berpegangan pada batang rotan yang kokoh, ia melongok ke dalam celah. Pemandangan gelap kelam di bawah matanya membuat bulu kuduknya merinding.
”Heeei, Petanting, naiklah!” Suara Marzuki bergema aneh, seperti berteriak di bibir sumur.
”Siap, Komandan!”
”Ah…., kamu ini!” Marzuki kaget bukan kepalang. Muncul tanpa suara, menyelinap entah dari mana, tiba-tiba Petanting telah berdiri di belakangnya dengan tubuh basah. Orang Kubu sangat ahli bersembunyi atau menyelinap.
Marzuki berdehem, langsung ke inti masalah:
”Kejadian kemarin itu, aku berharap tidak terulang lagi. Saya tidak ingin kehidupan kalian menjadi lebih susah di hutan ini, karena setiap kekerasan akan mengundang kekerasan lain. Sebaiknya kalian menahan diri, agar suasana tidak bertambah panas. Mereka tentu marah sekali!”
”Mengenai apa?”
”Lima unit alat berat hangus terbakar. Belum termasuk puluhan senso, dan lainnya.”
”Hanya itu?”
”Masih banyak yang lainnya.”
”Biar mereka tahu, ribuan buldozer telah dibeli dengan kayu yang dicuri dari hutan kami ini. Mereka pencuri, Marzuki! Apakah tak ada yang bisa menghentikan mereka? Sampai berapa lama Bukit Tigapuluh ini bertahan? Apakah mereka memikirkan perlindungan hutan? Keselamatan kami? Omong kosong semua, mereka malah membakarnya!”
”Aparat hukum yang akan menangani mereka.”
”Aparat hukum? Hukum yang mana?”
Petanting lalu melepas kejengkelannya terhadap lemahnya penegakan hukum. Pikiran-pikiran apriori biasa berkembang di kalangan masyarakat bawah, bahwa pembalakan liar berlangsung melalui kongkalikong cukong kayu dengan oknum aparat. Yang lebih menjengkelkan lagi adalah kelestarian hutan hanya dikaitkan dengan isu ’paru-paru dunia’ dan habitat hidup binatang langka khususnya Orang Utan. Tak ada pertimbangan sedikit pun mengenai nasib Suku Kubu yang juga berdiam dalam hutan yang sama.
Rupanya Petanting berharap pola hidup mereka yang janggal itu perlu pula dilindungi dan dilestarikan.
Mau tak mau Marzuki menilainya sebagai keinginan yang jungkir balik, membuatnya nyaris meledak dalam tawa. Melestarikan hidup setengah telanjang, penuh derita dan kejanggalan! Apanya yang hendak dilestarikan? Ditinjau dari sudut mana pun ide ini melanggar kepatutan. Menodai nilai-nilai kemanusiaan!
”Katamu tadi, hutan ini milik siapa?”
”Milik kami, tentu saja!”
”Salah!”
”Salah? Dimana salahnya?”
Tidak sembarang orang dapat mengeluarkan pernyataan seperti ini jika tak ingin melihat tombak dan golok berseliweran. Hanya karena Marzuki memiliki posisi khusus dalam pergaulan Kubu, dan roman mukanya tidak menyimpan arogansi dan kepalsuan, sehingga ucapannya tidak memancing amarah.
”Hutan ini milik kita semua. Kita adalah warga negara yang sama, Republik Indonesia. Kita memiliki hak dan kewajiban yang sama di hadapan Pancasila dan UUD 1945, tanpa kecuali!”
”Maksudmu?”
”Kelestarian hutan ini tanggungjawab kita bersama. Kita jaga bersama dan kita ambil manfaat darinya bersama-sama pula.”
”Puluhan kali kudengar itu, tak ada pengaruhnya. Kami hanya menginginkan tempat tinggal dan sumber makanan, tapi orang kota membabatnya untuk menumpuk kekayaan. Tidak bisa!”
”Heh?”
”Hutan dan semua isinya adalah milik kami!”
Lalu Petanting menjelaskan hukum adat warisan nenek-moyang yang mendasari hak ulayat mereka atas semua hutan. Bukan hanya hutan di Bukit Tigapuluh atau di Propinsi Jambi, tapi seluruh hutan yang ada di muka bumi, berikut isinya. Bagi mereka hutan adalah tumpuhan hidupku. Harus dijaga, dan hanya mereka yang dapat menjaganya dengan penjiwaan yang benar. Pemahaman ini terpatri kuat di kepala semua orang Kubu, dan menjadi penyebab utama keterikatan mereka berdomisili dalam hutan selamanya.
”Harimau itu milik kami!”
”Begitu? Bagaimana dengan kancil?”
”Kancil, rusa, babi hutan. Semua itu milik kami.”
”Bagaimana dengan nyamuk dan pacat?”
”Itu juga, o…, bukan, itu kuserahkan kepadamu. Mau di semprot, terserah saja!”
”Ha ha ha…..”
”Ha ha ha ….”
Setelah puas tertawa, mereka menyalakan rokok. Hidup manusia tak lebih dari selembar daun yang menggelandang di tengah hutan. Keakraban itu menciptakan kesan seolah-olah mereka dua sahabat yang baru saja ditinggal minggat isteri masing-masing. Suasana gembira segera saja muncul jika asap rokok dan bau humus bertemu dalam keheningan hutan.
Bersambung











July 12th, 2011 at 1:51 pm
ohh…good publish but really?/?