Paranoia
Tanpa lampu kamar ini terasa amat sempit. Sesak. Tapi biarlah. Lampu hanya membuat silau dan menyakiti mata. Mempertontonkan apa yang tak seharusnya dipertontonkan di bawah cahayanya. Ranjang yang kutiduri mulai keras. Mungkin malam ini aku tak akan bisa tidur lagi. Bulan hijau limau membeku di langit gelap yang bening seakan mengejek.
Sreeeettt….
Sreeeettt….
Ugh! Suara itu lagi! Benar-benar merusak pendengaran. Apa wanita itu tidak tahu kalau pendengaranku sangat sensitif? Tak habis pikir aku, dia yang melahirkanku tapi di dunia ini dia yang paling tak mengerti aku! Wanita sialan itu benar-benar berisik, ini sudah malam, dan sepertinya insomniaku kumat lagi dan dia malah berisik seperti itu?
Hhhhh…. Kuhela napas keras-keras. Suara itu berhenti. Entah apa yang dilakukan wanita itu sekarang. Mungkin dia sadar aku kesal lalu terdiam dan menangis? Entahlah. Lagipula buat apa menangis kalau toh dia akan mengulanginya lagi? Ah, sial, kenapa malam ini panas sekali sih? Aku butuh minum…
Dengan berat kuseret langkahku turun dari ranjang menuju ke dapur. Kunyalakan lampu dapur. Seberkas sinar putih memancar dan menyirami dapur. Sejenak kupejamkan mataku. Silau. Kusambar gelas yang paling dekat dari jangkauanku. Kuambil cerek. Kosong. Termos… pasti ada air di termos. Sial, di mana pula termos sial itu? Saat aku butuh begini benda itu malah… oh, benda itu ada di bawah meja rupanya. Aku merangkak turun ke kolong meja. Baru separuh badanku merayap memasuki kolong, sesuatu melintasiku dengan cepat. Napasku terhenti karena kaget. Aku berpaling untuk melihat apa yang melintasiku barusan. Mendadak ibuku sudah berada tepat di belakangku. Tatapannya terpaku pada wajahku.
“Ibu?! Apa yang ibu lakukan di kolong….”
Wajah ibuku menghilang. Kuamati sekelilingku dengan lebih seksama. Seekor tikus balik menatapku dengan matanya yang kecil. Oh. Tikus. Sesaat tadi kupikir ibuku. Kupalingkan lagi wajahku. Pinggangku terasa pegal akibat lama menoleh dalam posisi merayap begini. Kuulurkan tanganku untuk meraih termos itu, termos itu ringan dan saat kutengok ternyata termos itu benar-benar kosong. Sialan!
Dengan susah payah kutarik tubuhku keluar dari kolong meja. Tubuh ini mulai lamban dan bergelambir di mana-mana. Padahal dulu aku sering fitness. Tanpa sepengetahuan ibuku tentu saja. Entah kenapa ia tak pernah bisa menyukai olahraga, apalagi olahraga yang banyak wanitanya memakai kostum olahraga yang minim. Dosa katanya mengumbar aurat seperti itu, dan jika aku sampai ketahuan mengagumi wanita seperti itu ia akan mulai mengkritikku dengan suara pedasnya yang sangat tak enak didengar lalu mengkhotbahiku panjang lebar, mengataiku berotak ngeres dan berpikiran mesum. Wanita gila. Ah air…
Kubuka kulkas yang membatu. Bau freon membekap penciumanku. Kulkasnya tak menyala. Memang sudah agak lama kulkas ini mati. Kalau kulkas ini toh tetap berada di sini hanya semata-mata karena kulkas ini peninggalan bapak. Salah satu dari sekian banyak harta berharga ibu yang diberikan oleh bapak. Kulkas kosong.
Dasar wanita gila! Merebus air saja tak pernah! Dia memang pemalas sekali, kalau bukan terlalu sibuk merawat dirinya, pasti sedang mencari-cari kesalahan orang. Kalau tidak dua-duanya pasti bergolek-golek di ranjang dengan malas, dengan pakaian tidur yang kalau dikenakan wanita lain pasti sudah membuatnya merepet tiada henti. Jika hal itu ditanyakan padanya ia hanya akan beralasan bahwa ia hanya memakainya di hadapan keluarga, bukannya mengobralkannya ke mana-mana. Herannya, almarhum bapak justru setengah mati memuja ibu yang seperti itu. Apapun yang dikatakan wanita itu bapak selalu menurut. Kalau ibu bilang aku nakal, dengan segera bapak akan mengamplengku, menyeretku ke gudang, mengunciku di sana dan baru melepaskanku kalau ibu yang minta, lalu ibu akan pura-pura menangis dan bertanya apa yang telah ia perbuat sampai aku bisa jadi seperti ini. Menjengkelkan sekali. Ah, tapi sudahlah, yang penting sekarang adalah merebus air. Aku haus. Haus sekali.
Kuletakkan cerek berisi air di atas kompor. Kenop kompor gas harus kuputar tiga-empat kali dulu baru bisa menyala. Tidak ada barang yang beres di rumah ini. Kusingkirkan peralatan dapur dan sampah yang menumpuk di atas meja dapur. Aku duduk di bangku dengan kepala kuletakkan di meja dapur. Kucoba memejamkan mata. Tubuhku terasa berat, sudah lama aku tak pernah bisa tidur dengan beres, dan apa yang lebih menyiksa daripada tidak bisa tidur saat kau mengantuk?
Sreeettt…
Sreeettt…
Ugh! Dasar! Sekarang apa lagi yang ia cakar sampai aku bisa mendengarnya dengan begitu jelas begitu?
“Iya bu, iya! Aku tahu! Aku tak akan tidur sampai air mendidih dan kompor kumatikan!”
Benar-benar wanita sakit. Takut kompor meledak karena kutinggal tidur? Bah! Kalau begitu sekalian saja kuledakkan rumah ini. Pasti menyenangkan melihatnya meratap-ratap menangisi peninggalan bapak yang terbakar habis jadi abu. Biar semakin rasa dia! Bapak sudah mati! Ingat itu wanita sial, mati! M-A-T-I! Biar dia meratap-ratap tak akan ada lagi yang membela dia. Tak ada yang akan mengamplengku kalau aku mencaci maki ibuku. Ah, gawat, gawat. Mikir apa aku ini. Bagaimanapun dia itu tetap ibuku. Kalau begini aku yang akan dicaci dunia sebagai anak durhaka. Brengsek. Padahal saat ia mengadukan kenakalanku pada bapak (agar aku dikampleng! Dia senang sekali melihat bapak menyabetku dengan ikat pinggang, menjewer dan menyiksaku sampai aku klenger) tak ada yang bilang dia wanita setan. Tak ada yang bilang bapak gendruwo. Mereka bilang itu demi kebaikanku. Mereka bilang itu pendidikan.
Sreeettt…
Sreeettt…
“Ibu diam! Ini sudah malam, berisik!” teriakku jengkel.
Cerek di atas kompor mulai bersiul disertai desisan lembut. Kumatikan kompor. Kutuang air dari cerek ke dalam gelas.
Prangggg!!!
Sial! Sial! Sial! Sekarang gelasnya malah pecah. Bodohnya aku, lupa akan pelajaran IPA dasar tentang reaksi yang terjadi jika gelas kaca dituangi air mendidih. Dalam keterkejutan, kubanting cerek ke lantai. Tutupnya terlepas dan menggelinding. Kakiku sempat tertimpa cerek panas, dan air yang tumpah menggenangi lantai dapur terasa merebus kakiku. Sakit.
Terpincang-pincang, kubawa diriku ke kamar mandi. Merendam kakiku yang melepuh dalam air dingin sampai sakitnya agak mereda. Air yang mengalir dari keran kembali mengingatkanku pada tenggorokanku yang kering dan lengket. Sudahlah. Malam ini biar aku minum air keran saja. Gluk-gluk-gluk. Nah begini. Dingin, segar.
Kumatikan lampu-lampu yang menyala dan kembali ke kamar. Kuhempaskan tubuhku ke atas ranjang keras yang bau dan berantakan itu. Kupandangi langit-langit kamar, mencoba berdoa. Dulu, jika sedang tak bisa tidur ibuku akan bangun dan berdoa. Hahaha, ya, berdoa. Doa dan dosa memang cuma beda satu huruf, dan dalam kenyataan pun seringkali kedua hal itu tak banyak bedanya. Sial, tak satu doa pun yang bisa kuingat. Mencoba merangkai doa sendiri malah membuatku merasa bodoh. Berusaha mendengar suara Tuhan semakin membuatku merasa sinting. Lagipula apa yang mau kuminta pada Tuhan? Tak akan terkabul. Cibirku dalam hati. Lagipula kalau semua bisa terkabul lewat doa manusia sudah nggak perlu apa-apa lagi untuk mempertahankan hidupnya. Berdoa saja terus tiap hari!
Sreeettt…
Sreeettt…
“Heh bu, apa-apaan sih? Mau tidur denganku? Ibu tidur sendiri saja! Aku kepanasan kalau ibu tidur denganku. Ibu tahu kan kalau aku tidak tahan panas?”
Sreeettt…
Sreeettt…
“Aku sudah matikan kompor bu! Ada apa lagi sih?! Aku juga sudah berdoa. Tadi waktu ibu panggil aku sedang berdoa! Ibu mengganggu saja!”
Sreeettt…
Sreeettt…
Oh ya! Aku belum gosok gigi. Ah dasar wanita sialan, sekali-kali tidak gosok gigi juga tidak akan mati. Tapi biarlah. Daripada wanita itu berisik mendingan sekali ini kuturuti perintahnya. Gosok gigi minimal dua menit. Begitu perintahnya selalu setiap aku mau tidur. Katanya supaya gigiku tetap sehat. Gigiku memang selalu sehat dan aku bisa bilang dengan bangga kalau gigiku tak ada yang bolong, tapi untuk apa gigi sehat kalau penampilanku sekarang seperti ini? Tak akan ada wanita yang mau melirikku untuk kedua kalinya.
Ah aku jadi ingat kekasihku. Satu-satunya wanita yang mau menerimaku apa adanya, beserta ibu yang nyinyir itu. Wanita itu benar-benar pengertian. Walaupun ibu sudah mencacimakinya dan mengata-ngatainya dengan sangat kurang ajar ia tetap mau pacaran denganku. Sampai akhirnya, ibu memilih memenjarakanku di sini karena tahu bahwa tekad baja wanita itu tak bisa dilawan. Ya, ia tak sanggup menghadapi kekasihku maka aku yang kena getahnya. Sejak hari itu, ke kantor pun aku tak boleh. Di rumah terus sepanjang hari. Untung bagi penyihir itu, bapak meninggalkannya harta berlimpah. Uang, perhiasan, tanah. Hanya saja, sejak itu lama-lama ibu jadi aneh. Ia jadi jarang terlihat. Pada awalnya tentu saja itu menyenangkanku. Aku jadi bisa bebas dari pengamatan dan cecarannya yang menjengkelkan itu. Tapi itu tak berlangsung lama. Belakangan aku sadar, entah dari mana ibu masih selalu memonitor seluruh aktivitasku di rumah ini. Dan ia tetap mengendalikanku sepenuhnya melalui suara cakaran kuku yang terdengar di manapun seolah mengikutiku itu.
Ah, gosok gigi. Dua menit minimal. Dan cuci kaki. Cuci tangan dan wajah. Aku kembali ke kamar. Mematikan lampu dan menelentangkan diri dengan simetris di atas ranjang. Tangan terlipat di atas dada. Memejamkan mata, berusaha untuk terlihat tidur. Mungkin kalau aku terlihat tidur dengan meyakinkan ia akan berhenti menggangguku, walaupun kuragukan itu.
Sreeettt…
Sreeettt…
Suara sial itu terdengar lagi. Aku berusaha abai sebisanya. Pura-pura tidur. Ia pasti sedang mengetes apakah aku benar-benar tidur atau tidak. Lagipula kalaupun aku tidak bisa tidur lalu kenapa? Mau menyuruhku memijatnya sampai ia tertidur? Tak sudi! Kenapa ia tidak cari suami baru saja daripada merecokiku terus seperti ini? Hmmmph! Pura-pura menangisi kematian bapak segala. Padahal ia sebenarnya hanya menangisi ketidakberdayaannya tanpa bapak. Ya, bu, ingatlah. Tak akan ada yang membelamu dariku lagi.
Sreeettt…
Sreeettt…
Kubalikkan badan. Kututup kepalaku dengan bantal. Sedang apa sih wanita gila itu? Apa ia berniat untuk tidak tidur semalaman? Sakit. Sakit. Sakit. Benar-benar sakit.
Sreeettt…
Sreeettt…
Apa? Ia menggeledah barang-barangku lagi?
“Cukup bu, semua pisau sudah kukembalikan ke dapur! Tak ada benda tajam lagi di lemariku!”
Suara cakaran itu berhenti. Aku menghela napas lagi tanpa sadar. Mulai merasa nyaman dan tenang. Kurasa aku jatuh tertidur untuk sesaat. Hanya sesaat, karena saat aku terbangun kudengar bunyi yang selalu menguntitku itu dari bawah tempat tidur:
Sreeettt…
Sreeettt…
Kututup telingaku dengan tangan. Benar-benar sudah gila. Tapi bunyi itu masih terus terdengar membayangiku.
Sreeettt…
Sreeettt…
Cukup! Aku tak tahan lagi. Kuambil pisau dapur. Yang paling besar dan paling tajam. Kupotong kedua telingaku. Pedas menjalari wajahku. Darah bercucuran. Sakit, tapi aku tak peduli. Seharusnya dengan begini aku tak bisa mendengar apa-apa lagi. Sungguh, akan kulakukan apapun agar aku bisa lepas dari suara itu; dari perintah-perintahnya dan keinginan-keinginannya yang tak ada habisnya dan tak masuk akal sama sekali. Cukup sudah! Aku tak berniat menghabiskan seluruh hidupku menjadi abdi tiran wanita itu. CUKUP!
Sreeettt…
Sreeettt…
Gila! Dari mana suara-suara itu? Bahkan tanpa daun telinga begini aku masih bisa mendengarnya dengan jelas? Oh, ya, pasti karena hanya daun telinga yang kupotong. Untuk menjadi tuli mungkin aku harus merusak seluruh saluran telingaku. Ya, korek saja saluran telingaku sampai hancur!
Sreeettt…
Sreeettt…
Korek terus telingaku, biar aku jadi tuli! Biar aku tak usah mendengar apa-apa lagi.
Sreeettt…
Sreeettt…
Ini benar-benar gila! Aku tak tahan lagi…
Sreeettt…
Sreeettt…
Kesadaranku perlahan-lahan mengabur tapi suara itu tetap bergema begitu jelas. Di mana sumbernya? Bagaimana aku bisa terus-menerus mendengarnya begini? Ah entahlah. Aku tak peduli. Aku lelah. Kuharap sekali ini aku bisa tidur.
Sreeettt…
Sreeettt…
Sinting… benar-benar sinting. Dari bawah tempat tidur kulihat sepotong tangan menggapai-gapai. Tangan ibuku. Tapi aku benar-benar sudah tak peduli… aku capek…
***
Bulan hijau limau membeku di langit gelap nan bening. Bulan yang sama dengan bulan di malam naas itu. Ya, malam itu wanita itu, seperti biasa memaksa untuk tidur sambil memeluk putranya dan menyanyikan lagu tidur kanak-kanak di telinga sang putra. Di antara lagu tidur yang ia senandungkan, tak lupa ia juga mendoakan sang putra, agar selamanya tak akan pernah terpisah darinya dan selalu berbakti padanya.
Mendengar doa sang ibu, kalap membakar sang anak lelaki. Ibunya telah merampas kemerdekaannya, merampas orang-orang yang dianggapnya keluarga, tak mengizinkannya mencintai siapapun selain sang ibu. Berkali mencoba bunuh diri pun tak ada gunanya; ibuya selalu menggagalkannya dan mengingatkannya bahwa jika ia mencintai sang ibu maka ia tak boleh mati.
Anak lelaki yang kalap itu membenturkan kepala sang ibu ke tembok. Dalam kepanikannya saat diserang putranya, jemari wanita itu berkali-kali mencakar tembok; berusaha menggapai sesuatu yang mungkin bisa mempertahankan hidupnya, namun sia-sia. Seakan belum cukup, lelaki itu menikam sang ibu berkali-kali lalu menyembunyikan jenazahnya di kolong tempat tidur, namun demikian ia tetap tak bisa keluar dari rumah itu. Seluruh akses ke luar dikunci ibunya, dan ia tak bisa mendapatkan kuncinya. Dalam depresinya, ia terus mendengar ibunya mencakar tembok; suara yang terus menghantuinya. Ya, baginya ibunya sama sekali tidak mati, dan terus membayanginya. Meyakinkan bahwa sang putra masih berada dalam cengkeramannya.
***
Pemeriksaan polisi telah berakhir. Kedua jenazah sudah diserahkan padaku selaku orang terdekat yang disinggung dalam surat wasiat korban dan aku pun sudah menunaikan kewajibanku pada kedua mayat itu. Upacara pemakaman juga sudah usai, dan kompleks pekuburan sudah lengang. Sekarang aku sudah tak perlu pura-pura bersedih lagi. Kutatap batu nisan kekasihku untuk terakhir kalinya, lalu aku berbalik meninggalkannya, tapi baru dua langkah aku berjalan, sebuah suara tertangkap pendengaranku.
Sreeettt…
Sreeettt…
Suara yang sangat aneh, seperti suara orang menggaruk sesuatu. Kubalikkan badan. Tak ada seorangpun selain aku. Hmm, pasti cuma perasaanku saja. Jangan dendam sayang, tapi kita memang tak bisa bersama kan? Ya, aku agak bersyukur dia mati. Mungkin itu memang yang terbaik untuk kami karena aku pun sejujurnya tak berniat menikahi seorang lelaki sakit jiwa.
Kali ini kutinggalkan nisan itu. Selamanya.
Sreeettt…
Sreeettt…
Teror merayapi tubuhku. Mendadak saja udara jadi terasa kian dingin. Entah kenapa mataku tertarik pada pahatan kata-kata di nisan kekasihku; kata-kata yang ditemukan di tembok kamarnya, tepat di atas tempat tidurnya:
Has your breath stopped now?
Has your heart turned cold?
Are you watching me?
How much longer will you condemn me?
How much longer will you be following me?*
* Paranoia pt.3 (Epik High ft. TBNY)











June 8th, 2011 at 6:49 pm
Hello may I eat some of the message here in this record if I join back to you?
June 9th, 2011 at 3:11 pm
There are some provocative points in interval therein article but I don’t comprehend if I take in all of them ticker to heart .
June 11th, 2011 at 11:04 pm
I enjoy your story, ok, i’ll save your blog and also come back here in next few days.
June 13th, 2011 at 9:25 am
Hello can I quote some of the advice from this mail if I victual a constituent burdening someone to your site?
June 23rd, 2011 at 8:53 pm
Paranoia | GagasMedia.Com Magnificent goods from you, man. I’ve understand your stuff previous to and you’re just extremely fantastic. I actually like what you have acquired here, certainly like what you are saying and the way in which you say it. You make it entertaining and you still take care of to keep it wise. I can not wait to read much more Paranoia | GagasMedia.Com again from you. Thanks For Share.
July 6th, 2011 at 3:11 pm
The best website……
Hey Websmaster , Awesome blog , if you need backlinks to your website I provide upto 10,000 high quality SEO backlinks for only $5. Check it out here :http://bit.ly/msweL2...
July 19th, 2011 at 1:56 am
The powerful reveal, I recently given this on any coworker who was simply performing somewhat analysis on this. And that he in reality purchased me breakfast because I came across this for him.. laugh. So i want to edit in which: Thnx for your treat! Yet sure Thnkx with regard to shelling out the time to debate this particular, I truly really feel highly about it as well as adore researching more about this particular matter. If workable, as you become encounter, would you brain upgrading your website with added details? It really is really ideal for myself. Big thumb upward because of this blog site put up!