Pertemuan di bawah hujan
Pertemuan di Bawah Hujan
Tik… Tik.. Tik..
Rintik-rintik hujan bertetesan. Turun dengan perlahan-lahan dari atas langit, hingga mencapai permukaan bumi ini. Setiap kali melihat hujan, aku menjadi teringat kembali akan kenangan setahun silam. Kenangan akan pertemuanku dengan seseorang yang tidak bisa kulupakan sampai sekarang.
☆☆☆
3 tahun yang lalu….
Bunyi petir mulai bergemuruh. Tanda-tanda akan hujan besar sudah terdengar. Aku yang saat itu masih memakai seragam sekolah mulai cemas karena menunggu jemputan dari Raka, pacarku yang berjanji padaku akan menjemputku hari ini di depan sekolah.
Tetapi nyatanya, sudah hampir setengah jam aku menunggunya! Berulang-kali aku sibuk melirik jam tanganku.
Ya ampun, Raka lama banget sih! batinku dalam hati sambil berharap tidak terjadi hal-hal buruk yang menimpa Raka.
Sekarang sudah hampir satu jam aku menunggu! Tetapi apa hasilnya?! Raka masih saja belum menunjukkan batang hidungnya sementara rintik-rintik air hujan mulai turun dari langit.
Aku memutuskan untuk menunggu kembali ke dalam sekolah dan menunggu Raka di sana. Yah, aku mencoba berpikir positif. Mungkin saja ada hal penting yang membuat Raka lama menjemputku, walaupun itu sudah sering terjadi.
Tetapi sialnya, gerbang sekolah sudah ditutup! Aku terpaksa berdiri sendiri di depan sekolah sambil memeluk tubuhku yang kedinginan akibat gerimis ini.
Sekarang sudah satu setengah jam berlalu…. Aku tidak tahu kenapa Raka lama sekali hari ini. Aku ingin sekali menelpon Raka, tetapi sialnya hari ini aku tidak membawa HP! Tuhan… Kenapa hari ini aku sial banget? gerutuku dalam hati.
Akhirnya karena hujan mulai menderas, aku memutuskan untuk menyingkir dari tempat itu dan mencari tempat untuk berlindaung sambil tetap menunggu Raka. Langkahku terhenti kala menemukan sebuah pohon besar di sebuah taman yang kugunakan sebagai tempat berlindung.
Aku sibuk celingak-celinguk mencari mobil Jazz putih milik Raka. Tetapi aku tidak menemukan mobil Raka di sekitar tempat ini.
Duh… Raka kok lama banget jemputnya? Kan kemarin aku udah bilang bakal pulang jam satu siang! Kok sampai jam setengah tiga dia masih belum dating? pikiranku makin kacau memikirkan Raka yang tak kunjung datang.
Tak… Sebuah benda menimpa kepalaku. Sontak aku langsung menoleh ke atas. Alangkah kagetnya aku saat melihat seorang cowok memakai seragam SMA (sepertinya bukan dari sekolahku karena berbeda seragam) sedang duduk di atas pohon dengan santainya sambil melempar ranting-ranting kayu ke bawah. Oh… pantas! Dasar iseng. Ngga tau apa kalo ada orang di bawah?
“Hei!” panggilku dengan beraninya.
Cowok itu menoleh ke arahku.
“Kenapa manggil-manggil?” tanyanya dengan nada tak bersahabat.
“Kalo ngelempar hati-hati dong!” tegurku padanya.
“Terserah gue mau ngelempar apa enggak! Ini rumah gue kok!” balasnya tak mau kalah.
“Rumah lo apanya? Taman ini kan bebas untuk umum.. Jadi lo nggak bisa seenaknya gitu mutusin,” dengusku sebal. Uh, dasar orang rese!!! Nyebelin…
“Suka-suka gue dong!” balasnya cuek.
Aku merasakan darahku mendidih. Ih, dasar orang nyebelin…!!! Dengan langkah sigap kuambil ranting-ranting yang tadi dia lemparkan begitu saja. Begitu mau berdiri, aku merasa pusing luar biasa yang hingga membuat bayangan di mataku menjadi hitam semua…..
“Hei, hei… bangun dong!” Samar-samar aku mendengar suara yang membangunkanku. Dengan susah payah aku membuka mataku yang terpejam. Alangkah kagetnya aku begitu melihat cowok nyebelin tadi berada di hadapanku.
“TIDAK!!!!!!!!!!!!” jeritku kaget.
Cowok itu langung membekap kedua mulutku. Aku langsung diam. Kulihat sekelilingku yang ternyata adalah cafe indoor yang nggak jauh dari taman tadi. Beberapa orang sempat melirikku sambil berbisik-bisik. Duh, malu-maluin aja aku ini! batinku dalam hati.
“Lo ini hobi banget cari masalah! Tadi pingsan, setelah pingsan gue tolongin lo malah teriak-teriak. Dasar nggak tau trima kasih!”
Aku meliriknya dengan pandangan sebel.
“Apa liat-liat?” balasnya dengan mata tajam.
Aku langsung mengalihkan pandangan……………….ku……………………..
Itu kan… Raka……… dan…………………………?????
Aku memicingkan mataku rapat-rapat. Mungkin aja aku salah liat! Tapi enggak…. itu betulan Raka! Raka pacarku sedang asyik bermesraan dengan seorang cewek… Kenapa? Kenapa Raka tega mengkhianatiku? Rupanya dia nggak menjemputku hari ini karena dia punya janji dengan cewek lain… Raka nyebelin…
“Heh!” tegur cowok nyebelin itu.
Aku menoleh dengan wajah pucat. Tak terasa air mata sudah mengambang di pelupuk mataku.
“Lo nggak papa?” tanyanya dengan wajah khawatir.
Bibirku bergetar menahan tangis. Aku nggak tau harus gimana lagi setelah melihat kejadian tadi. Kejadian itu sungguh sangat menyakitkan hatiku! Hatiku hancur berkeping-keping. Selama ini, aku mencoba untuk mempercayai Raka walaupun banyak orang yang menjelek-jelekkan Raka. Tetapi sekarangm aku sadar bahwa aku ini orang paling bodoh di dunia ini! Aku dengan mudahnya tertipu dengan wajah cakep dan kekayaan di balik topeng Raka. Aku bodoh, sungguh sangat bodoh untuk bisa mempercayai Raka!
Tiba-tiba, cowok nyebelin itu langung memelukku. Sontak tangisku langsung pecah. Untungnya saat itu meja kami berada di pojok dalam, sehingga yang melihat cuma beberapa orang saja. Raka saja belum tentu bisa melihat kami, karena jarak meja kami saling berjauhan.
Lama sekali aku berada di pelukan cowok nyebelin itu. Walaupun begitu, aku merasa hangat dan tenang ketika berada dalam pelukannya. Bahkan, sedikit-demi sedikit aku bisa menghentikan tangisku akan kejadian yang kulihat tadi.
☆☆☆
Yah.. itulah kenangan akan pertemuanku dengan Joe, cowok nyebelin tetapi baik hati itu. Sekarang, tak terasa sudah setahun aku tidak berjumpa dengannya. Joe pergi ke Amerika untuk melanjutkan kuliahnya, sementara aku tetap berada di Indonesia.
Aku melirik jam tanganku dengan cemas. Duh, Joe kok nggak datang-datang sih! Padahal kan pesawatnya sudah sampai.
“Hei!” tepukan di bahuku langsung mengagetkanku. Begitu aku menoleh, aku langsung tersenyum melihat Joe, cowok nyebelin yang akhirnya menjadi pengganti Raka dalam hidupku.
TAMAT…
By: IkKa92
No related posts.










