Dengarkan Suara Tubuh Anda ~ Fakta Tentang Teh .
Selama ini orang-orang yang memiliki persepsi yang salah dengan banyaknya makanan yang dipromosikan. Ini bisa kita lihat ketika banyak orang mengkonsumsi produk yang dianggap “baik untuk tubuh” padahal sebenarnya produk tersebut malah mengandung banyak hal yang dapat merusak. Dan jujur, hal ini baru saya ketahui ketika saya membaca buku “The Miracle of Enzym” karya Guru Besar Kedokteran Albert Einsteim College of Medicine Amerika Serikat, Hiromi Shinya, MD.
Dalam bukunya, sang dokter bukan untuk mengkritik kebiasaan makan dan gaya hidup si pembaca, namun hanya sekedar menyarankan. Dan itu yang akan saya lakukan, sedikit memberikan saran dari apa yang telah saya baca. Setidaknya meskipun hanya sekali dalam sehari, kita dapat mempertimbangkan kebiasaan dan gaya hidup kita dan ini benar-benar efektif dalam menjaga kesehatan. Karena bukankah Tuhan memberikan kita tubuh yang sehat untuk selalu dijaga?
Oke, persepsi pertama yang salah adalah mengenai Teh. Banyak orang beranggapan bahwa minum teh hijau dengan rutin dapat membunuh bakteri dan memiliki berpengaruh antioksidan yang positif karena memiliki banyak antioksidan. Akibatnya terbentuklah suatu kepercayaan dimana mengkonsumsi teh hijau dapat memperpanjang hidup dan mencegah kanker. Apalagi saat ini muncul produk-produk teh yang dipercaya mampu untuk melangsingkan tubuh dan ini sangat menggiurkan bagi orang-orang yang obesitas, khususnya wanita.
Antioksidan dalam teh hijau memang benar adanya. Antioksidan tersebut berjenis polifenol yang mampu mencegah atau menetralisisr efek radikal bebas yang merusak. Namun, orang awam tidak banyak mengetahui bahwa jika beberapa antioksidan tersebut menyatu, mereka akan menjadi sesuatu yang disebut Tanin.
Tanin menyebabkan beberapa tumbuhan dan buah-buahan memiliki rasa sepat atau pahit. Tanin mudah teroksidasi dan bergantung pada banyaknya zat itu terkena air panas atau udara makan akan berubah menjadi asam tanat dimana asam tanat berfungsi untuk membekukan protein. Dan di sinilah masalah muncul, teh yang mengandung asam tanat akan memiliki efek negatif pada mukosa lambung sehingga dapat berakibat orang tersebut akan menderita berbagai masalah lambung, seperti maag.
Dokter Shinya sendiri telah melakukan penelitian dengan menggunakan endoskop untuk memeriksa lambung pasien-pasiennya yang biasa mengkonsumsi teh secara teratur. Dan hasilnya, mukosa lambung mereka telah menipis akibat perubahan atrofi (perubahan jaringan). Jika perubahan atrofi telah kronis, maka dengan mudah akan berkembang menjadi kanker lambung.
Hasil penelitian Dokter Shinya juga didukung oleh laporan yang diajukan oleh Profesor Masayuki yang menyatakan bahwa antioksidan dapat merusak DNA. Terlebih lagi, saat ini banyak produk teh yang dijual di supermarket menggunakan zat-zat kimia pertanian dalam proses penanamannya. Dan ini akan berakibat lebih buruk bagi tubuh.
Jadi kesimpulannya, bagi Anda yang belum ketergantungan terhadap teh, lebih baik Anda meminum air putih daripada teh. Namun, bagi Anda yang menyukai teh dan sudah ketergantungan, sebaiknya Anda menggunakan daun the yang ditanam secara organik, meminum teh setelah makan bukan dengan perut kosong dan batasi sekitar 2-3 cangkir saja per hari.
-Norvi Handayati-
(bersambung….)











June 30th, 2011 at 12:31 am
I think other Homepages proprietors should take this Web-Site as an model, very clean and fantastic user friendly style and design, as well as the content. You’re an expert in this topic!King Regards Tomy