Ibu, akuu & pilih kasih
Walaupun aku di keluarga anak yang paling lama tinggal seatap bersama ibu dan urutanku sebagai putri bungsu, justru akulah anak yang paling tidak dekat dengan makhluk yang telah melahirkan aku, bukan berarti aku dekat dengan ayah juga, karena dari kecil aku termasuk orang yang senang menyendiri dan terbiasa mengerjakan apa pun, bahkan PR sewaktu pertama sekolah. Entah mengapa dari kecil aku merasa ada jarak antara ibu dan aku,aku tidak bisa betah ada di samping beliau, satu-satunya yang membuat kami “click” dan terlibat perbincangan adalah kucing-kucing kami, hanya itulah satu-satunya bahan pembicaraan kami, si Billy yang lucu dan hobi tidur di kamar ibu, Cilikpus yang senang menunggui ibu masak ayam, dan perkembangan kucing-kucing yang ibu rawat.
Di usia remaja saat teman-teman dekatku kelihatan asik bisa curhat dengan ibunya yang menjemput mereka ke sekolah, aku merasa iri, mengapa aku tidak mempunyai hubungan harmonis ibu-anak sebagai putrinya yang beranjak dewasa. Hubungan yang secara fisik dan emosional tidak hangat ini diperparah dengan prasangka yang terus kubawa hingga dewasa, ibu tidak sayang padaku dan pilih kasih. Aku selalu menyalahkan posisiku di keluarga ini yang sepertinya membuat orangtuaku, terutama ibu “lupa” memperhatikan anak keempatnya dari lima anak-anaknya ini.
Aku pun memperkuat prasangkaku dengan hipotesa berikut : “Alasan kenapa ibu sayang dan dekat pada empat anak lainnya dan bukan aku”. Alasan kenapa ibu sayang pada kakak nomor satu, karena dia anak pertama yang ditunggu-tunggu setelah lima tahun menikah, dan kakakku Elly adalah teman satu-satunya di rumah sebelum kakak nomor kedua lahir. Kakak nomor dua lahir dengan keadaan sehat wal afiat, bayi gemuk, putih dan cantik yang disenangi dan dipuji semua orang yang melihat, ditambah lagi, dibanding kakaknya, kakakku nomor dua ini tidak menyusahkan ibu dalam hal makan, seperti kesulitan yang ibu alami saat menyuruh bayi pertamanya menghabiskan makan. Kakak ketiga? Dia termasuk bayi yang perlu diperhatikan lebih untuk menjaga kesehatannya, dan aku lahir 2 tahun setelahnya, bayi yang selama ibu mengandung diyakini laki-laki, penerus keluarga yang ditunggu-tunggu, tetapi ternyata yang muncul bayi perempuan keempat. Selang 3 tahun, lahirlah bayi kesayangan yang dinantikan orang tua kami, Pitoyo adikku, disiapkan nama yang megah untuk dia, dan semua orang menyambut dengan senang kelahirannya. Maka di saat harusnya aku masih menikmati curahan kasih sayang di masa batita, aku menyaksikan dengan kepala sendiri perhatian ibu dan ayahku yang berlebih tercurah 99 % ke sang “Golden Boy” ini, terutama ibu, sering mereka mempunyai “waktu ibu dan anak lelakinya” dari pergi membeli mainan, ikan hias untuk akuarium, dan foto berdua di studio foto, foto itu dipajang di lemari besar di ruang keluarga kami. Adikku mempunyai banyak mainan yang sedang nge-tren di kalangan anak-anak saat itu, dari helikopter atau mobil polisi yang bisa digerakkan dengan remote kontrol, satu set peleton tentara (lengkap dengan barak, tank, dan jembatan), robot-robotan, game dan lain-lain. Aku? Cukup puas dengan 1 boneka lungsuran kakakku dan akhirnya bisa menikmati mainan adikku.
Bisa dibayangkan, aku besar dan tumbuh dengan membawa beban perasaan “si anak yang lupa diperhatikan“ di hatiku. Jika anak lain beraksi dengan kenakalan untuk meraih perhatian ibunya, sejak SD hingga SMA bahkan kuliah, aku mencuri perhatian ibuku dengan prestasi antara lain selalu masuk ranking 10 besar dan mendapat beasiswa dari kantor ibu. Aku sangat puas bisa membuat ibu tersenyum saat melihat nilai raporku, senyum yang sama mengembang di bibirnya saat ibu memberikan mainan ke adikku. Sifatku yang anti konflik memutuskan untuk menerima keadaan sebagai anak yang kurang diperhatikan. Sampai pada suatu ketika aku mulai bosan, dan protes ke ibuku, “Kenapa ibu pilih kasih ke anak-anak lain, dan cuek sama Sari?” Ibu tentunya kaget dan walaupun aku membeberkan bukti-bukti pilih kasih ibu ke 4 anak lainnya, ibu selalu membela diri dengan ucapan, “ Mana ada orang tua yang pilih kasih, semua sama, sama-sama anak ibu, ndok”
Hingga saat aku menginjak usia 32 tahun dan aku satu-satunya anak yang belum menikah dan masih tinggal satu atap dengan kedua orang tua dan eyangku, aku mulai memandang permasalahan ini dari segi yang berbeda, dan mulai menertawakan sikapku yang kekanak-kanakan dan ihklas dengan semua “perlakuan” ibu yang kuanggap pilih kasih. Tuhan memang mempunyai cara tersendiri untuk mengajarkan kita menjalani hidup dengan cara-Nya menanggapi doa-doa kita. Saya yang putus asa menanggapi sikap ibu yang pilih kasih dan menurut saya bahkan setelah kakak-kakak dan adik saya berumah tangga dan meninggalkan rumah mungil kami. Selalu berdoa semoga saya cepat-cepat menikah dan meninggalkan rumah ini. Tuhan punya kehendak lain, justru hingga usia 32 tahun aku masih melajang dan menjadi anak terakhir yang tetap tinggal di rumah ibu, karena tempat kerjaku dekat dengan rumah. Padahal aku sering berusaha melamar pekerjaan di luar kota bahkan di luar pulau, tetapi setelah beberapa tahap seleksi toh akhirnya aku diterima kerja di kantor yang dekat rumah.
Tahun 2006 aku berkesempatan tinggal sebulan di rumah kakak tertuaku di Perancis. Kakak mempunyai 3 orang anak, anak pertama dan kedua perempuan, anak ketiga laki-laki, satu-satunya penerus nama keluarga suami kakakku, Herbreteau, karena dari keempat saudara-saudaranya hanya kakak iparkulah yang mempunyai anak lelaki. Maka selama 30 hari itu, aku melihat dengan mata kepalaku, bagaimana kakakku memanjakan anak lelakinya ini dan seolah-olah mengabaikan kedua anak perempuan lainnya. Yann mendapat perlakuan yang bak seorang anak pangeran di rumah, aturan di rumah menjadi fleksibel dan longgar untuk Yann, contohnya setiap pagi mereka harus bangun jam 7 dan sudah siap berangkat ke sekolah (sudah mandi, makan, berpakaian dan menyiapkan tas sekolah) jam 7.30, tetapi Yann sering bagun telat, dan bukannya memarahi karena membuat kakak-kakanya harus menunggu Yann, kakakku malah menggendong Yann, memeluk dan mencium dengan penuh kasih sambil bilang “Yann mon coeur” laksana bayi. Sudah sering aku mendengar kakak-kakaknya bergumam, “hm, golden boy” dengan kesalnya sebagai tanda pasrah di akhir setiap sikap protes mereka terhadap perlakuan mamanya yang pilih kasih ke Yann.
Melihat keluarga ini dan perlakuan kakak-kakakku yang berbeda ke anak-anaknya, aku seperti melihat film kilasan balik masa kecilku, aku melihat sosok ibuku di kakakku yang memperlakukan pilih kasih terutama ke anak laki-lakinya, dan anehnya aku bisa tertawa, dan aku semakin tertawa lepas saat aku mendengarkan tanggapan kakakku ketika aku mengingatkan tentang sikap dia terhadap anak-anaknya yang tidak jauh beda dengan sikap ibu “Ah masa sih gue manjain Yann, sama seperti ibu ke Pitoyo dulu?” Hahaha, aku tertawa, dulu kakakku juga protes karena ibu terlalu memanjakan dan menomorsatukan Pitoyo, adik bungsu kami dan satu-satunya anak laki-laki di keluarga, tetapi sadar atau tidak, dia juga memperlakukan hal yang sama ke anak laki-laki satu-satunya, Yann. Kejadian itu menyadarkan aku, ibu bagaimana pun adalah manusia biasa yang mempunyai hati, dan sebagai manusia, walaupun berusaha seadil mungkin kepada anak-anaknya, tetap sulit untuk berlaku obyektif, karena setiap anak mempunyai kekhususan. Aku menceritakan kepada ibu tentang perlakukan khusus kakakku ke Yann dan komentar anak-anaknya yang kadang-kadang cemburu dengan perlakuan itu, Ibu tertawa, dan itu membuat ibu sadar juga, saat ini hanya ada aku dan ibu di rumah, maka ibu mulai “mengenal” lagi anak keempatnya ini, begitu pula aku. Demikianlah pengalaman melihat bagaimana kakak mengasuh dan memperlakukan anak-anaknya, membuat kami berubah. Aku sudah menerima dengan ikhlas kenyataan itu, toh hikmahnya aku menjadi independen karena terbiasa melakukan semua kegiatan sendiri sejak kecil. Aku tahu ibu menyayangiku dengan cara lain sesuai dengan karakterku.

Kontes Seo Astaga.Com Lifestyle On The Net
Berhadia 30 Juta Lebih
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.










July 15th, 2009 at 8:14 pm