PEMBOROSAN BIAYA PEMILU LANGSUNG
Apakah benar jika biaya pemilu yang telah dikeluarkan sebanding dengan hasil yang diharapkan? benarkah jika pemimpin di pilih langsung maka dia tidak akan mengecewakan rakyatnya? Pertanyaan seperti ini tentu mengendap dibenak banyak orang ketika pemerintah mengucurkan dana milyaran untuk mendanai pemilu yang konon biaya pembuatan box nya saja sudah 9 digit, sungguh fantastis. Mengapa biaya sebesar itu tidak dikonversi untuk membangun kesejahteraan rakyat saja?
Berapa biaya membangun sebuah sekolah yang layak minimal 1 milyar, bagaimana jika tidak ada orang yang mau mendirikan sekolah, ketika pemerintah harus menyediakan sekolah untuk 33 propinsi, ada berapa ratus ribu desa yang harus didirikan sekolah, ada berapa ratus ribu kecamatan yang harus didirikan sekolah. Ternyata jika mengandalkan pemerintah kecepatan persebaran akan sangat lambat mengapa? Uang pembangunan sekolah diambil dari APBN, darimana input APBN? Dari rakyat, dari pajak. Bagaimana mungkin APBN besar jika pajak yang dibayarkan minimal, sesuai hukum input output, berapa yang masuk sebesar itu pula yang harus keluar. Dengan hukum input output ini akan terpikir jika warga indonesia ada 200 juta, jika setiap 1 nyawa dipajaki 100 ribu rupiah. Dalam satu tahun akan didapatkan APBN sebesar 20 trilyun, dari 20 trilyun diambil 15 – 20 persen untuk pendidikan, berarti ada dana 4 trilyun, kemudian 4 trilyun dibagi 2 menjadi dana software atau perangkat lunak pendidikan dan perangkat keras pendidikan. Perangkat lunak termasuk gaji guru dan dosen, biaya operasional dinas pendidikan. Dengan uang 2 trilyun dibagi 1 milyar ada 2000 sekolahan yang bisa didirikan setiap tahun. Jika ada 200.000 sekolah yang harus dibangun? 100 tahun untuk menunggu pemerataan.
Dengan asumsi biaya sebesar itu mengapa dana pemilu tidak dikonversi untuk pembangunan pasar sehingga menggerakkan ekonomi masyarakat, mendirikan rumah sakit sehingga banyak orang sakit dapat tertolong, untuk membangun pabrik sehingga menyerap lapangan kerja, atau membangun sekolah sehingga kecepatan pemerataan pendidikan bisa segera dirasakan, jika saja dana yang sebesar itu dikonversi untuk kegiatan yang berguna maka masyarakat akan lebih merasakan daripada sekarang masyarakat disuguhi oleh iklan – iklan tokoh masyarakat yang katanya membela rakyat tetapi ternyata hanya slogan semata, kapan akan ada pembela – pembela rakyat yang benar – benar perduli dengan rakyat yang tidak hanya melontarkan simbol – simbol kosong belaka.











June 7th, 2011 at 9:31 pm
We do not agree with your last stage.