Transportation in Indonesia and Traffic in Jakarta really kill us ??
Lho judulnya bahasa Inggris kok tulisannya bahasa
Indonesia
? Hehehe apakah ini membuktikan saya sama seperti kebanyakan orang
Indonesia
yang hobi bicara dalam bahasa gado-gado, sedikit-sedikit menyelipkan bahasa asing agar terdengar keren hehehe. Sejujurnya sih, saya ngga suka kalau mendengar teman saya atau lawan bicara atau selebritis yang bicara bahasa asing hanya sepatah dua patah kata dalam tiap kalimat, apalagi kata asing yang diucapkan itu salah penggunaannya, ngga konsisten dan bikin telinga pusing, kalau mau ngomong bahasa asing ya ngomonglah dalam bahasa asing keseluruhan dari awal kalimat sampai titik, kalau mau ngomong bahasa Indonesia ya gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar, ya tho? (Hidup Pak Jus Badudu)
Tapi alasan lain sih, kalau ditulis dalam bahasa Inggris malu kalo teman-teman saya atau pengunjung blog saya (saya baru tahu ternyata blog saya ini cukup banyak yang membaca dari beberapa teman yang cukup memberi komentar saat ketemu saya atau melalui email, hanya sayang hanya beberapa yang menulis komentarnya di blog) yang non-Indonesia tahu aib bangsa (terutaman pemerintah yang semakin ngga profesional mengelola Negara yang kaya sumber alam tapi lebih banyak dinikmati bangsa lain) makin bobrok ini.
Ooops, kok jadi melenceng ke mana-mana ya. Kembali ke masalah transportasi di Indonesia dan lalu lintas di Jakarta, tulisan ini tidak 100 % membahas masalah hilangnya pesawat Adam Air yang menjadi berita heboh di awal tahun 2007 atau banyaknya kecelakaan kapal laut, kereta dan bis antar kota, pertama karena saya bukan ahli di bidang transportasi dan saya juga ngga punya data statistic yang bisa dipercaya. Saya hanya ingin membagi pengalaman saya.
Beberapa waktu yang lalu saya tertawa terbahak-bahak ketika melihat gambar pesawat Adam Air yang mogok dan didorong oleh banyak orang. Rupanya pesawat tersebut yang semula tujuannya ke
Sulawesi
kesasar di NTB… Maaf, bukannya saya ngga berempati dengan para korban hilangnya pesawat Adam Air, tetapi kejadian pesawat didorong – mirip metromini yang mogok, atau malah mengingatkan saya dengan Mobil tua bapak saya yang hobi mogok beberapa belas tahun lalu—berhasil mengocok perut saya. Pesawat kok didorong??? Dan itu mungkin hanya terjadi di
Indonesia
??
Satu minggu yang lalu kebetulan saya dan kakak saya harus berangkat ke Bali untuk datang ke acara pernikahan anak sepupu Ibu saya, dan kebetulan lagi, saya bertemu teman kuliah saya, Opi di ruang tunggu Bandara Cengkareng, dan kebetulan lagi (hehehe seperti sinetron Indonesia, cerita ini ngga kalah banyak kebetulan yang terjadi) kami ternyata naik satu pesawat yang sama. Alasan saya memilih maskapai pesawat yang akan membawa saya ke Bandara Ngurah Rai ini tak lain dan tak bukan –karena walaupun data yang saya baca dari sebaran email seorang teman tentang penerbangan Indonesia yang rawan kecelakaan juga mempunyai pesawat yang umurnya lebih dari 18 tahun– masih menurut data yang dibuat expatriate yang tulisannya dimuat Jakarta Pos itu, paling tidak maskapai ini jarang diberitakan mengalami kecelakaan, kalau keterlambatan mungkin sering hehehe. Karena berita hilangnya pesawat Adam Air masih hangat, kami (Opi dan temannya, saya dan kakak) membicarakan juga si pesawat yang hilang ditelan laut itu. Memang dasar kita gila, mau naik pesawat kok malah membayangkan bagaimana kalau pesawat ini mengalami kecelakaan. Biasanya
kan
kalau pesawat mengalami kecelakaan, yang paling bahaya yang duduk di tengah, apalagi kalau pesawat ini pecah di tengah-tengah badan pesawat (itu yang saya ingat dari kuliah “Hukum Udara” di kampus saya dulu). Untuk lebih menghidupkan bayangan kami tentang retaknya pesawat, saya menggerakkan tangan menggambarkan pesawat yang pecah menjadi dua tepat di tengah- tengahnya, dan ternyata seorang ibu yang duduk di samping saya dari tadi menyimak pembicaraan kami, dia langsung ikut berbicara, “aduh Dik, jangan bicara yang aneh-aneh dong, makai digambarkan segala kalau pesawat retak di tengah, Ibu kan jadi takut, dari tadi baca-baca doa” Wah, kami pun langsung minta maaf, dan menenangkan dia, kita akan mendoakan semoga pesawat yang membawanya ke Makassar dan pesawat kami aman sampai tujuan. Nah, jadi, kalau kita mau bepergian dan menggunakan pesawat, jangan lupa untuk berdoa, semoga pesawat yang kita naiiki sudah aman secara teknis dan Tuhan melindungi kita.
Herannya walau pun sudah ada kejadian heboh yang menimpa Adam Air, penumpang kita yang dari segi penampilan kelihatan modern (beberapa gadis malah sudah dengan penampilan seolah-olah berada di pantai Kuta) masih kurang disiplin, tidak cukup sabar untuk rela mematikan telepon seluler mereka beberapa saat, apa mereka sadar, gelombang HP bisa mengganggu gelombang alat telekomunikasi pesawat? Aneh, saat saya naik pesawat KLM menuju Schipol, semua penumpang, yang sebagian dari mereka juga penumpang
Indonesia
, mereka patuh untuk mematikan CellPhone. Apakah bangsa kita kurang patuh dan menghargai bangsa sendiri?? Jadi ingat sama slogan sebuah iklan rokok “Taat cuma kalau ada yang melihat? “
Nah bagaimana dengan lalu lintas di
Jakarta
? Jaman saya masih sekolah SD dulu, karena saya tinggal nun jauh di sana, di wilayah Jakarta coret, Ciputat – daerah yang paling cocok menggambarkan Pemerintah Daerahnya yang super cuek bebek dan terkenal dengan kemacetannya yang ngga sembuh-sembuh—sementara sekolah saya dan kakak-kakak serta adik saya, ada di wilayah Kebayoran Baru, maka untuk menghindari kemacetan di beberapa titik (Ciputat, Pasar Jumat, Pondok Indah, radio Dalam), kami –saya, 3 kakak perempuan, ibu dan 1 adik– harus sudah ada di mobil dan siap berangkat tepat jam 5.30 pagi, telat 5 menit aja, walhasil kami akan kena macet dan telat sampai di sekolah. Kalau cuma telat aja sih ngga apa-apa, walaupun malu juga sih, kerena pasti saya dapat hukuman dari sekolah yang terkenal dengan kedisiplinannya itu. Yang ngga kuat itu adalah ceramah Bapak saya yang jelas-jelas ngga terdengar indah di telinga saya –untuk bapak-bapak, suaranya cukup tinggi–. Banyangin aja selama 1 setengah jam saya harus mendegar ceramah Bapak saya itu, yang isi dan kata-katanya sama persis dengan ceramah sebelumnya.. Untunglah, supir Bapak saya, Toyo yang badannya kecil itu, cukup lihai mencari jalan tikus – jalan-jalan kecil di
Jakarta
di tengah perkampungan—dan lihai pula menyalib antrian mobil-mobil di ruas jalan yang kami lewati, sehingga kadang-kadang kami terselamatkan dari datang teelambat, tapi bukan berarti selamat dari ocehan bapak saya hehehe.
Beberapa tahun kemudian, sampai detik ini, kemacetan
Jakarta
bukannya makin berkurang, malah semakin parah. Saat ini saya masih tetap tinggal di Ciputat –ditinggalkan kakak-kakak dan adik yang sudah berumah tangga—dan bekerja di kawasan Sudirman. 3 tahun lalu waktu saya kerja di daerah Cilandak Commercial Estate, saya ngga ada masalah dengan kemacetan, tapi saat ini, saya kembali mempunyai masalah yang sama. Untuk mengatasi kemacetan, saya pernah coba ojeg, tapi ini cukup menguras dompet saya dan lagi pula, saya terpaksa harus menghirup udara
Jakarta
yang katanya udara paling kotor dan terpolusi di dunia. Paling-paling akibat positif sebagai pelanggan Ojeg Ciputat-Sudirman, semua tukang ojeg jadi super ramah dan rajin menyapa konsumennya ini, tapi akibat negatifnya, selain uang saya cukup terkuras, juga muka saya yang kata teman-teman mulus ini kadang-kadang berjerawat, trus saya jadi batuk-batuk.
Pernah juga saya coba ikut member “omprengan/ antar jemput Ciputat-Sudirman” tapi makin lama suasananya kurang mengenakkan, maka saya dan beberapa teman keluar dari keanggotaan. Saat ini saya coba alternatif lain, naik KRL (Kereta Rel Listrik) yang bermesin pendingin (AC). Masalah saya memang terselesaikan, saya tidak perlu melihat kemacetan Jakarta
, dan kembali bernostalgia ketika saya sering naik RER E (kereta dari Gretz Armeinvilliers menuju Paris/ Chateles Les Halles) dan diteruskan dengan Metro menuju bagian kota
Paris
yang saya tuju. Tapi jangan samakan dengan RER E atau Metro
Paris
… Kalau di Paris/ ille-de-France sudah sangat terjadwal, dan dipermudah dengan peta lalu lintas Metro dan RER, KRLL di sini masih sering datang terlambat.
Heran ya? Banyak orang pintar di Indonesia, apalagi di Jakarta yang sekolah jauh-jauh ke luar negeri hingga S2 atau pun S3, banyak juga anggota DPR yang hobi jalan-jalan ke luar negeri dengan alasan studi banding, tapi kok fasilitas transportasi masih belum membaik, dan kemacetan di Jakarta belum ada solusinya selain ide Trans Jakarta yang masih belum berhasil mengurangi kemacetan???
*Jika tulisan ini memberi sedikit kesan, mohon luangkan waktu untuk meninggalkan komentar di blog ini, terimakasih J *
No related posts.










