“Kisah Riyadi yang Mengagumkan”
Saya baru membaca buku Ust. Yusuf Mansur, Kun Fayakun: Selalu Ada Harapan di Tengah Kesulitan. Buku tersebut diberi kata pengantar oleh Ust. Muhammad Arifin Ilham. Kesimpulan Ust. Arifin adalah: “SUBHANALLH, membaca kisah akhi fillah Yusuf Mansur membuat kita tertegun, karena hikmah-hikmah-Nya dan membuat kita semakin dekat kepada-Nya. Terima kasih akhi fillah Yusuf Mansur.”
Ketika membaca kata pengantar tersebut, saya jadi penasaran, akhirnya saya beli. Salah satu kisah yang sangat membekas dalam diri saya dan benar-benar I cannot forget it adalah kisah Riyadi. Luar biasa!!!
Dalam judul “Tuhan Tidak Buta”, ust. Yusuf Mansur menulis bahwa Riyadi sudah 15 tahun bekerja sebagai penjaga gudang salah satu perusahan yang menjual alat-alat elektronik: dari mulai radio kecil, hingga TV ukuran setengah kamarnya diproduksi dan dijual di perusahan tersebut. Apa yang terjadi?
Pasalnya, Agus anak Riyadi sudah 4 bulan belum bayar uang sekolah. Riyadi bingung, akhirnya terpaksa mengambil mini compo saja, untuk ia uangkan. Itu saja. Padahal, 15 tahun dia tidak memiliki cacat raport. Dia sangat dikenal oleh bossnya sebagai orang yang jujur. Tidak bercacat. Gara-gara mengambil dan menguangkan “mini compo” itu, batinnya tidak tenang. Benar-benar qalbu yang bersih. Para pejabat kita, korupsi milyaran bahkan triliyunan, santai saja. Tidak ada beban dan tidak merasa bahwa itu uang rakyat yang tidak boleh diambil dengan cara yang haram. Benar-benar berbeda dengan sikap Riyadi.
Istrinya kemudian menasehatinya: “Sudah Mas, lebih baik Mas terus terang saja ke bos Mas. Sebelum semuanya terlambat. Biasanya sih kejadian nanti itu tidak akan seburuk yang kita bayangkan.” Semua keluarganya mendukung nasehat istrinya. Tidak terkecuali Agus, anaknya. Si Agus ini bahkan bilang, kalau tahu bapaknya membayar SPP-nya dari uang haram, lebih baik ia memang berhenti. Mantaplah niat Riyadi untuk terus terang kepada bosnya.
Apapun yang akan terjadi, benaknya, terjadilah. Ia hanya berharap Tuhan mau mengampuninya. Itu saja. Ia tidak berharap bosnya akan justru mengagumi keberaniannya berterus terang. Ia justru siap dengan resiko yang paling pahit sekalipun. Daripada nanti ditunda hukumannya di akhirat, begitu tekadnya. Lagian, dia punya keyakinan, bahwa bila kebusukan lebih lama disimpan, maka baunya akan jauh lebih busuk.
Akhirnya, memang dipecat. Begitu Riyadi bicara keadaan yang sebenarnya, dia dipecat! Alasan bosnya, ia tidak pernah mentolerir satu kejahatan pun di kantornya.
Sampai di sini, tidak ada ending cerita yang happy ending. Riyadi yang selama ini dibayar murah, Riyadi yang selama ini tidak ditunjang kesehatan dan keperluan-keperluan mendadaknya, Riyadi yang lima belas tahun menjaga kejujuran dan loyalitasnya kepada perusahaannya harus menelan ludah, pahit, bahwa akhirnya ia dipecat. Tidak ada pertimbangan kemanusiaan dalam keputusan atasannya ini, tidak ada pertimbangan bahwa Riyadi bekerja lima belas tahun, tanpa cacat. Tidak ada! Keputusannya lahir dengan sangat cepat. Begitu Riyadi terus terang, Riyadi dipecat. Riyadi sadar bahwa ia hanya orang kecil, ketiadaannya tidak akan berpengaruh banyak bagi kelancaran hidup perusahaan. Untuk sebelumnya dia sudah mempersiapkan diri untuk tidak membayangkan bosnya kelak justru akan mengaguminya. Sehingga ia tidak sakit hati.
Allah memang “Tidak Buta”.Ia mendirikan bengkel kecil, yang menjadi ‘jalan hadiah’ dari Tuhan. Bengkelnya maju, bahkan kemajuannya tidak pernah ia bayangkan. Luar biasa! Orang-orang pada ngantri untuk diperbaiki kendaraannya oleh Riyadi. Bahkan mereka rela masuk waiting list, daftar tunggu pelayanan. Brand yang dipakai untuk bengkelnya adalah “Berkah Motor”. Baginya dan keluarganya, “kejujuran berarti keberkahan”.
Terima kasih ust. Yusuf Mansur. Sungguh kisah yang antum torehkan di buku ini, membuat buliran-buliran air putih dan bening berjalan santai di kedua pipi saya. Tanpa sadar, saya rupnya menangis membaca kisah Riyadi ini. Subhanallah. Semoga Riyadi-Riyadi yang lain bermunculan.[] (Medan, 2 Syawwal 1428 H/14 Oktober 2007)
http://ulul4lb4b.multiply.com
No related posts.










