“Pak Sunaryo yang Pemurah”
Setelah memberikan khutbah ‘Idul Fitri (Sabtu, 1 Syawwal 1428 H/13 Oktober 2007), saya diundang Pak Sunaryo untuk berkunjung ke rumahnya ba`da Zhuhur. “Insya Allah Pak, saya akan datang,” jawab saya mengiakan.
Pak Sunaryo, adalah salah seorang jama’ah shalat di masjid pesantren tempat saya mengabdi. Subhanallah, shalat Shubuh beliau sangat luar biasa. Beliau juga adalah salah satu anggota pengajian malam Jum’at yang saya berkecimpung di dalamnya. Akhirnya, karena sering bertemu, bertukar pikiran dan sharing ide, akhirnya kami jadi akrab.
Saya sampai di rumahnya pada pukul 14.13 WIB. Saya langsung disambung oleh beliau dengan ramah. Tak lama kemudian, anaknya Andi –yang baru saja mengakhiri masa lajangnya–keluar menemui saya. Bang Andi, demikian saya memanggilnya, masih saya ingat sekali, saya lah yang mengisi acara “mau`izhah hasanah” perkawinannya. Padahal saya sudah menolak permintaan Pak Sunaryo untuk itu. “Saya kan belum menikah Pak, ya gak cocok kalau saya memberikan ceramah tentang pernikahan untuk Bang Andi,” tolak saya. “Gak papa Pak Ustadz, teorinya pun jadi lah,” kata beliau sambil bergurau. Karena didesak terus, akhirnya saya pun menerima permintan beliau.
Di rumahnya, saya diservice habis-habisan. Dari mulai makan siang pakai rendang daging; makan kolang-kaling (olahan buah enau atau aren); kue berkuah susu, dll, sampai manisan ditmplekkan di meja makan. Ya Allah, perut saya benar-benar tidak memiliki tempat untuk itu. “Wah, maaf Bu, perut saya gak sanggpun menerimanya. Karena sebelum pergi ke sini, saya sudah makan duluan di rumah yang lain,” kata saya. “Gak papa Pak Ustadz, apa yang bisa dinikmati saja,” kata istri Pak Sunaryo dengan ramah.
Selesai menyantap hidangan yang ada, saya, Pak Sunaryo dan Bang Andi terlibat perbincangan yang lumayan serius. Pak Sunaryo mengeluh, kenapa umat Islam ini sekarang malas beribadah. Dia memberikan contoh, bahwa orang-orang yang rumahnya dekat dari masjid cenderung ‘menjauh’ dari masjid. Mereka seolah tak sadar bahwa setiap waktu shalat “dipanggil” oleh Allah. Dan itu adalah kenyataan. Apalagi shalat Shubuh. Sudah pasti jamaahnya adalah ‘jamaah tetap’ alias itu-itu saja.
Menurut beliau juga, ada yang rajin ibadah tapi hanya “ikut-ikutan”. Artinya, umat Islam banyak yang melakukan ibadah hanya sekedar “menggugurkan” kewajiban. Akhirnya, ibadahnya asal-asalan. Yang penting sudah shalat; puasa; haji; zakat, dll. Perkara ibadah kita berdasarkan ajaran Allah dan tuntunan Rasul-Nya, itu mah nomor tujuh puluh sembilan. Yang penting ibadah aja dulu. Akhirnya, umat Islam “beribadah tanpa ilmu” alias bolong dan kosong tak berdasar. Ini lah ibadah yang hampa. Pak Sunaryo, benar-benar cerdas. Pandangannya benar-benar tajam, menyoroti problematika ibadah umat.
Itu lah salah satu topik pembicaraan kami. Saya kemudian melihat arloji yang sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Saya lalu pamit untuk kembali ke pesantren. Sebelum beranjak, istri beliau menyodorkan bungkusan plastik berwarna hijau, yang berisi dua serban. Satu berwarna merah –yang ketika menulis refleksi ini saya pakai–dan berwarna putuh ber- hitam di ujungnya. “Itu sisa oleh-oleh ketika saya naik haji pada tahun 2000 dahulu,” kata Pak Sunaryo. “Wah, sudah dikasih makan, dikasih oleh-oleh lagi,” kata saya kepada istri beliau. “Lha, hanya hadiah sederhana kok Pak Ustadz,” jawab beliau.
Setelah itu saya mengucapkan salam, Assalamu‘alaykum warahmatullahi wabarakatuh” dan pergi meninggalknya rumah Pak Sunaryo yang penuh berkah itu.
Ya Allah, luaskan lah rezki-Mu kepada orang-orang yang telah berbuat baik kepadaku. Semoga rahmat dan ampunan-Mu senantiasa menyertai langkah mereka, Amin. [Medan, 5 Syawwal 1428 H/16 Oktober 2007]
http://qosim-deedat.blogspot.com/http://ulul4lb4b.multiply.com
Related posts:










