Allah perencana terbaik
Tuhan perencana terbaik…(walau kadang-kadang saya merasa Dia kurang adil) Baru - baru ini ada kejadian yang membuat saya tersadar bahwa Tuhan sebenarnya baik kepada saya. Mungkin karena selama ini saya merasa kurang bersyukur dan selalu melihat orang lain yang menurut saya kehidupannya jauh lebih baik dari saya, misalnya teman-teman yang bekerja di Perusahaan yang bagus, telah menikah dan mempunyai anak-anak yang manis. Hal itu, jika iman saya sedang goyah membuat saya berpikir, “Kenapa Tuhan tidak segera saja memberi apa yang saya inginkan?? Apa susahnya buat Dia Zat yang Maha Kaya, untuk membuat sesuatu terjadi, dia hanya berkata “Kun” maka jadilah”, dan akhir-akhir ini, karena saya seperti dikejar dead line untuk menikah, frekuensi saya untuk berburuk sangka kepada Alloh menjadi semakin sering. Saya semakin tidak bersyukur dengan apa yang Tuhan sudah berikan kepada saya, saya malah membanding-bandingkan dengan orang lain.. Walaupun saya sudah punya kerjaan –yang walaupun tidak terlalu hebat (saya bekerja sebagai Assistant HR Manager di perusahaan multi nasional yang besar di Jepang tapi masih berkembang di Indonesia)—tapi saya membandingkan kenapa teman saya bisa kerja di Perusahaan X dengan lingkungan kerja yang menyenangkan? Kenapa saya harus mendapatkan kolega yang selalu komplain tentang staffnya, dan tidak pernah mengucapkan terima kasih atas bantuan yang saya berikan? Kenapa saya harus bertemu rekan kerja yang sirik hanya karena justru saya orang baru yang diberi kepercayaan manajemen untuk menduduki posisi ini? Ditambah dengan kehidupan percintaan saya yang kurang sukses, saya yang baru saja putus dengan orang yang beberapa bulan lalu sudah membicarakan keseriusan ke jenjang pernikahan, tapi saya sendiri tidak yakin bisa menghabiskan sisa hidup saya dengan dia. Pikiran buruk terus menyerang saya, semakin pintar melihat kekurangan dalam hidup saya, kenapa perempuan yang perilakunya kurang menyenangkan, yang hobi marah-marah atau galak, toh bisa menemukan seseorang yang benar-benar mencinyai hingga berani mengajak menikah? Saya kemudian merasa menjadi the biggest loser in this world.. merasa demikian tidak cantik dan menarik serta kurang sukses dan cara yang paling mudah menyalahkan Tuhan kenapa tidak adil kepada saya? Kenapa memberikan cobaan yang demikian berat kepada saya? Kenapa menunda-nunda hajat saya? Apakah Tuhan merasa saya belum siap? Saat saya mendengar cerita seorang teman, mantan sahabat saya di kantor lama yang selingkuh dengan beberapa lelaki, padahal dia sudah menikah dengan suami yang sangat baik dan sabar dan mempunyai anak, saya menghakimi Tuhan, kenapa Dia malah memberikan pasangan hidup kepada orang yang yang kemudian menyia-nyiakan pemberian Tuhan tersebut? Yaa Alloh kenapa kehidupan demikian tidak adilnya? Seminggu yang lalu kakak saya sms, temannya yang pernah pinjam uang sekian rupiah ke saya tanya nomor HP saya. Sekitar tahun 2003, teman kakak saya ini yang mempunyai bisnis menawarkan saya untuk menanamkan modal ke usahanya. Saya karena selalu berpikiran positif tentang orang lain, dan dia adalah teman kakak saya, percaya, bahkan sebagai lulusan Hukum, saya tidak membuat pernjanjian apa pun, karena di samping jumlahnya tidak seberapa, kesannya gimana ya, sama teman kakak. Sampai akhirnya sesuai dengan waktu yang dijanjikan untuk mengembalikan uang saya, dia tidak datang dan mengembalikan uang saya. Saya coba hubungngi ke HPnya, tetapi nomor sudah berubah, saya hubungi dia di nomor telpon rumahnya, tetapi tidak berhasil. Wah, saya merasa tertipu, hingga akhirnya saya pasrah dan bilang “innalilahi wa inailahi ro jiun”, kalau uang itu memang rezeki saya, akan kembali lagi, kalau pun ngga, ya saya pasrah uang itu lenyap.. Ternyata teman kakak saya telpon saya, minta maaf dan menjelaskan keadaan kenapa sepertinya dia menghilang dan tidak mengembalikan uang saya, dan dia janji akan mentransfer uangnya ke nomor rekening saya. Hm, uang saya akhirnya kembali 4 tahun kemudian. Di saat bersamaan, saya mendapatkan tawaran kerja dari Oil and gas company yang besar di Jakarta. Prosesnya sangat singkat, Senin pagi diinterview, Selasa pagi mereka memberikan Offer Letter, Sabtu saya medical check up dan setelah banyak pertimbangan, saya putuskan untuk sign kontrak. Bukan posisi yang wah, tetapi saya piker, yang penting saya mendapatkan kepuasan batin dan raga (benefit yang saya dapatkan lumayanlah), dan pekerjaannya menarik, serta setelah bertemu beberpa kali, kelihatannya kolega saya cukup asik untuk bekerja sama. Saya membantu staf di situ untuk menyelesaikan Competence Based Human Resources Management. ALasan lain yang membuat saya berani meninggalkan pekerjaan, banyak kebetulan yang terlibat di sini. Saya ingat, dulu waktu baru lulus dari Fakultas Hukum, Perusahaan ini mengundang lulusan terbaik FH UNPAD saat wisuda periode itu, salah satunya saya untuk ikut proses rekrutmen sebagai staf legal. Dari 4 orang – termasuk saya— dan beberapa orang dari Universitas terkemuka di Indonesia, setelah mengikuti psikotest, TOEFL, job test tentang legal, interview dengan manajemen, hanya saya dan teman kuliah serta 2 orang dari Universitas lain yang berhasil masuk tahap Final Interview. DI situlah saya gagal. Kebetulan lainnya, yang melakukan job interview, salah satunya adalah orang yang saya kenal secara virtual di milis beasiswa yang saya ikuti (dan dia salah satu pendiri milis tsb), saya hanya pernah kontak beberapa kali di email. Kebetulan lainnya? Kantor nya yang semula ada di Jalan Jendral Sudirman sudah pindah ke CIlandak, dekat rumah saya.
Saya tidak mengharapkan yang “wah” akan terjadi pada kehidupan saya. Apa yang terjadi dalam kehidupan ini membuat saya sadar, saya belum benar-benar “dewasa” menghadapi kehidupan. Mulai detik ini, saya akan menerima apa pun yang Tuhan berikan kepada saya dan berhenti berprasangka buruk dengan NYa, apa pun yang Ia berikan, keberhasilan, rezeki, cobaan, saya hanya menjalani kehidupan, Kalau beberapa tahun lalu saya adalah orang yang hobi berencana, dan memaksa diri bahkan memaksa TUhan untuk meng-amin-i rencana saya, sepertinya saat ini saya harus ganti moto hidup, “let it flow” biarkan saja Tuhan yang berencana untuk kehidupan saya, Dia dengan segala kesempurnaannya tahu yang terbaik untuk saya. Walaupun semua orang bertanya kenapa saya –yang sebagian besar menilai bisa cepat dekat dengan anak kecil dan secara physic juga lumayan– belum menikah dan kurang sukses dalam menemukan The right One, saya akan lebih santai menghadapi itu.. Pernikahan di mata saya untuk seumur hidup dan saya tidak mau membuat kesalahan besar dengan memilih orang yang salah, karena saya takut dikatakan “perawan tua” atau saya tidak nyaman dengan status “single” saya, atau nanti cerai seperti 2 teman saya yang akhirnya cerai setelah menikah selama tahun, padahal kami selama ini melihat mereka pasangan yang harmonis. Semoga Tuhan saat saya mengetik tulisan ini memafkan saya yang sering berprasangka buruk, dan sedang memilihkan pasangan yang terbaik untuk saya diantara jutaan pria yang ada di dunia ini, yang mengerti saya dengan segala keunikan dan kekurangan saya…Dan semoga saya bisa bekerja dengan baik di kantor yang baru, dan semoga itu menjadi kantor terakhir saya, amin.
No related posts.







