Pesantren Modern Dan Solusi Pendidikan
Sebenarnya membahas masalah pendidikan ibarat membuka kotak pandora yang akan melahirkan bahasan lain yang tiada henti dan akan terus menerus dibahas tanpa ada akhirnya.
Di potret dari pendidikan sa’at ini, keberhasilan demi keberhasilan terus dicapai dalam berbagai bidang, baik itu di bidang akademik maupun non-akademik terus meroket tajam tanpa batas yang ditandai dengan hadirnya penemuan-penemuan baru di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Namanya juga keberhasilan tentu di capai dengan adanya usaha dan perbaikan namun sepertinya ‘perbaikan’ itu terlihat di lahir (yang tampak) saja. Bahkan yang tampak pun kadang rusak.
Berbagai keberhasilan itu sepertinya belum bisa mengendalikan moral masyarakat yang semakin hari semakin bobrok, bahkan lewat kemajuan itu digunakan oleh orang-orang salah sebagai sarana untuk menyebarkan maksiat sebagai senjata untuk meruntuhkan moral dan untuk meraup keuntungan besar. Dari itu perlu adanya rekonstruksi konsep pemahaman masyarakat yang cenderung vakum untuk melepaskan potensi negatif dari globalisasi.
Berbagai dampak negatif globalisasi sepertinya gagal kita tanggulangi dengan melihat pergaulan masyarakat yang semakin bebas tanpa mengenal etika antara laki-laki dan perempuan yang seharusnya identik dengan budaya timur yang penuh nuansa keislaman.
Jiwa-jiwa islam yang dulunya tertanam dalam diri generasi muda bangsa ini sedikit demi sedikit terlepas dari sendi-sendi moral yang bertentangan dengan paradoks negara bermayoritas Islam terbesar sedunia yang seharusnya ikut ambil bagian besar untuk mewujudkan masyarakat madani.
Kehancuran moral-moral generasi muda sa’at ini tidak lepas dari kesalahan-kesalahan sistem pendidikan yang menurut saya lebih menekankan pada sisi keintelektualan sebaliknya mengabaikan sisi spiritual yang berperan besar pada pembentukan karaktor (character building), mestinya pendidikan menggeser hasil orientasi dari hasil ajar menuju hasil didik sebab hasil ajar hanya memfokuskan pada kognisi sementara hasil didik memprioritaskan pada pembangunan dan pendidikan karakter yang berkualitas.
Menyangkut dengan itu sebagaimana yang telah dilakukan Rasulullah saw dalam mengubah masyarakat jahiliyah yang tak berbudaya menuju masyarakat terpelajar, kita juga perlu menerapkan kembali pendidikan Islam yang dulunya telah dinyatakan berhasil mengubah suatu peradaban yang mengawali cikal bakal masyarakat modern.
Salah satu corak pendidikan Islam di Indonesia adalah pesantren. Pesantren telah hidup dan berkembang puluhan tahun di Indonesia yang tetap mempertahankan habitat dan komitmennya sebagai lembaga pendidikan islam yang punya khateristik dan kharisma tersendiri sebagai pusat penyebaran dan persemaian nilai-nilai keislaman.
Seperti sistem pendidikannya yang terus mendapatkan sorotan tajam, karena masih dianggap kuno dan tidak relevan dengan perkembangan zaman. Lalu, bagaimanakah sebaiknya posisi strategis pesantren diletakkan dalam konteks globalisasi?
Jawaban yang pas bahwa pesantren perlu ditempatkan sebagai lembaga pendidikan yang secara professional terjun dalam kegiatan arus perkembangan zaman dan informasi sebagai pesantren modern, yang herannya mengapa tidak diciptakan iklim agar sekolah Negara dan lembaga keagamaan terpadu berdenyut sama?.
Dalam pesantren modern yang senantiasa relevan mengikuti perkembangan zaman alias tidak basi. Informasi diolah sedemikian rupa untuk dipilah mana yang berkualitas dan yang kelas sampah untuk dibuang.
Dengan perkembangan tingkat arus informasi maka seakan-akan pesantren modern masih hijau, hangat-hangat tahi ayam dalam menyaring informasi. Perlunya belajar lebih dalam pusaran arus globalisasi.
Hal ini tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah Islam. Bahkan Islam sangat menganjurkan umatnya untuk mengikuti perkembangan zaman dan arus informasi tanpa melenceng dari garis-garis keimanan sebagaimana yang Allah firmankan : sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hambaku, yaitu mereka yang mengetahui informasi lalu mengikuti yang paling baik di antaranya, mereka itulah yang telah Allah beri petunjuk dan mereka termasuk orang yang cerdik cendekia (QS. Az-Zumar; 17-18) Jadi, pesantren modern bias sebagai lembaga yang sangat potensial untuk bersemai dalam melahirkan suatu kelompok masyarakat yang religious, jenius serta pada tingkat kemandirian yang tinggi.
Kelebihan yang ditawarkan pesantren modern yang dilontarkan Ahmad Sahal memiliki dua potensi yakni pengembangan masyarakat dan potensi pendidikan. Dari dua potensi tersebut bisa disimpulkan bahwa pesantren modern ada untuk memberikan respon terhadap situasi dan kondisi sosial suatu masyarakat yang tengah dihadapkan pada runtuhnya sendi-sendi moral selalui transformasi nilai yang ditawarkan (Amar Makruf Nahi Mungkar) kehadirannya, dengan demikian bisa disebut sebagai perubahan sosial (Agent of social change) yang selalu melakukan kerja-kerja pembebasan (liberation) pada masyarakat dari segala keburukan moral, penindasan politik, kemiskinan ilmu pengetahuan bahkan dari kemiskinan ekonomi.
Pesantren modern bisa ditempatkan sebagai pendidikan Islam yang menjadi solusi moral yang mengambang-ngambang tak jelas akhirnya, sebagai solusi pendidikan yang tidak ketinggalan zaman dan relevan terhadap perkembangannya tanpa keluar dari nilai-nilai dan norma-norma keislaman. Wallahu’alam










