abangku dulu…
Suaranya yang gemuruh menggelegar
Terdengar dari kamarku sempit
Saat kapal besar itu mulai merapat,
Dan jangkar diturunkan
Riuh sambutan meriah terdengar semarak
Pintunya terbuka dan jalan menuju dermaga didekatkan
Dimulai dari wajah penumpang kelas 1 yang bersih
Hingga penumpang kelas kandang yang kumal
Disetiap sudut dermaga
Berdiri para kuli panggul
Satu diantaranya ialah abangku sendiri
Ia berdiri menawarkan kekuatan bahunya yang selama ini
Menafkahi keluarga kami
Aku hanya bisa melihatnya dari sini
Berdiri mematung dari jendela rumah kami
Yang nyaris tak ada bedanya dengan bedeng
Dilain tempat, sebuah roda berputar oleh tubuh yang keras
Keras karena sering menarik gerobak kaki lima yang padat
Ditengah terik panasnya matahari
Tanpa alas kaki yang bahkan tak merasakan panasnya aspal disiang hari
Karena telapak kakinya telah menebal keras
Matanya miris bersama ribuan titik peluh yang keluar ditubuhnya
Hampir setiap hari ia begitu.
Menjajakan barang dagangannya dibeberapa sekolah dasar
Dia juga abangku….mereka berdua abangku,
Yang selalu melarang aku bekerja keras karena penyakit yang aku derita
Yang selalu menyuruhku belajar agar kelak aku tidak bernasih sama seperti mereka
Yang selalu senang melihatku senang meski mereka buta huruf
Hingga maut memisahkan kami bertiga….dan kinipun aku tidak tahu
Dimana pusara keduanya semenjak peristiwa Tj.Priuk 1984
Related posts:










