me and my bodyguard part I
Kriett
“Non Lora bangun, sudah jam 7 pagi” ucap seorang wanita separuh baya.
“Uh ! pasti bibi deh !” keluhku.
aku perlahan-lahan terbangun dan benar-benar sadar dari tidur nyenyakku. Hari Senin, hari setelah hari minggu, hari saat dimana rasanya semua orang masih ingin bemalas-malasan dan bersantai-santai sejenak sebelum kembali ke kesibukan mereka sehari-hari.
aku duduk bersila di atas ranjang bulu angsaku, mencoba meregangkan otot-otot badanku yang masih kaku.
“bibi turun aja, nanti Lora turun, oke ?” ucapku agak parau
“baik non. O iya non, bodyguard enon yang baru udah nunggu di bawah daritadi loh non, ganteng banget deh non !” ucap bibi ratih,pelayan pribadiku juga sekaligus ibu kedua bagiku.
“hahahaha” tawaku .“ia nanti Lora turun kok. 30 menit lagi deh bi, bibi bilang aja ke bodyguard baru Lora biar dia nunggu Lora sebentar” ucapku panjang lebar.
Setelah Bibi Ratih keluar dari kamar ku, sebenarnya aku masih ingin melanjutkan tidurku tapi mengingat bahwa ada bodyguard baru yang sudah menunggu diriku sedari tadi, aku pun urung untuk tidur kembali. Segera kuberanjak dari ranjang, menuju kamar mandi pribadiku. Tidak butuh waktu yang lama bagiku untuk mandi pagi dan bersiap-siap, seperti apa janjiku tadi pada bibi . 30 menit.
Ah, maaf ! Perkenalkan, namaku Lora Candella, umurku baru saja 15 tahun, tapi aku sudah duduk di kelas 11 sekarang. Bahkan aku menjabat sebagai presiden sekolah di East Sunrise High School, sekolah bertaraf internasional yang merupakan SMA tempatku bersekolah.
Aku berjalan menuruni tangga rumahku yang megah, dan aku mulai teringat akan cerita masa laluku saat tinggal di San Fransisco dulu, saat masih mendapat pelajaran kepribadian oleh nenek, Ronna Candella.
Waktu itu aku masih seorang gadis kecil yang baru berumur 8 tahun, saat aku merengek-rengek kepada nenek agar di pindahkan ke sekolah yang sama dengan sekolah Alex,sepupu sepermainanku. Alex bersekolah di sekolah umum yang terletak di kawasan San Fransisco. Itulah sebabnya mengapa nenek tidak mau memindahkanku ke sekolah itu, karena sekolah yang di kunjungi Alex setiap hari adalah sebuah sekolah umum. Tapi begitulah nenek-nenek yang lain pada umumnya, mereka tidak mungkin hanya berdiam diri saat melihat cucu tersayangnya terus menerus merengek-rengek kepada dirinya,bahkan hingga menangis sesungukan di hadapannya. Nenek Ronna tetaplah seorang nenek yang mempunyai hati, seorang nenek keluarga Candella yang selalu sayang kepada cucu-cucu dan anak-anaknya. Nenek Ronna pun akhirnya mengjinkan aku bersekolah di sekolah yang sama dengan Alex. Aku ingat sekali, saat itu hari sudah sore dan jalanan sudah sepi akan pejalan kaki juga mobil yang berlalu lalang, aku sedang berjalan pulang bersama Alex. Kami tertawa bercanda bersama sepanjang perjalanan pulang, sampai akhirnya ada sebuah tangan besar yang membungkam mulutku dari belakang dengan sapu tangan dan menghentikan perjalanan kami . Alex kontan terpaku melihat pria pemilik tangan besar tersebut, ia hanya bisa tertegun tak berkedip dan berdiri terpaku saat melihat pria itu, sementara aku terus-menerus meronta-ronta agar dapat bebas dari bungkaman yang menahan tubuhku unutk berlalri menjauh . Dan Alex hanya bisa diam melihat kejadian yang terjadi di depannya, ia terlalu takut dan kecil untuk melawan pria tersebut. Akhirnya, aku pun pingsan karena menghirup obat bius dan Alex berlari menjauh dari diriku yang mulai tak sadar karena ketakutan.
Selama 3 hari aku di sekap di sebuah gudang tua yang gelap dan bau. Dingin, lapar, dan kesepian. Hingga akhirnya , Nenek Ronna datang bersama kedua orang tuaku dengan membawa sejumlah uang tebusan . aku sudah berdiri di ambang pintu saat aku melihat mereka berdiri di ujung, memberi kode agar aku segera lari menuju tempat dimana mereka berpijak. Saat mataku menyadari kode tersebut, spontan aku berlari secepat mungkin ke tempat mereka berdiri, bersamaan itu juga mereka melemper uang tebusan ke arah para bandit yang menculik diriku dan tim gabungan SWAT langsung membidik mereka dengan senjata laser. Sayang, saat aku sudah berlari menjauh, salah satu dari bandit-bandit tersebut menembaku dengan pistol yang di selipkan di pinggangnya. Pelurunya melesat cepat membelah udara, terasa panas menembus kulit bagian bawah tulang selangkaku, semakin panas dan semakin panas, hingga merobek dagingku, hingga akhirnya darah mengucur dari tempat peluru biadab tersebut menembus kulitku, melumuri baju kesayanganku yang kukenakan saat itu. Tapi aku sama sekali tidak perduli, aku terus berlari dan berlari. Seketika itu juga Tim SWAT segera keluar dari tempat mereka bersembunyi dan mengepung para bandit-bandit tersebut. Dan aku,tidak tahu lagi kelanjutan karma pingsan menahan rasa sakit itu.
“Sudahlah itu sudah lama terjadi,tak usah ku ingat-ingat lagi kejadian buruk itu. Mengingatnya malah membuatku ingin menangis.” ujarku dalam hati. Menahan air mata yang sudah siap jatuh dari pelupuk mataku.
“Selamat pagi, Non Lora.” ucap salah satu pelayan pria di rumahku, saat aku menginjak ruang makan.
“Pagi.” Balasku tersenyum
ternyata di dalam sudah ada dua orang pria yang sedang menungguku sedari tadi.
“Perkenalkan bodyguard baru anda, Nona Lora.” ucap manager keamanan di perusahaan ayahku, Eddi.
“Russ Chlore” sambung Eddi.
aku berjalan menghampiri Russ yang berdiri tak jauh dari tempat Pak Eddi berdiri dan mengulurkan tangan mungilku.
“Hai.” aku tersenyum, “Lora Candella, anak ke tiga dari Mister Edward Candella.” sambungku memperkenalkan diri.
Sebenarnya Russ bukanlah orang asing lagi bagiku, karna pada kenyataanya aku sering mengamati Russ saat ia di sekolah. Dan kalian akan kuberitahu salah satu rahasiaku . Aku menyukai Russ sejak dahulu. Tapi sayang, sepertinya rasa suka yang kupendam ini tidak akan terbalas, Russ tidak membalas uluran tanganku sama sekali.
“Russ Chlore, seperti yang sudah kau tahu.” Ucap Russ dingin.
Otomatis aku menurunkan tangannya.
“ah…” ucapku sedikit kecewa, “Aku Lora Candella.” senyumku.
“udah sarapan ?” Tanyaku hangat. Russ tidak membalas.
aku mulai kesal dengan sikap Russ yang hanya diam saja daritadi.
“oh…uda sarapan ya ?yaudah, kalo gitu gue makan dulu ya, selesai gue makan baru kita berangkat sekolah, oke ?” ucapku.
“jangan lama-lama, gue gak suka nunggu.” Balas Russ ketus.
Aku dan Pak Eddi hanya bisa berpandangan mendengarnya.
continue to part II











November 18th, 2009 at 9:33 pm
great!
saya tunggu kelanjutannya
November 21st, 2009 at 5:30 pm
ahahaha.makasih2…hehe
November 24th, 2009 at 11:37 am
ditunggu ya, lanjutannya… soal nya saya penasaran hhee
November 24th, 2009 at 11:45 am
keren…… deh ravina:grin:
lanjutannya kapan release!!!!
November 24th, 2009 at 11:47 am
a interesting story!
tapi gantung nih,
ayo lanjutin ceritanya dun!!!
waiting for sequel ^^
November 29th, 2009 at 7:26 pm
makasih
lanjutannya ASAP
btw,boleh minta sran gak kira2 judul yang bagus apa ya ???aku masih rada bingung nihhh
November 29th, 2009 at 7:27 pm
thx a lot !
emg sengaja di buat gantung…hehe.lanjutannya ASAP
minta saran dong buat nama judulnya ??aku masih rada bingung..huhu
November 29th, 2009 at 9:43 pm
penasaran……….ada blog g na..
November 30th, 2009 at 5:58 pm
blog ???beluma da nih…masih di sekitar gagasmedia aja
November 30th, 2009 at 5:59 pm
FYI : Me and My Bodyguard part II, have been posted
June 7th, 2011 at 1:40 pm
Don’t spam this blog ur bastard
June 24th, 2011 at 10:13 pm
If you teach someone how to add parenthesis when they input the calculator instead of teaching them that you should multiply before you add, you are doing them a disservice in my opinion.
July 12th, 2011 at 4:11 am
Even a professional blogger, they nonetheless utilizing these ideas =D