Di Tepian Dermaga Cinta 2
“Mama…”, si kecil Diandria tertatih-tatih menghampiri Listy yang sedang mengetik artikel untuk sebuah situs penerbitan. Listy menoleh dan mengelus kepalanya. Diandra baru berumur 13 bulan, ia baru bisa berjalan dengan langkah-langkah mungil. Prilli kakaknya yang nomor dua mengikutinya. Listy mengangkatnya ke pangkuan. Diandra tertawa, manis sekali..matanya menghilang dan giginya yang kecil-kecil nampak semua.
“Andria gak mau makan buburnya tuh, Ma.” Prilli mengadu. “Dia numpahin semuanya.”sungut kakaknya lagi.
“Kak Realla dimana?”tanya Lysti. “Di dapur, lagi manasin sup.”jawab Prilli.
Lysti menghela nafas, lalu bangkit berdiri menggendong Diandria sambil beranjak ke dapur. Dilihatnya putri sulungnya sedang sibuk memanaskan sup ayam untuk si bungsu, menuangkannya ke mangkuk kecil dan mencampurnya dengan nasi lunak.
Realla tersenyum melihat Ibunya dan Diandria menghampiri. “Nah ini dia si mungil nakal…” ujarnya.
“Iya nih, kata Prilli dia ga mau makan yaa…” Listy ikut tersenyum. “Mana supnya, Re, biar Mama yang suapin aja.”
“Ga usah, Ma, nanti tulisan Mama ga selesai loh. Udah Andria ma aku aja.” tukas Realla. Mamanya mengangguk membenarkan. “Iya sih, tapi kasihan juga mungkin Dria kangen sama Mama. Seharian ini Mama belum peluk dia.”
“Ya udah deh, Mama peluk dia sebentar aja ya, trus nulis lagi.” jawab Realla. Listy tertawa mendengar nada suara si sulung yang agak mengatur itu. Tapi ia merasa amat terbantu dengan pengertian Realla dan Prilli.
Realla mengikuti Ibunya ke meja kerjanya di ruang tidur mereka. Diandria masih digendong oleh Listy. Di rumah kontrakan mereka yang mungil hanya ada 1 ruang tidur berukuran 4×6m, 1 ruang makan berbatasan dengan dapur, sebuah kamar mandi berukuran 3×3m, dan ruang tamu kecil. Sedikit teras belakang digunakan untuk jemuran dan sepetak teras depan diisi Listy dengan berbagai macam tanaman Mawar yang disukainya. Walaupun kecil dan sederhana, rumah kontrakan itu cukup nyaman. Dan ketika setahun yang lalu mereka sekeluarga pindah ke sini, Listy bertekad untuk menetap setelah sebelumnya mereka selalu berpindah tempat tinggal.
Prilli sedang mengutak-utik game di laptop Lysti. Putrinya yang kedua memang menyukai perangkat teknologi. Ia juga menjelajahi internet dengan Google Search untuk men-down load game baru atau sekedar mencari bahan pelajarannya. Listy mendidik mereka secara home schooling. Artinya kedua anak gadisnya tidak pergi ke sekolah umum. Karena kehidupan mereka yang selalu berpindah tempat tinggal serta pekerjaan Listy yang tak terikat atau freelancer seringkali menuntut mereka untuk bisa bermain dengan waktu secara fleksibel.
Sesorean itu mereka sibuk bercengkrama, menyuapi Diandria, memandikannya, mengobrol dan belajar bersama.
Ketika akhirnya ketiga buah hatinya telah tertidur, Listy kembali menyalakan laptopnya. Ia juga membuka Yahoo Messenger dan mendapati Arsyah tengah online.
“Hi, hunny…” sapanya di chat. Listy merasa gembira. Hatinya yang lelah tiba-tiba seperti mendapat energi baru.
“Hi, dear…” balasnya.
“Masih nulis?” tanya Arsyah yang tahu benar rutinitas Listy.
“Yup, biasa. Km gi apa?”
“Betulin PC.” jawab Arsyah.
“Biasa juga…” Lysti menambahkan ikon tertawa di chat.
“Yup,” Arsyah membalas dengan ikon tersenyum. “Biasa…”
“Gimana kabar km dan anak2?” tanya Arsyah lagi.
“Baik-baik kok, baru pada tidur,” jawab Listy. “Km gi sibuk ga? Ganggu ga klo kita chat?”
“Ah, gpp. Malah senang km temani kerja.”
“Hehehe….kangen ya?”
“Kangen banget….” balas Arsyah menambahkan ikon tersipu.
Selama beberapa jam mereka mengobrol lewat internet sambil menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Ketika akhirnya waktu menunjukkan pukul 3 dinihari, Listy pamit tidur. Sementara Arsyah meneruskan membetulkan komputer langganannya. Ia memang selalu online hingga fajar menjaga warnet di Bogor itu seraya menerima jasa perbaikan dan pemulihan data yang terkena virus. Dari situlah Arsyah membiayai hidup dan kuliahnya. Ia seorang anak perantauan tanpa dukungan financial dari keluarganya. Kegigihan dan keuletannya juga yang membuat Listy kagum pada pemuda itu. Padahal usianya baru menjelang 24.
Berbaring di kasurnya sambil memeluk Diandria, Listy memikirkan tentang mereka. Berapa usianya sekarang? 32, haha…mana mungkin ia mengharapkan Arsyah serius mengurus mereka semua? Hatinya tertawa getir. Sebuah kisah yang agak rumit, ia bisa melihat kerikil dan batu yang akan menghadang jalan mereka untuk bersama. Mungkinkah…Arsyah cukup kuat? Dengan pikiran penuh pertanyaan Listy tertidur…
coming soon part 3 ![]()
Related posts:







