Dongeng Mimpi
Agni: Bocah Dalam Cangkang
Beri aku satu kesempatan untuk mencintai. Sebelum raga ini terkutuk di mata kalian, terdapat hati yang murni jauh di dalamnya. Kupersembahkan untuk seseorang dimana kami tumbuh bersama saling mengenal. Cintaku ceria, berlari-lari sambil tertawa. Menangis kesal akan kenakalan. Jujur segala dalam dunia kanak-kanak. Cinta monyet. Cinta konyol. Cinta bohong-bohongan bahan tertawaan orang-orang dewasa.
Pun waktu memegang peranan. Hidup berjalan seiring jarum jam. Cinta ini tak pernah memudar. Apa daya jarak semakin memisahkan, mengasingkan kami satu sama lain, terhempas kesendirian masing-masing. Itulah saatnya melupakan masa ceria yang pernah ada. Tubuh kami semakin tinggi, nalar terus menguat, meninggalkan dongeng indah yang semakin suram tak dipedulikan. Namun tanpa mereka ketahui, gadis di dalam diri ini menjaga segalanya dengan hati-hati, sembunyi-sembunyi, melindungi sepotong kenangan dalam cangkang yang tak lapuk terkikis waktu. Cangkang itu persembunyianku. Tempat dimana kumelarikan diri sejenak dari hiruk pikuknya dunia orang dewasa. Menghangatkan hati di depan unggun cahayanya. Menemukan kembali hantu-hantu kami yang masih tertawa-tawa berayun di bawah pohon mangga.
Lelaki kecil itu masih mengajakku bermain. Menari jiwa kami bersama dalam melodi tak kasat telinga. Nada-nada bening dan murni yang hanya bisa di dengar hati. Ruh dalam ruh. Terlalu dalam untuk dijangkau logika. Dimensi waktu seperti dinding rumah sakit jiwa. Tebal dan melindungi dari arus luar. Hangat, dingin sesekali, namun merengkuh kuat.
Lelaki dewasa dalam dunia nyata tetaplah si bocah dalam dunia cangkangku. Ia hanya terperangkap dalam dada bidang dan bahu tegapnya. Sinar mata nakalnya tertutup kacamata prestise tanda kegemilangan otaknya. Tangan kami semakin jauh berjarak. Ia tak lagi menjambak rambutku, menjegal kaki yang sedang berlari, bahkan berucap sekedar sapa.
Dinding pemisah adalah kepala yang saling tertunduk malu, tak mampu menatap akan kenangan masa lalu. Sesak dan tanya memenuhi dada, masihkah ia sahabat lalu?
Kami melintasi ratusan hari menuju tua. Belajar di atas kerikil, berlari mengejar mimpi dan sesekali memuas dahaga oleh kasih sayang yang terjaja. Kami mencari pintu dalam labirin kaca. Cermin di kanan kiri menguatkan peringatan akan diri selama mencari pintu akhir. Aku bahkan tak bernafsu mencari ujung. Sesekali tak keberatan untuk terus terperangkap di dalamnya. Namun bila teringat bocah kecil dalam cangkang, aku seperti mengendus jejak untuk keluar. Kupejamkan mata dan selalu melihatnya berdiri menunggu.
Laki-laki itu adalah Gi. Cinta masa kecil yang apinya tetap hidup dalam dunia tersembunyiku. Bocah dalam cangkang.
Gi : Separuh Jiwa
Setiap insan yang dilahirkan akan menjalani pola sesuai perjanjian ruh mereka pada Sang Pencipta. Dijatuhkan kita ke atas bumi dengan peta yang hanya bisa diingat samar-samar. Tersimpan penuh misteri bahkan bagi diri sendiri. Dimana ia berada? Di belakang otak? Di antara lipatan nurani? Atau terseret bersama sel-sel darah?. Dalam bingung menjatuhkan diri di atas lutut, mengangkat tangan memohon petunjuk. Bagaimana kita tahu jawabNya? Nyata bersinar pada neonboard jalanan? Atau tersirat dalam rasa merinding kedinginan? Atau benderang dalam bola lampu khayal?
Aku ini lelaki, pemimpin untuk diri sendiri dan keluarga yang kubentuk kelak. Mengumpulkan ilmu untuk bertahan hidup. Strategis untuk sebuah tujuan. Harus selalu menjadi nomor satu sebagai yang pertama lahir dari rahim ibu. Rencanaku terbentang, kulempar sejauh jarak bintang untuk kemudian kukejar. Aku bolehlah panutan, dalam keluarga, dalam lingkungan, dalam setiap rencana kesuksesan masing-masing orang.
Sampai kelompok sayap kemilau datang. Mereka menawarkan sumur ilmu yang lebih dalam. Tak pernah kudengar dari guru-guru awam. Aku adalah saudara mereka, katanya. Calon ahli surga yang berhak menimba dari sumur istimewanya. Tak ada syarat tak ada kontrak, dibelai bagai raja dipersilahkan duduk di singgasana. Rakus kutarik katrol bercahaya. Haus yang semakin menjadi di setiap tarikan. Peluhku adalah butiran emas kata mereka, agung bak sultan di atas pelana.
Kian hari tak kusangka membutuhkan banyak kepala terpenggal untuk sebuah dogma. Menyerah untuk berdarah dibawah mantra. Doktrin cerdas bagi para pencari kesempurnaan. Tiket sekali jalan ambiguitas abu-abu antara ketuhanan dan ketidakmanusiawian.
Semakin jauh aku terlempar, semakin ku ingin pergi pulang. Perapian hangat disamping meja dimana ibu menghidangkan kasih sayang dalam roti lembut setiap pagi. Suara adik-adik berteriak manja, endusan lucu kelinci peliharaan si bungsu, betapa kujatuh merindu.
Ragaku sebebas manusia lainnya namun jiwaku yang lama dilepas paksa. Keasingan terasa di setiap tarikan nafas. Siapa yang sedang menghirup udara menggunakan hidungku? Siapa pula yang memerintah kemana udara tersebut dipakai dalam diri ini?. Aku ingin kembali ke pelukanmu, ibu. Tidakkah kau melihatku menangis dalam mimpimu? Temukan kembali ruhku yang terusir entah kemana. Aku berdoa setiap malam dengan segenap kemampuan akal sehatku. Aku melihat seorang wanita menjaganya, ibu, tapi itu bukan kau. Ia menjaga ruhku. Siapa dia, ibu?
Seperti melayang menggelayut jarum jam, aku memohon pada setiap orang tanpa berkata. Hingga kutemukan gadis ini. Gagah berani menemaniku untuk kembali pulang. Berkibar kerudungnya syahdu, menyala semangatnya laksana api. Tangan lembutnya kuat menarikku ketika nyaris terperosok ke dalam jurang kemarahan kelompok sayap kemilau yang menawanku.
Gadis ini akan membawaku kembali padamu, ibu. Bilang pada ayah untuk tak khawatir. Siapkan sup hangat di atas meja, nyalakan perapian di kala hujan karena aku akan pulang meski diri ini tak utuh lagi. Sahara akan mengawalku.
Sahara: Laki-Laki Yang Aku Cintai
Cinta adalah anugerah. Begitu pula ketika merasakan tubuhku terkena pukul rotan seseorang yang hendak memukul Gi di siang yang terik itu. Rona memar ini masih terasa sekalipun sakitnya sudah lama hilang. Aku terpaksa meneriakinya maling demi membuatnya tak berkutik di dalam genggaman massa. Aku tak bisa membiarkannya pergi lagi padahal ia tak ingin. Laki-laki dengan sorot mata hilang arah yang mencoba kabur dari kelompok berbahaya. Sebuah dilema. Setengah diri Gi terpasung, sebagian lagi hilang. Raganya semu seperti boneka kayu. Bisa bergerak namun tak bernyawa. Menghilang pria gemilang yang pernah kukenal di sekolah tertelan dalam kabut sarat konspirasi konflik pihak-pihak yang mencoba memanfaatkannya. Semua terlalu rumit, semua terlalu gelap. Meraba-raba kumencari tangan lemahnya untuk kutarik keluar.
Cinta adalah mendampingi. Aku hanyalah wanita dengan kodrat tak sekuat pria. Namun kekuatan itu selalu datang setiap kali Gi akan terperosok. Mengangkatnya, menopangnya, menyeretnya melawan taifun kesesatan.
Cinta adalah kesabaran tanpa batas. Mungkin adakalanya ia menipis tapi tak akan pernah hilang. Ia akan selalu muncul, selalu ada, selalu terasa. Di sampingnya menjalani penyembuhan yang panjang. Mengembalikan ingatannya, mengembalikan hidupnya, mengembalikan senyumnya.
Gi adalah laki-laki yang kucintai. Laki-laki yang kuat. Betapa tidak, jauh dalam dirinya kemurnian menyelamatkan diri Gi sendiri. Bangkit dari lubang yang dulu membuatnya terjebak akibat nafsu kesempurnaan. Mengejar apa yang sudah terlewat dari hidupnya, dan kebanggaanku adalah berjalan disisinya. Hidup memberkahi kami dengan jalan yang sulit dan berliku, penat dan air mata, tanda tanya dan makna kesesatan. Dan tunas cinta lahir dari sana…
Agni: Bocah dan Pria Dewasa
Dia tak mengenaliku. Atau mencoba untuk tak mengenaliku. Tapi mengapa setiap malam hadir dalam mimpi-mimpi membingungkan? Tersenyum pernuh keramahan, pelukan hangat sahabat lama, canda anak kecil yang melungsur dewasa.
Wanita di sebelahnya bersanding kukuh. Seperti ratu langit bersuamikan penguasa jagad raya. Ialah sang pahlawan yang disebut-sebut dengan bangga. Membersihkan ingatannya akan keberadaanku dan Gi di bangku berayun berpuluh tahun yang lalu.
Menunduk sambil menjauh penuh rasa rendah kumeninggalkan mereka dalam megahnya kebahagiaan. Melapuk hatiku mungkin sampai kutemukan pengganti meski hanya untuk hati terluar. Karena cangkang rahasia dalam dunia kecilku masih milikku dan Gi. Selalu ada bunga-bunga liar tempatku jatuh karena terjegal kakinya. Masih pula ada bangku berayun tempat kami beristirahat untuk kemudian lanjut bermain.
Bocah itu lebih familiar daripada sosok Gi saat ini. Yang berdiri disana bukan Gi yang sesungguhnya. Semua orang mungkin bisa tertipu dan percaya bahwa itu adalah Gi yang sama yang mereka kenal. Namun aku tahu dimana Gi yang sesungguhnya, dan aku menutup rapat-rapat cangkang itu dari mereka.
Gi: Punggung Itu
Ia hanya satu dari ratusan tamu yang datang. Tapi melihat wajahnya seperti menatap pigura hitam putih tua. Apakah ia sekedar teman lama? Mengapa punggungnya tak asing kulihat di beberapa malam yang meresahkan? Malaikatkah ia? Atau iblis pencuri kenangan? Pertanyaan-pertanyaan ini semakin membuat kepalaku terasa ditekan dari berbagai arah. Ia tak seanggun pengantinku, tapi kenapa aku terus ingin menatap punggungnya?
Sedikit terekam aroma bunga liar ketika kami bersalaman tadi. Wangi musim semi, ceria dan penuh canda. Ingatan menyenangkan yang tak pernah aku ingat. Sepotong kenangan yang hilang.
Kembali Ke Cangkang Mimpi
Dalam mimpi kami bertemu. Sebuah dimensi dimana semua ringan melayang. Unggun keunguan, semilir angin di atas bukit hijau memainkan rambut ikalnya yang menyala laksana api jinak. Ruang khusus déjà vu dimana kami saling memahami dengan lega.
Disanalah jiwa yang pernah hilang berada, ditemani bersama seorang wanita. Wajahnya ceria seperti matahari pagi, kemerahan seperti jari-jari Eos. Di atas tanah disuratkan perjalanan hidup yang berbeda namun di dunia kami tak ada siang dan malam. Suasana hati kami sesuka mengatur cuaca. Hangat mencinta seperti jingga sore hari atau megah gemintang laksana malam musim panas. Dunia kami takkan ditemui oleh siapapun.
Ketika kami memejamkan mata di malam hari, itulah saatnya waktu bermain tiba. Ketika kami melepas penat sepanjang hari, kamipun melepas ruh kami pergi ke dunia cangkang. Mengobrol, tertawa, meneguk kasih sayang sampai kami kekenyangan.
Bila suatu hari kami berpapasan di dunia nyata, kami hanya bertegur sapa layaknya kawan lama. Dunia kami adalah dunia mimpi yang akan tetap hidup selama malam masih hadir dan rasa lelah adalah gerbang yang terbuka lebar. Untuk bisa bertemu denganku kau hanya cukup memejamkan mata, tidur dan bermimpi…











June 15th, 2011 at 12:32 pm
Thanks for the guidelines you have shared here. One more thing I would like to mention is that laptop or computer memory demands generally increase along with other advancements in the technology. For instance, when new generations of processor chips are introduced to the market, there is usually a matching increase in the size calls for of both the computer memory along with hard drive space. This is because the application operated simply by these cpus will inevitably increase in power to take advantage of the new engineering.
June 16th, 2011 at 3:14 am
Greatthing! I will monitorthe new entries in your site!
June 16th, 2011 at 6:20 am
Bigthing! I will monitorthe new entries in your website!
July 9th, 2011 at 5:28 am
Hi, Neat post. There is an issue with your website in internet explorer, would check this… IE still is the marketplace chief and a huge portion of other folks will miss your great writing due to this problem.
July 12th, 2011 at 11:32 pm
The whole you mentioned is true, however there are various upsides. Like, most likely’t be fired.