Kasih Membuatku Berharga
“Anak cacat!! Anak cacat!!”, seru anak-anak kecil di pinggiran sawah.
Terus terang, aku sudah biasa dengan semua ini.Langkahku terseok-seok dengan tidak pasti menyusuri Lumpur lengket sesawahan.
“Lis, cepet jemur baju!!Cucu piring!! Ini gelis, kerjaannya keluyuran mulu, nduk..nduk,..”, ujar ambu sesampainya aku di rumah, kulihat ia menggeleng-gelengkan kepalanya, ketika ia berucap.Kerutan kelelahan terlihat jelas di wajahnya.
Aku buru-buru mengambil baju lepek kesayangan ambu di tempat lapang depan rumahku.Aku menjejerkannya satu persatu dalam satu untaian tali goni, setelah itu aku mencuci piring dengan busa lemon kesayangan ambu.
Aku mencampur satu sendok cream lemon dengan air yang banyaknya jauh dari standar yang harus diberikan.Kata ambu,sabun colek sekarang ini harganya mahal, jadi aku harus mengiritnya, seirit mungkin.
Entah bagaimana pemikiran ambu, buat apa irit tapi tidak efektif.Toh bau amis yang pekat tak kunjung pergi juga.
Oh ya, namaku Euis.Semua memanggilku begitu.
Aku anak pertama dari adik-adikku yang telah meninggal.
Kami sangat kekurangan uang, sehingga adik bungsuku terkena penyakit busung lapar.Adikku yang sulung, terkena penyakit sampar, akibat wabah di desa yang kami tinggali terdahulu.Kami sudah melakukan berbagai macam cara untuk menyelamatkan nyawa mereka, tapi malaikat maut tetap saja menjemput mereka.
Sekarang, hanya ada bapak, ambu, dan aku sendiri.
Aku cacat.
Bibirku sumbing.
Kakiku pincang, sejak aku berumur 12 tahun.Kata bapak, dulu aku pernah jatuh dari kuda.Memang, terkadang aku merasa betapa menderitanya diriku, tapi..aku segera mengusir pikiran itu kuat-kuat.Aku tak mau ambil pusing dengan hal itu.Semua orang mengasihani diriku, bahkan teman-teman sepermainanku.
Terus terang, aku tak butuh dikasihani.
Aku senang dengan hidupku yang sekarang ini.Aku masih bias makan, sekolah, mempunyai tempat bernaung, serta orang tua yang baik sudah sangat cukup, bahkan lebih dari cukup untukku.
Biasa, sepulang sekolah aku selalu membantu ambu berjualan kue di pasar.
Banyak pembeli, juga beragam karakternya.
Tak jarang aku dicemooh atau dilecehkan.
* * * * *
“Lis, mau abang pinang?”, Tanya seorang tua berjenggot dengan muka bernafsu.Sangat menakutakan, pikirku.
“Terima kasih bang, tidak.”
“Kamu ga usah malu-malu, kalo kamu ikut sama abang, abang pasti bakalan kasih apa saja yang kamu mau.”.
“…..”, sempat ku terdiam.Ku membayangkan makanan enak, tempat tidur yang nyaman, serta sesuatu yang ingin kubeli dengan uang paman mata keranjang itu, dan juga dapat mengajak bapak ibuku ke tempat yang nyaman.Mereka tak perlu capek-capek bekerja lagi untuk menghidupiku yang menyusahkan ini.
Walau aku cacat, tapi aku juga ingin bisa menjadi berguna.
Tapi, jika jupikir lagi, aku tidak menyukai orang ini, dan ini akan membuat hidupku sangat menyiksa.” Beri saya waktu untuk berpikir bang.”
“Oh ya? Silahkan..Makin cepat, makin baik.”, kata paman itu sambil mengelus daguku.Aku jijik merasakan jemari hinanya menyentuh kulitku.
Aku bener-benar tak tahan jika harus tinggal dengannya.Sepulang dari berjualan kue, aku menceritakan ini semua kepada orang tuaku.Bapak dan ambu berpendapat sama.Mereka amat sangat tidak menyetujui jika aku menikah dengan tua bangka genit itu.”Lis, janganlah kamu mengorbankan dirimu demi kami, orang tua yang tidak lama lgi akan masuk liang kubur”, ujar bapak sembaring mengusap punggungku.
“Ia Lis, jangan.Buat apa kalo kamu ga cinta?Pikirin aja masa depan kamu, soal itu jangan kamu pikirkan.Harta bukanlah yang terpenting dalam hidup Lis..Ambu sama bapak Cuma mau lihat kamu bahagia..”
Aku terharu mendengar ucapan bapak dan ambu barusan, kata-kata mereka menyentuh hatiku yang terdalam.Aku tak berpikir dua kali untuk menolaknya.
Ratna mengajakku ke rumahnya, katanya ia mempunyai televisi baru.Ketika aku mengklik sebuah saluran televise,aku melihat ada operasi untuk perbaikan bibir sumbing.Aku langsung senang seketika, begitu juga dengan Ratna, sahabatku.
“Lis, ada operasi bibir sumbing.Kamu punya kesempatan Lis untuk jadi cantik.”
Aku terdiam sesaat, aku bukanlah orang berada, aku tahu itu.Aku SANGAT tahu .
“Na,kamu kan tahu aku tidak punya cukup uang untuk membayar biaya operasi itu.Kamu pasti mengerti bagaimana kondisi keuanganku.”, ujarku sedih.
Ratna hanya terdiam, sambil menyugingkan senyum manisnya padaku.
* * * * *
“Lis!!Euis!!”, panggil Ratna di tengah teriknya sinar matahari.
”Ada apa atu Na? Teriak –teriak di siang bolong begini?”
“Ini..”, kata Ratna sambil menyodorkan sekantung uang kertas dan receh ke arahku.
“Apa ini?”, tanyaku bingung.
“Ini uang hasil tabungan si Upik, ayam celenganku.Haha, mungkin ini memang tidak seberapa, tapi pasti akan sangat membantu.”Aku terpana melihatnya, tanpa sadar air mata berlinangan dengan bekejar-kejaran keluar dari pelupuk mataku.Spontan, aku memeluknya erat-erat.”Maksih Na, aku ga perlu uang ini.Aku ga perlu cantik,aku ga perlu bibirku dioperasi, Tuhan sudah mengirimkan kamu padaku, itu sudah lebih dari cukup.”
“Ya ampun Lis, ga usah sampai begitu.Aku Cuma membantu sekedarnya saja..”
“Ngga Na, makasih banyak..”
* * * * *
Aku punya kabar gembira.Kata ambu, dokter yang baru pindah ke desa kami, sedang melakukan praktek kerja, dan ia membutuhkan seorang asisten.Dan, ia berjanji akan memberikan gaji yang pantas.Aku buru-buru diajak ibuku untuk menemui dokter itu.
Dokter yang sangat tampan, pujiku dalam hati.Ia sangat baik dan ramah.
Diam-diam aku mengaguminya sekaligus menyukainya.
‘Ah, sudahlah, jangan bermimpi di siang bolong!’, aku mengusir hayalanku jauh-jauh.
* * * * *
Sudah setahun lebih tiga bulan , aku bekerja sebagai asisten Dokter Jonathan.Dia adalah dokter yang selain berbakat, juga bersahabat.Dia selalu bisa membawa pasiennya menjadi orang yang berarti dan membuatnya mengerti akan indahnya hidup, serta membuat mereka tidak mengenal rasa takut akan kematian.Terkadang, aku berpikir, sebaiknya dia menjadi psikolog saja.Terus terang, aku mungkin bukan orang berpendidikan.Tapi, aku slalu membaca Koran untuk mengetahui perkembangan dunia luar.Aku salut dengan Dr. Nathan.Sering kali kulihat, pasien yang memiliki penyakit kronis saja, masih dapat tertawa dengan lepasnya.
Semakin lama, aku semakin dekat dengan Dr.Nathan.Dia sangat baik dan ramah terhadapku.Dia juga mengajarkanku banyak hal.
Baru 2 bulan yang lalu, aku menjalsni operasi bibir sumbingku, dan sekarang bibirku menjadi normal seperti orang kebanyakan.Senangnya hatiku.
Lama-lama, rasa kagumku berubah perlahan-lahan menjadi rasa sayang.
Aku tak menginginkan yang muluk-luluk, melihat senyumnyapun sudah membuat hati ini terasa damai.Aku suka dengan apapun dari dirinya, matanya, senyumnya, cara dia berucap, semuanya.Terkadang, aku merasa ingin memilikinya.Tapi, ku sadar akan siapa diriku, dan aku hanya bisa melihat, tanpa dapat menggapainya.
Ratna datang 2 kali dalam seminggu untuk membawakanku rantangan.Terkadang kulihat dia menjadi sangat periang, senyumnya begitu manis, membuat hatiku lumer setiap kali melihatnya.Dan aku merasa senyumnya adalah salah satu kebahagiaanku.Tapi,sebulan terakhir ini kulihat ratna menjadi sangat murung.
Ku tak tahan melihatnya, ku ingin mengembalikan senyumnya kembali.Sangat ingin.
* * * * *
“Lis, saya mau bicara sebentar.”, kata Dr.Nathan padaku dengan raut muka serius.
“Ia dok, ada apa?”
“Ada pasien saya, pak Jhonny Pramestu dari Jakarta, ia mengidap gagal ginjal.Tolong kamu tanyakan dengan pasien-pasien saya, adakah yang bersedia menyumbangkan ginjalnya.Bagi yang bersedia, ginjalnya akan dites, untuk dites apakah ginjalnya cocok atau tidak.Bayarannya, berapapun yang dimimta, mereka akan mengabulkan.Mengerti Euis?”
“Ia Dok.”
Terlintas dalam pikiranku..bahwa aku juga ingin dapat menolong bapak itu.Aku ingin mendonorkan ginjalku.Aku juga ingin dapat membuat orang tuaku bahagia.Mungkin, sedekah itu walau Cuma sekedarnya, setidaknya dapat membantu mereka.Aku kasihan dengan mereka.Mereka sudah tua, dan renta, tapi mereka masih harus membanting tulang untuk mendapatkan pangan yang cukup.Aku benar-benar tidak tega melihatnya. Ambu dan bapak tidak pernah mau menerima uang bulananku, mereka menyuruhku menabung untuk hari tua.
Segera aku mengejar Dr.Nathan ke ruang kerjanya.
Tok.!! “Dok..”
“Ya Euis, ada apa?” “Dok, bagaimana kalau saya juga ikut pengecekkan ginjal?Siapa tau, ginjal saya cocok untuk pasien dokter.”
“Kamu yakin?”,Tanya Dr.Nathan dengan wajah ragu.
“Ya, sangat.Tapi tolong jangan beritahu bapak dan ambu, juga Ratna.”
“Tidak Lis, kamu tidak dapat melakukannya.”
“Memangnya kenapa dok.?.Tapi saya ingin..”
“Lis, saya tidak mengijinkan kamu melakukannya.Kondisi kamu saja sudah lemah, bagaimana jika kamu menyumbangkan ginjalmu?”,ucap Dr. Nathan .
“Tak apalah Dok, Bantu saya sekali ini sajaa..”,ucapku dengan memelas. “Tetap tidak bisa..”
“Coba,kasih saya kesempatan..”,kataku bersikeras.
“Baiklah,besok saya akan Tanya lagi bagaimana keputusan kamu.”
* * * * *
“Bagaimana Lis?”,Tanya Dr.Nathan. “Ia dok, saya tetap ingin..”
“Sudah mantapkah?” “Ia dok, mantap.Saya amat yakin dengan keputusan saya.”
“Baiklah, kalau begitu.” Aku menjalani pengecekkan dengan durasi waktu yang lebih lama dari biasanya.Aku tidak tahu apa ini kebetulan, atau Yang Maha Kuasa telah membantu jalanku.Pada kenyataannya, ginjalku cocok.
Aku segera berlari tertatih-tatih dengan gembiranya.Aku akan transpantasi ginjal.YeEee!!
* * * * *
Aku baru saja selesai menjalani operasi transplantasi.Aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku, juga dengan perasaanku.Tapi, dalam hatiku, aku merasa senang karena telah menolong bapak itu.
“Berapa rupiah yang kamu inginkan?Sebutkan saja.”,ucap Bu Pramestu, ramah.
“……..”
“Tak usah sungkan.100 juta?1 milliar, atau berapa?Sebutkan saja..”
“Sesukarelanya ibu saja..”, kataku sambil tersenyum.
“Sesukarela saya?Katakan saja apa yang kamu butuhkan.Tolong..”
“Maaf, tapi bisakah ibu mensedekahi bapak dan ibu saya,atau memberikan pekerjaan yang layak untuk mereka?Karena mereka sudah tua, saya tidak tega membiarkan mereka bekerja terlalu keras.”
“Baiklah,soal itu mudah.Kamu tenang saja.Hidup orang tuamu akan terjamin.”
Aku lega.Sungguh lega.
* * * * *
Ternyata, penyebab murungnya Ratna selama ini, adalah karena Dr.Nathan tidak memberikan respon terhadapnya.Padahal ia sangat mengharapkannya.
Belakangan ini aku suka merasa tidak enak badan,dadaku dan punggungku sering terasa nyeri, apalagi ketika ki ingin duduk, beranjak bediri, ataupun ketika sedang tertidur.
Aku ingin ke kota.Aku mempunyai alas an yang kuat untuk itu.
“Dok, sebenarnya ada satu pertanyaan sebelum saya pergi.” “Ya, silahkan.”
“Bagaimana perasaan dokter yang sebenarnya terhadap saya sebenarnya?”
“Hmm..Saya, jujur saja..sayang sama kamu Lis,nyaman bersama kamu..”
Jantungku rasanya ingin melompat keluar.
“Tapi..”,lanjut Dr.Nathan,” sebagai kakak dan adik”
Aku tersenyum.Aku lega mendengarnya.Bahagia untuk kesempatan sahabatku, tapi di lain sisi, hatiku juga terasa amat nyeri.Sakit sekali rasanya.
Tapi membayangkan senyum Ratna, aku rela melakukan apa saja.
“Dok, saya punya satu permintaan sebelum saya pergi.” “Silahkan Lis, bicara saja..”
“Tolong bahagiakan Ratna…”
* * * * *
Sudah 3 tahun sejak Euis meninggalkan kampong halamannya.
Ambu,bapak,Nathan,dan Ratna sangat merindukannya.
“Bu Karmin!! Bu Karmin!!”,teriak Bu Lisna. “Ada apa bu?”,Tanya ibunda Euis.
“Ada surat bu.Katanya Euis meninggal di Jakarta,kena kanker tulang.Katanya, jasatnya akan dikirim dan dikebumikan di sini.Yang tabah ya bu…”
Bu Karmin ambruk saat itu juga.
Pada saat pemakaman,Pak Karmin sibuk menenangkan Bu kamin yang tak kunjung berhenti menangisi anaknya yang telah tiada.
Ratna hanya menatap kuburan Euis dengan mata menerawang, betapa sangat kehilangannya ia .Di sampingnya,Dr.Nathan mendampinginya, sambil menggenggam tangan Ratna, ia berucap,”Relakan saja, maka arwahnya akan tenang di surga.Ia pasti takkan tega melihat kita begini terus.”Sesaat Ratna tersenyum.
“Taukah kamu Na, sebelum pergi Euis berpesan padaku untuk membahagiakanmu..”
Air mata Ratna mengucur deras saat itu juga.
Betapa rindunya ia terhadap sahabat teramat baiknya itu.
* * * * *
Halaman terakhir diary Euis…
Aku tau aku sakit,maka dari itu aku ke kota,karena aku tak ingin semua repot akan penyakitku, dan aku tak ingin mereka sedih waktu kematianku.
Waktuku memang sudah tak lama lagi..
Tau ga, diary..
Orang-orang salah,kalau berpendapat aku adalah orang yang amat menderita.
Kenyataannya,akumerasa orang yang paling bahagia..di dunia ini ..
Mungkin..fisikku tidak sempurna…
Mungkin aku tidak berhasil menggapai cita-citaku..
Mungkin orang yang kucintai, tidak membalas cintaku..
Tapi ada satu hal…
Aku mempunyai orang-orang yang mencintaiku di dunia ini, dan aku sangatlah menyayangi mereka..Aku sama sekali tidak menyesal telah dilahirkan di dunia ini, malah justru sebaliknya.Aku merasa ini anugrah terbesar karena pernah dilahirkan ke dunia ini, karena aku bertemu Dr.Nathan,Ratna,juga ambu dan bapak…
Ternyata tidak sia-sia sisa hidup yang kujalani.
Karena,aku bisa membahagiakan bapak adan ambu..melihat sahabatku bisa bahagia dengan orang yang ku cintai…Senyum mereka adalah kekuatanku..
Aku tak perlu sesuatu yang lebih untuk membahagiakanku..
Kebahagiaan mereka justru lebih dari cukup untuk membuatju bahagia…
Tuhan,lindungi mereka semua ya kalo aku ga ada..Aku janji deh bakalan banyak bikin amal.^^
NB: Gue bikin ni cerpen emaNg beda dari yg laen..biZna g da BosHan buaD cErita ttg keHiduPan oRdinarY, jaDi g bwad yg agag beRbeda.. i hOpe u like iT..
dan xMoga ceriTa iNi biSa diaMbiL maKnanya bwad kalIan Xmua.. :wink:
g sbNrnya juGa bwaD noveL ttg reMaja..
sEdank diediT nihh..
XmUanya tOlonk kci commeNt yaaa.. ^0^ makasyIii.. :grin:
No related posts.











April 13th, 2008 at 2:27 pm
tolOnk kasi cOmment yaa.. makasyii..^^
-vERonica Widya-