Ketika Jam Tak Lagi Berfungsi
Kejadian itu terjadi saat aku pulang kerja, waktu memang sudah menunjukan pukul 11 pm. Seluruh jalan yang kulalui sangatlah sepi, hanya beberapa kendaraan itu pun nampak ngembut (mungkin ingin cepat-cepat sampai di rumah). Laju kendaraanku tidaklah cepat, tapi juga tidaklah lambat. Spidometer menunjukan angka 50 km/jam. Dari belakangku sebuah kendaraan umum jalan dengan ngebutnya. Dalam hatiku, kira-kira apa yang sedang dikejarnya, mungkinkah hari selarut ini masih banyak penumpang yang menunggu jasanya. Biarlah… aku mencoba menghindarnya dengan melambatkan laju kendaraan serta membiarkannya lewat duluan. Ternyata tak hanya satu, dibelakangnya ada tiga kendaraan yang mengikutinya. Jalannya jadi tak terarah, seperti sedang di ajang balap mobil. Mereka berupaya mencapai yang terdepan. Beberapa kali aku harus mengerem mendadak untuk menghidarinya. Setelah berhenti sejenak dan melihat sudah jauh dari jarak aman, kukembali melanjutkan perjalananku. Sampai pada persimpangan jalan, laju kendaraanku terhenti. Trafic light menyala dengan warna merah. Lama sekali aku harus menunggu berubah warna menjadi hijau. Satu-persatu kendaraan yang dibelakangku pun ikut berhenti. Anehnya suasana di sekitar lampu merah ini tak terlihat sepi untuk waktu yang menunjukan hampir tengah malam. Dari sisi jalan nampak segumpulan anak kecil sedang duduk sambil mengamati laju kendaraan yang lalu lalang. Kira-kira apa yang mereka nunggu. Awalnya tak banyak yang menghiraukan dengan keberadaannya. Namun, ketika tahu apa yang mereka lakukan, barulah semuanya bersiap serempak mengatakan satu kata ‘maaf’. Itu pun bila salah satu dari mereka mulai mendekat. Dari sebelah kanan jalan, seorang anak kecil berlari menuju arahku. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi, tubuhnya terpental karena tersenggol kendaraan. Begitu kencangnya hingga anak kecil tersebut terbang jauh ke atas dan kembali lagi dengan kepalanya terlebih dahulu. Kisah selanjutnya mungkin bisa ditebak, anak kecil tersebut tergelapar dengan mulut berlumuran darah. Semua yang menyaksikan hal tersebut hanya bisa terpenganga. Tak ada yang berani mendekat apalagi berusaha menyentuhnya. Seorang ibu tua mendekat dengan mata berlumuran air. Beberapa kali tersendak menahan rasa sedih menimpah yang ternyata adalah anaknya. Dari jeritan ibu tua tersebut barulah tersadar bahwa anak itu barulah kelas 5 SD. Hati ini makin tersentak mengetahui hal tersebut. Apa yang dia lakukan disaat-saat seperti ini, bukankah anak seumurannya seharusnya sudah terlelap dalam mimpi dengan senyuman menghiasi wajahnya. Adakah yang dia perjuangkan, sehingga rela berkorban dengan mengurangi waktu tidurnya. Bagaimana dengan kedua orang tuanya, mereka membiarkan saja semua ini terjadi di depan matanya. Aku hanya bisa menghela nafas panjang melihat dan merasakan semua di depan mataku. Aku memberanikan diri mencoba bertanya kepada ibu yang terus meratapinya. Hingga pada saat pertayaan terakhir, “Kenapa jam segini, masih keluyuran di jalan ?”. Ibu tua tersebut hanya menjawabnya dengan singkat, “Jam dinding di rumah saya sudah t idak berfungsi jadinya tidak tahu sudah jam berapa sekarang.”. Aneh betul dengan jawabannya, namun kalau kupikir-pikir mungkinlah benar apa adanya dengan jawaban tersebut. Anak-anak jalanan tak lagi menindahkan jam berapa saat ini. Pagi, siang, malam, dan pagi kembali, bukan itu yang mereka hiraukan. Hanya saja sudah berapa banyak pundi-pundi rupih yang berhasil didapatkannya. Aku hanya bisa termenung mendengarnya. Tak lama Polisi banyak berdatangan, lajuku kembali pelan meninggalkan anak kecil itu. Dari kejauhan aku hanya mendengarkan kalimat terakhir yang diteriakan oleh ibunya. “Kamu jangan mati.”.










